Mag-log in“Ini… jurus bela diri?”
Wajah Yi Chen dipenuhi keterkejutan. Baru setelah beberapa saat ia tersadar. Ia segera melangkah ke halaman, sambil mengamati bayi api itu dan menirukan setiap gerakannya. Sepanjang malam penuh, Yi Chen tenggelam dalam pembelajaran jurus bela diri tersebut. Pagi hari, ketika sinar matahari menyinari wajahnya, barulah ia menghentikan latihannya. Hatinya meluap oleh kegembiraan. Awalnya ia mengira Api Surgawi itu adalah bencana, namun kini Yi Chen menyadari bahwa benda itu justru sebuah anugerah, bukan hanya membantunya menembus tingkat kultivasi, tetapi juga mengajarinya jurus bela diri. Di Benua Tianzhou, jurus bela diri sangatlah langka. Tingkatannya dibagi menjadi empat: fana, spiritual, abadi, dan dewa; setiap tingkat terbagi lagi menjadi kelas bawah, menengah, dan atas. Di Kota Tianfang, memiliki satu kitab jurus tingkat fana kelas atas saja sudah merupakan pencapaian luar biasa. Sementara jurus yang diajarkan bayi api kepadanya setidaknya berada di tingkat spiritual, bahkan mungkin lebih tinggi. Bagaimana mungkin Yi Chen tidak bersemangat? Ia berjalan ke tengah halaman, di sana berdiri sebatang pohon willow setebal pinggang orang dewasa. Sudut bibir Yi Chen terangkat. Ia pun langsung mengerahkan jurus itu, tinju yang disertai suara angin menerjang menghantam batang pohon. Seketika terdengar suara krek-krek, dan pohon willow itu patah berkeping-keping sebelum roboh ke tanah. “Kalau begitu, kita sebut saja Pukulan Pemecah Angin.” Daya hancur sebesar itu membuat Yi Chen sangat puas. Ia tidak tahu nama asli jurus tersebut, namun karena tinjunya mampu membelah angin saat digunakan, ia pun menamainya Pukulan Pemecah Angin. Pukulan Pemecah Angin terdiri dari tiga jurus. Kekuatan tiap jurus dapat ditumpuk satu sama lain. Dalam proses latihan semalam, Yi Chen juga menyadari bahwa jurus ini mengandung tenaga tersembunyi. Dengan tingkat kultivasinya saat ini, Jika ketiga jurus digabungkan dan dilepaskan sekaligus, kekuatannya dapat melampaui sepuluh ribu jin. “Semua penghinaan yang kalian berikan kepadaku, akan kukembalikan satu per satu.” Tatapannya mengarah ke Aula dalam, wajah Yi Chen dipenuhi hawa dingin. Pada saat itu, ia teringat bahwa hari ini adalah hari pembagian sumber daya keluarga. Ekspresi dinginnya pun semakin mengental. Setiap anggota keluarga Yi setiap bulan berhak menerima sejumlah Batu Zhenyuan serta tiga butir Pil Diyuan tingkat satu. Batu Zhenyuan mengandung energi sejati, begitu pula Pil Diyuan. Jika digunakan bersama, keduanya dapat membantu kultivator menyerap energi sejati dengan lebih baik. Namun sejak setengah tahun lalu, keluarga telah menghentikan penyaluran sumber daya bagi Yi Chen dan adiknya. Kali ini, Yi Chen berniat mengambil kembali semuanya. Tempat pembagian sumber daya keluarga disebut Paviliun Fenyuan. Setelah menyiapkan makanan untuk adiknya, Yi Chen keluar kamar, membereskan sisa pohon yang tumbang di halaman, lalu berjalan menuju Paviliun Fenyuan. “Eh? Bukankah ini Tuan Muda Yi Chen kita? Kenapa? Kamu juga datang untuk mengambil sumber daya?” Meski hari masih pagi, Paviliun Fenyuan sudah dipenuhi beberapa anggota keluarga Yi. Seseorang yang melihat Yi Chen