Mag-log inWARNING!!! Mature Content /SPG/ R18+ Farah Jimenez was shocked when she witnessed how an unknown woman was killed. The man who killed that woman is none other than Lance Dominguez, a very rich and influential businessman not only in the country but also in whole of Asia. He threatened to kill her family and sell her to the club if she reported what she saw. Even against her will, she agreed when he told her he wanted her to be his bedwarmer in exchange for saving his father's life. She was so afraid of him that she did nothing but to obey his wishes. But as time goes by, she gets to know Lance's true personality. At the same time she also discovered what really happened the night she witnessed the murder. How will Farah accept the truth that will change her life and beliefs forever?
view moreLangit Jakarta menjingga keemasan ketika Rengganis Prabakusuma memasuki lobi kantor WEDHATAMA GROUP. Denting hak sepatunya bergema di lantai marmer, seirama dengan degup jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya. Sore itu, ia tak hanya datang sebagai sekretaris CEO muda Javindra Wedhatama, tetapi juga sebagai kekasih rahasia yang menunggu sebuah kepastian.
Rengganis melirik jam di tanganya. Sudah pukul enam lebih lima belas. Hampir semua karyawan sudah pulang kecuali beberapa staf penting dan tentu saja dirinya. Javin masih berada di ruangannya, ia masih sibuk rapat daring dengan klien bisnisnya dari Hongkong. Rengganis mengetuk pelan pintu ruangan CEO. "Permisi Pak???" Javin yang masih memandang layar leptop sejenak mengalihkan pandanganya kepada Rengganis dan mengangguk sembari menyimpulkan senyum manis dari wajah tampannya. Rengganis menunggu dalam diam di sofa ruangan lantai delapan itu, sesekali membenarkan poni dari rambut coklatnya yang tergerai lemas. Jantungnya berdesir setiap kali suara bariton Javin terdengar penuh dominasi ditengah daringnya. Suara bariton tegas yang selalu berubah menjadi sangat lembut ketika berbicara kepadanya, suara yang kerap kali meluluhkan logikanya. "Ganis?" suara bariton Javin mendekatinya. Gadis itu berdiri menyambutnya penuh kasih. "Sudah selesai?" Javin mengangguk. Kemeja putihnya masih rapih, sementara dasinya sedikit ia longgarkan. Dan mata itu ... mata yang selalu saja mampu menenggelamkan Rengganis dalam perasaan cinta, namun kali ini mata itu nampak menatap dengan lelah. "Nis?" "Ada apa Mas?" "I miss you!" ucap Javin menyandarkan kepalanya di bahu Rengganis. "Ini di kantor Mas?" "I know ... But I really miss you Nis?" "Mas kenapa?" "I said I miss you!" "I miss you too" Javin terdiam sejenak, membiarkan dirinya larut dalam dekapan hangat yang hanya bisa ia dapatkan dari bahu seorang Rengganis. Sore menjingga itu semakin meredup dibalik tirai kaca kantor. Tapi kehagatan dua insan itu seolah menahan waktu agar berhenti untuk tidak melaju. "Capek, Nis." bisiknya pelan. Rengganis mengusap lembut pelipis pria itu. "Kamu nggak sendirian, Mas. I'm here with you." Javin menarik napas panjang lalu menatap mata Rengganis dalam-dalam. "Sampai kapan kita harus terus seperti ini?" Pertanyaan itu menghantam dada Rengganis. Ia tahu, cepat atau lambat percakapan ini akan datang. Hubungan yang mereka jaga diam-diam terlalu lama tersembunyi dibalik profesionalisme. Ia menunduk, menghindari tatapan pria yang dicintainya. "Masih takut, hm?" tanya Javin, lembut namun menusuk. "Bukan takut! aku cuma gamau kamu harus kehilangan apa yang sudah kamu genggam sekarang ini." bisiknya. Javin menggenggam erat tangan Rengganis. "Aku gak pernah takut kehilangan harta dan kekuasaan, Nis. Justru yang aku takutkan itu keselamatan kamu. Selama ini kamu selalu ditekan dari mana-mana. Apalagi Dru. Percaya atau tidak ... Dru bukanlah orang bodoh yang tidak tahu hubungan kita. Selama ini dia mungkin hanya berpura-pura buta dengan semua ini." Rengganis terdiam. Nama itu... Druwenda Wedhatama. Adik laki-laki Javin, Pria yang menjadi senjata utama keluarga Wedhatama dalam menjaga nama baik dan citra publik mereka. Sikapnya terkenal dingin dan mematikan. Sungguh bertolak belakang dengan Javin yang hangat dan bersahaja. "Ini bukan cuma soal Dru, Mas!" suaranya bergetar. "Tapi tentang Nyonya, Keluarga besar dan tentang masa depan kita. Kita gak bisa egois, Mas!!! kamu tahu sendiri gimana ganas dan menakutkanya media, belum lagi besarnya nama baik Mas saat ini merupakan tanggungjawab kamu sebagai pemimpin." Javin terdiam sejenak. Napasnya