Short
Jabakan Maut Sahabatku

Jabakan Maut Sahabatku

By:  UnguCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10Chapters
1.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah suamiku tak lagi berfungsi, aku mulai mengisi hari-hariku dengan mainan. Pada akhirnya, aku malah kecanduan pada hal yang sulit dijelaskan itu. Dengan alasan suamiku sudah melukaiku sampai berdarah saat menggunakan mainan itu, aku memutuskan pergi ke sebuah klinik untuk mencari pengobatan. Tak disangka, ternyata dokter pria di sana adalah teman suamiku sendiri. Saat dia memintaku berbaring di ranjang pasien, lalu dengan tegas memisahkan kedua kakiku dan tangannya mulai bergerak ke arah sensitif itu. “Adik ipar, jangan panik… sini biar kuperiksa.” Rasa hampa dan gejolak dalam diriku mulai membakar akal sehat. Di saat yang bersamaan, aku mendengar suara suamiku dari balik pintu sedang mencariku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Namaku Hana, seorang wanita yang baru saja menikah.

Sejak malam pernikahan saat suamiku pertama kali membuka sisi kewanitaanku, aku mulai jatuh cinta pada aktivitas ranjang itu. Sebagai orang yang baru merasakan gairah, aku sangat berani sekaligus malu-malu.

Suamiku pun sangat suka melihatku mendesah dan berteriak di tengah puncak kenikmatan.

Kami meninggalkan jejak kemesraan di setiap sudut rumah dan variasi yang kami coba pun semakin lama semakin berani.

Namun, sebuah kecelakaan tragis membuat semuanya berubah.

Suamiku selamat, tapi kemampuannya dalam hal itu telah hilang. Kami terpaksa beralih menggunakan mainan untuk mempertahankan kehidupan seksual kami yang sebelumnya sangat aktif.

Namun lambat laun, aku menyadari ada yang salah. Tubuhku mulai merasa tidak puas hanya dengan stimulasi sederhana dari mainan. Rasa hampa dan gelisah yang melanda setiap hari membuatku nyaris gila. Sentuhan sekecil apapun bahkan sanggup membuat tubuhku gemetar dan aliran kenikmatan menjalar ke mana-mana.

Suamiku mengira ini hanyalah efek dari kehidupan ranjang kami yang terlalu liar sebelumnya, sehingga aku sulit beradaptasi. Dia mencoba lebih keras memuaskanku dengan mainan, tapi rasanya tetap seperti menggaruk bagian yang gatal dari luar sepatu.

Hingga akhirnya setelah aku mengalami orgasme beberapa kali di tempat umum, hanya karena tatapan orang atau sentuhan yang tak disengaja, barulah aku sadar ini tidak bisa dibiarkan.

Kemudian suatu hari, aku mendapati suamiku menggunakan mainan terlalu keras hingga diriku terluka. Aku pun memutuskan untuk sekalian memeriksakan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku.

Setibanya di klinik, tidak ada pasien lain. Hanya ada seorang dokter pria di sana.

Dia mendongak, tatapannya menyapu seluruh tubuhku.

Hanya karena tatapan itu, tubuhku reflek gemetar, rasanya seolah-olah ada tangan yang baru saja meraba tubuhku.

Tatapannya tertuju pada wajahku yang memerah, lalu berhenti sejenak dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Ada keluhan apa?”

Dokter itu bertubuh tinggi besar, dengan kontur wajah yang tegas dan sangat maskulin.

Aku merasa canggung dan tak berani menatap matanya. Suaraku pelan sekali, nyaris seperti bisikan nyamuk.

“Aku… aku merasa tubuhku nggak nyaman.”

“Nggak nyaman bagaimana?”

“Aku….”

Aku benar-benar tak sanggup mengucapkan kata-kata selanjutnya.

Tatapannya terus tertuju pada wajahku. Dia tak mendesak, tapi juga tak berniat membantuku keluar dari rasa malu ini.

