Home / Romansa / Di Balik Wajah Sang Miliuner / Bab 63. Batas Yang Runtuh

Share

Bab 63. Batas Yang Runtuh

Author: Miarosa
last update publish date: 2025-12-24 21:39:05

Sentuhan itu membuat Valeria tersentak. Ia menarik tangannya kasar. "Lepaskan! Aku butuh ini."

"Kamu tidak butuh mabuk," ucap Alejandro rendah. "Kamu butuh bernapas."

Valeria tertawa pendek yang getir. "Oh, jadi sekarang kamu tahu apa yang aku butuhkan?"

Ia memesan lagi, lalu lagi. Gelas-gelas kosong mulai berjejer. Bahunya mengendur dan tatapannya tidak lagi fokus. Kata-katanya mulai melambat dan sesekali melantur.

"Aneh ya," gumamnya sambil memutar gelas. "Aku selalu bangga karena merasa bisa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 91. Harga Sebuah Kebenaran

    Valeria menutup layar tablet dengan gerakan pelan, tetapi jari-jarinya terlihat menegang.“Aku membangun semuanya sendiri,” katanya lirih lebih pada dirinya sendiri daripada pada Lucia.Lucia menatapnya dengan prihatin. “Aku tahu, tapi dunia luar tidak peduli pada kebenaran. Mereka hanya peduli pada cerita yang paling menarik.”Valeria menarik napas dalam-dalam dan berdiri tegak.“Aku akan bekerja seperti biasa. Fokus pada koleksi berikutnya. Biarkan karya yang berbicara.”Lucia menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Klasik. Diam tapi mematikan.”Valeria meraih map desain di mejanya. “Dan satu lagi kita harus lebih hati-hati. Ini bukan cuma soal gosip lagi.”Lucia langsung mengerti maksudnya. “Kamu pikir ini masih ulah seseorang?”Valeria tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar tablet yang sekarang gelap.“Aku tidak tahu, tapi terlalu banyak hal yang terjadi secara bersamaan."Lucia menyilangkan tangan. “Seseorang sedang mengatur narasi.”Valeria mengangguk. “Dan ak

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 90. Orang Hanya Butuh Cerita

    Namun Valeria tidak panik. Ia menghentikan langkahnya dengan elegan, lalu memutar tubuhnya sedikit menyamping, mengubah pose seolah itu bagian dari koreografi.Dengan satu gerakan halus, ia melepaskan selendang panjang tipis yang sejak awal melingkari lengannya sebagai aksesori.Ia memutarnya ke belakang tubuhnya dan membiarkannya jatuh menutupi bagian resleting yang mengendur.Penonton justru mengira itu bagian dari konsep transformasi.Tepuk tangan kembali terdengar. Valeria tersenyum.Alih-alih kembali ke belakang panggung, ia justru mengambil mikrofon dari pembawa acara.“Malam ini bukan hanya tentang kesempurnaan, tapi tentang bagaimana kita berdiri ketika sesuatu hampir runtuh," katanya lantang dan tenang.Beberapa tamu saling pandang.“Seni tidak selalu lahir dari keadaan yang aman, tapi dari keberanian untuk tetap berjalan.”Kalimat itu terdengar seperti pernyataan yang lebih besar dari sekadar mode. Tepuk tangan kali ini lebih keras. Di sisi panggung, wajah Margarita membeku.

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 89. Reputasi Yang Retak

    Tatapan Emiliano mengeras.“Ibumu tidak sekuat yang kamu kira. Camila masih muda. Reputasi keluarga ini adalah segalanya. Sekali nama kita tercoreng, semuanya runtuh. Perusahaan, aset, dan masa depanmu.”Alejandro yang sekarang terlihat jauh lebih sadar dibanding hari-hari sebelumnya menatap Emiliano tanpa gentar.“Kalau itu harga untuk kebenaran, aku siap membayarnya.”Emiliano tersenyum tipis, tetapi kali ini tidak ada kehangatan sedikit pun.“Kamu tidak sedang sendirian dalam keputusan itu. Setiap tindakanmu akan menyeret orang lain.”Ia berdiri tegak kembali.“Pikirkan baik-baik sebelum kamu menghancurkan keluarga sendiri.”Pintu terbuka dan tertutup dengan bunyi halus. Alejandro mengepalkan tangan di atas selimut.Seminggu kemudian, Alejandro akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya jauh membaik, meskipun masih harus menjalani kontrol rutin.Mansion keluarga DeLaLuca terlihat sama megahnya seperti biasa, tetapi suasananya terasa berbeda. Camila membantunya masuk ke ruang keluarg

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 88. Reputasi di Atas Segalanya

    Malam turun perlahan ketika Valeria akhirnya meninggalkan Sanz Management. Ia sudah memastikan setiap gaun diperiksa ulang, bahkan membawa dua potong cadangan kembali ke butiknya untuk berjaga-jaga. Di dalam mobil sebelum menyalakan mesin, ia mengirimkan pesan singkat. Valeria: Aku akan datang malam ini. Balasan datang seketika. Camila: Aku tunggu di lobi. Orang tuaku sudah pulang. Jantung Valeria berdebar lebih cepat.Rumah sakit terlihat lebih sunyi dibanding siang hari. Lampu-lampu putih memantulkan kesan dingin dan steril.Begitu pintu otomatis terbuka, Camila sudah berdiri di dekat kursi tunggu. Wajahnya tampak lelah, tetapi ada secercah harapan di matanya ketika melihat Valeria. “Kamu benar-benar datang,” katanya pelan. Valeria mengangguk. “Bagaimana keadaannya?” “Masih belum sadar penuh. Dokter bilang kondisinya stabil." Mereka berjalan berdampingan menuju lift. “Ayahmu tidak ada di sini, kan?” tanya Valeria hati-hati hanya untuk memastikan. “Sudah pulang. Kamu tida

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 87. Semuanya Sudah Diatur

    “Apa?” bisiknya. “Aku tidak bodoh, Valeria. Aku tumbuh bersamanya. Aku tahu dia mencintaimu." Valeria bangkit berdiri dari tepi ranjang dan berjalan gelisah ke arah jendela. "Ini tidak masuk akal." "Kakakku telah berubah sejak kecelakaan itu. Dia tidak seperti Daniel yang dulu. Aku tahu mungkin kamu masih belum memaafkan, karena dia telah membuat calon suamimu meninggal." Di luar, angin malam berhembus pelan. “Aku ingin kamu datang karena mungkin kamu satu-satunya orang yang bisa membuatnya sadar." Valeria memejamkan mata. Ia datang ke rumah sakit tadi hanya untuk memastikan keadaan Daniel bukan untuk terlibat lebih jauh. “Camila," suaranya lebih pelan sekarang. “Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semua ini.” “Aku juga tidak,” jawab Camila jujur. “Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa kamu bukan musuh.” Valeria terdiam. “Datanglah besok!" pinta Camila sekali lagi. “Tolong!" Valeria menutup matanya lebih lama dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa tidak ber

  • Di Balik Wajah Sang Miliuner   Bab 86. Permintaan Maaf Camila

    Langit sudah berubah jingga ketika Valeria akhirnya tiba di rumah orang tuanya.Ia jarang pulang sebelum larut malam akhir-akhir ini. Butik, pertemuan klien, dan urusan yang tidak pernah benar-benar selesai semuanya menjadi alasan untuk menunda kepulangannya. Namun malam itu, langkahnya terasa berat bukan karena lelah bekerja, melainkan karena pikirannya yang terus berputar.Begitu ia membuka pintu, aroma masakan hangat langsung menyambutnya. Lampu ruang makan menyala terang. Meja makan sudah tertata rapi dengan taplak putih sederhana. Sup hangat mengepul di tengah meja dan ayam panggang favoritnya tersaji dengan kentang dan sayuran. Ibunya keluar dari dapur sambil membawa sepiring roti. “Kamu sudah pulang? Mama pikir kamu akan lembur lagi." Valeria berkedip dan sedikit kaget. “Iya." Ayahnya muncul dari ruang keluarga dan melepas kacamata bacanya. “Akhirnya anak kami ingat jalan pulang sebelum tengah malam.” Nada bercandanya ringan, tetapi sorot matanya penuh perhatian. Valeri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status