Home / Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 8. Kesepian dan Desahan

Share

Bab 8. Kesepian dan Desahan

Author: Davian
last update Last Updated: 2025-10-02 13:19:07

Indira menyimpan gagang telpon yang ada di rumah Rahadian, baru saja ia mendapatkan telpon dari Mbok Tuti yang memberitahukan alamat restoran tempat tuannya menunggu saat ini. Jantungnya berdegup tak karuan. Dokumen yang diminta Bara sudah dalam genggamannya, ia harus segera pergi agar tidak menimbulkan masalah. Dengan langkah cepat, ia keluar dari rumah besar itu dan mencari tukang ojeg.

Motor yang membawanya melaju cukup kencang di jalanan kota. Angin menerpa wajahnya, namun pikirannya penuh dengan rasa cemas. Ia tahu betul bagaimana Bara jika sudah marah. Lelaki itu tidak akan segan memarahinya.

Namun, di tengah perjalanan, motor yang ia tumpangi melambat. Di depan, terlihat kerumunan orang di pinggir jalan. Suara gaduh terdengar, disertai teriakan beberapa orang yang panik.

"Ada apa ya, Pak? Kok rame-rame begitu di depan?" tanya Indira.

“Kayaknya ada kecelakaan, Mbak,” ujar tukang ojek, menghentikan laju motor.

Indira menoleh, matanya membelalak ketika melihat seorang pria tua tergeletak di aspal, tubuhnya berlumuran darah di bagian kepala. Orang-orang hanya mengelilinginya, sebagian tampak kebingungan.

Tanpa pikir panjang, Indira segera turun dari motor. “Pak, tolong bantu saya bawa beliau ke rumah sakit!” serunya kepada tukang ojek dan beberapa orang yang berdiri di sana.

Beberapa pria segera membantunya, mengangkat tubuh pria tua itu ke atas motor lain. Indira ikut naik ke belakang motor, memeluk tubuh pria tua itu agar tidak terjatuh. Ia tidak peduli pakaiannya akan ternodai darah. Yang terpenting, pria tua itu bisa segera mendapat pertolongan.

Sesampainya di rumah sakit terdekat, Indira langsung berlari ke ruang IGD, memanggil perawat dengan napas terengah. “Tolong… tolong, Pak ini kecelakaan!”

Para perawat segera mengambil alih, mendorong korban masuk ke dalam ruang penanganan. Indira terduduk di kursi tunggu, tangannya bergetar penuh darah, dadanya naik-turun. Waktu terus berjalan tanpa ia sadari. Baru setelah hampir satu jam, dokter keluar dan mengatakan bahwa korban sudah dalam penanganan intensif.

Indira baru teringat dokumen yang harus ia antarkan. Wajahnya pucat, keringat dingin bercucuran. “Astaga… Tuan Bara!”

Ia segera keluar dari rumah sakit, buru-buru mencari ojeg.

***

Di restoran mewah tempat pertemuan bisnis berlangsung, Bara duduk dengan wajah tegang. Di meja panjang itu, ada klien pentingnya, Pak Suryo, serta dua kolega lain. Asisten dan sekretarisnya mencoba mencairkan suasana, namun Bara terus melirik jam tangan mewahnya.

“Pak Bara, sepertinya ada yang tidak siap ya?” tanya Pak Suryo, nada suaranya terdengar kecewa.

Bara memaksa tersenyum. “Ah, tidak, Pak. Dokumen masih dalam perjalanan. Sedikit kendala.”

Pak Suryo menghela napas, lalu berdiri. “Saya orang yang menghargai waktu. Kalau janji jam 1 siang, saya tidak suka menunggu sampai lewat begini.”

“Pak Suryo, sebentar lagi—”

“Maaf, saya harus pergi. Kita bisa atur ulang jadwal, tapi kalau begini terus, saya rasa kerja sama tidak bisa berjalan baik.”

Tanpa memberi kesempatan, Pak Suryo melangkah keluar, diikuti kolega lainnya.

“Pak, mohon tunggu sebentar…” Bara bangkit, namun klien itu sudah benar-benar pergi.

Asisten dan sekretarisnya hanya bisa menunduk, tak berani menatap wajah majikan mereka yang kini memerah karena amarah.

