เข้าสู่ระบบHari telah berganti. Isabella terbangun dan menatap sekelilingnya yang masih tertutup kelambu. Ia melihat kulit tangannya yang ternyata telah kembali normal.
Tok tok. "Yang Mulia, apakah Anda sudah bangun?" Suara Lusi menyadarkannya. "Masuklah, Lusi." Dayang itu masuk sambil membawa baskom berisi bunga mawar. Di belakangnya, dua pelayan lain membawa nampan berisi sarapan untuk sang permaisuri. Isabella menarik tirai yang menjuntai, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan dipapah oleh Lusi. "Apakah Anda sudah baikan, Yang Mulia?" tanya Lusi dengan nada khawatir. Isabella hanya menanggapinya dengan senyuman. Tubuhnya memang membaik, tetapi hatinya masih terluka. Lusi menghela napas berat. Ia membantu menggosok badan sang permaisuri yang tengah berendam dalam air mawar. Seharusnya beberapa pelayan turut membantu memandikan Isabella, namun permaisuri itu hanya mau dilayani oleh Lusi—pelayan setianya sejak kecil. Sebagian orang yang mendengar tentang kutukan itu sering bergunjing di belakang, dan Isabella sangat tidak menyukai hal semacam itu. "Semalam Kaisar pergi ke mana, Lusi?" Lusi tak langsung menjawab. "Lusi?" "Ah... ke Paviliun Senja, Yang Mulia," ucapnya dengan nada tak enak hati. Isabella terdiam. Ia bergulat dengan pikirannya sendiri. Selalu begitu. Setiap malam yang gagal, Kaisar pasti akan datang ke selir Ivony—putri dari Kepala Keuangan Istana. Kalau dilihat dari status, Isabella jelas lebih tinggi. Di Kekaisaran Everard, terdapat tiga wilayah besar: Eve-East, Eve-West, dan Eve-South. Masing-masing dipimpin oleh seorang Grand Duke. Isabella adalah putri dari Grand Duke William Astrum, penguasa Eve-East—wilayah terkuat di antara ketiganya. Namun meski begitu, kedudukan Isabella di hati Kaisar jauh lebih rendah daripada selir Ivony. Ah, memikirkannya saja membuat hati Isabella sakit. Ia tahu, setelah malam ini, selir Ivony pasti akan menyindirnya karena lagi-lagi gagal melayani Kaisar. "Ah... apa tidak bisa aku meliburkan pertemuan pagi ini, Lusi?" ucap Isabella lesu. "Sayangnya Anda tidak bisa melakukan itu tanpa alasan yang jelas, Yang Mulia. Ibu Suri akan menganggap Anda kekanak-kanakan nanti," jawab Lusi lembut. Isabella tak lagi menyahut. Lusi benar—sebagai permaisuri, ia harus bijak dalam setiap hal. Termasuk menghadiri tradisi pertemuan pagi untuk para wanita Kaisar. Bagi Isabella, itu terasa menyebalkan, namun katanya, pertemuan itu adalah cara agar para istri hidup rukun. Mau tak mau, ia harus menuruti aturan. Meskipun posisinya tinggi, ia tetap tidak benar-benar berkuasa. Ada Kaisar dan Ibu Suri yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. --- Isabella melangkah gontai di koridor menuju aula di sudut paviliunnya—tempat para wanita kerajaan berkumpul. Gaun hijau muda yang ia kenakan membuat tampilannya tampak segar. Kulitnya yang putih berpadu dengan rambut yang ditata rapi dalam model up do, dihiasi tiara perak berhiaskan permata kecil di seluruh permukaannya. Isabella tampak seperti bunga cantik di taman. Bibir merah muda yang penuh membuat siapa pun terpesona padanya. "Permaisuri Isabella Grace Everard telah tiba!" seru penjaga di depan pintu aula. Semua wanita di dalam ruangan berdiri menyambut kedatangannya. Ada enam wanita di sana—tiga istri Kaisar dan sisanya adalah dayang pribadi mereka. "Hormat kami kepada mentari kekaisaran. Semoga kebijaksanaan dan kecantikan Anda tetap bersinar," ucap mereka serempak. "Duduklah," titah Isabella setelah mencapai tempat duduknya di depan. "Anda tampak begitu cantik dan segar, Yang Mulia," puji selir Imelda. Isabella tersenyum samar. Sejujurnya, ia tak menyukai suasana seperti ini—para wanita yang saling memuji dengan maksud terselubung di balik kata-katanya. "Mungkin karena Kaisar tadi malam bermalam di kamar Anda," sambung Imelda. "Kaisar hanya mampir sebentar, Selir Imelda," sahut Isabella menahan kesal. "Katanya Anda tadi malam tidak enak badan, apakah benar begitu, Yang Mulia?" tanya Selir Cempaka menimpali. "Ya," jawab Isabella singkat. "Ah, benarkah? Kalau tidak enak badan, mengapa sekarang Anda tampak segar?" kini giliran Selir Ivony berbicara. Isabella menatap ke arah Ivony. Wanita itu tersenyum lebar sambil memainkan kalung merah delima yang senada dengan gaunnya. “Itu pasti hadiah dari Kaisar karena melayaninya,” batin Isabella, getir. Ia segera mengendalikan rasa cemburu yang bergolak. "Apa maksudmu, Selir Ivony?" ucapnya datar. "Ehmm... bukan apa-apa, Yang Mulia. Hanya saja, saya merasa aneh. Setiap kali Kaisar hendak bermalam dengan Anda, kenapa selalu berakhir dengan beliau datang ke paviliun saya?" ucap Ivony dengan seringai samar. "Maksudmu kau lebih baik dariku begitu?" nada Isabella meninggi. "Ah, tidak, Yang Mulia, saya tidak bermaksud begitu." "Lalu maksudmu apa?" "Ehmm, maafkan kelancangan saya, Permaisuri... tapi apakah benar, seperti rumor yang beredar, Anda terkena kutukan mengerikan?" Prang! Isabella melempar gelas teh ke arah Ivony. Tak mengenai, tapi pecah tepat di depan kakinya. "Yang Mulia, kendalikan diri Anda," Lusi mencoba menenangkan. "Apa begitu sikap seorang wanita Kaisar? Lebih suka mendengar rumor daripada berbuat kebajikan?" seru Isabella tajam. Ivony menunduk, tapi Isabella masih sempat melihat senyum licik di wajahnya. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud menyinggung Anda." Isabella menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Pertemuan hari ini cukup sampai di sini. Kalian boleh kembali ke paviliun masing-masing," titahnya, lalu ia bangkit dan keluar dari ruangan. --- Isabella menyesap teh peony kesukaannya. Warnanya putih dengan rasa lembut dan aroma floral yang menenangkan. Setidaknya, kini ia bisa sedikit rileks setelah dibakar emosi di aula tadi. "Lusi, kau lihat kalung yang dikenakan Selir Ivony tadi? Sepertinya itu hadiah baru dari Kaisar," ucap Isabella lirih. Sejak awal, ia belum pernah mendapatkan hadiah apa pun dari Kaisar. Biasanya, hadiah akan diberikan setelah malam bersama. Namun malam yang selalu berakhir gagal membuat Isabella tak pernah mendapat apa pun. "Anda memiliki banyak kalung yang lebih cantik, Yang Mulia," sahut Lusi menenangkan. "Tapi itu bukan dari Kaisar," jawab Isabella lesu. Lusi hendak membalas, tapi kemudian datang seorang utusan dari Paviliun Langit—kediaman Ibu Suri. "Hormat saya kepada Mentari Kekaisaran. Semoga kebijaksanaan dan kecantikan Anda tetap bersinar." "Ada apa Bibi kemari?" tanya Isabella. "Ibu Suri mengundang Anda untuk minum teh bersama, Yang Mulia." "Hari ini, atau di lain waktu?" "Sekarang juga, Yang Mulia." Ah... itu bukan undangan, melainkan perintah samar yang tak bisa ditolak. Ibu Suri tidak akan memanggil tanpa alasan penting. "Semoga saja ini bukan hal buruk," batin Isabella.Lapangan militer Kekaisaran dipenuhi derap langkah para ksatria sejak fajar menyingsing. Debu beterbangan, bendera kekaisaran berkibar tinggi, dan sorak sorai prajurit yang berkumpul menciptakan atmosfer tegang namun membara. Hari ini bukan hari biasa—hari ini adalah seleksi jenderal.Sepuluh kandidat berdiri berjajar di tengah arena. Mereka adalah para ksatria terbaik dari berbagai wilayah, masing-masing membawa reputasi, luka pertempuran, dan ambisi yang tersembunyi di balik wajah dingin.Di antara mereka, Maxime Sun Astrum berdiri tegak, bahunya lurus, tatapannya lurus ke depan. Baju zirah peraknya sederhana, tanpa hiasan berlebihan—berbeda dengan beberapa kandidat lain yang sengaja menampilkan lambang kehormatan mereka.Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya menonjol.“Semua kandidat harap bersiap!”Suara komandan arena menggema.Di tribun kehormatan, Julius duduk di singgasananya, mengenakan jubah kebesaran. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya tajam saat menata
Maxime Sun Astrum, putra sulung dari Grand Duke William Astrum—kakak kandung Isabella—adalah seorang ksatria Kekaisaran yang kini bertugas di wilayah perbatasan. Usianya baru menginjak dua puluh lima tahun, namun pengalamannya di medan tempur telah membentuknya menjadi sosok yang disegani.Seharusnya, Maxime telah menggantikan posisi ayahnya sebagai Duke di wilayah Eve East. Namun takdir membawanya memilih jalan lain. Selama Isabella berada di istana sebagai permaisuri, Maxime merasa tanggung jawabnya belum selesai. Ia ingin meraih jabatan jenderal—jabatan yang akan menempatkannya di pusat kekuasaan, dekat dengan adiknya, sekaligus mengamankan posisi Isabella dari segala ancaman.Lagipula, Grand Duke William masih cukup muda dan mampu menangani urusan wilayah seorang diri. Terlebih lagi, putra bungsunya telah berusia lima belas tahun dan menempuh pendidikan di Academy. Kelak, dialah yang akan meneruskan kekuasaan keluarga Astrum di Eve East.Kesempatan kali ini tak boleh disia-siakan.
Vena kembali ke Paviliun Senja dengan tubuh gemetar. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai marmer yang dingin ikut menekan jantungnya. Ia tahu, Ivony pasti akan murka jika mengetahui kaisar lebih memilih menetap bersama Selir Imelda daripada menemuinya.Begitu pintu paviliun terbuka, Ivony sudah berdiri menunggu, wajahnya dihiasi senyum penuh harap yang rapuh.“Mana kaisar?” tanya Ivony, suaranya dibuat selembut mungkin, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.Vena menunduk, jemarinya saling menggenggam kuat. Ia tak berani berucap sepatah kata pun. Sikap itu justru membuat ekspresi Ivony perlahan mengeras, senyumnya memudar, digantikan tatapan tajam yang menusuk.“Cepat katakan, di mana kaisar!” bentak Ivony, nada suaranya meninggi.Vena spontan bersujud, dahinya menyentuh lantai.“Ampun, Selir Agung. Yang Mulia Kaisar memerintahkan tabib untuk memeriksa Anda. Beliau tidak mau meninggalkan Paviliun Bulan,” papar Vena dengan suara bergetar, rasa takut jelas ter
“Yang Mulia Kaisar tiba….”Suara pengumuman terdengar lirih namun jelas.Julius melangkah memasuki kamar Selir Imelda di Paviliun Bulan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, tirai tipis bergoyang perlahan tertiup angin malam. Aroma wangi yang lembut namun hangat segera menyergap indra penciumannya.Imelda telah menunggu.Ia berdiri anggun di dekat ranjang, mengenakan gaun tidur tipis berwarna gading yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya terurai rapi, bibirnya dihias senyum lembut yang sengaja dibuat menggoda. Para pelayan yang sebelumnya mendampingi segera menunduk dan keluar, menutup pintu rapat, meninggalkan Imelda dan Julius berdua.“Kaisar…” panggil Imelda lirih.Ia melangkah mendekat, tangannya terulur membuka jubah kebesaran yang dikenakan Julius. Dengan gerakan halus, Imelda memapahnya ke tepi ranjang. Kehangatan tubuhnya dan aroma wewangian yang dipakainya menciptakan sensasi aneh—menenangkan sekaligus membakar.Imelda tersenyum samar.Ia memang sengaja memilih
Desa Kraven diliputi kabut tipis sejak pagi.Bangunan-bangunan kayu yang rusak tampak muram. Atap-atap roboh, papan-papan patah berserakan, menyisakan rangka-rangka rapuh sebagai saksi bisu longsor yang belum lama terjadi. Tanah berlumpur, jerami basah menempel di telapak kaki, dan bau lembap bercampur getir penderitaan menyelimuti udara.Para penduduk berdiri berjejer di sisi jalan utama.Wajah-wajah mereka letih, mata cekung, pakaian lusuh menempel di tubuh kurus. Anak-anak digendong erat, para lansia bersandar pada tongkat rapuh yang nyaris tak mampu menopang tubuh renta mereka. Tak ada sorak. Tak ada sambutan meriah.Tak ada harapan besar.Mereka sudah terlalu sering berharap—dan terlalu sering kecewa.Namun pagi itu terasa berbeda.Derap kaki kuda menggema dari kejauhan, memecah kesunyian desa. Perlahan, barisan prajurit bersenjata lengkap memasuki Kraven dengan langkah tertib dan teratur. Bendera Eve East berkibar anggun di udara, biru keperakan, bersih, dan tegas—kontras dengan
Aula Paviliun Mentari pagi itu dipenuhi cahaya keemasan. Tirai tipis bergoyang pelan, membiaskan sinar matahari ke lantai marmer yang berkilau. Para selir telah berkumpul, duduk anggun sesuai kedudukan masing-masing.Sejak awal, Selir Agung Ivony tak melepaskan pandangannya dari Isabella.Tatapan itu tajam, dingin, dan sarat kecemburuan.Meski tak terang-terangan, Isabella merasakannya jelas. Dari ekor matanya, ia menangkap kilat amarah yang berusaha disembunyikan Ivony di balik senyum bangsawan. Diam-diam, Isabella mengulas seringai tipis—halus, nyaris tak terlihat.“Bagaimana malammu, Selir Imelda?” tanya Isabella ringan, seolah tak terjadi apa-apa.Selir Imelda tersentak kecil, lalu tersenyum tersipu. Wajahnya merona, matanya berbinar.“Terima kasih atas bantuan Anda, Yang Mulia,” ucapnya dengan nada hormat.Ivony langsung menoleh. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, menguji. Seolah ia ingin menguliti setiap kata yang keluar dari mulut Imelda.D