langsung melontarkan ejekan. Yi Chen melirik dingin orang itu tanpa berkata apa-apa. Namun orang tersebut tidak berniat melepaskannya dan kembali berkata, “Ada orang yang benar-benar tak tahu malu. Dua tahun penuh tak ada kemajuan kultivasi sedikit pun, tapi masih berani bermimpi mengambil sumber daya. Benar-benar hina. “Tuan Muda Yi Chen, menurutmu orang seperti itu masih pantas hidup? Kalau orang lain, mungkin sudah menghancurkan meridiannya sendiri dan mati di depan umum, bukan?” Begitu kata-kata itu berakhir, yang lain pun tertawa terbahak-bahak. Yi Chen berhenti melangkah, berbalik menatap orang itu, lalu berkata dingin, “Yi Xing, kalau kamu masih cerewet, akan kupatahkan gigimu.” Wajah Yi Chen tampak dingin dan tegas. Yi Xing justru berpura-pura ketakutan. “Aduh, Tuan Muda Yi Chen kita marah rupanya. Lalu bagaimana ini? Apa dia benar-benar akan memukulku?” Tatapan Yi Xing seketika berubah dingin. “Yi Chen, sadarlah diri. Lihat dulu kamu itu apa. Berani sekali bicara sombong seperti itu. Sepertinya tamparan dari Kakak Cong kemarin belum membuatmu sadar. Kalau begitu, aku tak keberatan memberimu pelajaran.” Selesai berbicara, Yi Xing melangkah lebar ke arah Yi Chen dan mengayunkan telapak tangannya ke wajah Yi Chen. Yang lain menonton dengan wajah penuh ejekan. Di mata Yi Xing, Yi Chen hanyalah sampah. Jangankan Yi Cong atau dirinya, siapa pun di keluarga Yi bisa menamparnya sesuka hati. Tangannya berayun, dan Yi Xing seakan sudah melihat Yi Chen dipukuli hingga wajahnya babak belur, berlutut memohon ampun. “Plak—!” Suara tamparan yang nyaring terdengar. Senyum di wajah para penonton langsung membeku, karena yang ditampar bukan Yi Chen, melainkan Yi Xing. Tangan Yi Xing yang menyerang telah dicengkeram erat oleh Yi Chen. Dengan tangan satunya, Yi Chen kembali menampar wajah Yi Xing. “Yi Chen, kamu berani menamparku?!” Dua tamparan keras membuat pipi Yi Xing langsung membengkak. Ia menatap Yi Chen dengan wajah tak percaya, raut mukanya berubah ganas. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa ia akan dipukul oleh Yi Chen, sampah yang ia pandang rendah dan terlebih lagi, di depan begitu banyak orang. “Yi Chen, aku akan membunuhmu!” Tak mendapat jawaban atas teriakannya, kemarahan Yi Xing makin memuncak. Namun sebelum ia sempat bergerak, tangan Yi Chen sudah lebih dulu mencengkeram kepalanya. Dengan tekanan ringan, kepala Yi Xing tertunduk. Lutut Yi Chen lalu menghantam ke atas. Suara hantaman tumpul terdengar, wajah Yi Xing hancur berlumur darah, beberapa giginya pun terlempar keluar. “Mau membunuhku? Kalau begitu, kamu harus siap dibunuh.” Suara Yi Chen dingin membeku. Belum selesai ucapannya, ia menarik lengan Yi Xing, menghantamkan sikunya ke bawah, dan kraak, lengan Yi Xing patah seketika. Jeritan kesakitan bercampur suara tulang retak menggema. Para penonton menghirup napas dingin. Mereka semula berniat menyaksikan Yi Chen dipukuli, namun yang tumbang justru Yi Xing. Wajah mereka dipenuhi keterkejutan. Lebih dari itu, Yi Chen benar-benar mematahkan lengan Yi Xing. Kekejaman semacam ini membuat semua orang merasakan hawa dingin menusuk tulang. “Siapa pun yang tidak terima, silakan datang menghina aku seperti