Home / Fantasi / Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah / Bab 5: Pembersihan Sumsum dan Racun

Share

Bab 5: Pembersihan Sumsum dan Racun

Author: Aldric Sage
last update publish date: 2026-05-11 14:15:11

Long Tian kembali ke gubuknya saat senja mulai memudar. Di tangannya, tas berisi seratus keping batu energi tingkat menengah terasa berat sebuah beban yang akan menjadi kunci kebangkitannya. Namun, prioritas utamanya bukan dirinya sendiri. Ia segera mendekati pembaringan ibunya, Qin Rou, yang napasnya kian memberat akibat racun Dingin Kronis.

Tanpa membuang waktu, Long Tian mengeluarkan tungku tanah liat sederhana. Ia mulai meramu bahan-bahan dari Paviliun: Akar Naga Bumi, Kelopak Matahari, dan sari embun murni. Kali ini, ia tidak hanya menggunakan api biasa. Ia mengalirkan sedikit demi sedikit Qi dari Teknik Napas Naga Terlarang untuk menjaga suhu agar tetap stabil. Aroma herbal yang segar mulai memenuhi ruangan, mengusir bau apak yang selama ini mendekam di sana.

"Minumlah, Ibu," bisik Long Tian sambil membantu Qin Rou duduk.

Cairan hijau zamrud itu mengalir di tenggorokan Qin Rou. Seketika, rona merah muncul di wajahnya yang pucat. Rasa hangat menyapu kedinginan yang selama sepuluh tahun menyiksanya.

"Tian’er... Ibu merasa beban di paru-paru Ibu tiba-tiba terangkat," gumam Qin Rou dengan suara yang lebih bertenaga.

"Ini baru awal, Ibu. Segalanya akan jauh lebih baik besok pagi." Long Tian memberikan senyuman menenangkan, namun saat melihat tangan ibunya yang gemetar, setitik rasa bersalah menyelinap di dadanya. Sebagai mantan Kaisar Dewa, ia pernah memerintah ribuan galaksi, namun di kehidupan ini, ia bahkan membiarkan ibunya menderita kelaparan. Penyesalan itu terasa lebih menyakitkan daripada luka fisiknya.

Setelah memastikan ibunya tertidur lelap, Long Tian duduk bersila di sudut gubuk yang gelap. Ia menyusun sepuluh keping batu energi dalam formasi melingkar. Inilah saatnya. Tubuh "sampah" ini harus dihancurkan sebelum bisa ditempa menjadi baja.

"Seni Penelan Surga: Napas Naga Terlarang!"

Long Tian menarik energi dari batu-batu tersebut secara paksa. Jika kultivator biasa menyerap energi dengan lembut, Long Tian justru membelah jalurnya sendiri. Energi Qi yang murni dan padat menerjang masuk ke pori-porinya seperti aliran logam panas.

Sensasi itu mengerikan. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar di kesunyian malam. Setiap inci ototnya seolah disobek, lalu disambung kembali oleh energi yang mengamuk. Cairan hitam berbau busuk mulai merembes keluar dari kulitnya residu racun dan kotoran bertahun-tahun yang selama ini menyumbat potensinya.

Di tengah rasa sakit yang menghancurkan itu, bayangan wajah Su Yan wanita yang mengkhianatinya mendadak muncul di benak Long Tian. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena sisa trauma yang mendalam. Tekadnya goyah sejenak; bagaimana jika dia gagal lagi di kehidupan ini? Bagaimana jika tubuh rapuh ini tidak kuat menahan ambisinya? Keringat dingin mengucur, dan untuk sesaat, energi kotor Naga Terlarang hampir meledakkan jalur nadinya sendiri. Long Tian harus berjuang melawan rasa takut akan kegagalan yang menghantuinya sebelum akhirnya berhasil memaksakan kehendaknya pada energi tersebut.

"Hancurkan... dan bangkitlah!" raung Long Tian dalam hati. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah, menolak untuk mengeluarkan suara yang bisa membangunkan ibunya.

Pada jam ketiga, sebuah ledakan energi internal yang sunyi menyapu ruangan. Long Tian membuka matanya. Sepasang pupilnya kini memiliki kilatan emas tipis. Tubuhnya tidak lagi kurus kuyu; meskipun tetap ramping, otot-ototnya kini memiliki kepadatan yang tidak wajar.

