Teilen

Bab 3 

Richy
Kostum tariku hanya menutupi selangkanganku dan aku mengenakan stoking putih khusus untuk menari. Begitu kakiku dibuka, area intimku terlihat menonjol seperti sebuah gundukan. Area itu juga sudah basah di bawah tatapan Calvin.

"Ja ... jangan, bagian itu geli banget ...." Sensasi geli seperti arus listrik itu menjalar ke seluruh anggota tubuhku dan membuatku lemas.

Namun, Calvin malah menekan kakiku dengan lebih kuat lagi dan memaksa memisahkannya. "Jangan takut, rasakan perubahan di tubuhmu, lalu nikmatilah."

"Pak Calvin ... aku merasa nggak nyaman banget," mohonku dengan penuh penderitaan.

Akan tetapi, Calvin malah menjadi sangat bersemangat. Area intimnya juga terlihat menonjol.

"Tahan sebentar, aku lagi bantu kamu mengurangi sensitivitasmu," ujarnya sambil berlutut di atas salah satu kakiku dan menekannya dengan kuat ke lantai. Sebelah tangannya menahan kakiku yang lain dan mencegahku menutupnya.

Aku merasakan tatapannya yang membara tertuju pada area di antara kakiku. Seluruh tubuhku terasa seperti dirayap semut, rasa geli itu bahkan menusuk sampai ke tulang.

Tak lama kemudian, cairan hangat keluar dan membasahi kostum tariku. Aku sangat malu hingga hampir menangis.

Namun, pria yang memegang tubuhku terlihat cukup senang dengan reaksiku. Suaranya dan gerakannya yang menggoda secara bertahap mengikis akal sehatku.

"Jangan panik. Biarkan aku menyelamatkanmu."

Calvin mengulurkan sebuah jari dan dengan lembut menyentuh bagian tubuhku yang basah. Sensasi geli yang hebat menyebar dengan cepat dari antara kedua kakiku ke seluruh tubuhku.

Saat jarinya bergerak naik turun, bahkan masuk lebih dalam ke celah itu, kenikmatan yang luar biasa membuat seluruh tubuhku mulai gemetar tak terkendali. Kakiku juga tidak berhenti gemetar.

Setiap sel dalam tubuhku terasa seperti akan meledak, sedangkan otakku tidak lagi dapat berpikir jelas. Aku hanya bisa memohon dengan putus asa, "Pak Calvin, jangan. Aku mohon, ampuni aku."

Calvin makin bersemangat. Gerakannya makin cepat dan dia bahkan sampai membungkuk. Kepalanya berada di antara kedua kakiku. Dia mengaitkan satu tangannya di kostum tariku dan dengan lembut menariknya ke samping. Area intimku langsung terpampang di hadapannya.

"Cantik sekali," pujinya.

Aku merasa makin malu. Belum pernah ada orang yang melihat area itu sebelumnya. Aku segera menutupinya dengan tanganku. "Pak Calvin, jangan. Bagian itu kotor."

Calvin menepis tanganku. "Nggak apa-apa, aku nggak keberatan. Selama itu bisa menyembuhkanmu, aku nggak peduli meski merugi dikit."

Seusai berbicara, dia langsung menjulurkan lidahnya. Dia mulai menggerakkannya dengan liar di dalam area intimku.

"Ah ... ah ...."

Aku belum pernah merasakan kenikmatan seintens itu sebelumnya dan tak mau tak mau mengeluarkan suara. Aku merasa seperti ada belut yang merayap di antara kedua kakiku, basah dan licin.

"Benar, seperti ini, teriaklah sekeras-kerasnya. Lepaskan semua sensasi yang kamu rasakan."

Calvin meningkatkan tekanannya. Untuk sesaat, aku lupa di mana diriku berada. Pikiranku hanya dipenuhi dengan kenikmatan dan napasku terengah-engah.

Seluruh tulang belakang leherku terasa sakit dan mati rasa, seolah-olah ada arus listrik mengalir melalui tubuhku. Kostum tariku sudah basah kuyup oleh keringat sehingga matras yoga di bawahku juga basah.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Calvin akhirnya duduk dan menjilati sudut bibirnya.

