MasukLong Cheng tertawa terbahak-bahak, tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa ngerinya melihat ketenangan Long Tian. Di matanya, pemuda di depannya ini tetaplah "sampah" yang entah bagaimana mendapatkan sedikit keberanian. Bagi seorang kultivator tingkat ketujuh ranah Penguatan Tubuh seperti dirinya, mengalahkan seseorang yang bahkan tidak memiliki Qi yang stabil seharusnya semudah membalikkan telapak tangan.
"Merangkak pulang? Kau benar-benar sudah gila!" raung Long Cheng. "Lihatlah baik-baik perbedaan antara langit dan bumi, sampah!"
Long Cheng menghentakkan kaki, membuat tanah di depan gubuk bergetar. Tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang lumayan untuk ukuran Kota Awan Biru. Tinjunya dilapisi energi Qi abu-abu yang samar, menciptakan tekanan udara yang cukup untuk mematahkan rusuk manusia biasa.
"Pukulan Pemecah Batu!"
Long Tian berdiri mematung. Matanya yang tajam tidak melihat sebuah serangan hebat, melainkan serangkaian celah fatal. Di mata seorang mantan Kaisar Dewa, koordinasi antara langkah kaki dan aliran energi Long Cheng sangat berantakan kasar dan penuh nafsu.
Long Tian tidak menghindar dengan gerakan besar. Sesaat sebelum tinju itu menghantam dadanya, dia hanya memutar tumitnya tiga inci ke kanan.
Wusss!
Tinju Long Cheng hanya membelah udara kosong. Wajahnya seketika berubah dari sombong menjadi terkejut. Namun, keterkejutannya berubah menjadi horor saat ia merasakan sentuhan dingin di pergelangan tangannya.
Long Tian tidak menggunakan kekuatan otot. Ia menggunakan ranting kayu kecil di tangannya untuk menekan titik saraf Tianjing di lengan Long Cheng. Meskipun hanya sebuah ranting, dengan bantuan sedikit Qi yang sangat terkonsentrasi, efeknya jauh lebih tajam dari jarum baja.
"Argh!" Long Cheng merasa lengannya tiba-tiba mati rasa, seolah-olah energinya mendadak tersumbat oleh bendungan yang tidak terlihat.
"Tingkat ketujuh?" Long Tian berbisik di telinga Long Cheng. Suaranya rendah, namun mengandung tekanan mental seorang veteran yang telah membantai jutaan iblis. "Bagiku, kau bahkan tidak layak menjadi pembawa pedangku di kehidupan sebelumnya."
Sebelum Long Cheng sempat bereaksi, Long Tian menggerakkan ranting kayunya dalam sebuah pola minimalis yang mematikan. Ranting itu menari, menghantam titik-titik vital: bahu, siku, dan terakhir lutut.
Plak! Plak! Plak!
"Khuekk!" Long Cheng terjatuh berlutut. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh sistem sarafnya. Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas seperti jeli. Tiga pengikutnya hanya bisa mematung, mulut mereka menganga lebar melihat tuan mereka dijatuhkan hanya dengan sebatang ranting.
"Kenapa kalian diam saja?! Serang dia! Bunuh dia!" raung Long Cheng sambil memegangi lututnya yang gemetar.
Ketiga pengikut itu tersentak dan menyerbu Long Tian secara bersamaan dari tiga arah berbeda. Namun, bagi Long Tian, ini hanyalah latihan pemanasan yang membosankan. Ia bergerak seperti bayangan sebuah teknik langkah yang belum pernah dilihat di dunia ini. Ranting di tangannya menari dengan anggun, membelah udara dan meninggalkan bekas merah yang menyakitkan di setiap persendian lawan-lawannya.
Dalam hitungan detik, ketiga pengikut itu sudah terkapar di tanah, mengerang tanpa mampu bangkit kembali.
Long Tian kembali menatap Long Cheng. Ia melangkah maju dengan santai, namun setiap langkahnya terasa seperti dentuman palu godam di hati Long Cheng. Aura mantan penguasa yang bocor dari tubuh kurus itu begitu menindas, membuat Long Cheng merasa oksigen di sekitarnya menghilang.
"Kau... kau menggunakan sihir jahat!" teriak Long Cheng dengan suara bergetar karena ketakutan yang murni. Tubuhnya menggigil; ia merasa sedang berhadapan dengan monster purba yang terbangun dari tidur panjangnya.
Long Tian berdiri tepat di depan Long Cheng, menatapnya dari atas dengan mata emas tipis yang dingin. "Sihir? Tidak, aku hanya menunjukkan padamu bagaimana seorang ahli bertarung. Kau terlalu banyak membuang energi untuk ototmu, tapi otakmu kosong."
