Beranda / Historical / Di Balik Tirai Permaisuri / 03- Tabib Dari Kuil Havana

Share

03- Tabib Dari Kuil Havana

Penulis: Tinta cinta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-10 12:53:08

Isabella datang ke kediaman Ibu Suri bersama Lusi. Di taman, tampak Ibu Suri sedang menikmati teh sore. Namun ternyata beliau tidak sendirian — di seberang mejanya duduk sang Kaisar, entah sejak kapan berada di sana.

"Salam hormat kepada Ibu Suri, salam hormat kepada Kaisar. Semoga kesejahteraan senantiasa menyertai kalian," ucap Isabella sopan sambil menunduk.

"Duduklah, Permaisuri," perintah Ibu Suri dengan senyum lembut.

Isabella duduk di kursi yang tersisa. Meja bulat di tengah taman itu hanya memiliki tiga kursi, melambangkan kedekatan yang tidak bisa dihindari.

“Tampilanmu berubah begitu cepat,” komentar Kaisar sambil menilik penampilan Isabella dari atas ke bawah.

“Maafkan aku, Suamiku,” ucap Isabella lirih, mengingat kejadian semalam.

“Jangan panggil aku Suamiku di luar,” tekan Kaisar dingin.

Isabella menunduk, hanya mengangguk pelan.

“Sudahlah, jangan terlalu kaku pada Isabella,” sela Ibu Suri menengahi. “Dia tetap istrimu, tidak salah kalau memanggil suaminya sendiri.”

“Istri yang tak sempurna, apa masih pantas disebut istri?” sindir Kaisar sarkastik.

Isabella mengepalkan tangan di bawah meja. Kenapa Kaisar selalu seperti itu? Seolah menghina tanpa perasaan. Padahal siapa yang ingin mengalami nasib seperti dirinya?

“Jangan dengarkan ucapan Julius yang menyakitkan, Isabella. Dia memang payah dalam berbicara,” ucap Ibu Suri mencoba menenangkan.

Ibu Suri memang selalu begitu—membela dan memperlakukan Isabella dengan lembut sejak dulu. Beliau tahu, tanpa dukungan keluarga Isabella, mungkin Julius tidak akan naik takhta. Seharusnya kakaknya yang menjadi Kaisar. Karena itu, Ibu Suri selalu berusaha melindungi Isabella. Itulah sebabnya Isabella tak pernah tega menyakiti hati beliau.

“Ada apa Ibu memanggilku?” tanya Isabella langsung pada inti.

“Oh, ini tentang penyakitmu,” jawab Ibu Suri lembut. “Ibu akan mendatangkan Tabib Agung agar kamu bisa sembuh.”

“Tabib Agung dari mana lagi, Ibu? Semua tabib terbaik sudah kucoba, hasilnya tetap sama,” ucap Isabella lesu.

“Mungkin itu bukan penyakit, melainkan kutukan,” sindir Kaisar dingin.

“Julius!” tegur Ibu Suri tajam.

“Kali ini berbeda,” lanjut beliau. “Biasanya kamu hanya menemui tabib perempuan. Kali ini, tabibnya laki-laki, dan dia memiliki darah sihir. Cara penyembuhannya bukan hanya dengan ramuan.”

“Aku tidak bisa bersentuhan dengan lelaki, Ibu. Bagaimana mungkin tabibnya justru seorang pria?”

“Dia berbeda, Isabella. Percayalah padaku.”

Isabella mendesah berat. “Kenapa Ibu baru mengatakannya sekarang? Kenapa tidak dari dulu jika Ibu yakin dia yang terbaik?”

“Terus terang, Ibu juga tidak menyangka penyakitmu separah ini. Ibu pikir, dengan tabib yang lain, itu bisa sembuh. Ternyata tidak.”

“Baiklah… aku percaya pada Ibu.”

“Kalau begitu, kembalilah ke paviliunmu. Besok pagi dia akan datang dan memulai pengobatan,” ucap Ibu Suri menutup pembicaraan.

Isabella mengangguk, lalu berdiri dan membungkuk hormat pada Ibu Suri serta Kaisar sebelum melangkah pergi. Namun baru dua langkah berjalan, suara Kaisar terdengar menusuk di belakangnya.

“Tapi jangan terlalu berharap untuk sembuh. Penyakitmu itu belum pernah terjadi pada siapa pun. Aku tak yakin tabib itu akan berhasil.”

Isabella menoleh, menatap Kaisar dengan mata basah. Kenapa… kenapa dia tak bisa sedikit saja memberi dukungan?

“Jangan dengarkan Julius, Isabella,” ujar Ibu Suri lembut.

Isabella kembali menunduk dan melanjutkan langkahnya tanpa sepatah kata pun.

“Julius!” suara Ibu Suri meninggi. “Sudah Ibu katakan, jangan berbuat sesuka hati! Kau harus menjaga perasaan Isabella. Kau harus selalu menyenangkannya!”

Kaisar mendengus pelan.

“Ayolah, Ibu. Sekalipun aku melakukannya, apa gunanya? Lagipula, memang kenyataannya dia terkena kutukan. Lelaki sial mana yang mau menikahinya selain aku?”

“Kau tetap harus menjaga sikapmu, Kaisar!” tegas Ibu Suri.

Kaisar terdiam. Jika Ibu Suri sudah menyebut namanya dengan sebutan Kaisar, itu tandanya beliau sedang benar-benar marah.

---

Isabella berjalan pulang ke paviliunnya dengan langkah berat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga.

Terbesit sesal di hatinya. Mungkin… menikah dengan Kaisar adalah kesalahan. Tapi, jika bukan Julius, siapa yang akan menikahinya? Rumor tentang kutukannya sudah tersebar sejak remaja. Jika ia tidak menikah, itu akan menjadi aib bagi ayahnya.

“Sudahlah… mungkin ini memang takdirku,” lirihnya di sela isak tangis.

---

Keesokan paginya, Isabella meliburkan pertemuan pagi sesuai izin Ibu Suri. Beliau memintanya menunggu kedatangan tabib, yang katanya akan datang pagi sekali.

Tanpa riasan mencolok, Isabella tetap tampak anggun. Ia mengenakan gaun putih elegan dengan hiasan rambut sederhana namun memancarkan wibawa seorang permaisuri.

“Yang Mulia,” panggil Lusi dari luar kamar. “Ibu Suri datang bersama tabib. Mereka sudah menunggu di ruang tamu.”

“Baik. Suguhkan teh Darjeeling yang dikirim ayahku minggu lalu—itu untuk tamu kehormatan. Siapkan juga beberapa camilan,” perintah Isabella sebelum berjalan menuju ruang tamu.

---

“Salam kepada Mentari Kekaisaran. Semoga kebijaksanaan dan kecantikan Anda tetap bersinar,” sapa Ibu Suri ketika Isabella masuk.

Tabib itu tidak mengucapkan apa pun. Ia hanya berdiri dan menunduk hormat.

“Tidak perlu memberi salam seperti itu, Ibu,” ucap Isabella sambil duduk di kursi seberang.

“Dia adalah tabib yang Ibu sebut kemarin,” jelas Ibu Suri. “Pengobatannya akan dimulai hari ini. Ia berjanji akan menyembuhkanmu, meski butuh waktu lama.”

Isabella menatap tabib itu. Lelaki itu tetap tertunduk, namun dari jarak dekat, Isabella dapat melihat parasnya—rahang tegas, garis wajah tenang, dan aura misterius yang memancar kuat.

“Tapi, pengobatan ini harus bersifat rahasia, Permaisuri,” lanjut Ibu Suri.

“Kenapa, Ibu?”

“Rumor sudah terlalu luas, dan itu mempengaruhi nama baik kerajaan. Jadi, hanya aku, kamu, dan Kaisar yang boleh tahu tentang ini.”

“Kalau dia datang setiap hari, bagaimana aku bisa menyembunyikannya?” tanya Isabella khawatir.

“Dia bisa datang melalui teleportasi. Hari ini, Ibu membawanya ke sini agar ia bisa menghafal ruanganmu. Setelah itu, tentukan waktu pengobatan. Pastikan kamu sudah siap pada jam yang disepakati.”

“Maksud Ibu… dia akan muncul tiba-tiba di kamarku begitu saja?”

Ibu Suri mengangguk. Isabella membelalakkan mata.

“Itu tidak sopan, Ibu,” ucapnya spontan.

“Karena itu, pastikan jamnya,” tegas Ibu Suri. “Ibu tidak mau hal ini tersebar dan diketahui orang luar.”

Isabella terdiam. Ia menimbang, apakah semua ini akan berjalan baik?

Akhirnya, suara tenang dari tabib itu terdengar untuk pertama kalinya.

“Saya hanya akan melakukan pengobatan, tidak lebih dari itu. Lagi pula, saya Tabib Agung dari Kuil Havana. Pantang bagi kami berhubungan intim dengan wanita.”

Isabella tertegun. Kuil Havana… kuil suci yang terkenal hanya dihuni oleh para tabib berhati murni dan suci dari dosa duniawi.

“Baiklah,” ucap Isabella akhirnya. “Kita tentukan jamnya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Balik Tirai Permaisuri   35- Acara Seleksi

    Lapangan militer Kekaisaran dipenuhi derap langkah para ksatria sejak fajar menyingsing. Debu beterbangan, bendera kekaisaran berkibar tinggi, dan sorak sorai prajurit yang berkumpul menciptakan atmosfer tegang namun membara. Hari ini bukan hari biasa—hari ini adalah seleksi jenderal.Sepuluh kandidat berdiri berjajar di tengah arena. Mereka adalah para ksatria terbaik dari berbagai wilayah, masing-masing membawa reputasi, luka pertempuran, dan ambisi yang tersembunyi di balik wajah dingin.Di antara mereka, Maxime Sun Astrum berdiri tegak, bahunya lurus, tatapannya lurus ke depan. Baju zirah peraknya sederhana, tanpa hiasan berlebihan—berbeda dengan beberapa kandidat lain yang sengaja menampilkan lambang kehormatan mereka.Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya menonjol.“Semua kandidat harap bersiap!”Suara komandan arena menggema.Di tribun kehormatan, Julius duduk di singgasananya, mengenakan jubah kebesaran. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya tajam saat menata

  • Di Balik Tirai Permaisuri   34- Lemas

    Maxime Sun Astrum, putra sulung dari Grand Duke William Astrum—kakak kandung Isabella—adalah seorang ksatria Kekaisaran yang kini bertugas di wilayah perbatasan. Usianya baru menginjak dua puluh lima tahun, namun pengalamannya di medan tempur telah membentuknya menjadi sosok yang disegani.Seharusnya, Maxime telah menggantikan posisi ayahnya sebagai Duke di wilayah Eve East. Namun takdir membawanya memilih jalan lain. Selama Isabella berada di istana sebagai permaisuri, Maxime merasa tanggung jawabnya belum selesai. Ia ingin meraih jabatan jenderal—jabatan yang akan menempatkannya di pusat kekuasaan, dekat dengan adiknya, sekaligus mengamankan posisi Isabella dari segala ancaman.Lagipula, Grand Duke William masih cukup muda dan mampu menangani urusan wilayah seorang diri. Terlebih lagi, putra bungsunya telah berusia lima belas tahun dan menempuh pendidikan di Academy. Kelak, dialah yang akan meneruskan kekuasaan keluarga Astrum di Eve East.Kesempatan kali ini tak boleh disia-siakan.

  • Di Balik Tirai Permaisuri   33- Sebuah Rencana

    Vena kembali ke Paviliun Senja dengan tubuh gemetar. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai marmer yang dingin ikut menekan jantungnya. Ia tahu, Ivony pasti akan murka jika mengetahui kaisar lebih memilih menetap bersama Selir Imelda daripada menemuinya.Begitu pintu paviliun terbuka, Ivony sudah berdiri menunggu, wajahnya dihiasi senyum penuh harap yang rapuh.“Mana kaisar?” tanya Ivony, suaranya dibuat selembut mungkin, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.Vena menunduk, jemarinya saling menggenggam kuat. Ia tak berani berucap sepatah kata pun. Sikap itu justru membuat ekspresi Ivony perlahan mengeras, senyumnya memudar, digantikan tatapan tajam yang menusuk.“Cepat katakan, di mana kaisar!” bentak Ivony, nada suaranya meninggi.Vena spontan bersujud, dahinya menyentuh lantai.“Ampun, Selir Agung. Yang Mulia Kaisar memerintahkan tabib untuk memeriksa Anda. Beliau tidak mau meninggalkan Paviliun Bulan,” papar Vena dengan suara bergetar, rasa takut jelas ter

  • Di Balik Tirai Permaisuri   32- Godaan

    “Yang Mulia Kaisar tiba….”Suara pengumuman terdengar lirih namun jelas.Julius melangkah memasuki kamar Selir Imelda di Paviliun Bulan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, tirai tipis bergoyang perlahan tertiup angin malam. Aroma wangi yang lembut namun hangat segera menyergap indra penciumannya.Imelda telah menunggu.Ia berdiri anggun di dekat ranjang, mengenakan gaun tidur tipis berwarna gading yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya terurai rapi, bibirnya dihias senyum lembut yang sengaja dibuat menggoda. Para pelayan yang sebelumnya mendampingi segera menunduk dan keluar, menutup pintu rapat, meninggalkan Imelda dan Julius berdua.“Kaisar…” panggil Imelda lirih.Ia melangkah mendekat, tangannya terulur membuka jubah kebesaran yang dikenakan Julius. Dengan gerakan halus, Imelda memapahnya ke tepi ranjang. Kehangatan tubuhnya dan aroma wewangian yang dipakainya menciptakan sensasi aneh—menenangkan sekaligus membakar.Imelda tersenyum samar.Ia memang sengaja memilih

  • Di Balik Tirai Permaisuri   31- Mengharumkan Nama

    Desa Kraven diliputi kabut tipis sejak pagi.Bangunan-bangunan kayu yang rusak tampak muram. Atap-atap roboh, papan-papan patah berserakan, menyisakan rangka-rangka rapuh sebagai saksi bisu longsor yang belum lama terjadi. Tanah berlumpur, jerami basah menempel di telapak kaki, dan bau lembap bercampur getir penderitaan menyelimuti udara.Para penduduk berdiri berjejer di sisi jalan utama.Wajah-wajah mereka letih, mata cekung, pakaian lusuh menempel di tubuh kurus. Anak-anak digendong erat, para lansia bersandar pada tongkat rapuh yang nyaris tak mampu menopang tubuh renta mereka. Tak ada sorak. Tak ada sambutan meriah.Tak ada harapan besar.Mereka sudah terlalu sering berharap—dan terlalu sering kecewa.Namun pagi itu terasa berbeda.Derap kaki kuda menggema dari kejauhan, memecah kesunyian desa. Perlahan, barisan prajurit bersenjata lengkap memasuki Kraven dengan langkah tertib dan teratur. Bendera Eve East berkibar anggun di udara, biru keperakan, bersih, dan tegas—kontras dengan

  • Di Balik Tirai Permaisuri   30- Suasana Istana

    Aula Paviliun Mentari pagi itu dipenuhi cahaya keemasan. Tirai tipis bergoyang pelan, membiaskan sinar matahari ke lantai marmer yang berkilau. Para selir telah berkumpul, duduk anggun sesuai kedudukan masing-masing.Sejak awal, Selir Agung Ivony tak melepaskan pandangannya dari Isabella.Tatapan itu tajam, dingin, dan sarat kecemburuan.Meski tak terang-terangan, Isabella merasakannya jelas. Dari ekor matanya, ia menangkap kilat amarah yang berusaha disembunyikan Ivony di balik senyum bangsawan. Diam-diam, Isabella mengulas seringai tipis—halus, nyaris tak terlihat.“Bagaimana malammu, Selir Imelda?” tanya Isabella ringan, seolah tak terjadi apa-apa.Selir Imelda tersentak kecil, lalu tersenyum tersipu. Wajahnya merona, matanya berbinar.“Terima kasih atas bantuan Anda, Yang Mulia,” ucapnya dengan nada hormat.Ivony langsung menoleh. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, menguji. Seolah ia ingin menguliti setiap kata yang keluar dari mulut Imelda.D

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status