Aku akhirnya tersadar kembali. Tubuhku memang terasa jauh lebih baik, sensasi geli itu juga tidak begitu tak tertahankan seperti sebelumnya.

"Pak Calvin, apa aku sudah sembuh?" Suaraku sudah serak karena berteriak sehingga yang keluar adalah suara parau.

Calvin melepas sepatuku sehingga kakiku yang bulat dan dibalut stoking putih terpampang.

"Itu masih bukan apa-apa. Langkah selanjutnya sangat penting. Ayo lepas stoking dan kostum tarimu."

Dia mengulurkan tangan untuk mengait kain di area pinggulku, lalu menarik dengan kuat dan merobek stokingku.

"Pak Calvin, apa yang mau kamu lakukan selanjutnya?"

Saat aku masih terbuai dalam hasrat dan belum sepenuhnya sadar, Calvin tiba-tiba menurunkan celananya dan memperlihatkan area intimnya yang sangat besar. Kemudian, dia meraih kakiku dan mengangkatnya ke pundaknya.

"Setelah merasakan manisnya, kamu akan sembuh dengan sendirinya. Ayo, biarkan aku membantumu ...."

Sebelum aku sempat bereaksi, Calvin tiba-tiba menerkamku ....
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 7

    Tiba-tiba, Calvin mempercepat langkahnya dan mencengkeram lenganku. Dia menekanku ke atas matras yoga. "Bersedia atau nggak, kamu harus setuju hari ini!""Lepaskan aku! Calvin, sadar bajingan!" Aku menggigit lengannya dan dia mengumpat kesakitan. Kemudian, dia mengangkat tangannya dan menampar wajahku. Rasa sakit yang membakar menjalar di pipiku, sedangkan kepalaku juga berdengung. Calvin menyeretku di lantai dengan sekuat tenaga. Aku berpegangan pada palang dan menolak untuk melepaskannya. Kuku-kukuku bahkan sudah patah. Dia menjambak rambutku dan hendak menyeretku ke arah pintu sambil mengumpat, "Kamu sendiri yang minta dihukum! Hari ini, aku akan beri tahu seluruh kampus tentang rahasiamu. Aku juga akan buat semua orang tahu gimana kamu bisa lulus ujian kali ini! Dasar wanita murahan!"Teriakan Calvin makin keras. Itu membuatku sangat takut hingga tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa memohon, "Kumohon lepaskan aku. Aku sudah berikan tubuhku padamu. Apa lagi yang kamu ingi

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 6

    Aku juga tidak bisa menolak untuk pergi. Dalam keadaan putus asa, aku pun mengirim pesan kepada Levin. Dia adalah salah seorang pemuda yang selalu mengejarku. Orangnya lumayan baik, juga punya pandangan dan karakter yang baik. Hanya saja, karena didikan keluargaku dan kurangnya keterampilan sosialku, aku tidak pernah menerima pengejarannya.Kali ini, ketika aku mengirim pesan kepadanya, dia sangat senang dan langsung setuju untuk pergi menemui Calvin bersamaku.Aku menyuruh Levin menunggu di luar asrama dosen. Begitu aku memanggilnya, dia harus segera masuk, tetapi jangan sampai mengatakan aku yang menyuruhnya. Levin pun mengangguk berulang kali.Ketika sampai di asrama, sinar matahari terbenam menyinari kamar. Calvin sedang duduk di tempat tidur. Sebuah termos berisi buah goji ada di atas meja. Dia menunjuk ke sudut meja, "Jepit rambutnya ada di sana."Aku berjalan ke sana dan mengambil jepit rambut itu. Itu hanya karet gelang hitam biasa dan jelas bukan milikku. Tepat ketika aku hen

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 5

    Calvin tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya. "Oh, karena hal sepele itu? Pengen lagi, ya?"Aku mengangguk malu-malu.Calvin menyelipkan satu tangannya ke dalam kerah bajuku dan mencengkeram buah dadaku."Begitu besar dan lembut, aku belum puas pegang kemarin." Sentuhan Calvin langsung membuatku terangsang."Pak Calvin, nya ... nyaman banget!" Entah kenapa, aku berteriak seperti wanita nakal.Calvin segera melepas bajuku, lalu dengan lembut mencubit puncak buah dadaku dengan kedua tangannya. Sensasinya sangat intens dan tidak berhenti merangsang sarafku. Cairan hangat sudah mengalir di area bawah tubuhku."Pak Calvin, bisa nggak kamu bantu area bawahku juga?" tanyaku seperti wanita jalang yang haus sentuhan.Calvin menunjuk ke tempat tidurnya. "Berbaringlah di sana, aku akan membantumu." Setelah aku berbaring, Calvin menyelipkan satu tangannya ke dalam celanaku dan tidak berhenti bermain di sana. Mulutnya mengisap puncak buah dadaku dan lidahnya berputar-putar di sekitarnya.Re