Long Tian mengangkat ranting kayunya dan menekannya di dahi Long Cheng. "Kembali dan beritahu ayahmu, Long Zhen. Jika dia ingin tetap menjadi penatua, sebaiknya dia mengajari anak-anaknya cara bersikap. Jika ada di antara kalian yang berani mengusik gubuk ini lagi..."
Long Tian sedikit menyalurkan energi Qi Terlarang ke ranting tersebut, membuatnya pecah menjadi serpihan tajam yang menggores dahi Long Cheng hingga berdarah. "...aku tidak akan hanya menggunakan ranting kayu di pertemuan berikutnya."
"Pergi!" bentak Long Tian.
Long Cheng lari tunggang langgang tanpa menoleh, diikuti oleh para pengikutnya yang pincang. Mereka tidak berani menoleh, seolah ada dewa kematian yang sedang mengawasi mereka.
Setelah suasana sepi, Long Tian membuang ranting kayunya yang hancur. Napasnya seketika memberat dan dadanya terasa sesak. Tubuh "sampah" ini bergetar hebat; memaksakan Qi untuk teknik tingkat tinggi tadi telah melukai jalur nadinya kembali.
"Sial... aku benar-benar hampir mencapai batas," gumamnya sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
Ia masuk kembali ke dalam gubuk dan mendapati Qin Rou berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat. Ibunya telah melihat semuanya.
"Tian'er... kau... bagaimana kau bisa melakukan itu?" tanya Qin Rou gemetar. Ada rasa bangga, namun juga ketakutan yang besar akan keselamatan putranya.
Long Tian mendekati ibunya, mencoba menutupi rasa sakit di tubuhnya. "Ibu, jangan takut. Saat aku pingsan kemarin, aku bermimpi bertemu seorang kakek tua yang memberikan warisan teknik bela diri kuno. Ini adalah berkat surga agar kita tidak ditindas lagi."
Long Tian terpaksa berbohong. Ia belum bisa menceritakan tentang reinkarnasinya. Qin Rou menatap mata putranya cukup lama, mencari kebohongan, namun ia hanya menemukan ketenangan yang tulus. Akhirnya, ia memeluk Long Tian dengan erat.
"Apa pun itu, asalkan kau selamat... Ibu akan selalu mendukungmu," bisik Qin Rou.
Long Tian membalas pelukan itu, namun matanya menatap tajam ke arah kediaman utama keluarga Long di kejauhan. Ia tahu ini baru permulaan. Long Zhen, ayah Long Cheng, tidak akan tinggal diam.
"Biarkan mereka datang," batin Long Tian. "Darah mereka akan menjadi nutrisi bagi kebangkitanku."
Malam itu, di tengah rasa sakit tubuhnya yang remuk, Long Tian tidak tidur. Ia menggunakan sisa batu energi untuk kembali berkultivasi. Di dalam kegelapan gubuk, cahaya emas mulai menyelimuti tubuhnya, menandakan dimulainya transformasi naga yang sebenarnya.
Bersambung
Kegelapan kembali menyelimuti Pengadilan Pedang Darah.Long Tian berdiri sendirian.Ingatan tentang Bai Jian telah berakhir, tetapi kalimat terakhirnya masih menggema di dalam pikirannya.“Aku memilih menjadi pengkhianat... agar Long Tian tetap hidup.”Long Tian menatap tempat di mana bayangan Bai Jian menghilang.Selama bertahun-tahun ia mengira Bai Jian telah meninggalkannya.Ternyata orang itu justru mati demi melindunginya.Namun ada satu hal yang mengganggunya.Perempuan yang disebut Bai Jian sebagai Su Yan.Bai Jian telah menitipkan pesan.Jik
Cahaya putih memenuhi seluruh medan perang.Sosok yang menyebut dirinya utusan dari Alam Dewa Sejati berdiri di hadapan Bai Jian tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan.Tekanan yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh medan perang seolah kehilangan warna.Bai Jian masih menggenggam pedangnya.Tubuhnya telah terluka parah, tetapi punggungnya tetap tegak.“Keselamatan sekte,” kata sang utusan dengan tenang, “ada di tanganmu.”Bai Jian menatapnya.“Jelaskan.”“Serahkan jejak Long Tian.”Sang utusan mengangkat satu tangan.Sebuah cahaya muncul di udara.
