Compartir

82. Kesempatan

Autor: Wideliaama
last update Última actualización: 2026-01-13 23:17:59

Perempuan itu melangkah mendekat, melepas kacamatanya perlahan. Wajahnya jelas, anggun dengan garis tegas yang matang.

Regan menghela napas panjang, lalu menoleh pada Clara yang terlihat kebingungan.

“Bee, ini ibuku," jelas Regan akhirnya.

Clara sempat membeku. Ia sungguh tidak mengenali sosok anggun yang masih terlihat sangat muda itu, lalu buru-buru meminta maaf.

"Maaf, Tante, saya sudah bersikap tidak sopan."

Maria tersenyum lebar. Matanya biru seperti milik Regan.

"Tidak apa-apa, cantik," ucapnya ramah, lalu menggenggam kedua tangan Clara. "Kamu pasti terkejut karena suamimu 'diculik' oleh perempuan asing."

Maria hanya ingin bergurau dengan menantunya, tapi putranya sendiri justru bersikap terlalu waspada seolah ia akan menyakiti Clara.

"Aku tidak bermaksud membuatmu cemas," ucapnya lagi dengan senyum yang tetap menghias di wajahnya.

Clara menggeleng. "Saya senang karena akhirnya bisa bertemu Tante."

"Jangan memanggilku seperti itu." Maria membawa Clara duduk di sofa tanpa mel
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   88. Charity Gala

    Malam selanjutnya aula utama rumah Mananta tampil tenang dan berwibawa. Dominasi hitam, emas, dan putih menciptakan kesan dingin sekaligus mewah. Lampu-lampu kristal digelapkan setengahnya, memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer yang berkilau. Meja-meja bundar tertata rapi dengan kartu nama bertinta emas dan lilin ramping yang menyala stabil. Charity Gala bukan sekadar acara amal. Ini adalah panggung.Clara melangkah di sisi Regan saat mereka memasuki aula. Gaun hitam panjang yang dikenakannya sederhana, nyaris tanpa ornamen, namun justru menegaskan keanggunannya. Tangannya bertaut ringan di lengan Regan. Tak lama kemudian, Tuan Jusuf Mananta bergabung. Kehadirannya mengubah atmosfer ruangan tanpa perlu satu kata pun. Di sampingnya berdiri Hilson, tenang dan awas, sementara Sean mengambil posisi sedikit ke belakang, mengamati dengan sikap dingin namun tetap waspada.Musik mereda. Seorang auctioneer profesional naik ke podium. Setelan jasnya rapi, palu kayu diletakkan di sis

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   87. Kebahagiaan

    Malam benar-benar turun, membawa udara yang lebih sejuk dan suasana yang kian intim. Lampu-lampu di aula diredupkan, menyisakan cahaya keemasan dari lampu gantung dan lilin-lilin kecil di setiap meja. Musik berganti menjadi alunan yang lebih lembut, mengalir pelan, seolah mengajak setiap orang untuk menikmati momen tanpa tergesa.Regan menggenggam tangan Clara ketika mereka melangkah ke tengah aula untuk dansa pertama. Mereka sudah berganti kostum. Regan kini mengenakan setelan hitam sederhana dengan dasi kupu-kupu satin, sementara Clara tampil anggun dalam gaun malam berwarna ivory yang jatuh lembut mengikuti setiap langkahnya. Rambut Clara dibiarkan terurai sebagian, dihiasi jepit kecil berkilau yang memantulkan cahaya lilin.Tepuk tangan tamu perlahan mereda ketika Regan menarik Clara mendekat. Musik mengalun—sebuah waltz lembut—dan mereka mulai bergerak, pelan, seirama. Tidak ada langkah yang rumit. Hanya putaran sederhana, ayunan kecil, dan jarak yang semakin menyempit di antara

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   86. Aula Pernikahan

    Aula rumah Mananta telah sepenuhnya berubah menjadi tempat sakral ketika Regan melangkah ke altar. Langkahnya mantap, meski di balik wajah tenangnya, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Setiap pasang mata tertuju padanya. Para tamu undangan dari berbagai kalangan, rekan bisnis keluarga Mananta, wartawan, dan kerabat yang datang dengan busana terbaik mereka.Di barisan depan, Tuan Jusuf duduk tegak dengan ekspresi tenang namun penuh wibawa. Di sampingnya, Maria Oliver duduk anggun mengenakan gaun sederhana namun berkelas. Tatapan Tuan Jusuf lurus ke depan, mengikuti setiap gerak cucu pertamanya dengan sorot mata yang memancarkan perasaan lega. Pendeta berdiri di balik mimbar kecil berhias bunga putih, Alkitab terbuka di tangannya. Musik lembut dari piano mulai mengalun, mengisi aula dengan nada yang menenangkan.Pintu besar di ujung aula terbuka perlahan. Kini semua mata tertuju ke arahnya. Clara muncul dalam balutan gaun putih yang jatuh anggun mengikuti setiap langk

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   85. Menuju Altar

    Clara tidak langsung menjawab. Ia tetap diam di dalam pelukan Regan, wajahnya tersembunyi di dada pria itu. Napasnya hangat, teratur, seolah ia sedang menata ulang pikirannya sendiri. Detik-detik berlalu tanpa suara, hanya ada degup jantung Regan yang terasa jelas di telinga Clara.“Aku takut,” akhirnya Clara berbicara. Suaranya teredam, hampir tenggelam di antara kain kemeja Regan. “Bukan padamu… tapi pada semua yang pernah kamu lalui. Aku takut suatu hari masa lalu itu akan menyeretmu kembali. Dan aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk melihatmu terluka lagi.”Regan menutup matanya. Kata-kata itu tidak menyakitinya, justru sebaliknya. Ia bersyukur Clara jujur.“Aku mengerti,” jawabnya pelan. “Ketakutanmu masuk akal. Bahkan aku sendiri kadang masih takut pada diriku yang dulu.”Ia mengendurkan pelukannya sedikit, cukup untuk bisa menatap wajah Clara. Jemarinya terangkat, menyibakkan rambut Clara dari pipinya dengan gerakan hati-hati.“Tapi dengarkan aku, Bee. Aku tidak akan kemba

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   84. Masa Lalu Tetap Bagian Dari Diriku

    Malam sudah larut, mereka berpindah ke atas ranjang, berbaring dengan posisi saling berhadapan, dan Regan masih melanjutkan ceritanya. "Rasanya aku nyaris gila, aku mual dan muntah berkali-kali, tapi ibu tetap tidak membiarkanku berhenti atau sekedar memberi jeda untuk memenangkan diri. Dan setelah semuanya selesai, ibu hanya menatapku dan berkata, ‘Sekarang kamu benar-benar anakku.’” Ia tertawa kecil, hampa.“Hari itu, sesuatu di dalam diriku mati. Tapi di mata keluarga Oliver, aku justru baru saja lahir.”Tangan Clara yang sejak tadi digenggam Regan kini gemetar hebat. Ia juga ikut mual mendengar cerita Regan. “Regan…” suaranya bergetar. “Kamu masih sangat muda saat itu.”“Aku tahu,” jawab Regan pelan. “Dan itulah bagian terburuknya. Mereka tidak memberiku waktu untuk menjadi manusia biasa.”Ia menghela napas panjang, seolah paru-parunya dipenuhi kenangan yang terlalu berat.“Hari-hari setelahnya aku tidak bisa tidur ataupun makan dengan baik. Bau darah dan daging yang terkoyak te

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   83. Kisah Kelam

    “Waktu pertama kali aku melihat rumah nenekku, aku benar-benar mengira itu kastil. Besar, dingin, dan terlalu megah untuk disebut rumah. Saat itu aku cuma berpikir… kenapa ibu rela melepaskan semua kemewahan itu dan memilih hidup 'biasa' di Indonesia.”Clara masih mendengarkan, matanya tidak lepas dari wajah Regan.“Aku bahkan sempat membandingkannya dengan keluarga Mananta,” lanjut Regan. “Kupikir menjadi menantu keluarga ini juga pilihan yang bagus. Mananta Grup punya pengaruh besar tapi ibu tidak perlu sampai membuang keluarga lamanya demi menjadi bagian dari keluarga ini. Saat itu… aku benar-benar belum mengerti apa pun.”Ia menghela napas panjang, seolah udara di dadanya terlalu berat.“Jawabannya baru aku dapat setelah aku tinggal di sana,” katanya. “Kemewahan di keluarga Oliver tidak pernah gratis. Semuanya dibayar dengan sesuatu yang jauh lebih mahal. Kebebasan, rasa aman, bahkan nyawa.”Regan menoleh pada Clara. Tatapannya serius.“Kami tinggal dengan keluarga besar,” kata Re

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status