LOGINWhat do you desire? Wealth, Fame or Women? Anything you desire can be fulfilled in The Great Black Sea. Set in the medieval period, six friends depart on a journey after their friend gets diagnosed with an unknown disease with no cure. They need to search for a fish which is in a holy pond on an island and has power to fulfill any wish. But what lies for them are the hardships and challenges in the form of cannibal tribes, hungry fairies, ball munching mermaids, pirates and even genies. Will they be able to reach the island and save their friend? Will they be driven by their own desires and betray each other? You have to read to find out. This is an epic ride which will make you delve deep inside yourself in a fun way.
View MoreLana menangis sekaligus tertawa di dalam sebuah bar yang ramai. Hidupnya sangat mengejutkan, bagaimana tidak, beberapa jam lalu ia baru saja dicampakkan oleh kekasihnya. Namun tidak sampai 30 menit dia mendapat kabar soal kenaikan gaji dan bonus karena tidak pernah cuti.
Sungguh ironi. “Aku harus mabuk malam ini. Oh tunggu…” ia meraih ponselnya dari tas selempang hitam yang disimpan dikursi sebelah. Lana Rose adalah sebuah perawat disalah satu klinik yang ada di pusat kota California. Hidupnya baik-baik saja sampai malam ini. Gadis 26 tahun itu hampir gila karena kekasihnya, atau lebih tepatnya mantan kekasihnya adalah seorang dokter tempat ia bekerja. Lana pikir ia tidak akan pernah putus dengan kekasihnya, tapi malam ini, sang pacar memilih untuk mengakhiri hubungan tanpa alasan yang jelas. Lana memandang ponselnya. “Dia benar-benar tidak mencariku.” gumamnya dengan suara sedih yang terdengar jelas. Bartender dihadapannya tampak cemas karena Lana bahkan tidak kuat duduk dengan benar. Lana mengusap wajahnya dengan kasar, menahan diri agar tidak menangis. Ada banyak alasan untuk Lana tidak bersedih, dia cantik, muda dan memiliki pendapatan yang tetap setiap bulannya. “Lupakan saja dia.” Lana kembali meminum cocktail dengan campuran jus nanas itu. Wajahnya mengerut ketika ia merasa tenggorokannya terbakar. Gadis itu lantas berdiri dari kursinya, jalan sambil memegang kursi yang berjejer disepanjang konter. Lana adalah pelanggang tetap bar ini, dia hafal betul dimana letak kamar mandinya. Saat berjalan menuju kamar mandi, ada dua wanita yang menunggu giliran di depan Lana. Salah satu wanita itu hendak menyulut rokoknya. Lana langsung berdehem, dengan setengah kesadaran yang ia miliki Lana melipat tangannya di depan dada. “Di dalam Bar ini, kalian tidak boleh merokok.” “Siapa kau?!” wanita itu langsung gusar dan mendorong Lana. “Banyak bahan mudah terbakar.” Lana menunjuk semua arah dengan serampangan. “Apa sulitnya mentaati peraturan.” Gadis itu melempar rokoknya yang sudah menyala ke lantai lalu menatap Lana dengan sangar. Harus diakui Lana tidak memiliki badan seksi layaknya model, dia tidak tinggi, apalagi tubuh yang bisa dibilang kurus itu membuatnya terlihat seperti gadis petit. Rambutnya yang coklat tua selalu ia biarkan panjang, membingkai wajah bulatnya yang pucat. “Tidak usah diladeni, sepertinya dia mabuk.” ucap teman si wanita itu mencoba melerai. Terlihat jelas Lana mabuk, dia sudah bersandar di dinding dengan mata sayu. Sampai tiba giliran Lana masuk ke bilik toilet. Gadis itu dengan cepat melakukan apa yang perlu. Namun, ketika hendak keluar, Lana mencium asap. Ia terbatuk, tangannya mengepal di depan mulutnya. Seketika kesadaran Lana kembali, ia menoleh kanan dan kiri. Benar saja, ada kobaran api tepat di depan pintu masuk toilet wanita. “Ahh… ini pasti gara-gara yang tadi.” gerutunya. Ia segera melepas kemejanya, menyisakan tank top putih yang melekat di tubuhnya. Lana membasahi kemeja itu dengan air dan mengikatkan di kepalanya. Ketika ia hendak melewati pintu terdengar suara minta tolong dari bilik pertama. Lana mengedor pintu itu. “Buka pintunya!” Pintu terbuka, dua wanita tadi sedang bersembunyi di dalam dengan rokok yang