LOGINLucia masih memandangi pintu butik beberapa detik setelah wanita itu menghilang di balik kaca etalase. "Margarita Sanz," ulangnya pelan seolah nama itu bisa tiba-tiba memberi jawaban sendiri. Valeria mengangkat bahu ringan. "Mungkin klien lama? Atau sosialita yang sering muncul di majalah?" Lucia menggeleng pelan. "Mungkin saja." Valeria tidak menanggapi. Ia kembali merapikan gaun-gaun di rak dan berusaha menyingkirkan perasaan tidak nyaman yang entah sejak kapan muncul. *** Di sisi lain kota di lantai atas sebuah gedung kaca modern yang dipenuhi cahaya sore. Logo besar sebuah agensi model ternama terpampang di dinding, Sanz Management. Margarita melangkah masuk ke ruang kerjanya sendiri. Ruangan luas dengan jendela-jendela tinggi, meja marmer putih, dan foto-foto kampanye fashion internasional terpajang rapi sebagian besar menampilkan dirinya di masa lalu. Ia meletakkan tasnya di sofa, lalu berdiri di depan jendela, memandangi kota dari ketinggian. "Jadi itu Valeria," batin
Alejandro terdiam beberapa detik sebelum menjawab. Tatapannya tetap tenang, meski rahangnya sedikit mengeras."Aku tidak punya hubungan apa pun dengan Valeria."Margarita mengangkat alis seolah menimbang jawaban itu, lalu ia tersenyum kecil, senyum yang terlalu terlatih untuk sekadar sopan."Oh?" katanya ringan. "Kalau tidak salah dia calon istri pria yang bertabrakan denganmu, kan? Aku mengikuti beritanya dan kamu hampir di penjara gara-gara itu."Alejandro mengangguk singkat. "Iya.""Menarik," gumam Margarita, lalu berjalan lebih dekat ke meja. "Media memang selalu membesar-besarkan segalanya."Ia terdiam sejenak, lalu nada suaranya berubah lebih lembut. "Daniel, aku minta maaf."Alejandro menatapnya, kali ini lebih waspada. "Untuk apa?""Aku tidak datang selama kamu di rumah sakit. Aku tahu seharusnya aku ada di sana." Ia menghela napas pelan. "Tapi aku sedang di London. Kontrak iklan, pemotretan, dan jadwal yang gila. Aku baru tahu kondisimu benar-benar membaik setelah semuanya se
Butik kembali hidup seperti biasa. Musik lembut mengalun, mesin jahit berdengung halus di sudut ruangan, dan Valeria memaksa dirinya fokus memeriksa pesanan pelanggan. Ia menyetrika gaun satin sambil menghela napas pelan dan berusaha mengusir sisa pusing dan rasa malu. Lucia sibuk di meja kasir sesekali memotret detail gaun untuk katalog daring butik.Tiba-tiba Lucia terdiam. Jemarinya berhenti menggulir layar ponsel dan wajahnya berubah pucat."Val," suaranya bergetar. "Kamu harus lihat ini. Sekarang!"Valeria menoleh dan jantungnya berdebar tanpa alasan jelas. Lucia mendekat dan menyorongkan ponselnya. Di layar terpampang foto yang terlalu jelas untuk disangkal. Valeria dan Daniel DeLaLuca berciuman di depan sebuah bar dan lampu neon membingkai siluet mereka. Waktu unggah pagi ini. Akun gosip kota. Valeria tertegun dan darahnya terasa surut. "Itu ...." suaranya hilang. Lucia menekan kolom komentar dan deretan reaksi bermunculan.@wowcitytalk: WOW. Daniel DeLaLuca punya kekasih baru
Valeria terbangun dengan kepala terasa dipukul dari dalam. Pelipisnya berdenyut, mulutnya kering, dan cahaya yang menyelinap dari sela tirai terasa terlalu terang untuk mata yang masih berat."Ugh," gumamnya sambil memijat dahi.Ia berguling pelan, lalu berhenti mendadak, menyadari ini bukan kamarnya. Aroma yang asing dan seprai abu-abu yang tidak ia kenali.Jantung Valeria melonjak. Ia langsung duduk tegak, selimut terlepas sedikit, dan refleks pertama yang ia lakukan adalah menunduk melihat dirinya sendiri. Blusnya masih utuh dan roknya masih terpakai tidak ada yang berantakan. Ia menghembuskan napas lega sampai matanya bergerak ke samping. Daniel tidur di sebelahnya.Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya rileks, dan satu lengannya terlipat di bawah bantal. "Apa?!" Valeria menahan teriakan di tenggorokannya.Marah menggantikan panik dalam hitungan detik, ia menepuk bahu Daniel keras-keras. "Bangun!"Tidak ada reaksi sama sekali."Daniel! Bangun!" Ia memukul lengannya lagi dan kal
Sentuhan itu membuat Valeria tersentak. Ia menarik tangannya kasar. "Lepaskan! Aku butuh ini.""Kamu tidak butuh mabuk," ucap Alejandro rendah. "Kamu butuh bernapas."Valeria tertawa pendek yang getir. "Oh, jadi sekarang kamu tahu apa yang aku butuhkan?"Ia memesan lagi, lalu lagi. Gelas-gelas kosong mulai berjejer. Bahunya mengendur dan tatapannya tidak lagi fokus. Kata-katanya mulai melambat dan sesekali melantur."Aneh ya," gumamnya sambil memutar gelas. "Aku selalu bangga karena merasa bisa membaca orang ternyata aku sama butanya."Alejandro menggeser gelasnya menjauh. "Val, kamu sudah cukup minum."Valeria menyandarkan kepalanya ke meja bar. "Kamu selalu bilang itu," katanya sambil terkekeh kecil. "Dari dulu."Alejandro terdiam. Ia menatap wajah Valeria yang memerah dan mata yang berkaca-kaca. Ada luka lama di sana dan luka baru yang masih basah.Valeria mencoba berdiri, tapi tubuhnya oleng. Alejandro refleks menopangnya."Lihat?" gumam Valeria lirih. "Aku bahkan tidak bisa berdi
Valeria menggeleng keras. "Tidak, tidak mungkin." Tiba-tiba sorot lampu menyala terang dari berbagai arah. "POLISI! JANGAN BERGERAK!" Suara sirene memecah malam. Beberapa mobil polisi mengepung area gudang. Petugas bersenjata berlari cepat dan mengepung truk dan gudang. Liam tersentak dan wajahnya pucat. Ia sempat mencoba mundur, tapi dua polisi sudah menodongkan senjata. "Angkat tangan!" Kotak-kotak dibuka. Isinya bukan barang biasa. Paket-paket kecil dibungkus rapi dengan segel khusus. Teman Liam mencoba kabur, tapi dijatuhkan dalam hitungan detik.Liam berdiri kaku, tangannya terangkat, matanya liar mencari jalan keluar, lalu tatapannya bertemu dengan Valeria di balik celah kontainer. Tatapan itu menghantam Valeria lebih keras dari apa pun. Lutut Valeria melemas dan Lucia cepat memeganginya. Alejandro menatap ke depan, wajahnya tegang namun tenang. "Aku bilang kamu akan melihat sendiri." Tangis Valeria pecah tanpa suara saat borgol mengatup di pergelangan tangan Liam dan p







