MasukTanpa mempedulikan istrinya yang akan mengomel seperti biasa, Bara melangkah pergi dari sana. Ia harus sarapan dan segera ke kantor. Sebelum ke kantor, ia juga harus mengantar Celine ke sekolah.
"Kenapa Bella tidak minta maaf sama aku? Setelah dia meninggalkanku begitu saja malam itu, tanpa pamit." Lelaki itu rupanya masih kesal, karena teringat pertengkaran mereka terakhir kali. Di mana Bella sangat keras kepala, meski dilarang pergi oleh Bara, wanita itu tetap pergi meninggalkannya. "Sial! Kenapa sekarang aku malah ingat kejadian malam itu?" Bara mengumpat, karena ia malah ingat kejadian malam panas bersama pembantu cantik di rumahnya, beberapa hari lalu. Ketika Bara sampai di lantai bawah, ia melihat pemandangan yang kurang menyenangkan dan etis menurutnya. Indira yang sedang duduk di kursi meja makan dan bersampingan dengan Celine. Hal yang tak seharusnya dilakukan pembantu. "Apa yang kamu lakukan?" Sontak saja Indira terperanjat melihat sosok Bara sudah ada dibelakangnya. Suara lelaki itu terdengar lebih dingin dari sebelumnya. "Tu-tuan." "Kamu siapa, berani duduk disamping keponakan saya?" Indira langsung sadar akan posisinya, ia pun beranjak berdiri dan menundukkan kepalanya di depan Bara. "Maafkan saya Tuan." "Tahu diri, siapa kamu di rumah ini. Kamu cuma babu." Kata-kata dingin itu menghunus tajam ke telinga dan pikiran Indira. Namun, ia berusaha untuk tidak memasukkannya ke dalam hati. Jika bukan karena Celine yang merengek, ia tidak mau duduk di sana. Bisa saja ia menjelaskannya, tapi mungkin kata-katanya akan terdengar seperti pembelaan. "Om Bara jangan marahin kak Indi. Aku yang nyuruh kak Indi buat—" Gadis kecil itu ingin menjelaskan semuanya, tapi Bara memotong perkataannya dengan cepat. "Celine, cepat makan sarapanmu. Tidak baik bicara saat makan. Setelah ini Om akan antar kamu ke sekolah." Perasaan Bara yang kurang baik karena Bella, membuatnya seperti ini. "Tapi Om—" "Celine, makan." Balas Bara singkat yang membuat Celine bungkam. Namun, sepasang matanya yang polos menatap Indira dengan perasaan bersalah. Indira tersenyum tenang dan mengisyaratkan kepada Celine kalau ia tidak apa-apa. Beberapa saat kemudian, majikan dan keponakan majikannya selesai makan, Indira memakaikan tas berwarna pink pada punggung Celine. "Celine, duluan ke depan!" ujar Bara datar. Celine mencebikkan bibir, kemudian berkata. "Jangan marahin kak Indi!" Lelaki dewasa itu memutar bola matanya malas. Sedangkan Celine melangkah pergi dari sana, meninggalkan Indira dan Bara yang masih berjarak dekat. "Ingat posisimu di rumah ini. Jangan karena Celina menerima kamu, bukan berarti kamu bisa seenaknya." Indira menerima teguran itu. "Sa-saya tahu Tuan, maafkan saya." Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan pada Indira. Bara melangkah pergi menyusul Celine yang sudah menunggu di depan mobil bersama dengan supirnya. Indira menghela napas berat. "Makanya kalau jadi babu jangan belagu. Sok-sokan duduk sama keponakan majikan! Mau godain tuan Bara juga kan, kamu?" ujar Wati sinis. Ia adalah salah satu pelayan di rumah itu yang terkenal judes dan menor. Indira mengabaikan Wati dan lebih memilih melangkah pergi dari sana. Namun, Wati menghentikan langkahnya. "Hey! Gadis kampung. Kamu dipanggil nyonya Bella." "Nyonya Bella manggil saya?" tanya Indira tak percaya. "Iya, kamu budek ya? Barusan kan saya bilang!" sentak Wati yang bicara dengan nada tidak bersahabat. Indira