LOGINSeratus tahun perang mengubah kejayaan Kerajaan Dracul menjadi reruntuhan. Untuk menyelamatkan bangsa vampir dari kepunahan, Raja Dragneel memutuskan menjodohkan putri tunggalnya, Selvia de Dracul, dengan musuh abadi: pewaris Kerajaan Draco, pengendali naga. Namun Selvia bukanlah boneka politik. Malam sebelum perjodohan, ia melarikan diri ke dalam hutan Transilvania. Di sanalah ia menemukan sebuah gua kuno yang dijaga suku Darkbat—penjaga gerbang antara dunia. Dengan segel kelelawar, portal terlarang terbuka, melemparkan Selvia ke dunia asing yang sama sekali tak dikenalnya: bumi, tepatnya di sebuah kota kecil di Indonesia. Di sana, Selvia bertemu seorang pemuda manusia biasa. Pemuda itu bukan bangsawan, bukan ksatria, bahkan tidak memiliki kekuatan apa pun. Namun justru kelemahan dan ketulusan lelaki itu perlahan menembus hati Selvia yang keras, menghadirkan kehangatan yang tak pernah ia temukan di istana penuh intrik. Tetapi cinta mereka bukanlah cinta sederhana. Bayangan perang lama masih mengintai. Raja Draco dan pasukan naganya takkan diam saat mengetahui pewaris Dracul bersembunyi di dunia manusia. Portal antar-dunia mulai retak, mengancam menyatukan kegelapan Transilvania dengan bumi. Antara takdir kerajaan dan cinta terlarang, Selvia harus memilih: Apakah ia akan menjadi ratu vampir yang terikat perang abadi? Atau wanita biasa… yang rela menyerahkan keabadiannya demi satu cinta fana?
View More“Selvia…” suara sang Raja Dragneel bergetar dengan berat, bergema di seluruh penjuru aula istana, memecah kesunyian yang tegang. “Kerajaan Dracul telah kalah telak dalam perang seratus tahun. Jika kita tidak mengikat perjanjian damai dengan Draco, klan kita akan punah. Karena itu, kau akan dinikahkan dengan Pangeran Lucius de Draco.”
Selvia De Dracul menatap wajah sang ayah. Ia hanya bisa terdiam dengan titah yang akan diberikan kepadanya. Kata-kata itu mengguncang aula. Bisikan para bangsawan terdengar, bagai desiran ular yang berbisik khawatir. “Pernikahan politik… demi bertahan hidup,” bisik seorang bangsawan tua, suaranya serak dan sedikit parau. “Putri Selvia… dengan musuh abadi kita?” sela yang lain dengan suara bergetar. “Tidak bisa di Terima..Ini… penghinaan bagi darah Dracul…” Suara samar jadi bisik-bisik para bangsawan. Mereka semua saling menatap satu sama lain, mata berbinar penuh dengan gejolak pertanyaan. Selvia hanya bisa diam, dadanya terasa sesak. Ingatan tentang perang mengalir deras di kepalanya, dan menghantui seperti mimpi buruk. Seratus tahun lalu, langit Transilvania berwarna merah darah. Pasukan vampir Dracul berbaris di bawah panji-panji bayangan kelelawar hitam. Taring-taring tajam mereka berkilau, tombak perak diangkat tinggi menatap langit. Mereka menyerbu, menaklukkan desa-desa manusia, menjadikan darah manusia sebagai sumber kekuatan dan kehidupan. Namun dari timur, muncul kerajaan saingan. DRACO, sang pengendali naga. Raja Artarius de Draco menunggangi naga merah besar raksasa, bersamaan dengan pasukan Dragon Rider yang menyalakan langit dengan api-api yang membara dan tak kenal ampun. Pertempuran berlangsung di sebuah lembah, dibawah kaki pegunungan, hingga menjalar ke kastil-kastil. Suara raungan naga beradu dengan pekikan kelam vampir. Tanah menjadi retak, langit pun terbelah oleh sayap api dan bayangan kelelawar, saling menerjang satu sama lain tanpa hentinya. Seratus tahun lamanya, darah mengalir membasahi bumi, generasi silih