"Tingkat kelima ranah Penguatan Tubuh," gumam Long Tian sambil mengepalkan tangan. Sebuah dentuman udara kecil terdengar. "Masih terlalu lemah. Fondasi ini masih sangat rapuh dibandingkan kehidupanku yang dulu. Aku harus bergerak lebih cepat sebelum musuh yang sebenarnya menyadari keberadaanku."

Pagi pun tiba, namun kedamaian itu segera pecah. Suara langkah kaki yang berat dan teriakan kasar menggetarkan pintu gubuknya.

"Long Tian! Keluar kau, sampah pengecut! Kau pikir bisa memukuli pengawal Long Cheng dan melarikan diri?"

Long Tian mengenali suara itu. Itu adalah pengawal utama Long Cheng, yang membawa serta beberapa anak buah. Mereka datang untuk membalas penghinaan kemarin.

Qin Rou terbangun dengan wajah cemas. "Tian'er, jangan keluar! Biar Ibu yang bicara pada mereka..."

Long Tian bangkit dengan tenang. Ia memungut sebatang ranting kayu kecil yang tergeletak di lantai. Benda itu terlihat rapuh, sama seperti kondisi hidupnya saat ini, namun di tangannya, itu menjadi perpanjangan dari jiwanya yang haus akan pembalasan.

"Ibu, jangan khawatir," ujar Long Tian tanpa menoleh. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang bisa membuatmu cemas."

Ia membuka pintu dan melangkah keluar. Di hadapannya, empat pria besar menatapnya dengan haus darah. Si pengawal utama menyeringai, memutar-mutar cambuknya.

"Berlututlah sekarang, patahkan tanganmu sendiri, atau aku akan menyeretmu ke kandang babi!" raung si pengawal.

Long Tian menatap mereka seolah melihat tumpukan kotoran. Ada rasa jijik sekaligus letih di matanya; ia benci harus berurusan dengan "semut" seperti mereka di saat tujuannya adalah bintang-bintang di langit. "Dunia ini memang penuh dengan serangga yang terlalu berisik di pagi hari," ucapnya dingin.

"Mati kau!" Si pengawal menerjang maju, namun Long Tian hanya mengayunkan ranting kayunya dengan gerakan minimalis yang mematikan.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   BAB 475: Pesan yang Tidak Pernah Sampai

    Kegelapan kembali menyelimuti Pengadilan Pedang Darah.Long Tian berdiri sendirian.Ingatan tentang Bai Jian telah berakhir, tetapi kalimat terakhirnya masih menggema di dalam pikirannya.“Aku memilih menjadi pengkhianat... agar Long Tian tetap hidup.”Long Tian menatap tempat di mana bayangan Bai Jian menghilang.Selama bertahun-tahun ia mengira Bai Jian telah meninggalkannya.Ternyata orang itu justru mati demi melindunginya.Namun ada satu hal yang mengganggunya.Perempuan yang disebut Bai Jian sebagai Su Yan.Bai Jian telah menitipkan pesan.Jik

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   BAB 474: Utusan Dewa Agung

    Cahaya putih memenuhi seluruh medan perang.Sosok yang menyebut dirinya utusan dari Alam Dewa Sejati berdiri di hadapan Bai Jian tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan.Tekanan yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh medan perang seolah kehilangan warna.Bai Jian masih menggenggam pedangnya.Tubuhnya telah terluka parah, tetapi punggungnya tetap tegak.“Keselamatan sekte,” kata sang utusan dengan tenang, “ada di tanganmu.”Bai Jian menatapnya.“Jelaskan.”“Serahkan jejak Long Tian.”Sang utusan mengangkat satu tangan.Sebuah cahaya muncul di udara.

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   BAB 473: Lapisan Kedua: Bai Jian

    Gerbang pertama tertutup di belakang Long Tian.Suara langkahnya menggema di lorong baru yang jauh lebih sempit daripada sebelumnya. Tidak ada cahaya di sepanjang dinding. Hanya garis merah tipis yang bergerak mengikuti langkahnya, seolah-olah Pengadilan Pedang Darah sedang membaca setiap jejak yang ia tinggalkan.Jimat suara Qin Rou masih berada di dekat dadanya.Long Tian menyentuhnya sebentar.Ia tidak mengaktifkannya.Suara Qin Rou telah membantunya keluar dari lapisan pertama. Namun setelah melewati ujian itu, Long Tian menyadari bahwa ia tidak bisa selamanya bergantung pada suara orang lain.Jika ingin mengetahui kebenaran tentang Bai Jian, ia harus melihatnya sendiri.Di ujung lorong, sebuah cahaya putih munc