hanya menganggukkan kepalanya, kemudian pergi dari sana. Setibanya di kamar Bella. Indira langsung dihadiahi tamparan oleh istri majikannya itu. Indira terkejut, sempat membeku sejenak sebelum ia tersadar. "Nyonya. Kenapa nyonya melakukan ini pada saya? Kenapa—" Plak! Sekali lagi, Bella menampar Indira, sebelum wanita berpakaian maid itu sempat membalas. Tatapan nyalang Bella arahkan pada maid barunya ini. "Kamu tanya kenapa, hah?" tanya Bella sinis. Indira balik bertanya dengan polos sambil merasakan pipinya yang perih. "Saya tidak punya salah apa-apa, jadi kenapa saya ditampar?" Bella tersenyum miring. "Perlu saya jelaskan alasannya? Bukannya kamu tahu sendiri apa salah kamu, hah?" "Nyonya, saya benar-benar tidak mengerti." Wanita bermata biru itu tidak percaya dengan kepolosan Indira. Ia masih menatap Indira dengan tajamnya. "Jangan pernah berani untuk mencoba menggoda suami saya! Ingat, kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk menggoda!" sentaknya. "Tapi Nyonya, saya tidak—" "Heh!" Jari telunjuk Bella mengarah pada wajah Indira dengan tajam. "Saya tahu wanita macam kamu. Memanfaatkan kecantikan kamu untuk menggoda lelaki kaya." Bella bisa melihat, dibalik penampilan Indira yang sederhana, tersimpan kecantikan alami, kecantikan wanita polos yang tidak biasa. Ia tahu, ia lebih dari Indira, jauh dari pelayan kampungan ini. Akan tetapi, tak ada salahnya untuk jaga-jaga. Siapa tahu Indira punya niat terselubung pada suaminya. "Nyonya salah paham. Saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk menggoda lelaki kaya." Setenang mungkin, Indira menjelaskannya. "Baik, untuk sekarang saya percaya dengan niat kamu. Tapi kalau saya melihat kamu dekat-dekat dengan suami saya lagi—kamu akan habis ditangan saya!" Bella memperingatkan dengan tegas. Indira menganggukkan kepalanya. "Sudah! Sekarang kamu kembali bekerja. Saya mau istirahat." "Baik, Nyonya." Setelah Indira pergi, Bella mendengus kesal. Merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuk. Kesal pada Indira dan kesal pada suaminya tadi. "Kayaknya Bara marah banget sama aku, sampai dia nggak mau memenuhi keinginan aku. Padahal selama ini, dia selalu melakukan apa yang aku mau. Pokoknya, nanti aku harus bujuk dia, biar dia nggak marah lagi." Bella menyadari kesalahannya, mungkin karena kurang memperhatikan Bara yang menyebabkan lelaki itu tidak mau menurutinya lagi. "Oh iya. Ngomong-ngomong, aku suruh si mbok Tuti cari pembantu yang seumuran si mbok Yeni. Tapi kenapa yang datang malah pembantu yang masih muda. Mana cantik lagi! Awas aja kalau dia berani gangguin suamiku." Wanita bermata biru itu, mengakui kalau Indira memang cantik dan masih muda. Dalam sekali lihat, ia tidak suka dengan pelayan barunya itu. *** Siang itu, Bara sedang berkutat di dalam ruang kerjanya. Sebentar lagi ia akan ada rapat penting bersama dengan koleganya. Namun, ia menyadari ada sesuatu yang ia lupakan di rumah. "Sial! Aku lupa membawa dokumennya di rumah." "Ada apa pak Bara? Kenapa bapak terlihat panik? Sebentar lagi rapat, Pak." Rudi, asisten pribadinya melihat Bara tampak panik. "Dokumen rapatnya ketinggal di rumah saya." Bara memijat pelipisnya. "Biar saya yang ambilkan di rumah pak Bara." Saran Rudi. "Tidak usah! Kita nggak punya banyak waktu. Pasti pak Suryo sudah menunggu kita dan kita harus segera menemuinya. Saya akan suruh orang di rumah untuk mengantar dokumennya ke tempat rapat." Tidak