เข้าสู่ระบบIndira menyimpan gagang telpon yang ada di rumah Rahadian, baru saja ia mendapatkan telpon dari Mbok Tuti yang memberitahukan alamat restoran tempat tuannya menunggu saat ini. Jantungnya berdegup tak karuan. Dokumen yang diminta Bara sudah dalam genggamannya, ia harus segera pergi agar tidak menimbulkan masalah. Dengan langkah cepat, ia keluar dari rumah besar itu dan mencari tukang ojeg.
Motor yang membawanya melaju cukup kencang di jalanan kota. Angin menerpa wajahnya, namun pikirannya penuh dengan rasa cemas. Ia tahu betul bagaimana Bara jika sudah marah. Lelaki itu tidak akan segan memarahinya. Namun, di tengah perjalanan, motor yang ia tumpangi melambat. Di depan, terlihat kerumunan orang di pinggir jalan. Suara gaduh terdengar, disertai teriakan beberapa orang yang panik. "Ada apa ya, Pak? Kok rame-rame begitu di depan?" tanya Indira. “Kayaknya ada kecelakaan, Mbak,” ujar tukang ojek, menghentikan laju motor. Indira menoleh, matanya membelalak ketika melihat seorang pria tua tergeletak di aspal, tubuhnya berlumuran darah di bagian kepala. Orang-orang hanya mengelilinginya, sebagian tampak kebingungan. Tanpa pikir panjang, Indira segera turun dari motor. “Pak, tolong bantu saya bawa beliau ke rumah sakit!” serunya kepada tukang ojek dan beberapa orang yang berdiri di sana. Beberapa pria segera membantunya, mengangkat tubuh pria tua itu ke atas motor lain. Indira ikut naik ke belakang motor, memeluk tubuh pria tua itu agar tidak terjatuh. Ia tidak peduli pakaiannya akan ternodai darah. Yang terpenting, pria tua itu bisa segera mendapat pertolongan. Sesampainya di rumah sakit terdekat, Indira langsung berlari ke ruang IGD, memanggil perawat dengan napas terengah. “Tolong… tolong, Pak ini kecelakaan!” Para perawat segera mengambil alih, mendorong korban masuk ke dalam ruang penanganan. Indira terduduk di kursi tunggu, tangannya bergetar penuh darah, dadanya naik-turun. Waktu terus berjalan tanpa ia sadari. Baru setelah hampir satu jam, dokter keluar dan mengatakan bahwa korban sudah dalam penanganan intensif. Indira baru teringat dokumen yang harus ia antarkan. Wajahnya pucat, keringat dingin bercucuran. “Astaga… Tuan Bara!” Ia segera keluar dari rumah sakit, buru-buru mencari ojeg. *** Di restoran mewah tempat pertemuan bisnis berlangsung, Bara duduk dengan wajah tegang. Di meja panjang itu, ada klien pentingnya, Pak Suryo, serta dua kolega lain. Asisten dan sekretarisnya mencoba mencairkan suasana, namun Bara terus melirik jam tangan mewahnya. “Pak Bara, sepertinya ada yang tidak siap ya?” tanya Pak Suryo, nada suaranya terdengar kecewa. Bara memaksa tersenyum. “Ah, tidak, Pak. Dokumen masih dalam perjalanan. Sedikit kendala.” Pak Suryo menghela napas, lalu berdiri. “Saya orang yang menghargai waktu. Kalau janji jam 1 siang, saya tidak suka menunggu sampai lewat begini.” “Pak Suryo, sebentar lagi—” “Maaf, saya harus pergi. Kita bisa atur ulang jadwal, tapi kalau begini terus, saya rasa kerja sama tidak bisa berjalan baik.” Tanpa memberi kesempatan, Pak Suryo melangkah keluar, diikuti kolega lainnya. “Pak, mohon tunggu sebentar…” Bara bangkit, namun klien itu sudah benar-benar pergi. Asisten dan sekretarisnya hanya bisa menunduk, tak berani menatap wajah majikan mereka yang kini memerah karena amarah. Beberapa menit kemudian, barulah Indira muncul, wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan keringat