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 4

    "Ja ... jangan, Pak Calvin! Nggak boleh begini!" seruku sambil meronta. Bagaimanapun juga, aku dididik dengan sangat ketat. Aku hanya bisa melakukan hal seperti itu di malam pernikahanku. Namun, Calvin menindihku dan aku tidak bisa bergerak sama sekali. Dia merobek kostum tariku hingga buah dadaku yang putih terpampang di hadapannya."Ini langkah terakhir dari perawatan. Aku akan bantu kamu redakan sensasi geli di sana. Setelah sembuh, kamu bisa melakukan split dan nggak akan gagal ujian." Aku tetap tidak bisa melewati batas moral itu dan berjuang untuk menolak. Namun, Calvin sudah memasuki tubuhku. Perasaan dipenuhi itu seketika membuatku melupakan didikanku.Aku pun berteriak penuh gairah. Seolah mendengar perintah, Calvin bergerak maju mundur di atasku. Perasaan itu ... sungguh sangat menyenangkan.Ah ... tubuhku terasa seperti akan meleleh, juga mulai gemetar dan merespons irama Calvin.Setelah aktivitas intens itu berakhir, aku terkulai lemah di atas matras yoga dan merasa selur

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 3 

    Kostum tariku hanya menutupi selangkanganku dan aku mengenakan stoking putih khusus untuk menari. Begitu kakiku dibuka, area intimku terlihat menonjol seperti sebuah gundukan. Area itu juga sudah basah di bawah tatapan Calvin."Ja ... jangan, bagian itu geli banget ...." Sensasi geli seperti arus listrik itu menjalar ke seluruh anggota tubuhku dan membuatku lemas.Namun, Calvin malah menekan kakiku dengan lebih kuat lagi dan memaksa memisahkannya. "Jangan takut, rasakan perubahan di tubuhmu, lalu nikmatilah.""Pak Calvin ... aku merasa nggak nyaman banget," mohonku dengan penuh penderitaan.Akan tetapi, Calvin malah menjadi sangat bersemangat. Area intimnya juga terlihat menonjol."Tahan sebentar, aku lagi bantu kamu mengurangi sensitivitasmu," ujarnya sambil berlutut di atas salah satu kakiku dan menekannya dengan kuat ke lantai. Sebelah tangannya menahan kakiku yang lain dan mencegahku menutupnya.Aku merasakan tatapannya yang membara tertuju pada area di antara kakiku. Seluruh tubuh

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 2

    Aku pun terkejut. Sebelum aku sempat memproses apa yang terjadi, sensasi menggelitik yang menyenangkan sudah menyelimutiku. Aku tak kuasa menahan erangan pelan. Seluruh tubuhku gemetar dan air mata mengaburkan pandanganku.Ketika menoleh, aku mendapati Calvin berada tepat di depanku. Dia meremas buah dadaku dengan penuh nafsu. Mungkin karena merasakan keraguanku yang naluriah, dia mengerutkan kening."Apa janjimu barusan?"Aku berjanji akan melakukan semua yang dia katakan. Mungkin ini bagian dari perawatannya.Aku dengan canggung merilekskan tubuh dan meluruskan tubuhku yang berada di bawahnya. Tiba-tiba, dia mencubit puncak buah dadaku. Ketika aku tersentak karena merasa seperti tersengat listrik dan hendak bangkit, dia menekan tubuhku kembali ke tempatnya."Bagus sekali."Aku hanya mengenakan kostum tari yang bahannya sangat tipis. Tangannya yang menggesek buah dadaku terasa bagaikan langsung menempel pada kulitku. Merasakan gesekan hangat itu, tubuhku langsung mengeluarkan reaksi a

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status