LOGINRuntuhnya tembok gerbang istana akibat hantaman tubuh Kaisar Gu Tian menciptakan gelombang debu yang membumbung tinggi hingga menutupi sebagian langit pagi. Ribuan rakyat yang tadinya berkumpul untuk menyaksikan kompetisi alkimia kini terdiam kaku. Mereka tidak lagi melihat seorang kaisar yang perkasa, melainkan sosok penguasa yang kini merangkak lemah di antara puing bangunan dengan jubah kebesaran yang compang-camping. Keheningan itu sangat mencekam, seolah-olah seluruh dunia menahan napas
Su Yan berdiri di hadapan Long Tian.Tidak ada pedang di tangannya.Tidak ada aura pembunuh.Ia hanya mengenakan jubah putih yang sederhana, sama seperti sosok yang tersimpan dalam ingatan Long Tian dari masa lalu.Namun justru kesederhanaan itu membuat Long Tian semakin waspada.Ia telah melihat terlalu banyak hal di Pengadilan Pedang Darah.Korban yang menuntut jawaban.Perang yang selama ini hanya ia ingat dari sudut pandangnya sendiri.Dan sekarang...Su Yan.Perempuan yang namanya selalu terhubung dengan luka terdalam dalam kehidupannya.“Su Yan.”Long Tian menyebut namanya perlahan.Perempuan itu menatapnya.Tatapannya tidak menunjukkan kebencian.Tidak pula kasih sayang.Hanya ketenangan yang aneh.“Aku dipanggil sebagai saksi,” katanya.Suara itu sama.Terlalu sama.Long Tian tidak segera menjawab.“Kalau begitu katakan.”Su Yan berjalan perlahan mendekati kursi saksi.Setiap langkahnya meninggalkan riak cahaya putih di lantai hitam.“Apa yang ingin kau dengar?”“Kebenaran.”S
Pertanyaan itu terus bergema.“Long Tian... jawab kami.”Long Tian berdiri di tengah lautan bayangan.Tidak ada satu pun pedang yang diarahkan kepadanya.Tidak ada serangan.Namun tekanan yang ia rasakan jauh lebih berat daripada tekanan dari ribuan pendekar.Karena untuk pertama kalinya, ia tidak sedang berhadapan dengan musuh.Ia sedang berhadapan dengan akibat dari dirinya sendiri.Sebuah bayangan bergerak.Pengadilan Pedang Darah kembali memperlihatkan masa lalu.Long Tian melihat dirinya dalam kehidupan sebelumnya.
Langkah Long Tian berhenti.Lorong di dalam Pengadilan Pedang Darah tiba-tiba berubah.Dinding yang sebelumnya dipenuhi ukiran wajah perlahan menghilang, digantikan oleh ruang luas tanpa batas. Lantainya berwarna hitam, tetapi di bawah permukaannya mengalir garis-garis merah seperti urat yang dipenuhi darah.Long Tian berdiri sendirian di tengahnya.Tidak ada Cang Xuan.Tidak ada Shen Luo.Tidak ada Yue Ran.Bahkan suara Qin Rou yang sebelumnya masih terasa jauh di dalam kesadarannya pun menghilang.Yang tersisa hanya kesunyian.Kemudian sebuah suara terdengar.
Malam telah turun di atas Sekte Pedang Abadi.Aula utama sekte yang biasanya dipenuhi aura para penatua kini justru berada dalam keheningan yang aneh.Tidak ada yang mengetahui bahwa di bawah bangunan itu, sesuatu yang telah tertidur selama ratusan tahun sedang bergerak.Awalnya hanya sebuah getaran kecil.Meja-meja batu bergetar.Cangkir teh di hadapan beberapa penatua bergeser perlahan.Kemudian, dari bawah lantai aula utama, terdengar suara seperti pedang tua yang diseret di atas batu.Srrrkkk...Semua orang terdiam.Seorang penatua yang sedang membahas urusan sekte langsung mengangkat kepala.&ldq
Kegelapan menelan Long Tian begitu ia melewati ambang Pengadilan Pedang Darah.Tidak ada suara langkah.Tidak ada hembusan angin.Bahkan suara dari dunia luar pun menghilang seolah-olah telah dipotong oleh pedang yang tidak terlihat.Long Tian berdiri diam.Matanya perlahan menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya.Di hadapannya terbentang lorong panjang yang dindingnya dipenuhi ukiran.Bukan tulisan.Melainkan wajah.Ribuan wajah.Ada yang menangis.Ada yang berteriak.Ada yang menggenggam pedang.Ada pula yang hanya menatap kosong ke depan seolah telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada nyawa.Long Tian mengamati semuanya tanpa bergerak.Ia telah menghadapi medan perang.Telah menghadapi para Dewa Agung.Telah berdiri di ambang kematian berkali-kali.Namun tempat ini memberikan tekanan yang berbeda.Pengadilan Pedang Darah tid
Ruang rahasia itu kembali sunyi setelah suara Long Tian menggema di antara dinding batu.“Penatua Cang Xuan... Jika kau memang sudah menunggu selama ini... maka sekarang katakan kebenarannya.”Tidak ada yang bergerak.Cang Xuan memandang Long Tian cukup lama.Tatapannya tidak menunjukkan ketakutan, tetapi juga tidak menyimpan kemenangan. Seolah-olah pertanyaan itu adalah sesuatu yang sejak awal sudah ia tunggu.Akhirnya, Penatua Agung itu menghela napas pelan.“Baik.”Satu kata.Namun setelahnya, suasana di dalam ruang rahasia terasa semakin berat.Cang Xuan berjalan mendekati prasasti tempat nama Bai Jian terukir. Ujung jarinya menyentuh permukaan batu yang telah berusia sangat lama.“Bai Jian tidak mengkhianati sekte.”Shen Luo dan Yue Ran sama-sama terdiam.Meskipun mereka telah mengetahui sebagian kebenaran itu, mendengarnya langsung dari Cang Xuan memberikan b
Di dalam Paviliun Seratus Obat yang megah, suasana sedang sangat tegang. Aroma hangus yang tajam bercampur dengan hawa panas dari tungku perunggu raksasa di tengah aula pemurnian. Master Lin, seorang alkemis senior berjubah biru tua, nampak mondar-mandir dengan wajah basah oleh keringat dingin. Di
Cahaya emas redup yang menyelimuti tubuh Long Tian sepanjang malam perlahan menyusut, mengalir kembali melalui pori-pori kulitnya saat fajar menyingsing. Ketika ia membuka mata, sepasang pupil matanya berkilat sesaat dengan warna emas tipis sebelum kembali menjadi hitam pekat yang tenang.‘Napas Nag
Long Cheng tertawa terbahak-bahak, tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa ngerinya melihat ketenangan Long Tian. Di matanya, pemuda di depannya ini tetaplah "sampah" yang entah bagaimana mendapatkan sedikit keberanian. Bagi seorang kultivator tingkat ketujuh ranah Penguatan Tubuh seperti dirinya,
Long Tian kembali ke gubuknya saat senja mulai memudar. Di tangannya, tas berisi seratus keping batu energi tingkat menengah terasa berat sebuah beban yang akan menjadi kunci kebangkitannya. Namun, prioritas utamanya bukan dirinya sendiri. Ia segera mendekati pembaringan ibunya, Qin Rou, yang napas







