MasukRuntuhnya tembok gerbang istana akibat hantaman tubuh Kaisar Gu Tian menciptakan gelombang debu yang membumbung tinggi hingga menutupi sebagian langit pagi. Ribuan rakyat yang tadinya berkumpul untuk menyaksikan kompetisi alkimia kini terdiam kaku. Mereka tidak lagi melihat seorang kaisar yang perkasa, melainkan sosok penguasa yang kini merangkak lemah di antara puing bangunan dengan jubah kebesaran yang compang-camping. Keheningan itu sangat mencekam, seolah-olah seluruh dunia menahan napas
Lembah Bayang Utara tidak lagi sesunyi sebelumnya. Cahaya api unggun yang mulai meredup menyoroti sosok Kael atau yang kini memperkenalkan dirinya sebagai Mo Cang yang berdiri tegak di tengah lingkaran para budak. Meskipun pakaiannya lusuh dan wajahnya tertutup debu, cara pria itu berdiri, dengan bahu tegap dan tatapan yang menyapu setiap celah di lembah, menunjukkan jiwa seorang prajurit yang tidak pernah benar-benar padam.Shen Luo masih menggenggam gagang pedangnya, matanya tajam memperhatikan setiap pergerakan pria itu. Setelah insiden penyusupan misterius tadi, ketegangan meningkat. Kael sekarang Mo Cang tampaknya menjadi orang yang paling tenang di tengah kekacauan, bahkan ia tampak tidak terkejut sama sekali dengan kehadiran penyusup yang berhasil melukai salah satu pengintai mereka."Kau memiliki naluri seorang komandan, tapi kau tidak memiliki kerendahan hati seorang bawahan," ujar Mo Cang tiba-tiba. Suaranya rendah,
Lembah Bayang Utara terletak di cekungan yang diapit oleh tebing-tebing curam, sebuah tempat yang jarang terjamah oleh siapapun karena kabut beracun yang menyelimuti permukaannya. Di tempat itulah, Shen Luo membawa mereka. Ratusan jiwa yang baru saja merangkak keluar dari neraka tambang kini duduk melingkar di sekitar api unggun yang redup. Tidak ada tawa, tidak ada canda; hanya ada kesunyian yang berat dan tekad yang mulai mengeras di dalam dada masing-masing.Shen Luo berdiri di atas gundukan tanah, menatap mereka satu per satu. Ia tidak mencoba untuk berpidato dengan kata-kata manis. Ia tahu, orang-orang ini tidak membutuhkan janji muluk. Mereka membutuhkan arah."Mulai hari ini," suara Shen Luo memecah keheningan malam, terdengar datar namun membawa otoritas yang tak terbantahkan, "kalian bukan lagi budak. Bukan lagi sekadar angka di buku catatan Keluarga Wang. Kalian adalah unit yang akan menjadi cakar dan taring bagi Tu
Udara di luar gua terasa jauh lebih mencekam daripada kedalaman tambang yang baru saja runtuh. Hutan terlarang di perbatasan wilayah Keluarga Wang dipenuhi dengan kabut tipis yang membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa energi kehancuran. Long Tian duduk di atas bongkahan batu besar, matanya terpejam. Lengan kanannya yang kini kaku seperti patung tampak kontras dengan jubahnya yang kotor oleh debu. Ia sedang memusatkan kesadaran untuk menjaga agar kutukan di bahunya tidak menjalar ke titik vital lainnya, namun proses kultivasi itu terasa amat melelahkan.Di hadapannya, ratusan orang berlutut dalam keheningan yang khidmat. Mereka adalah sisa-sisa dari ribuan budak yang berhasil diselamatkan. Sebagian besar dari mereka tampak kurus kering, dengan bekas luka cambuk yang belum mengering di punggung. Namun, sorot mata mereka berbeda. Tidak ada lagi ketakutan yang melumpuhkan; yang ada hanyalah tatapan penuh harapan yang ditujukan kepada pria yang baru saja me