bahkan masih mereka pegang. Lana mendesah, sambil melirik mereka. “Kalian benar-benar.” Lana menggeleng. “Lepaskan baju kalian, basahi dengan air lalu kita berbaris bersama sampai keluar.” Lana kerap mendapat pelatihan soal situasi seperti ini, maka dari itu dia bisa sedikit tenang dibanding yang lain. Dua gadis itu mengikuti saran Lana. Lana memimpin di depan, melewati api yang untungnya belum terlalu besar. Mereka sampai keluar dengan selamat, disambut oleh para pengunjung lain yang besorak lega. Suara sirine pemadam kebakaran kian terdengar, Lana segera memakai kembali kemejanya yang basah. *** Api berhasil dipadamkan berkat kecepatan para pemadam kebakaran. Seorang pria bertubuh tinggi melepas helmnya. “Apa kau yang tadi membantu mereka keluar?” tanya pria itu dengan suara yang rendah dan serak. Lana menunjuk dirinya sendiri. Pria itu mengangguk tak sabaran, kerutan di kening pria itu semakin dalam. “Pemilik bar yang bilang bahwa kau yang membantu beberapa korban.” Lana mengedikan bahu, ia ada dipinggir jalan dekat mobil pemadam. “Kami awalnya terjebak di kamar mandi, lalu mereka berteriak. Yah, bisa dibilang aku memang menyelamatkan mereka.” Semburat merah merekah di pipi Lana, ketika ia sadar ia baru saja menjadi pahlawan. Pria itu menaikan alisnya. “Kau tau dia membawa korek api?” Lana mengangguk, sejujurnya ia sudah sangat mengantuk. Lana ingin segera lari dari tempat itu, kembali ke apartemennya yang hangat. Pria itu mendengus, wajahnya yang terkena jelaga tidak mengurangi ketampanannya. “Kau tahu bar ini punya aturan ketat dilarang merokok?” Lagi-lagi Lana mengangguk. Tak sampai semenit Lana menguap. “Bagaimana kalau bukan aku yang kau introgasi, mereka pelakunya tapi kau seolah-olah menyalahkanku.” gerutu Lana menyelipkan rambutnya ke telinga. Pria itu menghela napas panjang. “Lihat itu, mereka hanya menangis dan menolak memberi penjelasan. Itu reaksi yang wajar, tapi kau malah…” “Ada apa? Aku hanya sering mendapat pelatihan dan merasa tadi tidak terlalu menakutkan.” sahut Lana, ia lantas berdiri lalu membersihkan bokongnya dengan telapak tangan. Ia melirik tanda pengenal di dada pria itu. “Oke, Jesper. Aku Lana, kau bisa menginterogasiku besok siang di klinik dekat jalan utama. Saat ini kepalaku seperti berputar.” ia memijat pelipisnya. Jesper mentap wanita itu cukup lama sampai akhirnya ia menghela napas. “Kau butuh tumpangan?” Lana menggeleng sambil melambaikan tangannya. “Apartemenku hanya berjarak dua blok dari sini. Kalian bantu si pemilik bar saja, dia cukup pemalu.” Jesper terkekeh lalu mengangguk. “Ya, dia pemalu. Sangat pemalu.” Sial, Jesper mau tak mau mendongak menatap Lana yang pergi berjalan, menjauh dari keramaian sisa kebakaran tadi.I had an idea that these savage tribes must drink blood of animals. I had heard some rumors about those tribes existing somewhere on the planet, but I did not know I would encounter them one day. My father used to tell me those stories of savage people who drink animal blood and eat human flesh. And also, they ate male organs as snacks. My father did not say it specifically, I just guessed from their behavior. "Aw, hell no. I am not going to drink this sh*t." "Hulle hula hulle hullu," the tribal man gestured me to drink the thing. I had no choice but to drink it. I wondered if they would give me water if I denied to drink it. "Fine." I took up the horn and gulped it all down in one go. "Wow." To my surprise, it did not turn out to be blood of some animal as I thought it to be. It had a bitter-sweet taste, just like some berries you find in my land. "What is it made of?" I wondered. "It is made of blood berries found on this island only," said the tribal old man, upon entering th