Beberapa menit kemudian, barulah Indira muncul, wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan keringat membasahi pelipisnya. Napasnya terengah, tangannya masih memegang map cokelat berisi dokumen.

“Tuan… saya maaf… dokumennya…”

Plak!

Suara bentakan Bara meledak, membuat semua orang di restoran itu menoleh. “Kamu tahu jam berapa sekarang?! Klien saya sudah pergi! Dasar tidak becus!”

Indira terdiam, tubuhnya menegang. Suara Bara begitu keras, menusuk harga dirinya. “Tu-tuan, saya tadi—”

“Tidak ada alasan!” potong Bara dengan sorot mata tajam. “Kamu itu cuma disuruh antar dokumen, bahkan pekerjaan remeh seperti itu pun tidak bisa kamu lakukan tepat waktu!”

Indira menunduk dalam, menahan air mata yang hampir jatuh. Beberapa pengunjung restoran berbisik-bisik, menatapnya dengan rasa kasihan bercampur heran.

“Pergi dari sini sebelum saya makin emosi!” Bara menepis map yang Indira bawa hingga hampir jatuh ke lantai.

Dengan tangan gemetar, Indira memungut map itu, lalu mundur perlahan. Dadanya sesak, bukan hanya karena bentakan Bara, tapi juga karena ia merasa tak ada yang peduli pada kebaikan kecil yang ia lakukan tadi.

Sementara itu, Bara duduk kembali, mencoba mengendalikan diri. Namun, wajahnya masih tegang. Asisten dan sekretarisnya saling pandang, takut berbicara.

“Pak Bara… mungkin ada baiknya kalau—”

“Diam!” bentaknya lagi, membuat keduanya bungkam.

Dalam hati, Bara semakin kesal pada Bella, istrinya. “Kalau saja dia tidak sibuk dengan urusannya sendiri, aku tidak perlu menyuruh pembantu itu. Semuanya jadi kacau.”

Ia meremas pelipisnya, memikirkan bagaimana ia akan memperbaiki hubungan dengan Pak Suryo.

Indira berjalan lunglai keluar dari restoran. Air matanya tak bisa lagi ia tahan. Ia merasa begitu kecil, dipermalukan di depan umum. Namun, ia tahu, jika ia mencoba menjelaskan bahwa dirinya telat karena menolong orang, Bara tidak akan mau mendengarnya. "Maafkan saya, Tuan Bara." Indira berucap lirih, penuh rasa bersalah.

Sementara itu, Bara kembali ke kantornya dengan amarah yang membara. Asisten dan sekretarisnya tak mampu menghentikan amarah bosnya.

Di dalam ruang kerjanya, Bara seorang diri dan ia sedang mencoba untuk menghubungi istrinya. Namun, panggilan maupun pesan, tidak ada yang dibalas oleh Bella.

"Baru saja pulang. Dia sudah keluyuran. Maumu apa sih Bell? Apa kurangnya aku padamu?" desah Bara seraya mengusap rambutnya dengan kasar. "Padahal aku sangat mencintaimu, aku berikan semua buat kamu. Tapi—hanya diam saja di rumah, kamu tidak bisa?" ucapnya kecewa.

***

Hari berganti menjadi sore, Bara pulang ke rumahnya dan berharap kalau istrinya sudah pulang ke rumah, menyambutnya saat lelah. Selayaknya seorang istri yang menyambut suami pulang kerja. Namun, harapan Bara sia-sia. Bella, istrinya belum pulang dan bahkan tidak ada kabar. Istrinya itu tidak seperti wanita lain.

"Aku berharap apa sih? Bella kan tidak pernah menyambutku seperti istri lainnya." Bibir lelaki itu tersenyum sinis. Di matanya tampak kesepian dan kekosongan.

"Selamat sore Tuan."

Melihat Indira menyambutnya dengan senyuman, Bara kembali memasang wajah datarnya. "Masih berani kamu nyapa saya? Setelah apa yang terjadi tadi siang?"

Indira menundukkan kepalanya. Senyumannya perlahan menghilang. "Maafkan saya Tuan. Tadi saya tidak bermaksud sengaja untuk terlambat."

Bara berdesis kesal. Tanpa bicara apa-apa, ia melangkah pergi menuju ke lantai dua kamarnya. Indira menghela napas berat.