Cahaya fajar menyingsing di cakrawala, namun bagi Long Tian, dunia terasa redup dan terdistorsi. Di balik reruntuhan tambang yang telah rata dengan tanah, di sebuah gua kecil yang tersembunyi oleh semak belukar lebat, ia tersungkur. Napasnya pendek-pendek, dan setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca tajam. Kutukan Bumi Hitam tidak hanya berdiam di bahunya; ia telah merambat, mengunci aliran meridian di sisi kanan tubuhnya dengan belenggu energi yang dingin dan mati.Shen Luo berjaga di pintu masuk gua, matanya awas menyapu hutan. Tangannya tidak pernah lepas dari gagang pedang. Ia tahu bahwa meskipun mereka berhasil keluar, mereka kini menjadi buronan yang membawa beban paling berat: nyawa ribuan budak yang bersembunyi di titik temu yang telah disepakati.Di dalam, Qin Rou duduk berlutut di samping Long Tian. Wajahnya yang biasanya teduh kini dipenuhi oleh gurat kecemasan yang mendalam. Ia melihat lengan k
Debu tebal seperti kabut kematian menyelimuti mulut tambang. Tanah di sekitar lereng bukit bergetar hebat, retakan-retakan besar menjalar seperti jaring laba-laba raksasa, mengancam akan menelan siapa pun yang berdiri terlalu dekat. Ribuan budak yang baru saja merasakan udara segar di permukaan tidak segera melarikan diri. Mereka terdiam, menatap nanar ke arah gua yang perlahan tertutup oleh runtuhan bebatuan raksasa.Di tengah kepanikan dan debu yang menyesakkan, sosok Long Tian tidak terlihat. Yang tersisa hanyalah aura sisa energi yang menahan langit-langit gua agar tidak ambruk sepenuhnya sebelum semua budak berhasil keluar. Itu adalah perjuangan tanpa suara, sebuah pertarungan melawan hukum alam yang mencoba meremukkan tubuhnya yang kini sudah dibatasi oleh kutukan.Shen Luo berdiri di garis depan, jemarinya mencengkeram erat gagang pedang hingga memutih. Matanya berkaca-kaca. Ia melihat bagaimana gurunya, sosok yang sel
Suara gemuruh dari dalam perut bumi terdengar seperti raungan binatang purba yang sedang murka. Dinding-dinding gua yang semula kokoh kini retak, melepaskan debu batuan surgawi yang bercahaya redup, namun kini berubah menjadi ancaman mematikan. Wang Xuan benar-benar telah memicu kehancuran inti tambang. Ia tidak hanya mencoba menghentikan pemberontakan, ia berusaha mengubur setiap saksi hidup di kedalaman ribuan depa di bawah tanah.Long Tian berdiri di titik pusat retakan. Di depannya, pilar penopang utama formasi telah hancur berkeping-keping. Jika ia membiarkan langit-langit gua yang terbuat dari kristal padat itu jatuh, seluruh jalur evakuasi para budak akan tertutup rapat, menjebak ribuan orang dalam kuburan batu."Shen Luo, bawa mereka keluar! Jangan menoleh ke belakang!" perintah Long Tian dengan suara yang penuh penekanan.Shen Luo, yang sempat ragu, melihat gurunya telah mengambil posisi
Langit di atas Benua Tengah berubah menjadi kelabu, tertutup kabut tipis beracun yang menyebar dengan kecepatan yang tidak wajar. Laporan dari altar penyedot jiwa yang sempat disadap oleh Long Tian menunjukkan data yang mengerikan: Bai Lian telah mengaktifkan ribuan kantung racun penurut jiwa yan
Setelah segel itu hancur menjadi debu hitam, udara di Aula Menara Alkimia tidak langsung kembali tenang. Sebaliknya, atmosfer ruangan seakan terkoyak, membentuk distorsi dimensi yang memusat di tengah aula. Sebuah cermin spiritual muncul dari kehampaan, memancarkan cahaya remang yang memperlihatk
Aula Menara Alkimia kini menjadi medan tempur yang sunyi. Han Wei bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar, tubuhnya digerakkan oleh kendali Su Yan yang memaksa meridiannya bekerja melampaui batas fisik. Pemuda itu menyerang dengan teknik-teknik yang pernah diajarkan Long Tian kepadanya, mengub
Aula Menara Alkimia gemetar hebat akibat ledakan aura yang dipicu oleh pengakuan Qin Feng. Namun, sebelum Long Tian sempat menghunuskan pedang, Qin Feng telah menghilang ke dalam celah dimensi yang sengaja ia buka. Di tengah kekacauan itu, para penjaga menara menyerbu masuk dengan tombak terhunus