berat. "Mas bisa handle itu semua, Nis..." Rengganis membuka mulutnya perlahan, suaranya bahkan hampir tak terdengar. "No... aku gamau ambil resiko sekecil apapun Mas. Aku mau kamu aman." Keheningan menggantung di ruangan mewah itu, menyisakan detak jam dan helaan napas yang tak beraturan. Sorot mata Javin mengeras. "Kapan kamu siap?" tanya Javin, suaranya berubah lebih dingin. Rengganis menunduk dalam, tak sanggup membalas tatapan itu. "Kasih aku bukti, Mas... Kalau kamu benar-benar bisa baik-baik aja ketika kita go public." ucapnya pelan, namun tegas. "Nis ... You know I love you, right?" "You know I love you too...." Rengganis menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan kembali kekuatan hatinya. Ia tahu, terlalu banyak yang harus dipertaruhkan malam itu. Namun, daripada larut dalam ketegangan yang membakar batas logika dan perasaan, ia memilih untuk mengalihkan arah. "Mas..." ucapnya pelan, sambil melangkah mendekati pria yang kini memunggunginya. "Mas Javin udah makan?" Pertanyaan sederhana itu menggantung di udara, menyejukan sejenak atmosfer yang mulai menghasukan. Javin menoleh perlahan. Ada sedikit kerutan di dahinya, seolah tak menyangka Rengganis akan menanyakan hal sepele setelah percakapan yang begitu emosional. Tapi justru dari pertanyaan itulah, ia sadar jika Rengganis sedang menyelamatkan mereka dari jurang ledakan perasaan yang belum saatnya meledak. "Belum..." jawabnya pelan. "Nggak kepikiran makan." Rengganis tersenyum kecil, mencoba menenangkan suasana. "Mas selalu kayak gitu. Sibuk, stress, terus lupa isi perut." Ia meraih tas kecilnya lalu mengeluarkan kotak makan bening berisi nasi, ayam panggang madu, dan sambal bawang kesukaan Javin. Masakan rumah, buatan tanganya sendiri. Bukan karena niat awalnya ingin memberi, tapi karena ia tahu setiap kali Javin sibuk rapat malam, ia akan melewatkan waktu makan dan hal itu pula yang membuat Rengganis selalu bersiap. "Ayo makan dulu, Mas." ucapnya, menyodorkan kotak makan itu dengan senyum hangat. Javin menatapnya lama, seakan ingin mengingat wajah Rengganis baik-baik. Kemudian, ia mengambil kotak makan itu, membuka tutupnya pelan, dan aroma lezat langsung menyeruak. "Makasih sayang. Kamu selalu tahu yang aku butuhin, ya Nis?" gumamnya pelan. "Kalau bukan aku siapa lagi?" jawab Rengganis dengan nada menggoda, meski ada sedikit rasa getir dalam tawa pelannya. Javin duduk di tepi sofa, menyendokkan nasi perlahan. "Sampai kapan kita harus menahan ya, Nis?" Rengganis tak menjawab. Ia hanya duduk disampingnya, membiarkan waktu kembali mengalir pelan, sambil menunggu malam Jakarta benar-benar menelan sisa jingga di langit. Javin meletakkan sendoknya perlahan ke dalam kotak makan, lalu menatap Rengganis tanpa senyum. Matanya meredup, tak lagi segan menunjukkan luka yang sejak tadi ia sembunyikan. "Kamu tahu Nis?." gumamnya, "Setiap kali ada klien yang datang ke kantor dan mulai sok care ke kamu, senyum-senyum, ngobrol terlalu lama, dan matanya gak pernah lepas dari kamu itu aku selalu pengen lempar mereka keluar ruangan!" Rengganis menoleh cepat. "Mas." "Aku cemburu, Nis. Gila aja rasanya ngeliat kamu dilihat orang lain, disapa pakai nada sok akrab, padahal ... Aku ini—" "Rengganis terdiam, matanya menatap kosong sejenak, lalu lembut berkata,"Kenapa Mas ga pernah bilang kalo cemburu?" Javin menghela napas. "Memangnya Mas punya hak? hubungan tersembunyi sialan ini selalu saja menjadi batas." Rengganis memegang tangan Javin, menggenggamnya erat. "Maaf Mas, kita sama-sama dihadapkan dengan perasaan yang rumit." "You know I really love you, Honey." Ucap Javin yang luluh dan mencium lembut bibir ranum Rengganis. ~TBC~Since we were struggling, I have also learned to commute. At first it was hard for me to ride jeeps and buses, but eventually my body got used to it. I also get accustomed to crowded travel or having fun during the rush hour. I have also learned to ride the bus while it is still running. I have really learned a lot from our family’s biggest problem right now. "Hey girl, I have good news for you!" Leah said when we met after our last afternoon class. We were supposed to have one more subject, but all our instructors said they had a faculty meeting. My friend's eyes were shining, and she was obviously excited. She was about to wriggle with the intensity of her excitement, so I couldn't help but laugh at her appearance. "What good news is that, that made you look like a worm thrown in the salt?" I asked, laughing. We sat on a bench shaded by a large tree. I don't know what kind of tree it is, but I am happy because the leaves are rich and thick. “Do you remember Terrence La Cuesta? Yo