“Kamu bisa jelaskan dengan tenang. Aku sudah menghadapi sangat banyak pasien. Aku nggak akan memandangmu berbeda hanya karena masalah ini. Lagipula, kalau tubuhmu memang nggak masalah, kamu nggak mungkin mencariku, bukankah begitu?”

Ucapan pria itu terdengar lembut, tapi tetap tegas.

Rasa malu dalam diriku perlahan memudar dan dengan wajah memerah, aku pun mulai menjelaskan,

“Aku… setelah mulai berhubungan seksual dengan suamiku, tubuhku jadi bermasalah, jadi….”

“Jadi apa?”

Di bawah tatapannya, aku memejamkan mata.

“Aku merasa tubuhku selalu panas. Sentuhan orang lain yang nggak sengaja saja bisa membuatku terangsang di tempat umum. Sekarang, suamiku sudah kehilangan kemampuannya, jadi aku….”

Aku merasa sangat malu dengan kata-kataku, tapi dia tetap mendengarkan dengan serius. Saat aku tak sanggup melanjutkan lagi, dia pun mengangguk paham dan menunjuk ke arah ranjang periksa di dalam ruangan.

“Ke sana saja, biar kuperiksa.”

Namun, baru saja aku berbaring, dia langsung mengulurkan tangan dan meletakkannya di pahaku.

Aku tersentak kaget.

Namun, bersamaan dengan rasa kaget itu, muncul pula gelombang kenikmatan akibat sentuhan tersebut.

Aku mengerang pelan dan tubuhku langsung lemas di atas ranjang. Mataku yang berkaca-kaca menatap dokter di hadapanku.

Dia tampak terdiam sejenak.

“Maaf… aku nggak menyangka ternyata kecanduanmu separah ini.”

Kalimatnya terdengar formal, tapi tangannya tak kunjung dilepaskan.

“Tapi, dalam kondisi seperti ini, aku tetap harus memeriksa kondisi tubuhmu. Jadi, melepas pakaian itu harus dilakukan. Kamu bisa mengerti, ‘kan?”

Di tengah gempuran rasa nikmat, aku mencoba mengumpulkan sisa akal sehatku. Setelah memikirkannya sejenak, akhirnya aku pun mengangguk.

Dia mengangguk, lalu tangannya yang tadi menekan pahaku mulai bergerak naik.

Aku menggigit bibir, merasakan setiap gerakan tangan itu di kakiku. Tangannya seolah sengaja menyentuh paha bagian dalam, meninggalkan bekas di kulitku yang sensitif. Lalu, tangannya berhenti sejenak di ujung rokku. Setelah ragu sejenak, akhirnya dia masuk ke balik kain dan mulai menjelajahi area yang tertutup.

Setiap jarinya bergerak, kulit yang dilewatinya terasa terbakar. Gelombang kenikmatan menyerangku. Pria ini seolah memegang saklar kendali tubuhku. Setiap gerakannya membuatku semakin gerah tak tertahankan.

Berbeda dengan suamiku, pria ini jelas sangat ahli dalam menemukan titik sensitif wanita.

Aku ingin menangis di atas ranjang. Setiap kali aku ingin melonjak karena sensasi yang terlalu kuat, jarinya akan menekan tubuhku, mengunciku di ranjang. Lalu, bergerak ke titik yang lebih fatal, memberiku rangsangan yang jauh lebih hebat.

Aku bisa merasakan tubuhku gemetar hebat, bagian bawah perutku berkedut. Desahan yang tak beraturan keluar dari bibirku dan akal sehatku benar-benar sudah tak bisa lagi mengendalikan tubuhku….

Hingga akhirnya, saat jarinya menyentuh pinggiran celana dalamku, dia berhenti.

Aku menatap matanya yang tampak agak terkejut.

Aku tahu apa yang ingin dia katakan.

Karena aku sudah basah dan hantaman orgasme itu membuat cairanku membasahi tangannya.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status