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   BAB 472: Jangkar Suara Qin Rou

    Ruangan itu kembali sunyi.Bayangan Su Yan telah menghilang.Namun kata-katanya masih tertinggal di dalam pikiran Long Tian.“Niat baik tidak selalu menghapus akibat buruk.”Long Tian berdiri tanpa bergerak.Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah harus membantah atau menerima.Pengadilan Pedang Darah telah memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini ia yakini.Ia memang pernah menjadi korban.Bai Jian mungkin dijebak.Su Yan mungkin menyimpan rahasia.Para Dewa Agung mungkin telah memainkan peran yang jauh lebih besar dalam kehan

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   BAB 471: Su Yan Sebagai Saksi

    Su Yan berdiri di hadapan Long Tian.Tidak ada pedang di tangannya.Tidak ada aura pembunuh.Ia hanya mengenakan jubah putih yang sederhana, sama seperti sosok yang tersimpan dalam ingatan Long Tian dari masa lalu.Namun justru kesederhanaan itu membuat Long Tian semakin waspada.Ia telah melihat terlalu banyak hal di Pengadilan Pedang Darah.Korban yang menuntut jawaban.Perang yang selama ini hanya ia ingat dari sudut pandangnya sendiri.Dan sekarang...Su Yan.Perempuan yang namanya selalu terhubung dengan luka terdalam dalam kehidupannya.“Su Yan.”Long Tian menyebut namanya perlahan.Perempuan itu menatapnya.Tatapannya tidak menunjukkan kebencian.Tidak pula kasih sayang.Hanya ketenangan yang aneh.“Aku dipanggil sebagai saksi,” katanya.Suara itu sama.Terlalu sama.Long Tian tidak segera menjawab.“Kalau begitu katakan.”Su Yan berjalan perlahan mendekati kursi saksi.Setiap langkahnya meninggalkan riak cahaya putih di lantai hitam.“Apa yang ingin kau dengar?”“Kebenaran.”S

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   BAB 470: Korban dari Masa Kejayaan

    Pertanyaan itu terus bergema.“Long Tian... jawab kami.”Long Tian berdiri di tengah lautan bayangan.Tidak ada satu pun pedang yang diarahkan kepadanya.Tidak ada serangan.Namun tekanan yang ia rasakan jauh lebih berat daripada tekanan dari ribuan pendekar.Karena untuk pertama kalinya, ia tidak sedang berhadapan dengan musuh.Ia sedang berhadapan dengan akibat dari dirinya sendiri.Sebuah bayangan bergerak.Pengadilan Pedang Darah kembali memperlihatkan masa lalu.Long Tian melihat dirinya dalam kehidupan sebelumnya.

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   BAB 7: Badai di Kediaman Long

    Cahaya emas redup yang menyelimuti tubuh Long Tian sepanjang malam perlahan menyusut, mengalir kembali melalui pori-pori kulitnya saat fajar menyingsing. Ketika ia membuka mata, sepasang pupil matanya berkilat sesaat dengan warna emas tipis sebelum kembali menjadi hitam pekat yang tenang.‘Napas Nag

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   Bab 6: Satu Ranting Menghancurkan Langit

    Long Cheng tertawa terbahak-bahak, tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa ngerinya melihat ketenangan Long Tian. Di matanya, pemuda di depannya ini tetaplah "sampah" yang entah bagaimana mendapatkan sedikit keberanian. Bagi seorang kultivator tingkat ketujuh ranah Penguatan Tubuh seperti dirinya,

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   Bab 4: Keajaiban di Paviliun Seratus Obat

    Di dalam Paviliun Seratus Obat yang megah, suasana sedang sangat tegang. Aroma hangus yang tajam bercampur dengan hawa panas dari tungku perunggu raksasa di tengah aula pemurnian. Master Lin, seorang alkemis senior berjubah biru tua, nampak mondar-mandir dengan wajah basah oleh keringat dingin. Di

  • Dewa Abadi Bangkit Dari Lubang Sampah   Bab 3: Janji Sang Kaisar

    Long Tian menyibak tirai kain usang yang sudah tipis dan berlubang. Bau obat-obatan murah yang sudah basi bercampur aroma lembap kayu lapuk langsung menyergap indranya. Di atas ranjang kayu yang berderit ringkih, seorang wanita paruh baya terbaring dengan napas yang terdengar pendek dan berat.Itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status