dia.” Aura dingin memancar dari tubuh Yi Chen. Sosoknya kini benar-benar berbeda dari sebelumnya, berdiri bak raksasa di hadapan para murid keluarga. Siapa pun yang tersapu tatapannya langsung menunduk ketakutan, tak seorang pun berani menatapnya langsung. Mendengus dingin, Yi Chen menarik kembali pandangannya dan melangkah masuk ke Paviliun Fenyuan. Sementara itu, Yi Xing tergeletak di tanah sambil meraung kesakitan. Baru setelah sosok Yi Chen menghilang sepenuhnya, orang-orang berani mendekat untuk menolongnya. “Yi Chen, aku tidak akan melepaskanmu!” Menatap ke arah kepergian Yi Chen, Yi Xing berteriak histeris. Matanya dipenuhi kebencian, namun Yi Chen sudah tak terlihat lagi. “Tuan Muda Yi Chen, atas perintah Kepala Keluarga, sumber daya tidak boleh diberikan kepadamu.” Di dalam Paviliun Fenyuan, kepala pengurus pembagian sumber daya menatap Yi Chen dengan wajah datar. Yi Chen mencibir dan berkata, “Atas dasar apa aku tidak diberi sumber daya? Apa aku bukan anggota keluarga Yi? Lagipula aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Jika alasannya karena kultivasiku, maka buka matamu dan lihat baik-baik.” Sambil berbicara, kedua telapak tangan Yi Chen menghantam meja batu di hadapan pengurus. Meja itu terbuat dari batu Qinggang yang sangat kokoh, namun setelah dihantam, retakan menjalar ke seluruh permukaannya hingga akhirnya hancur berserakan di lantai.“Apa-apaan ini? Gadis bodoh dari keluarga Sun itu mau membawa Yi Chen pulang? Seorang pria ‘dinikahkan’ dengan wanita dan juga wanita bodoh, ini benar-benar hal yang baru.”“Benar. Kepala keluarga sudah menikahkan Yi Chen dengan keluarga Sun. Sampah seperti dia, apa gunanya dibiarkan di keluarga? Lebih baik ditukar dengan sedikit keuntungan.“Hanya saja Sun Rou’er itu benar-benar jelek. Kalau itu aku, meski harus mengebiri diri sendiri, aku tak akan mau menikah dengannya. Kali ini Yi Chen benar-benar sial.”Saat itu, banyak anggota keluarga Yi telah berkumpul di sekitar Aula Tetua. Mereka berbincang keras-keras. Begitu melihat Yi Chen muncul, suara ejekan mereka makin lantang.Di depan Aula Tetua terparkir sebuah tandu pengantin merah menyala. Delapan pengusung tandu berdiri di kedua sisinya.Di depan tandu, seorang wanita mengenakan busana pengantin merah dengan riasan tebal menunggang kuda besar, dialah Sun Rou’er.Seperti biasa, ia tampak dungu. Siapa pun yang ia lihat, ia akan ter
“Apa yang ingin kamu lakukan, Yi Chen?”Setelah menghancurkan meja batu, Yi Chen melangkah masuk ke gudang sumber daya. Kepala pelayan sempat hendak menghalangi, namun begitu bertatapan dengan Yi Chen, langkahnya langsung terhenti.“Aku hanya mengambil apa yang memang menjadi hakku. Kalau kamu berani menghalangi, aku tak keberatan membuatmu bernasib sama seperti meja itu.”Aura tajam memancar dari tubuh Yi Chen. Naluri sang kepala pelayan memperingatkannya, jika ia terus menghalangi, akhir yang menantinya pasti akan sangat mengenaskan.“Dan satu lagi,” lanjut Yi Chen dingin, “kamu hanyalah seorang pelayan. Berani-beraninya memanggil namaku langsung. Sekali lagi kau lakukan, mati.”Usai mengatakan itu, Yi Chen mulai mengambil sumber daya. Kepala pelayan tak berani menghentikan, begitu pula para pelayan lainnya, tak seorang pun berani berkata apa-apa.Seluruh jatah sumber daya selama setengah tahun ia masukkan ke dalam kantong penyimpanan. Setelah itu, Yi Chen melangkah lebar keluar dar