ada waktu untuk pergi ke rumah, ia dan asisten serta sekretarisnya harus ke tempat pertemuan. Maka dari itu, Bara meminta orang rumah membawa dokumen itu dari ruang kerjanya. "Aduh, maafin mbok Tuti ...tuan. Mbok lagi di supermarket sama pak Udin. Mbok Tuti juga mau sekalian jemput non Celine di sekolah." Bara tidak bisa marah pada Tuti. Tuti juga sibuk, begitu pula dengan pelayan lain. "Ya sudah. Minta istri saya kemari untuk mengantarnya." "Aduh Tuan, maaf ... nyonya Bella tadi pergi sama pak Andrew." Lelaki diseberang sana terlihat kesal saat mendengarnya. Ia berusaha menahan amarah. "Suruh Indira datang kemari. Saya kirim alamatnya!" Putus Bara, yang lalu mematikan sambungan telponnya. "Sial Bella! Kenapa kamu selalu saja begini?" umpatnya kesal dengan sikap sang istri yang suka seenaknya. Bersambung...Mendengar kalimat Hendri, Safira seperti tersambar petir di siang bolong. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Nafasnya memburu, antara marah dan takut."Kamu gila, Hendri! Aku sekarang istri orang! Lagi hamil pula! Kamu nggak punya perasaan apa?!" desis Safira, berusaha sekeras mungkin menjaga volume suaranya agar tak terdengar siapapun.Terutama Sherry dan Reina yang setahunya sedang tidur. Tawa Hendri kembali terdengar, panjang dan menyebalkan. "Perasaan? Sayang, dulu saat kamu meninggalkan aku demi Dewa, apa kamu pakai perasaan? Kamu tinggalin aku dan anak kita, Sherry, demi mengejar pria lain. Sekarang jangan sok suci di hadapanku."Safira menggigit bibirnya. Setiap kata Hendri adalah tusukan pisau tepat di ulu hatinya. Kenangan masa lalu yang pahit itu kembali terkuak. Ya, ia memang pergi meninggalkan Hendri karena tak tahan dengan sikap kasar mantan suaminya itu. Tapi ia membawa Sherry serta. Ia tidak meninggalkan anaknya."Tapi sekarang aku bawa
Malam di rumah Safira dan Dewa terasa lebih dingin dari biasanya. Udara tidak bersahabat, atau mungkin hanya perasaan Dewa saja yang membeku sejak ia melangkahkan kaki masuk ke rumahnya sendiri.Vas bunga itu meleset. Pecahan kaca berserakan di dekat kaki Dewa, berkilauan terkena lampu ruang tamu. Safira berdiri di hadapannya dengan dada naik turun, matanya memerah, tangannya masih gemetar. Suasana menjadi panas mendadak. Bukan dingin lagi."Ngaku! Kamu selingkuh sama dia itu, kan?! Indira!" suara Safira melengking, memecah keheningan malam.Dewa menghela napas panjang. Lelah. Bukan hanya lelah fisik karena semalam suntuk menemani ibunya di rumah sakit, tapi lelah hati. Ia meletakkan kunci mobilnya di meja, lalu duduk di sofa tanpa menggubris amukan istrinya."Aku ngomong sama kamu, Dewa!"Dewa membuka dasi yang masih melingkar di lehernya. "Safira, aku capek. Jangan bikin ribut.""Jangan bikin ribut?!" Safira tertawa miris. "Suamiku ketahuan ngobrol mesra sama mantan tunangannya di r
Nathan duduk di samping, diam. Ia menatap Bara yang ikut duduk di lantai kamar."Pa... Nathan bukan anak haram, kan?" tanyanya lagi. Kali ini nadanya lebih lirih.Bara menarik napas dalam. Ia mendekat, duduk di depan Nathan, lalu menatap mata bocah itu dengan serius. "Denger ya, Nak. Kamu itu anak Papa. Papa sayang banget sama kamu. Kamu dan Nala itu anak Papa dan Mama. Titik."Nathan mengangguk pelan. Tapi matanya masih menyimpan tanda tanya. Luka itu sudah terlanjur menggores.***Malam semakin larut. Indira akhirnya bisa menidurkan kedua anaknya setelah membacakan dua dongeng dan menyanyikan satu lagu. Bara menunggu di ruang tamu, duduk diam dengan segelas air putih yang sudah habis sejak setengah jam lalu."Udah tidur?" tanyanya saat Indira turun."Udah," jawab Indira lemas. Ia duduk di sofa, memejamkan mata. "Makasih, Mas. Udah bantuin tadi.""Bukan Masalah. Nathan Nala kan anakku juga.""Kalau gitu aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa, kabarin aku," kata Bara kemudian pamit. Ha