membasahi pelipisnya. Napasnya terengah, tangannya masih memegang map cokelat berisi dokumen. “Tuan… saya maaf… dokumennya…” Plak! Suara bentakan Bara meledak, membuat semua orang di restoran itu menoleh. “Kamu tahu jam berapa sekarang?! Klien saya sudah pergi! Dasar tidak becus!” Indira terdiam, tubuhnya menegang. Suara Bara begitu keras, menusuk harga dirinya. “Tu-tuan, saya tadi—” “Tidak ada alasan!” potong Bara dengan sorot mata tajam. “Kamu itu cuma disuruh antar dokumen, bahkan pekerjaan remeh seperti itu pun tidak bisa kamu lakukan tepat waktu!” Indira menunduk dalam, menahan air mata yang hampir jatuh. Beberapa pengunjung restoran berbisik-bisik, menatapnya dengan rasa kasihan bercampur heran. “Pergi dari sini sebelum saya makin emosi!” Bara menepis map yang Indira bawa hingga hampir jatuh ke lantai. Dengan tangan gemetar, Indira memungut map itu, lalu mundur perlahan. Dadanya sesak, bukan hanya karena bentakan Bara, tapi juga karena ia merasa tak ada yang peduli pada kebaikan kecil yang ia lakukan tadi. Sementara itu, Bara duduk kembali, mencoba mengendalikan diri. Namun, wajahnya masih tegang. Asisten dan sekretarisnya saling pandang, takut berbicara. “Pak Bara… mungkin ada baiknya kalau—” “Diam!” bentaknya lagi, membuat keduanya bungkam. Dalam hati, Bara semakin kesal pada Bella, istrinya. “Kalau saja dia tidak sibuk dengan urusannya sendiri, aku tidak perlu menyuruh pembantu itu. Semuanya jadi kacau.” Ia meremas pelipisnya, memikirkan bagaimana ia akan memperbaiki hubungan dengan Pak Suryo. Indira berjalan lunglai keluar dari restoran. Air matanya tak bisa lagi ia tahan. Ia merasa begitu kecil, dipermalukan di depan umum. Namun, ia tahu, jika ia mencoba menjelaskan bahwa dirinya telat karena menolong orang, Bara tidak akan mau mendengarnya. "Maafkan saya, Tuan Bara." Indira berucap lirih, penuh rasa bersalah. Sementara itu, Bara kembali ke kantornya dengan amarah yang membara. Asisten dan sekretarisnya tak mampu menghentikan amarah bosnya. Di dalam ruang kerjanya, Bara seorang diri dan ia sedang mencoba untuk menghubungi istrinya. Namun, panggilan maupun pesan, tidak ada yang dibalas oleh Bella. "Baru saja pulang. Dia sudah keluyuran. Maumu apa sih Bell? Apa kurangnya aku padamu?" desah Bara seraya mengusap rambutnya dengan kasar. "Padahal aku sangat mencintaimu, aku berikan semua buat kamu. Tapi—hanya diam saja di rumah, kamu tidak bisa?" ucapnya kecewa. *** Hari berganti menjadi sore, Bara pulang ke rumahnya dan berharap kalau istrinya sudah pulang ke rumah, menyambutnya saat lelah. Selayaknya seorang istri yang menyambut suami pulang kerja. Namun, harapan Bara sia-sia. Bella, istrinya belum pulang dan bahkan tidak ada kabar. Istrinya itu tidak seperti wanita lain. "Aku berharap apa sih? Bella kan tidak pernah menyambutku seperti istri lainnya." Bibir lelaki itu tersenyum sinis. Di matanya tampak kesepian dan kekosongan. "Selamat sore Tuan." Melihat Indira menyambutnya dengan senyuman, Bara kembali memasang wajah datarnya. "Masih berani kamu nyapa saya? Setelah apa yang terjadi tadi siang?" Indira menundukkan kepalanya. Senyumannya perlahan menghilang. "Maafkan saya Tuan. Tadi saya tidak bermaksud sengaja untuk terlambat." Bara berdesis kesal. Tanpa bicara apa-apa, ia melangkah pergi menuju ke lantai dua kamarnya. Indira menghela napas berat. "Sepertinya Tuan benar-benar marah sama kamu, Indira." Komen Tuti