“Ini… jurus bela diri?”Wajah Yi Chen dipenuhi keterkejutan. Baru setelah beberapa saat ia tersadar. Ia segera melangkah ke halaman, sambil mengamati bayi api itu dan menirukan setiap gerakannya. Sepanjang malam penuh, Yi Chen tenggelam dalam pembelajaran jurus bela diri tersebut.Pagi hari, ketika sinar matahari menyinari wajahnya, barulah ia menghentikan latihannya.Hatinya meluap oleh kegembiraan. Awalnya ia mengira Api Surgawi itu adalah bencana, namun kini Yi Chen menyadari bahwa benda itu justru sebuah anugerah, bukan hanya membantunya menembus tingkat kultivasi, tetapi juga mengajarinya jurus bela diri.Di Benua Tianzhou, jurus bela diri sangatlah langka. Tingkatannya dibagi menjadi empat: fana, spiritual, abadi, dan dewa; setiap tingkat terbagi lagi menjadi kelas bawah, menengah, dan atas.Di Kota Tianfang, memiliki satu kitab jurus tingkat fana kelas atas saja sudah merupakan pencapaian luar biasa. Sementara jurus yang diajarkan bayi api kepadanya setidaknya berada di tingkat
Sejatinya, kepala keluarga Yi adalah ayah Yi Chen, Yi Zhengxiong. Namun dua tahun lalu, Yi Zhengxiong menghilang secara misterius. Karena itulah Yi Zhenghai naik ke posisi kepala keluarga.Meski begitu, jabatannya hanyalah sementara. Menurut aturan klan, jika kepala keluarga menghilang, barulah setelah tiga tahun dapat dipilih pengganti. Sebelum waktu itu tiba, tidak boleh menetapkan kepala keluarga baru.Jika ayah Yi Chen masih ada, dia sama sekali tidak akan diperlakukan seperti ini.“Yi Chen, ini adalah keputusan keluarga. Bukan giliranmu untuk mempertanyakannya. Entah kau setuju atau tidak, hasilnya tetap sama.”Yi Zhongshan mendengus dingin, lalu menangkupkan tangan ke arah Sun Qifei.“Saudara ipar tidak perlu khawatir. Karena urusan ini sudah ditetapkan, keluarga Yi kami pasti akan menepati janji.”Wajah Yi Zhongshan dipenuhi senyum menyanjung. Ucapan Yi Chen sebelumnya yang menyebut Sun Rou’er bodoh jelas membuat pihak keluarga Sun menunjukkan ketidaksenangan.Melihat hal itu,
Benua Tianxing adalah dunia di mana kekuatan Kuktivasi menjadi hukum tertinggi. Seluruh manusia memuja para kultivator, sementara mereka yang memiliki tingkat kultivasi rendah dipandang hina, bahkan sering dilecehkan dan ditindas.Di utara Prefektur Yu, di dalam Kota Tianfang, tepatnya di Aula Latihan Keluarga Yi.Di dalam aula yang luas itu, berdiri banyak boneka perunggu. Di hadapan setiap boneka, terdapat seorang murid keluarga Yi.Teriakan latihan terus terdengar dari mulut para remaja. Mereka mengerahkan seluruh tenaga memukul boneka perunggu di hadapan mereka. Setiap telapak yang mendarat akan meninggalkan bekas samar di permukaan boneka tersebut.“Baiklah, kalian semua istirahat sejenak.”Saat senja tiba, seorang pria paruh baya memasuki aula latihan. Ia menatap para murid sekilas lalu berbicara dengan nada datar.Mendengar ucapannya, para remaja segera menyeka keringat di dahi dan menghentikan latihan mereka.Namun, pada saat itu terdengar suara teriakan latihan yang pelan nam