berganti. Hingga akhirnya, pasukan Dracul terhimpit, kalah telak, hingga mereka dipaksa berlutut di hadapan pasukan Draco dengan malu. Ingatan itu masih membekas di seluruh jiwa dan raga penghuni kerajaan Dracul, luka yang tak kunjung sembuh. Selvia mengepalkan tangannya, kukunya menusuk telapak tangannya. “Ayahanda…” suaranya bergetar, tapi tegas, lantang hingga memenuhi ruang. “Aku tidak akan jadi pion politik dalam permainan kotor ini! Menikah dengan musuh? Dengan darah Draco yang telah membantai ribuan rakyat kita? Tidak Ayahandaku... tidak!” Para bangsawan bergumam, sebagian terkejut, sebagiannya lagi kagum kepada keberanian sang putri, namun tak ada yang berani bersuara lebih, semuanya di paksa menerima titah sang raja. Raja Dragneel menatap putrinya itu, mata merahnya menyala bagaikan bara api. “Selviaku sayang! Ini bukan tentang kehendakmu nak. Ini tentang kelangsungan kerajaan kita. Dan kau akan tunduk, sebagaimana semua pewaris tahta Kekaisaran Dracul sebelum dirimu!” Selvia menggigit bibirnya, hampir sampai berdarah. Hatinya memberontak, darah vampirnya mendidih. “Jika itu takdir yang kau pilih untukku ayahanda… maka aku dengan tegas akan menolak takdir itu, meski harus menghadapi dunia!” Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik, gaunnya berkibar seperti bayangan sayap kelelawar. Ia berlari menembus lorong-lorong kastil, melewati pelayan yang membungkuk ketakutan, melewati pasukan penjaga dengan tatapan bingung. Para bangsawan hanya bisa terdiam, sesekali ada yang berbisik dan saling menatap. Sang ayah tak ingin mengejar anaknya yang sedang merajuk. Selvia meninggalkan tempat itu. Carmila de Draco hanya bisa menyapu dada seolah-olah ia ingin mendukung sang anak, tapi ia segan karena rasa takut. "Suamiku, kamu yakin dengan pilihanmu ini? apakah kamu tidak memikirkan perasaan anak kita?. " Tanya Carmila dengan wajah cemas. Artarius hanya menoleh sekejap ke sang Ratu, tanpa sepatah kata pun. Ia segera duduk kembali di singgasananya yang megah. Pelarian ke Hutan menjadi jawaban yang Selvia tak tahu apakah ini mesti ia lakukan atau tidak, sebuah pilihan yang lahir dari keputusasaan. Ia berlari dengan derai air mata yang menetes perlahan membasahi pipinya yang merah merona. Para penjaga tak menahan langkahnya sang putri. Mereka hanya menatap seolah-olah paham apa arti sakit hati itu. "Penjaga, aku ingin cari udara segar di luar. " Ujar Selvia kepada penjaga gerbang kastil kerajaan. "Maaf putri, kami kira sedang ada pertemuan di aula. " jawab Penjaga dengan segan. "Jangan bertanya. Buka saja... bisa? " "Siap putri. maafkan hamba. " trakk...!!! . Pintu kastil terbuka, rantai jembatan kayu pun di putar hingga jembatan pun turun membentang di atar sungai yang mengelilingi kastil. Malam menyambut Selvia dengan kabut pekat di luar kastil, tak ada penjaga yang mengikuti atas permintaanya. Ia segera berlari, melewati jembatan, menuju hutan Transilvania, memasuki kegelapan yang seolah siap menelannya." Aku bukan pion. Jika orang tuaku menyayangiku, aku tidak akan di jual seperti barang loak di pasar. " Ketusnya sembari terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan yang rimbun. Hutan itu seperti labirin kegelapan. Pohon-pohon pinus menjulang bagai menara hitam, dahan-dahannya seperti cakar, menggapai siapa pun yang lewat. Serigala melolong di kejauhan, burung hantu menatap dengan mata kuningnya yang menyala, mengikuti gerakan Selvia yang tak kenal henti. Setiap