yang sudah ada dibelakangnya. "Gimana ini, Mbok?" Indira bingung. "Gini aja. Kamu coba buatkan teh hangat dan camilan kesukaan tuan Bara. Lalu kamu minta maaf lagi." Saran Tuti pada Indira. Wanita polos itu langsung menganggukkan kepalanya dan melakukan saran dari Tuti. Usai membuat teh chamomile dan macaron, Indira memberanikan diri naik ke lantai atas. Ia mencoba mengetuk pintu yang setengah terbuka itu. Namun, tak kunjung ada jawaban, sehingga Indira masuk ke dalam sana dengan membawa teh serta makanan tersebut. "Permisi Tuan. Maaf, saya simpan di dalam saja." Tak ada jawaban, tapi Indira tetap masuk. "Aakhh Bella. Teruskan sayang. Aahh ...Bella." Suara desahan yang berasal dari kamar mandi di kamar itu, membuat Indira membeku. Bersambung...Bara menarik pinggang Indira, hingga tubuh mereka merapat. "Aku udah nahan ini 3 bulan loh. Karena aku takut kamu dan debay kenapa-napa. Kalau aku sampai—"Indira memotong ucapan suaminya, seakan tahu kemana arah pembicaraan ini. "Ya udah. Jangan ditahan lagi. Dokter bilang udah aman kan?"Sebelumnya dokter mengatakan kalau kandungan Indira yang masih muda itu rawan keguguran. Jadi, Bara memutuskan berpuasa dulu. Akan tetapi, sekarang dokter sudah bilang aman."Tapi aku takut kamu dan anak kita—""Aku tahu kamu nggak nahan. Aku udah gak papa kok, Mas. Kita pakai gaya yang aman ya?" ucap Indira lembut.Setelah diizinkan, Bara langsung memeluk Indira perlahan dan melumat bibir istrinya yang candu itu. Beberapa saat kemudian, entah kapan. Pakaian Bara kini sudah terlepas sepenuhnya. Sedangkan Indira masih memakai lingerienya, walau sudah acak-acakan. Bara melarang Indira melepaskannya, takut Indira kedinginan."Sa-sayang ...""Kalau aku terlalu keras, bilang ya? Jangan ditahan," ucap Bar
Seminggu setelah bangun dari koma, Bara baru bisa keluar dari rumah sakit. Selama itu, Gia dan Rudi yang mengurus semua pekerjaannya.Indira setia menemani Bara di rumah sakit. Namun, terkadang Bik Rumi dan Radit juga ikut menjaga Bara. Mereka khawatir pada kesehatan Indira dan bayinya.Sekarang suasana rumah Bara kembali hangat. Bara juga bisa menyesuaikan waktunya antara pekerjaan dan keluarga. Sesibuk apapun, ia akan selalu mengabari Indira dan menanyakan kabarnya. Handphone hampir tak lepas dari genggamannya. Bahkan sekarang modenya berubah dari silent menjadi dering.Lelaki ini telah belajar dari kesalahan bahwa komunikasi itu penting. Apalagi untuk orang yang kita cintai.Lantas , bagaimana dengan Bella? Wanita itu kembali masuk jeruji besi, setelah ia terbukti ingin menabrak Indira dan membuat Bara kecelakaan. Ia juga masih penghuni penjara karena kesalahannya yang dulu. Kali ini hukumannya tak main-main. Berlipat dari sebelumnya. Dari hukuman seumur hidup, jadi hukuman mati.P
Nala ikut meletakkan tangannya. "Papa cepet sembuh, ya Pa. Nala janji mau nurut papa."Indira yang melihat itu kembali menangis. Reina memeluknya dari samping. "Dia pasti bangun, Ra. Percaya sama Bara.""Mereka butuh papa mereka," isak Indira. "Aku juga butuh suamiku."Tiga hari berlalu, Bara belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Setiap hari Indira datang ke rumah sakit. Ia membacakan cerita untuk Bara, menyanyikan lagu-lagu favorit mereka saat pacaran dulu, dan terus meminta maaf.Suatu sore, dr. Andika memanggil keluarga Bara. "Kondisi Bapak Bara masih stabil. Tekanan di otaknya sudah mulai berkurang. Tapi kami belum bisa memastikan kapan beliau akan sadar. Prosesnya memang butuh waktu.""Tapi dia akan sadar, kan, Dok?" tanya Indira penuh harap."Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik, Bu. Doa dan dukungan dari keluarga sangat membantu. Terus ajak beliau bicara, walau mungkin beliau tidak merespon. Pendengaran adalah indra terakhir yang hilang saat seseorang koma."Ind