Gerbang pertama tertutup di belakang Long Tian.Suara langkahnya menggema di lorong baru yang jauh lebih sempit daripada sebelumnya. Tidak ada cahaya di sepanjang dinding. Hanya garis merah tipis yang bergerak mengikuti langkahnya, seolah-olah Pengadilan Pedang Darah sedang membaca setiap jejak yang ia tinggalkan.Jimat suara Qin Rou masih berada di dekat dadanya.Long Tian menyentuhnya sebentar.Ia tidak mengaktifkannya.Suara Qin Rou telah membantunya keluar dari lapisan pertama. Namun setelah melewati ujian itu, Long Tian menyadari bahwa ia tidak bisa selamanya bergantung pada suara orang lain.Jika ingin mengetahui kebenaran tentang Bai Jian, ia harus melihatnya sendiri.Di ujung lorong, sebuah cahaya putih munc
Ruangan itu kembali sunyi.Bayangan Su Yan telah menghilang.Namun kata-katanya masih tertinggal di dalam pikiran Long Tian.“Niat baik tidak selalu menghapus akibat buruk.”Long Tian berdiri tanpa bergerak.Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah harus membantah atau menerima.Pengadilan Pedang Darah telah memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini ia yakini.Ia memang pernah menjadi korban.Bai Jian mungkin dijebak.Su Yan mungkin menyimpan rahasia.Para Dewa Agung mungkin telah memainkan peran yang jauh lebih besar dalam kehan
Su Yan berdiri di hadapan Long Tian.Tidak ada pedang di tangannya.Tidak ada aura pembunuh.Ia hanya mengenakan jubah putih yang sederhana, sama seperti sosok yang tersimpan dalam ingatan Long Tian dari masa lalu.Namun justru kesederhanaan itu membuat Long Tian semakin waspada.Ia telah melihat terlalu banyak hal di Pengadilan Pedang Darah.Korban yang menuntut jawaban.Perang yang selama ini hanya ia ingat dari sudut pandangnya sendiri.Dan sekarang...Su Yan.Perempuan yang namanya selalu terhubung dengan luka terdalam dalam kehidupannya.“Su Yan.”Long Tian menyebut namanya perlahan.Perempuan itu menatapnya.Tatapannya tidak menunjukkan kebencian.Tidak pula kasih sayang.Hanya ketenangan yang aneh.“Aku dipanggil sebagai saksi,” katanya.Suara itu sama.Terlalu sama.Long Tian tidak segera menjawab.“Kalau begitu katakan.”Su Yan berjalan perlahan mendekati kursi saksi.Setiap langkahnya meninggalkan riak cahaya putih di lantai hitam.“Apa yang ingin kau dengar?”“Kebenaran.”S
Pertanyaan itu terus bergema.“Long Tian... jawab kami.”Long Tian berdiri di tengah lautan bayangan.Tidak ada satu pun pedang yang diarahkan kepadanya.Tidak ada serangan.Namun tekanan yang ia rasakan jauh lebih berat daripada tekanan dari ribuan pendekar.Karena untuk pertama kalinya, ia tidak sedang berhadapan dengan musuh.Ia sedang berhadapan dengan akibat dari dirinya sendiri.Sebuah bayangan bergerak.Pengadilan Pedang Darah kembali memperlihatkan masa lalu.Long Tian melihat dirinya dalam kehidupan sebelumnya.
Di dalam Paviliun Seratus Obat yang megah, suasana sedang sangat tegang. Aroma hangus yang tajam bercampur dengan hawa panas dari tungku perunggu raksasa di tengah aula pemurnian. Master Lin, seorang alkemis senior berjubah biru tua, nampak mondar-mandir dengan wajah basah oleh keringat dingin. Di
Long Tian menyibak tirai kain usang yang sudah tipis dan berlubang. Bau obat-obatan murah yang sudah basi bercampur aroma lembap kayu lapuk langsung menyergap indranya. Di atas ranjang kayu yang berderit ringkih, seorang wanita paruh baya terbaring dengan napas yang terdengar pendek dan berat.Itu
Pemuda yang berdiri di ambang pintu itu bernama Long Hu. Ia adalah sepupu jauh Long Tian yang selalu jumawa hanya karena telah mencapai tingkat ketiga ranah Penguatan Tubuh. Di lingkungan keluarga cabang yang terpencil ini, kekuatan itu sudah cukup bagi Long Hu untuk merasa seperti raja kecil. Bagi
Puncak Langit Abadi kini telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Langit yang seharusnya biru cerah tertutup oleh awan hitam pekat yang berputar layaknya pusaran neraka. Sambaran petir ungu terus menghantam bumi, mencerminkan gejolak energi Qi yang tidak stabil dari sang penguasa y