"Sepertinya Tuan benar-benar marah sama kamu, Indira." Komen Tuti yang sudah ada dibelakangnya.

"Gimana ini, Mbok?" Indira bingung.

"Gini aja. Kamu coba buatkan teh hangat dan camilan kesukaan tuan Bara. Lalu kamu minta maaf lagi." Saran Tuti pada Indira.

Wanita polos itu langsung menganggukkan kepalanya dan melakukan saran dari Tuti. Usai membuat teh chamomile dan macaron, Indira memberanikan diri naik ke lantai atas.

Ia mencoba mengetuk pintu yang setengah terbuka itu. Namun, tak kunjung ada jawaban, sehingga Indira masuk ke dalam sana dengan membawa teh serta makanan tersebut.

"Permisi Tuan. Maaf, saya simpan di dalam saja." Tak ada jawaban, tapi Indira tetap masuk.

"Aakhh Bella. Teruskan sayang. Aahh ...Bella."

Suara desahan yang berasal dari kamar mandi di kamar itu, membuat Indira membeku.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nur Kholifah
lanjutkan seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 200. Calon Mantu Saya!

    Mendengar kalimat Hendri, Safira seperti tersambar petir di siang bolong. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Nafasnya memburu, antara marah dan takut."Kamu gila, Hendri! Aku sekarang istri orang! Lagi hamil pula! Kamu nggak punya perasaan apa?!" desis Safira, berusaha sekeras mungkin menjaga volume suaranya agar tak terdengar siapapun.Terutama Sherry dan Reina yang setahunya sedang tidur. Tawa Hendri kembali terdengar, panjang dan menyebalkan. "Perasaan? Sayang, dulu saat kamu meninggalkan aku demi Dewa, apa kamu pakai perasaan? Kamu tinggalin aku dan anak kita, Sherry, demi mengejar pria lain. Sekarang jangan sok suci di hadapanku."Safira menggigit bibirnya. Setiap kata Hendri adalah tusukan pisau tepat di ulu hatinya. Kenangan masa lalu yang pahit itu kembali terkuak. Ya, ia memang pergi meninggalkan Hendri karena tak tahan dengan sikap kasar mantan suaminya itu. Tapi ia membawa Sherry serta. Ia tidak meninggalkan anaknya."Tapi sekarang aku bawa

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 199. Menghangatkanku

    Malam di rumah Safira dan Dewa terasa lebih dingin dari biasanya. Udara tidak bersahabat, atau mungkin hanya perasaan Dewa saja yang membeku sejak ia melangkahkan kaki masuk ke rumahnya sendiri.Vas bunga itu meleset. Pecahan kaca berserakan di dekat kaki Dewa, berkilauan terkena lampu ruang tamu. Safira berdiri di hadapannya dengan dada naik turun, matanya memerah, tangannya masih gemetar. Suasana menjadi panas mendadak. Bukan dingin lagi."Ngaku! Kamu selingkuh sama dia itu, kan?! Indira!" suara Safira melengking, memecah keheningan malam.Dewa menghela napas panjang. Lelah. Bukan hanya lelah fisik karena semalam suntuk menemani ibunya di rumah sakit, tapi lelah hati. Ia meletakkan kunci mobilnya di meja, lalu duduk di sofa tanpa menggubris amukan istrinya."Aku ngomong sama kamu, Dewa!"Dewa membuka dasi yang masih melingkar di lehernya. "Safira, aku capek. Jangan bikin ribut.""Jangan bikin ribut?!" Safira tertawa miris. "Suamiku ketahuan ngobrol mesra sama mantan tunangannya di r

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 198. Bukan Anak Haram

    Nathan duduk di samping, diam. Ia menatap Bara yang ikut duduk di lantai kamar."Pa... Nathan bukan anak haram, kan?" tanyanya lagi. Kali ini nadanya lebih lirih.Bara menarik napas dalam. Ia mendekat, duduk di depan Nathan, lalu menatap mata bocah itu dengan serius. "Denger ya, Nak. Kamu itu anak Papa. Papa sayang banget sama kamu. Kamu dan Nala itu anak Papa dan Mama. Titik."Nathan mengangguk pelan. Tapi matanya masih menyimpan tanda tanya. Luka itu sudah terlanjur menggores.***Malam semakin larut. Indira akhirnya bisa menidurkan kedua anaknya setelah membacakan dua dongeng dan menyanyikan satu lagu. Bara menunggu di ruang tamu, duduk diam dengan segelas air putih yang sudah habis sejak setengah jam lalu."Udah tidur?" tanyanya saat Indira turun."Udah," jawab Indira lemas. Ia duduk di sofa, memejamkan mata. "Makasih, Mas. Udah bantuin tadi.""Bukan Masalah. Nathan Nala kan anakku juga.""Kalau gitu aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa, kabarin aku," kata Bara kemudian pamit. Ha