Suara sirine ambulans memecah kebisingan jalan raya. Indira masih memeluk tubuh Bara yang tak bergerak, air matanya tak henti membasahi wajah suaminya yang pucat pasi. Darah masih merembes dari kepala Bara, membasahi pakaian putih Indira hingga merah menyala seperti bunga lily yang kini tercecer di aspal."Saya mohon, selamatkan suami saya!" teriak Indira pada tim medis yang tiba dengan tergesa.Para paramedis dengan sigap membaringkan Bara di tandu. Indira ikut naik ke dalam ambulans, tangannya terus menggenggam tangan Bara yang mulai terasa dingin."Mas Bara, kamu jangan ninggalin aku. Jangan..." bisiknya di sela isak tangis. "Aku udah gak marah sama kamu, tapi aku nggak mau kehilangan kamu. Kamu denger? Aku masih sayang kamu, Mas."Di dalam ambulans yang melaju kencang, seorang perawat mencoba menstabilkan kondisi Bara. "Bu, mohon tenang. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."Indira mengangguk, tapi air matanya tak kunjung berhenti. Ia mengingat semua kebersamaan mereka. Saat Bar
Setelah usaha dan upaya yang dilakukan Bara untuk kembali membujuk istri dan anak-anaknya, belum juga membuahkan hasil. Ia bahkan sudah menyisihkan banyak waktu untuk berada di rumah. Meskipun waktu sedang sibuk-sibuknya di kantor. Bara sadar, ia salah karena baru menyadari betapa pentingnya waktu bersama keluarga. Terutama bersama istri yang sedang hamil. Sikapnya pada Indira memang melukai wanita itu dan sekarang ia masih mencoba memperbaikinya."Sayang, kamu mau kemana?" tanya Bara saat melihat istrinya beranjak dari atas ranjang. "Kamar mandi.""Aku antar ya.""Nggak usah Mas.""Nanti kalau kamu kepeleset gimana? Aku antar ya Sayang'?" kata lelaki itu lembut. Ia kembali lembut seperti sebelumnya."Apaan sih? Aku juga biasa sendiri kok kalau gak ada kamu. Gak usah lebay!" Indira menepis tangan Bara yang hendak membantunya. Ia pun kembali melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi , tanpa mempedulikan Bara yang menatapnya sendu."Kapan kamu mau maafin aku, sayang. I miss you ..." lir
Di meja makan, suasana terasa kaku. Indira duduk di samping Nathan dan Nala, sementara Bara duduk di seberang mereka. Seperti biasa, Indira menyuapi Nathan dan Nala bergantian. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Tapi Bara tahu, di balik itu semua, ada jarak yang begitu lebar antara dirinya dan istrinya."Mmm... enak banget, Ma. Sayur beningnya seger!" puji Nala dengan mulut penuh."Makanya dimakan pelan-pelan, Sayang. Nanti kesedak," ujar Indira lembut sambil menyeka sudut bibir Nala."Bu, Nathan habiskan?"Indira mengangguk. "Iya, Nak. Habiskan biar cepet gede.""Aku sih mau berotot badannya kayak Papa!" seru Nathan polos.Indira tersenyum. "Iya, nanti kamu bisa gede kayak Papa."Dari seberang, Bara hanya bisa menatap. Matanya tak lepas dari Indira yang begitu lembut di depan anak-anaknya. Ia rupa-rupa. Rindu saat Indira masih bisa tersenyum padanya seperti itu. Rindu saat Indira masih mau bercanda dengannya. Rindu saat tangan mungil itu masih dengan senang hati digen