Tubuh Nathan menegang. Bocah kecil itu menatap Bira dengan sorot mata yang tidak biasa, bukan sekadar marah, tapi ada luka yang menganga di sana. Nala merapat ke samping kakak kembarnya, tangannya meraih lengan Nathan dengan erat."Ka-kakak... aku takut..." bisik Nala, matanya mulai berkaca-kaca meski ia belum sepenuhnya mengerti apa arti kata itu. "Suster Bira jadi jahat."Bira tersentak. Ia sendiri kaget dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari mulutnya. Tapi ego dan kekesalannya sudah terlanjur memuncak. Selama ini ia merasa direndahkan, dianggap hanya sebagai pembantu, sementara Indira, wanita yang menurutnya hanya 'bekas istri orang kaya raya', hidup dengan segala kemewahan dan perhatian dari Bara."Kalian pikir kalian siapa? Sok tahu, sok mandiri. Suster ini capek ngurusin kalian dari pagi, tapi kalian gak pernah dengerin omongan suster!" Bira membentak, melampiaskan kekesalannya pada dua anak kecil di depannya.Nathan mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun. "Kami bukan
Ruang rawat ICU terasa lebih hangat dari biasanya. Mesin monitor masih berbunyi pelan, selang infus tergantung di sisi tempat tidur, dan aroma obat-obatan menguar memenuhi udara. Namun bagi Bara, semua itu tak lagi menakutkan saat ia melihat sepasang mata yang sangat ia kenal perlahan menatap ke arahnya.“Mama…” suara Bara bergetar.Mayang tersenyum lemah. Wajahnya pucat, pipinya sedikit tirus, namun sorot matanya hidup. Indira berdiri di samping Bara, menahan haru yang mendadak menyeruak.“Bara…” bisik Mayang lirih.Tanpa menunggu lagi, Bara mendekat dan memeluk tubuh ibunya dengan hati-hati. Ia menunduk, mencium tangan Mayang lama sekali.“Alhamdulillah… Mama masih di sini. Aku takut, Ma…” suaranya pecah, tak lagi setegar biasanya.Mayang mengusap kepala putranya pelan. “Mama belum mau pergi. Belum lihat kamu bahagia. Mana bisa Mama pergi dan membiarkan kamu kesepian?"Indira menunduk, dadanya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka akan melihat momen seharu ini. Mayang menoleh padany
Pintu lift rumah sakit terbuka pelan.Dewa melangkah keluar dengan wajah lelah. Kemeja yang tadi pagi masih rapi kini kusut, rambutnya sedikit berantakan. Ia benar-benar kembali ke rumah sakit, setelah hanya mengambil bajunya di rumah. Ia berjalan menyusuri lorong ICU, niatnya hanya satu, mengecek kondisi pasien yang ia titipkan pada dokter jaga.Namun langkahnya terhenti. Beberapa meter di depannya, di bawah lampu lorong yang temaram, Indira berdiri memeluk Bara. Bukan pelukan biasa, melainkan pelukan yang penuh kelelahan, ketakutan, dan kebutuhan.Indira menyandarkan kepalanya di dada Bara. Tangan Bara melingkar protektif di punggung Indira. Seolah dunia mereka hanya berdua.Dewa terpaku, dadanya seperti diremas sesuatu yang tak terlihat. Melihat adegan di depannya itu.Ia tak punya hak apa-apa untuk cemburu. Ia bukan siapa-siapa lagi di hidup Indira. Tapi kenapa hatinya sakit seperti ini?Indira yang pertama menyadari kehadiran Dewa. Tubuhnya sedikit menegang. Perlahan ia melepask







