LOGINMalam itu suasana kamar masih terasa tegang meski permasalahan mereka telah selesai.Binar bertahan berdiri di depan cermin kamar mandi sejak tadi, berusaha menghindari Bhaga. Tapi pikirannya masih saja tak bisa tenang, hingga dia membersihkan wajahnya dengan kasar. Matanya masih redup karena menahan kesal dan rasa bersalah.Bhaga masuk dengan langkah pelan, tangannya langsung memeluk pinggang Binar dari belakang. “Kamu lama sekali, aku menunggu sampai tak sabar,” bisiknya di dekat telinga Binar dan menggigit kecil cupingnya.“Jangan disentuh dulu,” kata Binar dingin, mencoba melepaskan tangan Bhaga. “Kita baru berantem. Aku masih kesel … dan aku nggak mau lakuin ini sekarang.”Bhaga tak melepaskan pelukan. Dia malah semakin merapatkan tubuh, dada bidangnya menempel di punggung Binar. Dan bibirnya menyentuh tengkuk wanitanya dengan lembut, napas hangat langsung menyapu kulit Binar yang masih lembab.“Kamu boleh kesal … tapi aku tahu kamu juga butuh ini,” bisik Bhaga rendah dan menggod
Binar tak lagi menunggu kalimat tambahan dari Bhaga atau jawaban dari Djati. Dia langsung berdiri dan berbalik, berjalan dengan dada sesak. Tujuannya hanya satu, pulang.Rumah sepi saat Binar sampai, entah kemana Ardan, dia sedang tak bisa berpikir jernih. Yang pasti anak itu akan baik-baik saja, ada Sari yang selalu menempel padanya. Binar memilih langsung masuk ke kamar, menutup pintu. Menyandarkan punggungnya sesaat di pintu dan menghela napas.Detik berikutnya, kakinya melangkah pelan dan dia duduk di tepi kasur. Tangannya saling meremat di atas pangkuan, dan kepalanya menunduk, menatap sayu ke arah karpet.Dia tidak menangis.Hanya duduk. Memikirkan kesalahannya, dengan kenyataan bahwa dia melakukan sesuatu yang menurutnya benar di satu titik dan ternyata salah besar. Yang lebih menyakitkan, Bhaga benar. Bukan soal kemarahannya. Tapi soal faktanya. Belum bisa. Dia belum sampai mampu untuk berdiri di titik sana. Tapi malah besar kepala dan terlalu cepat merasa sudah sampai.“Bodoh
Tak seperti langkah yakin dan dagu yang terangkat di hari-hari sebelumnya ketika memasuki ruang kerja Djati, kali ini Binar melangkah lunglai dan kepala yang tertunduk.Dia berulang kali menggigit dan membasahi bibirnya untuk menutupi kegugupan. Dadanya berdebar kencang, dia tak pernah setakut ini, dan kali ini dia sadar telah membuat kesalahan besar.“Duduk.” Suara Djati tidak keras, tapi justru terdengar semakin mengerikan di pendengaran Binar.Dia tak menjawab, hanya mengangguk kecil dan menarik kursi dengan perlahan dan duduk dengan kaku. Kepalanya terus menunduk, hingga tak menyadari kalau sejak tadi Bhaga terus memperhatikannya dalam diam.Bhaga duduk di kursi sampingnya. Masih diam menunggu. Begitu juga Djati, hingga ketukan di pintu kembali terdengar dan dua orang dari divisi humas masuk. Keduanya menyapa semua yang di sana dan menjelaskan keadaan terakhir.“Jadi apa yang harus kami lakukan untuk langkah selanjutnya, Pak?”Pertanyaan itu menutup penjelasan dari tim humas, dan
Di ruang rapat, Bhaga sedang menyandarkan punggung di kursi sambil memijit pelipisnya. Dia baru saja selesai rapat yang membuat pening karena laporan dari beberapa divisi meleset jauh dari targetnya.Ponselnya bergetar. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di meja, dan melihat nama Rudi di layar. Bhaga menatap sebentar dan mengangkat telepon."Pak, Bu Binar baru saja bicara di forum soal akuisisi PT. Nusantara." Suara Rudi cepat tapi tidak terburu-buru, seperti orang yang sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk dengan efisien.Hening dua detik. Bhaga menatap dinding di depannya, menghembuskan napas berat, dan memijit pangkal hidungnya. Dia memejamkan mata dramatis."Bilang apa."Rudi menjawab dengan mengutip apa yang Binar katakan. Tidak kurang, tidak lebih.Bhaga tidak langsung menjawab. "Ada yang merekamnya?""Beberapa tamu, Pak. Kemungkinan besar sudah beredar di grup-grup WhatsApp. Kami masih lacak sebarannya.""Hubungi tim humas." Suara Bhaga masih datar, tapi ada nada di sana ya
Liburan telah usai, dan kini Binar sudah mulai diberikan kepercayaan untuk mulai bekerja di dalam naungan Prasetya Grup. Mulai dari sebagai perwakilan di acara-acara kecil. Biasanya begitu lancar, tapi kali ini dia tergelincir.Semuanya bermula dari satu pertanyaan yang tidak Binar antisipasi.Forum diskusi itu bukan acara besar. Undangannya pun terbatas, terdiri dari orang-orang lingkaran bisnis dan sosial yang sudah saling kenal. Beberapa wajah terlihat familiar, tapi beberapa hanya sepintas lalu bertemu di acara-acara amal.Suasana ruangan di lantai tiga sebuah hotel bintang lima di kawasan Kuningan terasa hangat, hampir seperti pertemuan keluarga besar yang jarang berkumpul.Binar datang sebagai pasangan Bhaga, tapi juga sebagai narasumber untuk segmen pemberdayaan perempuan. Sesuatu yang seharusnya tidak ada masalah, terlebih tim dari kantor Bhaga mengirimkan materi, tim dari Djati memberikan catatan, dan Binar sendiri berlatih di depan cermin.Setelah kelas privat yang diberika
Sarapan kali ini disiapkan Binar dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Seperti beban yang selama ini bertahan di pundaknya telah luruh.Tangannya dengan cekatan menyiapkan segala sesuatunya dan kini dia tersenyum saat masakannya telah matang sempurna."Nona,” Panggil salah seorang pelayan. “Ada truk di depan. Katanya kiriman dari Tuan Besar Djati."“Apa?! Truk?”“Iya, Nona.”Meski bingung, Binar tetap mematikan kompor dan melangkah keluar.Di depan rumah, sebuah truk sedang membongkar muatan dengan sangat hati-hati. Tenda portable. Kursi-kursi lipat yang empuk. Beberapa koper besar dengan logo brand perawatan yang Binar kenali, dan enam orang yang memperkenalkan diri sebagai tim spa profesional dari hotel bintang lima yang Binar baru dengar namanya. Tapi tampak meyakinkan.Dia baru hendak menolak mereka, tapi salah seorang memberikan sebuah amplop kecil.Binar membukanya dan tulisan tangan itu begitu familiar.Maaf sudah membuat belakangan ini menjadi lebih berat dari yang seharusny
Binar tak bisa berhenti tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga saat mengingat kembali percintaannya dengan Bhaga semalam. Pipinya memerah meski sedang sendirian di kamar.Setiap kali bayangan sentuhan Bhaga, bisikan sayang, dan keintiman yang mereka bagi muncul di benaknya, sebuah kebahagiaan yan
Pesta ulang tahun Ardan yang ke-6 berlangsung meriah.Ruang tamu rumah utama disulap menjadi lautan biru. Balon-balon berbentuk dinosaurus bergelantungan di setiap sudut, ada yang berbentuk T-rex, ada yang brontosaurus panjang melingkar di tiang teras. Spanduk kecil bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY ARDA
Binar menghela napas lega dengan senyum puas. Akhirnya acara selesai dengan baik, walaupun tak begitu lama, tapi Ardan terlihat begitu bahagia. Begitu juga dengan anak-anak yang lain. Dia bersyukur bisa memberikan kenangan baru untuk Ardan.Dia berbalik, setelah mengantar tamu terakhir untuk pulang
“Bhaga, tolong. Stop menggodaku.”Bhaga terus mengecupi setiap inci tubuh bagian atas Binar, menggodanya dengan sentuhan sensual di titik-titik sensitif wanita itu.“Sudah tak sabar, Sayang?”Tangan Bhaga mengambil tangan Binar, memindahkannya dari dada ke bagian bawah tubuhnya. Menuntun untuk meny