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 197. Emosi

    Tubuh Nathan menegang. Bocah kecil itu menatap Bira dengan sorot mata yang tidak biasa, bukan sekadar marah, tapi ada luka yang menganga di sana. Nala merapat ke samping kakak kembarnya, tangannya meraih lengan Nathan dengan erat."Ka-kakak... aku takut..." bisik Nala, matanya mulai berkaca-kaca meski ia belum sepenuhnya mengerti apa arti kata itu. "Suster Bira jadi jahat."Bira tersentak. Ia sendiri kaget dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari mulutnya. Tapi ego dan kekesalannya sudah terlanjur memuncak. Selama ini ia merasa direndahkan, dianggap hanya sebagai pembantu, sementara Indira, wanita yang menurutnya hanya 'bekas istri orang kaya raya', hidup dengan segala kemewahan dan perhatian dari Bara."Kalian pikir kalian siapa? Sok tahu, sok mandiri. Suster ini capek ngurusin kalian dari pagi, tapi kalian gak pernah dengerin omongan suster!" Bira membentak, melampiaskan kekesalannya pada dua anak kecil di depannya.Nathan mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun. "Kami bukan

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 196. Permintaan Mayang

    Ruang rawat ICU terasa lebih hangat dari biasanya. Mesin monitor masih berbunyi pelan, selang infus tergantung di sisi tempat tidur, dan aroma obat-obatan menguar memenuhi udara. Namun bagi Bara, semua itu tak lagi menakutkan saat ia melihat sepasang mata yang sangat ia kenal perlahan menatap ke arahnya.“Mama…” suara Bara bergetar.Mayang tersenyum lemah. Wajahnya pucat, pipinya sedikit tirus, namun sorot matanya hidup. Indira berdiri di samping Bara, menahan haru yang mendadak menyeruak.“Bara…” bisik Mayang lirih.Tanpa menunggu lagi, Bara mendekat dan memeluk tubuh ibunya dengan hati-hati. Ia menunduk, mencium tangan Mayang lama sekali.“Alhamdulillah… Mama masih di sini. Aku takut, Ma…” suaranya pecah, tak lagi setegar biasanya.Mayang mengusap kepala putranya pelan. “Mama belum mau pergi. Belum lihat kamu bahagia. Mana bisa Mama pergi dan membiarkan kamu kesepian?"Indira menunduk, dadanya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka akan melihat momen seharu ini. Mayang menoleh padany

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 195. Bertemu Mantan

    Pintu lift rumah sakit terbuka pelan.Dewa melangkah keluar dengan wajah lelah. Kemeja yang tadi pagi masih rapi kini kusut, rambutnya sedikit berantakan. Ia benar-benar kembali ke rumah sakit, setelah hanya mengambil bajunya di rumah. Ia berjalan menyusuri lorong ICU, niatnya hanya satu, mengecek kondisi pasien yang ia titipkan pada dokter jaga.Namun langkahnya terhenti. Beberapa meter di depannya, di bawah lampu lorong yang temaram, Indira berdiri memeluk Bara. Bukan pelukan biasa, melainkan pelukan yang penuh kelelahan, ketakutan, dan kebutuhan.Indira menyandarkan kepalanya di dada Bara. Tangan Bara melingkar protektif di punggung Indira. Seolah dunia mereka hanya berdua.Dewa terpaku, dadanya seperti diremas sesuatu yang tak terlihat. Melihat adegan di depannya itu.Ia tak punya hak apa-apa untuk cemburu. Ia bukan siapa-siapa lagi di hidup Indira. Tapi kenapa hatinya sakit seperti ini?Indira yang pertama menyadari kehadiran Dewa. Tubuhnya sedikit menegang. Perlahan ia melepask

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status