"Hey, I feel there are people around here," Govind said to Ghosavasu. "There must be those tribal people moving around," Ghosvasu said. "Stay low and silent. Do not reveal your location." The two were heading towards the location they had heard the howling from. However, they knew they could not afford to be seen. "Hey, old man, how would we fight them?" Govind asked as he grabbed the arm of the old man in fear. "Have you thought of a way?" Ghosavasu side-eyed at him. "Why would we fight them? We just have to sneak in, save our companions, and escape." "Ah, right." "Our destination is not this island, but somewhere far beyond it," the old man added. "But how would we do that?" wondered Govind. "About that," Ghosavasu smirked. "I do not know." "What?" Govind raised a brow. "I thought you had already planned a way to get in." "Calm down, young lad. I have never been to their place before. How would I know its layout, the number of people there, and the positioning of guards? I
"Where are you taking me?" I shouted when they carried me somewhere. I looked at the masked old man. "What is going to happen to me?" He remained silent and just stood there with his hands behind his back. "Hey, do not stay shut. At least, tell me my fate so that I can be prepared for it." He still stood there silently and watched the gorilla carry me away on his shoulder. I only hoped for Govind and Ghosavasu to save me somehow. I did not know how they would do that, but I had trust in them. I knew they could find some way. Somewhere back in my mind, I worried about Govind. I wondered if he was alright. Last time I had seen him, he behaved strangely. The gorilla dropped me on an elevated wooden platform. "Owe, that hurts!" This son of a bi*ch. He threw me like a rice bag. I moved my head and saw the masked men had gathered around the platform. They again stomped their feet and howled. "Aauuu! Aaaauuu!" "What the hell is happening?" I said. "What are they trying to do with me?" The
"How do you know about that mythical creature?" Govind asked, walking deep into the woods. Ghosavasu answered, "I had heard it in mythical stories during my early days. I was once in a country of merchants, and this story of a traveller was particularly popular there." His eyes scanned for dangers lurking around. "What story?" wondered Govind. "I can not remember the details, but from what I can gather there was a traveller a long time ago who was robbed by pirates and was thrown off board into the sea. He ended up on an island and was bitten by a snake, unfortunately. He was on the verge of dying, but he ate a golden-striped pig he found there and miraculously recovered. He somehow built a boat and found a way to his home," Ghosavasu told. Govind was astonished by this story. "So, this story might be true." "It might be, but we do not know yet." "I wonder if we could steal one or two of them and sell them for fortunes," Govind muttered. "We should find your friends first," Ghos
We walked around for a while and I began to notice something off about Govind. He seemed to be lost somewhere and stayed mute. "Hey." I touched his shoulder to wake him up from his reverie. "What happened? Is something bothering you?" I noticed his feet halted when I did that, but he still did not
About what Ghosavasu said, he saw something strange in his dream. Did he see the same stuff I did? Or was it something else? I had to know."What did you see?" The old man looked confused. He stayed silent for some time with a quizzical expression. Maybe he remembered his
That weird voice in my head of an old man ruined my mood. I neglected it first, but it came back over and over. "Fuck off, old man!" I shouted in my head. "I don't know who you are, and you keep popping into my head like it is nothing." "Don't give in to your temptations
As we talked, we felt some light tremor under our feet. Of course, it was a ship, so it was common. But it felt a bit... different. It was like something unnatural caused it. "What is happening?" I wondered. We tried to find out the reason behind the vibration. "I don't know," Rahul reacted. There






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore