ログイン"Mami?" Nama yang muncul di layar ponsel membuat dada Bhaga langsung berdebar. Belakangan ini, setiap ada telepon dari Nurma atau Djati, selalu membuat jantungnya berdebar tidak nyaman. Dia takut mendengar kabar buruk dari dokter dan mendengar kondisi yang tidak ingin didengar.Siang itu seharusnya menjadi hari yang tenang. Bhaga sengaja istirahat. Tidak ada rapat atau kunjungan proyek, juga agenda perusahaan yang mendesak. Namun pikirannya tetap berada di rumah sakit. Sejak Nurma dirawat, ketenangan seperti meninggalkan dirinya. Ditambah lagi, saat ini Binar sedang tak ada di sisinya.Bhaga berdiri di dekat jendela ruang kerja sambil memandangi halaman rumah. Ardan sedang bermain bola bersama satpam di taman depan. Tawa bocah itu terdengar sampai ke dalam. Biasanya pemandangan itu cukup membuatnya tenang namun ternyata tidak untuk saat ini. Dia mengakui satu hal yang selama ini berusaha diabaikan. Binar benar. Mungkin untuk sementara dia memang harus lebih banyak berada di dekat
Beberapa hari sebelumnya, setelah Bhaga pulang dari rumah sakit. "Aduh ... sepertinya Mami tidak kuat lagi." Nurma menghela napas panjang lalu memejamkan mata. Dia berusaha bergerak dengan pelan tapi kemudian berdecak saat mendengar tawa yang lolos dari mulut suaminya.Djati yang duduk di kursi sebelah hanya melirik sekilas. Tangannya sibuk mengupas jeruk, tapi tak berhenti terkekeh.Nurma membuka mata, lalu melirik tajam. "Kamu tertawa apa? Aku lagi sakit, loh, Pi" "Aku kagum." "Kagum?" "Aktingmu luar biasa, Mi.” Djati memakan jeruknya dengan santai. “Tenanglah, Bhaga sudah pulang." Nurma langsung mengambil bantal kecil di samping tubuhnya dan melemparkan ke arah suaminya. Djati tertawa lebih keras. Wajah Nurma sedikit masam, tapi kemudian dia ikut tertawa. "Menjiwai peran, Pi." "Kamu ini keterlaluan, Jangan seperti ini lagi, ya. Aku benar-benar takut, hampir jantungku kumat. " "Keterlaluan bagaimana? Memang tekanan darahku rendah." Nurma mendecak kesal. "Rendah saja buk
"Ibu jangan kenapa-kenapa, ya..." Suara itu terucap lirih bersama isak yang berusaha ditahan. Binar memalingkan wajah ke jendela bus. Dia tak tahu apa yang terjadi pada ibunya hingga tiba-tiba datang. Rasanya dia mau marah dan berusaha tak peduli, tapi tidak bisa. Kekuatirannya lebih kuat dibanding rasa penasarannya.Bus eksekutif mulai meninggalkan terminal. Lampu-lampu jalan sama sekali tak membuat Binar terhibur. Lampu-lampu kota bergerak menjauh satu per satu. Hujan tipis membasahi kaca. Sejak menerima telepon dari kampung, pikirannya hanya dipenuhi oleh ibunya.Lamunannya buyar, dia tersentak kecil ketika ponselnya bergetar. Nama Bhaga muncul di layar. "Udah jalan bisnya?”“Udah. Belum lama.”“Kalau ada apa-apa telepon ya!" "Iya." "Rasanya aku enggak tega, Sayang. Kamu turun saja dari bis ya. Aku susul dan antar kamu." Binar terkekeh pelan."Ini bisnya sudah mau masuk tol." "Aku kepikiran terus. Please, turun saja di pintu tol. Aku datang. Tunggu sebentar ya." "Nggak. Aku
Dunia Binar siang ini rasanya jungkir balik. Selama ini dia sudah hidup dengan tenang dan berdamai dengan keadaan. Bagaimana dia tak merasakan kasih sayang kedua orang tua sejak kecil dan ketika bertemu salah satunya, ayahnya justru memperlakukan dengan jahat hingga Bhaga turun tangan dan memenjarakan ayahnya.Kini, dia mengernyit dalam. Saat telepon genggamnya berdering dan nama tetangganya di kampung yang tertera di layar.Dia berdeham. “Ya, Bude. Apa kabar?”“Bude baik-baik aja. Alhamdulillah. Kamu piye kabare?”“Aku baik juga, Bude. Ada apa, Bude? Apa rumah nenek ada yang mau beli?”“Ndak, Bin. Bude justru bingung ini mau gimana ngomongnya.”“Ngomong aja, Bude. Ada yang bisa aku bantu?”“Ndak, Bin. Bude ndak mau minta apa-apa. Ini, loh.” Suaranya terdengar ragu dan kikuk. “Ibumu.”DegBinar mengerjap sambil menelan ludah. Tiba-tiba tenggorokannya tercekat. “I-ibu? I-ibu ke-kenapa, Bude?”“Ibumu … pulang.”“Apa?! Kok bisa?!”“Bude juga ndak tau, Bin. Tau-tau aja ibumu ngetok rumah
"Ardan, kalau menangis lagi, Papa tinggal di sini sendiri ya!""Tinggal saja!" balas Ardan tanpa takut. "Aku bisa pulang naik taksi!"Bhaga memejamkan mata dramatis. Tangannya terangkat dan memijat pelipis sambil berulang kali mengatur napasnya agar bisa kembali tenang.Satu pemain biola langsung berhenti memainkan nada romantis karena terkejut mendengar teriakan bocah itu dan dua pelayan di dekat mereka saling melirik.Sementara itu, Bhaga merasa harga dirinya baru saja dijatuhkan dari lantai dua puluh tujuh di salah satu gedung tertinggi kota. Padahal tiga jam sebelumnya semuanya terlihat sempurna.Rendi berdiri di tengah restoran La the Le Château yang malam itu disewa penuh oleh Bhaga. Lampu kristal berkilau lembut. Rangkaian bunga putih menghiasi setiap sudut. Lilin-lilin kecil menyala di sepanjang lorong menuju meja utama. Empat pemain biola terlatih dengan seragam siap memainkan lagu. Pemandangan kota terlihat indah dari balik dinding kaca raksasa.Rendi memeriksa semuanya seka
"Aku jamin kau bakal ditertawakan semua orang kalau melamar Binar di restoran mewah." Bhaga yang sedang menyeruput kopi langsung menurunkan cangkirnya. Dia menatap Rendi—teman yang sudah lama tak dia temui, dan hari ini pria itu terpaksa datang untuk membantunya mencari solusi untuk melamar—dari balik meja kerja dengan sorot mata tidak percaya. "Apa maksudmu ditertawakan? Itu cara yang keren." "Maksudku sederhana." Rendi bersandar santai di kursi. "Kau terlalu lama jadi CEO sampai lupa cara menyenangkan perempuan jaman sekarang." Bhaga mengembuskan napas panjang. Pagi itu ruang kerjanya berubah menjadi markas darurat lamaran. Berkas laporan perusahaan tersingkir ke sudut meja. Laptop terbuka menampilkan berbagai model cincin berlian. Beberapa gambar restoran mewah juga bergantian memenuhi layar. "Coba lihat yang ini." Bhaga menunjuk salah satu foto. "Menurutmu bagaimana?" "Cantik." "Nah, keren bukan pilihanku?" "Terlalu mahal." Rendi menggelengkan kepala. Bhaga mendecak kesal