langkah Selvia terdengar nyaring di tanah basah berlumut, seakan hutan sendiri sedang mengawasi pelariannya, menyimpan rahasia dan bahaya. “Aku… tidak akan menyerah. Aku bukan boneka…” gumam kembali dalam pelarian itu, napasnya sedikit tersengal. Kabut semakin tebal, menyelimuti segala arah, hingga ia tiba di sebuah gua kuno. Mulutnya besar, seperti rahang monster yang siap menelan. Di atasnya, terukir lambang kelelawar bersayap lebar, dipenuhi lumut dan darah kering, simbol yang telah lama terlupakan. Dari dalam gua, terdengar suara—gemuruh rendah bercampur bisikan ribuan sayap, berdesis penuh misteri. Selvia menelan ludah, tenggorokannya kering, lalu melangkah masuk." Seharusnya ada portal rahasia yang kutemui di buku tua dalam perpustakaan. " Gumamnya pelan, sembari melangkah pelan. Suasana di dalam gua basah dan dingin, menusuk hingga ke tulang. Tetesan air jatuh dari stalaktit, menggema seperti dentang lonceng kematian. Aroma tanah tua bercampur bau besi, menusuk hidung. Mata Selvia menatap ke langit-langit. Rasa kagum bercampur merinding ia rasakan. Lalu, dari kegelapan, muncul sosok raksasa. Sayap kelelawar hitam terbentang, menutupi hampir separuh ruangan goa, tubuhnya kekar, separuh manusia separuh beast. Matanya merah menyala, suaranya dalam dan berat bergema. “Putri dari Dracul… apa yang mendorongnlmu hingga datang ke tempat terlarang ini?” tanyanya, suaranya seperti guruh dari dalam bumi. Selvia berdiri tegak menatap sosok bongsor itu, gaunnya berlumur bekas kabut samar. Mata ungunya bersinar, penuh tekad dan api pemberontakan. “Aku menolak takdir yang dituliskan untukku,” jawabnya, suara jelas meski bergetar. “Takdir manusia di tetapkan oleh dirinya sendiri. Tanpa campur tangan orang lain!” Penjaga itu terdiam sejenak, lalu perlahan menundukkan kepala. Dari cakarnya, ia membentuk segel kelelawar, dan udara di gua bergetar. Cahaya merah darah memancar, membentuk pusaran hitam pekat yang berputar pelan. "Maaf kelancanganku yang mulia," ia berjalan pelan menuntun langkah wanita itu. Sayap ribuan kelelawar terdengar dari dalam, bergema memenuhi goa. Selvia menatap cahaya itu, bibirnya berbisik lirih. "Pilihlah takdir anda yang mulia." ucapnya saat perjalanan mereka hampir tiba di sebelah ruangan yang penuh dengan simbok asing. Langkah mereka berhenti di depan sebuah altar. Di depannya terdapat sebuah gerbang kecil dari batu dengan hiasan simbol emas di sisi kiri dan kanan. Mata Selvia berbinar melihat pemandangan itu. Ia berjalan pelan, sesekali tangannya menyentuh artefak indah yang hanya bisa ia lihat di buku-buku. "Putri, gigit jari anda, kemudian sentuh titik altar sebagai pengorbanan." Selvia menuruti kata Darkbat itu tanpa bertanya. Seketika pintu kuno itu terbuka. Didalamnya hanua sebuah portal yang berbentuk angin. "Apakah ini aman? terlihat menakutkan." Kata Selvia, ia menatap Beast itu. "Pilihlah takdirmu. " Selvia menepis ragunya. Ia menutup matanya dan langsung masuk ke portal itu..... .Para tamu yang tadinya elegan dan tenang kini berteriak ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri. Beberapa bangsawan vampir langsung berubah wujud - mata mereka memerah, taring panjang muncul, cakar tajam keluar dari ujung jari. Bangsa naga mengeluarkan sisik pelindung dan beberapa ada yang mulai mengeluarkan api dari mulut mereka."Iblis! Iblis Darkworld!" teriak salah satu bangsawan vampir sambil menghunus pedang peraknya."Mereka menyerang istana! Lindungi raja-raja!" teriak yang lain.Kekacauan langsung melanda seluruh balairung. Para iblis kecil mulai menyerang tamu-tamu, cakar dan gigi tajam mereka merobek pakaian mewah dan menusuk daging. Suara jeritan kesakitan bercampur dengan teriakan perang dan geraman iblis.Raja Dragneel dan Raja Artarius segera berdiri back to back, siap menghadapi ancaman. Wajah Raja Dragneel berkerut marah."Mereka berani mengganggu pernikahan putriku!" geram Raja Artarius, mata kuningnya menya
Langit malam Transylvania bergelimang cahaya ungu dan biru keperakan. Bulan purnama menggantung besar di antara awan-awan tipis, memancarkan sinar keperakan yang menyapu puncak-puncak menara kastil batu hitam. Ribuan lentera ajaib melayang di udara sekitar kastil, berputar-putar dalam formasi yang rumit, masing-masing memancarkan cahaya hangat kuning keemasan. Dari dalam kastil, suara orkestra klasik terdengar - biola, cello, dan harpa memainkan melodi yang indah namun muram, sesuai dengan tradisi bangsa vampir.Di dalam balairung utama istana, lantai marmer hitam berkilau memantulkan cahaya dari lampu-lampu kristal keemasan raksasa yang menggantung di langit-langit setinggi dua puluh meter. Pilar-pilar batu hitam berukir detail rumit menjulang hingga ke langit-langit, setiap ukiran menceritakan sejarah panjang kedua klan. Aroma anggur merah tua yang mahal bercampur dengan wangi bunga mawar hitam yang menghiasi setiap sudut ruangan. Ada juga aroma dupa yang dibakar dalam te
"Saya tidak bisa melawan itu," gumam Jean pada Alucard yang berdiri di sampingnya."Anda harus," jawab Alucard. "Atau Anda akan mati, dan kami akan tahu bahwa kami keliru tentang Anda."Jean dipaksa masuk ke arena. Dia berdiri sendirian, menghadapi makhluk raksasa itu. Dia mengambil posisi bertarung, tinjunya terkepal. Itu adalah satu-satunya hal yang dia tahu. Dia bukan kesatia, bukan penyihir. Dia hanya Jean.Iblis itu mendengus, mengirimkan awan asap hitam dari hidungnya, lalu menyerang. Jean berusaha menghindar, berguling di atas batu-batu tajam yang melukai tangannya. Dia mencoba meninju kaki makhluk itu, tetapi seperti memukul batu. Tangannya berdenyut kesakitan."Dasar manusia lemah!" geram iblis itu, suaranya seperti batu bergesekan. Cakarnya yang berapi menyambar, merobek lengan Jean. Jean menjerit kesakitan, darah segera membasahi lengan bajunya. Dia merasakan panas yang membakar dari luka itu.Dia terus berusaha, mene
Getaran di Transylvania telah membuka portal iblis – Selvia kini tahu Jean adalah raja reinkarnasi, pernikahannya dan mungkin kedamaian dunia terancam. Jean dan Alucard melompat melalui portal merah itu tepat sebelum portal itu menutup sepenuhnya di Eldoria, meninggalkan kekacauan di alun-alun. Entah mengapa, kondisi di Eldoria kembali kondusif dengan cepat setelah kepergian mereka. Getaran berhenti, langit cerah kembali. Raja Dragneel, ayah Selvia, yang mengamati dari kejauhan, memutuskan untuk tidak menunda pernikahan. "Besok akan menjadi hari pernikahan megah untuk putriku," serunya kepada para bangsawan yang berkumpul. Di balkon istananya di Transylvania, Selvia memandang jauh ke arah cakrawala, berbisik pelan, "Jean... selamatkan aku." Jean merasakan sensasi yang aneh dan tidak nyaman saat dia terlempar keluar dari portal. Udara yang dia hirup pertama kali terasa berat, hangat, dan berdebu, dengan aroma belerang dan batu yang dalam. Dia terjatuh keras
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews