Share

33- Sebuah Rencana

Author: Tinta cinta
last update Last Updated: 2025-12-31 13:53:42

Vena kembali ke Paviliun Senja dengan tubuh gemetar. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai marmer yang dingin ikut menekan jantungnya. Ia tahu, Ivony pasti akan murka jika mengetahui kaisar lebih memilih menetap bersama Selir Imelda daripada menemuinya.

Begitu pintu paviliun terbuka, Ivony sudah berdiri menunggu, wajahnya dihiasi senyum penuh harap yang rapuh.

“Mana kaisar?” tanya Ivony, suaranya dibuat selembut mungkin, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.

Vena menunduk, jemarinya saling menggenggam kuat. Ia tak berani berucap sepatah kata pun. Sikap itu justru membuat ekspresi Ivony perlahan mengeras, senyumnya memudar, digantikan tatapan tajam yang menusuk.

“Cepat katakan, di mana kaisar!” bentak Ivony, nada suaranya meninggi.

Vena spontan bersujud, dahinya menyentuh lantai.

“Ampun, Selir Agung. Yang Mulia Kaisar memerintahkan tabib untuk memeriksa Anda. Beliau tidak mau meninggalkan Paviliun Bulan,” papar Vena dengan suara bergetar, rasa takut jelas ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Balik Tirai Permaisuri   33- Sebuah Rencana

    Vena kembali ke Paviliun Senja dengan tubuh gemetar. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai marmer yang dingin ikut menekan jantungnya. Ia tahu, Ivony pasti akan murka jika mengetahui kaisar lebih memilih menetap bersama Selir Imelda daripada menemuinya.Begitu pintu paviliun terbuka, Ivony sudah berdiri menunggu, wajahnya dihiasi senyum penuh harap yang rapuh.“Mana kaisar?” tanya Ivony, suaranya dibuat selembut mungkin, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.Vena menunduk, jemarinya saling menggenggam kuat. Ia tak berani berucap sepatah kata pun. Sikap itu justru membuat ekspresi Ivony perlahan mengeras, senyumnya memudar, digantikan tatapan tajam yang menusuk.“Cepat katakan, di mana kaisar!” bentak Ivony, nada suaranya meninggi.Vena spontan bersujud, dahinya menyentuh lantai.“Ampun, Selir Agung. Yang Mulia Kaisar memerintahkan tabib untuk memeriksa Anda. Beliau tidak mau meninggalkan Paviliun Bulan,” papar Vena dengan suara bergetar, rasa takut jelas ter

  • Di Balik Tirai Permaisuri   32- Godaan

    “Yang Mulia Kaisar tiba….”Suara pengumuman terdengar lirih namun jelas.Julius melangkah memasuki kamar Selir Imelda di Paviliun Bulan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, tirai tipis bergoyang perlahan tertiup angin malam. Aroma wangi yang lembut namun hangat segera menyergap indra penciumannya.Imelda telah menunggu.Ia berdiri anggun di dekat ranjang, mengenakan gaun tidur tipis berwarna gading yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya terurai rapi, bibirnya dihias senyum lembut yang sengaja dibuat menggoda. Para pelayan yang sebelumnya mendampingi segera menunduk dan keluar, menutup pintu rapat, meninggalkan Imelda dan Julius berdua.“Kaisar…” panggil Imelda lirih.Ia melangkah mendekat, tangannya terulur membuka jubah kebesaran yang dikenakan Julius. Dengan gerakan halus, Imelda memapahnya ke tepi ranjang. Kehangatan tubuhnya dan aroma wewangian yang dipakainya menciptakan sensasi aneh—menenangkan sekaligus membakar.Imelda tersenyum samar.Ia memang sengaja memilih

  • Di Balik Tirai Permaisuri   31- Mengharumkan Nama

    Desa Kraven diliputi kabut tipis sejak pagi.Bangunan-bangunan kayu yang rusak tampak muram. Atap-atap roboh, papan-papan patah berserakan, menyisakan rangka-rangka rapuh sebagai saksi bisu longsor yang belum lama terjadi. Tanah berlumpur, jerami basah menempel di telapak kaki, dan bau lembap bercampur getir penderitaan menyelimuti udara.Para penduduk berdiri berjejer di sisi jalan utama.Wajah-wajah mereka letih, mata cekung, pakaian lusuh menempel di tubuh kurus. Anak-anak digendong erat, para lansia bersandar pada tongkat rapuh yang nyaris tak mampu menopang tubuh renta mereka. Tak ada sorak. Tak ada sambutan meriah.Tak ada harapan besar.Mereka sudah terlalu sering berharap—dan terlalu sering kecewa.Namun pagi itu terasa berbeda.Derap kaki kuda menggema dari kejauhan, memecah kesunyian desa. Perlahan, barisan prajurit bersenjata lengkap memasuki Kraven dengan langkah tertib dan teratur. Bendera Eve East berkibar anggun di udara, biru keperakan, bersih, dan tegas—kontras dengan

  • Di Balik Tirai Permaisuri   30- Suasana Istana

    Aula Paviliun Mentari pagi itu dipenuhi cahaya keemasan. Tirai tipis bergoyang pelan, membiaskan sinar matahari ke lantai marmer yang berkilau. Para selir telah berkumpul, duduk anggun sesuai kedudukan masing-masing.Sejak awal, Selir Agung Ivony tak melepaskan pandangannya dari Isabella.Tatapan itu tajam, dingin, dan sarat kecemburuan.Meski tak terang-terangan, Isabella merasakannya jelas. Dari ekor matanya, ia menangkap kilat amarah yang berusaha disembunyikan Ivony di balik senyum bangsawan. Diam-diam, Isabella mengulas seringai tipis—halus, nyaris tak terlihat.“Bagaimana malammu, Selir Imelda?” tanya Isabella ringan, seolah tak terjadi apa-apa.Selir Imelda tersentak kecil, lalu tersenyum tersipu. Wajahnya merona, matanya berbinar.“Terima kasih atas bantuan Anda, Yang Mulia,” ucapnya dengan nada hormat.Ivony langsung menoleh. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, menguji. Seolah ia ingin menguliti setiap kata yang keluar dari mulut Imelda.D

  • Di Balik Tirai Permaisuri   29- Tak Lagi Patuh

    “Aku ingin kau yang mengambil langkah untuk masalah ini,” ucap Julius, sorot matanya menekan, dingin namun penuh perhitungan.Isabella menatapnya tanpa gentar. Tak ada lagi bayangan permaisuri yang dulu menunduk dan berharap belas kasih. Kini, yang berdiri di hadapan Julius adalah perempuan yang sadar akan nilai dirinya—dan kekuatan di balik namanya.Pandangan mereka beradu sengit, seolah udara di aula ikut menegang.“Aku tidak mau,” putus Isabella akhirnya, memutus kontak mata. Nada suaranya tenang, tapi tegas. “Lagipula, apa yang bisa kulakukan? Sehari-hari aku hanya berdiam diri di kediaman.”Julius mendengus kecil. “Kau hanya perlu mengatur bantuan di sana. Dengan dana skala besar, istana akan terlihat sebagai teladan. Bangsawan lain akan mengikuti.”Isabella tertawa kecil, tawa yang sama sekali tak mengandung humor. Kini ia mengerti. Bukan kepedulian yang mendorong Julius—melainkan citra.“Kau ingin menggunakan harta wilayah Eve East demi reputasi istana

  • Di Balik Tirai Permaisuri   28- Niat Tersembunyi

    Lusi masuk ke kamar Isabella sambil membawa piring berisi wafel buatannya. Aroma mentega dan madu langsung memenuhi ruangan.“Yang Mulia, maaf membuat Anda menunggu terlalu lama,” ucap Lusi sambil melangkah masuk.Isabella yang berdiri di depan meja rias menoleh sedikit, senyum tipis terukir di bibirnya. “Kurasa kamu justru terlalu cepat, Lusi.”Lusi meletakkan piring itu di meja kecil, lalu menghampiri Isabella yang sedang menyisir rambutnya yang masih basah. Ia meraih sisir dari tangan tuannya dan melanjutkan dengan gerakan lembut.“Yang Mulia mandi lagi?” tanya Lusi heran.Aroma bunga yang segar dari tubuh Isabella menyergap indra penciumannya. Rambut basah yang terurai jelas menandakan bahwa Isabella baru saja selesai mandi—padahal hari belum beranjak siang, dan ini sudah kali kedua.“Gaunku tadi tertumpah teh,” jawab Isabella ringan. “Aku menggantinya, tapi karena hawa terasa panas, aku terpaksa mandi lagi.”Lusi mengangguk, meski keningnya sedikit b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status