"Don't move please..." I begged, because even the slightest movement would surely cause me severe pain. He barely entered his length, but I could feel that he was really big. He just stared at me while his chest continued to move up and down. He looks so damn serious and I'm beginning to feel afraid. What if he gets mad because I can't make him happy? He might hurt me or worse...But I was a bit surprised when he lowered his face and gave me a sweet kiss. At the same time, he massaged my breasts gently. He also pinched my nipples, and I gasped with a sudden sensation."I’m sorry if I’d hurt you. I’ll inch slowly now. I promise I will be gentle," he whispered sensually, and kissed me again until I felt him completely fill me to the brim. I accidentally bit his lip but he didn't complain. It even looked like it added to his eagerness to do more and he started to move.Slowly and seeming to struggle because my wet core was so tight.“Damn! Why are you so tight?!” he grunted and began to k
Lance is coming home today, and I don't know why I'm excited. I should be angry with him because of the situation he put me through now, but I can't understand myself.Last night we repeated what we did the other night and I feel like he's preparing me for what we will really do. But I tried to think of something else because we have an examination today.Until late in the afternoon, I was one of the last to leave the classroom because I deliberately took enough time to get a high score in all my tests today.In the evening, Lance was already calling me. Fortunately, I was able to tell my mom that I couldn't come home tonight because of work. I stopped walking to answer the call."Hi, where are you?" he immediately asked when I answered the call. Suddenly, my heart pounded louder in my chest hearing his deep voice. I blew a breath before answering."I'm about to leave. I just finished my last exam for today," I replied. Why is my heart beating so fast? Damn!"I'm waiting for you, righ
"Who are you texting with and it's like you've suddenly lost yourself?" Leah was curious. I forgot that he was just next to me. It's a good thing she didn't read the contents of Lance and I's convo."It’s my new boss. I was just reminded to resign from my previous jobs so I can start with them," I lied. She nodded and her face was slightly sad. I am also sad that I will no longer be able to work with her every day, but I didn’t have much choice."It’s really sad because we won't see each other that often," she uttered, frowning. I just smiled gloomily at her."It's alright. Besides, we can still chat anytime, right? Just remember, if you have a problem and you know I can help, don't hesitate to tell me, okay?" I reminded her. She took a deep breath and did not take her eyes off me."That's right. But, when there's an opening at your new job, don’t forget to recommend me, okay?" she pleaded I wryly smiled. I don't know whether to laugh or cry at her. If she only knew what kind of job I
I stopped at the stairs because I wasn't sure where I was going. Fortunately, a maid came upstairs and told me to go to the dining room now because Lance was already waiting there. Unlike last night where an aged maid came to me, this one seems a bit grumpy. She didn't even greet me and frowned as i
It was eleven o'clock at night when we finished dinner. To be honest, I almost couldn't even swallow what I was eating earlier because I was nervous about Lance's presence. From time to time, he asked me questions and, by the grace of God, I was able to answer them properly.Now we are going to the
Farah’s POV"You want to negotiate with me?" Lance asked with a smirk. I didn't finish reading the contract because I was horrified by its contents. My breathing was almost tensed with nervousness while reading it.Now I'm crying again because I can't believe I got into this situation. But I can't
Lance’s POVI was so shocked when I heard a woman scream from behind a large tree after I accidentally pulled the trigger. I quickly turned to where the woman was and saw that she was shaking with fear. Our eyes met and that’s when she became more frightened."Fuck! I thought this place was clean a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu