LOGINClara Favietra hanya ingin memergoki suaminya yang berselingkuh. Namun ia justru berakhir di ranjang yang salah. Seorang pria pewaris dunia gelap yang menyembunyikan identitas di balik profesinya sebagai dokter. Saat Clara berusaha kabur dari dosa semalam, sebuah tragedi justru mengikatnya pada takdir pernikahan yang penuh sandiwara. "Kenapa? Apa aku membuatmu sedalam itu?" Clara menggumam pelan, namun kalimatnya terdengar jelas. "Karena itu kamu... Karena kalau kamu orangnya... Aku bisa memberikan apapun." Clara tidak menyadari, tapi rahang lelaki itu mengatup keras. Kemudian ia menurunkan suaranya, tajam dan menohok. "Kalau begitu, tunjukkan padaku apa yang akan kamu berikan pada suamimu." Yang Clara tidak tahu, pria itu ternyata sepupu suaminya sendiri!
View More"Dasar brengsek! kalau kamu memang tidak mencintaiku, kenapa kamu setuju menikah denganku?!" Clara Favietra menenggak segelas minuman panas sampai tandas.
Sudah hampir dua jam wanita dengan dress mini hitam itu duduk di meja bar. Menghabiskan dua botol minuman panas sambil menangis dan meracau sendirian. Barista yang melayaninya tidak sedikitpun bertanya. Clara bukan satu-satunya pelanggan yang mengalami hal serupa. Entah putus cinta atau kesulitan menghadapi masalah hidup, orang-orang selalu memilih club sebagai tempat meringankan beban. Saat Clara hampir ambruk, Barista itu berbicara. "Nona, mau saya panggilkan taksi online?" Clara melambaikan tangan tanpa membuka mata. Kepalanya terasa berat tapi ia masih memiliki sedikit sisa kesadaran. "Tidak usah." "Baiklah." Memegangi satu sisi kepala yang semakin berat, Clara meraih ponsel yang tergeletak di samping minuman ketika benda persegi itu bergetar singkat. Seseorang mengirimkan pesan. Sial. Ia bahkan kesulitan melihat layar. Clara bersusah payah memicingkan mata, kemudian... Deg! Seketika saja kedua bola mata Clara membulat. Ia menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Pesan berisi potret suaminya yang sedang merangkul pinggang seorang perempuan dengan begitu mesra. Clara menggenggam ponselnya erat. Selama satu tahun pernikahan mereka, suaminya itu bahkan belum pernah sekali pun memeluknya! "Keterlaluan kamu Sean!" Geramnya emosi. Diantar taksi online, Clara sampai di hotel Louis dan langsung mencari kamar 101 sesuai dengan informasi yang diberikan si pengirim pesan. Dengan gemetar dan napas tersengal, Clara mengetuk pintu coklat besar di hadapannya. Meski Clara selalu menunjukkan sisinya yang tangguh, namun sejujurnya ia begitu lemah dan rapuh. Clara bahkan merasa hampir tidak bisa berdiri lagi saat ini. Ia terlalu takut dengan apa yang akan matanya lihat nanti. "Buka pintunya, brengsek!" Namun, Clara harus melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Jantung Clara semakin berdebar kencang ketika seseorang membuka pintu dari dalam. Tidak, dia tidak boleh menangis lagi! Clara Favietra tidak ingin terlihat lemah meski keadaan menindasnya habis-habisan. Clara tidak sadar jika saat ini ia masih terlalu mabuk untuk mengenali wajah siapapun. Yang ia tahu, seseorang yang kini berdiri di hadapannya adalah seorang lelaki. Gawatnya, Clara meyakini jika lelaki itu adalah Sean, suami sahnya. "Kamu... Sedang apa di sini?" Rahang Clara mengeras. Bukan permintaan maaf, melainkan kalimat itu yang keluar pertama kali dari mulut Sean? Apakah pernikahan mereka hanya permainan baginya? Air mata Clara berderai lagi. Sean memang tidak pernah memperlihatkan raut wajah yang ramah, tapi sekali pun Clara tidak pernah berpikir jika Sean Fernandes akan berselingkuh darinya. Clara marah, ia mendorong lelaki itu masuk ke dalam. Matanya mencari-cari sesuatu. "Di mana kamu menyembunyikan jalang itu?" Clara tidak menunggu jawaban. Ia mencari ke setiap sudut namun tidak menemukan siapapun. "Sebenarnya apa yang kamu cari?" "Diam!" Clara memotong, matanya yang basah mendelik tajam. Kali ini, Clara tidak ingin direndahkan lagi. Hanya karena kakeknya meminta Sean untuk menikahinya, bukan berarti lelaki itu bisa selalu merendahkan dirinya. "Selama ini aku tidak pernah mengeluh dengan apapun yang kamu lakukan. Bahkan saat kamu mengabaikanku, aku tetap berusaha mengerti karena kupikir kamu masih perlu waktu untuk menerimaku sebagai istrimu. Tapi..." Clara menelan ludah getir. Matanya menatap tajam pada lelaki yang ia pikir adalah suaminya. "...aku tidak pernah mentoleransi perselingkuhan!" Kalimatnya tegas dan bergetar. Clara tidak ingin menangis. Namun air matanya jatuh begitu saja. Hatinya luar biasa sakit dan itu membuat dadanya semakin sesak. "Kalau memang kamu tidak bisa mencintaiku dan ingin bersama perempuan lain, kenapa kamu menerima permintaan kakek? Kenapa kamu malah menikahiku dan berselingkuh seperti seorang bajingan?!" Teriakan dan tangis Clara mengisi seluruh ruangan. Selama ini, ia sudah memendam semua lukanya sendirian. Berharap suatu saat Sean akan menatapnya dengan lembut dan memeluknya hangat. Tapi yang ia dapat justru sebuah pengkhianatan. "Setidaknya ceraikan aku jika kamu ingin hidup dengan perempuan lain..." Clara merasa hancur. Lebih hancur dari pada saat ia ditolak secara langsung oleh suaminya ketika menawarkan diri seperti seorang pelacur. "Aku tahu aku memang tidak cantik sampai membuatmu tidak tertarik, tapi aku juga punya perasaan... Aku juga bisa terluka kalau kamu keterlaluan seperti ini...." Suara Clara melemah dan ia masih terisak. Lelaki yang sejak tadi bersandar di pintu sambil melipat tangan di dada itu masih menatap Clara dengan ekspresi datar. Beberapa detik kemudian ia menghela napas berat dan mendekat. Apakah seharusnya ia tidak ikut campur? Lelaki itu sedikit menyesal. Ia tidak menyangka akan mendengar pengakuan menyedihkan seperti itu. Apa ia perlu memberi tepukan agar wanita itu sedikit tenang? "Ck, yang benar saja..." Gumamnya kemudian mengangkat tangan. Clara mendongak ketika seseorang menepuk-nepuk punggungnya. Ia tidak menyangka Sean akan melakukan itu dengan sangat lembut. Apakah Sean menyesal? Apakah setelah ini hubungan mereka akan membaik? Clara tidak bisa menahan diri ketika harapan-harapan kecil itu muncul. Bahkan meski sudah diselingkuhi pun, ia akan tetap menerima Sean kembali jika memang lelaki itu meminta maaf. Ia memang bodoh. Cinta yang membuatnya menjadi sangat bodoh. Clara memberanikan diri mencium bibir lelaki itu dengan kaki berjinjit. Berharap kali ini Sean akan menerimanya meski hanya karena perasaan bersalah. Tidak ada balasan ataupun penolakan. Lelaki itu hanya diam seolah membiarkan Clara melakukan apapun sesukanya. Clara meringis. Hatinya hancur tapi ia yakin bisa memperbaiki semua ini. "Aku... Sudah menunggu ini selama satu tahun." Ucap Clara pelan. "Meski tidak berpengalaman, kuharap aku bisa memuskanmu, Sean." Lirihnya lagi sebelum kembali mengecup lembut bibir lelaki di hadapannya. Dadanya berdebar. Rasa sakit hati itu masih ada, namun kini perasaan lain sudah hadir dan berkecamuk di sana. "Kamu masih mau melakukannya walaupun sudah tahu suamimu selingkuh?" Pertanyaan itu membuat Clara membeku. Clara yakin Sean mungkin menganggapnya bodoh, rendahan, atau apapun hinaan lainnya. Tapi itu bukan masalah yang tidak bisa Clara hadapi. Ia sudah bertekad bulat untuk mengambil hati Sean dan mempertahankan pernikahan mereka. Satu langkah besar yang ia ambil mungkin akan membuahkan hasil yang manis. “Aku akan memaafkanmu,” jawab Clara lirih, namun matanya menatap Sean dengan tulus. "Entah dulu ataupun nanti, aku akan selalu memaafkanmu. Jadi... Kumohon... Sekali ini saja, tolong lihat aku sebagai perempuan. Sebagai seorang istri yang sudah kamu nikahi." Air matanya jatuh terurai, sementara bibirnya bergetar menahan tangis yang hampir pecah. Lelaki itu diam untuk waktu yang lama. Tapi pada akhirnya, ia tetap meraih pinggang Clara dan menariknya mendekat. “Kamu sangat mencintai suamimu, ya?” ucapnya parau. Clara mengangguk pelan. “Aku mencintaimu... Sangat. Entah kamu sadar atau tidak." "Kenapa? Apa yang membuatmu jatuh cinta sedalam itu?" Clara menggumam pelan, namun kalimatnya terdengar jelas. "Karena itu kamu... Karena kalau kamu orangnya... Aku bisa memberikan apapun." Clara tidak menyadari, tapi rahang lelaki itu mengatup keras. “Sial…” gumamnya, entah marah atau iba. Kemudian ia menurunkan suaranya, tajam dan menohok. "Kalau begitu, tunjukkan padaku apa yang akan kamu berikan pada suamimu."Malam selanjutnya aula utama rumah Mananta tampil tenang dan berwibawa. Dominasi hitam, emas, dan putih menciptakan kesan dingin sekaligus mewah. Lampu-lampu kristal digelapkan setengahnya, memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer yang berkilau. Meja-meja bundar tertata rapi dengan kartu nama bertinta emas dan lilin ramping yang menyala stabil. Charity Gala bukan sekadar acara amal. Ini adalah panggung.Clara melangkah di sisi Regan saat mereka memasuki aula. Gaun hitam panjang yang dikenakannya sederhana, nyaris tanpa ornamen, namun justru menegaskan keanggunannya. Tangannya bertaut ringan di lengan Regan. Tak lama kemudian, Tuan Jusuf Mananta bergabung. Kehadirannya mengubah atmosfer ruangan tanpa perlu satu kata pun. Di sampingnya berdiri Hilson, tenang dan awas, sementara Sean mengambil posisi sedikit ke belakang, mengamati dengan sikap dingin namun tetap waspada.Musik mereda. Seorang auctioneer profesional naik ke podium. Setelan jasnya rapi, palu kayu diletakkan di sis
Malam benar-benar turun, membawa udara yang lebih sejuk dan suasana yang kian intim. Lampu-lampu di aula diredupkan, menyisakan cahaya keemasan dari lampu gantung dan lilin-lilin kecil di setiap meja. Musik berganti menjadi alunan yang lebih lembut, mengalir pelan, seolah mengajak setiap orang untuk menikmati momen tanpa tergesa.Regan menggenggam tangan Clara ketika mereka melangkah ke tengah aula untuk dansa pertama. Mereka sudah berganti kostum. Regan kini mengenakan setelan hitam sederhana dengan dasi kupu-kupu satin, sementara Clara tampil anggun dalam gaun malam berwarna ivory yang jatuh lembut mengikuti setiap langkahnya. Rambut Clara dibiarkan terurai sebagian, dihiasi jepit kecil berkilau yang memantulkan cahaya lilin.Tepuk tangan tamu perlahan mereda ketika Regan menarik Clara mendekat. Musik mengalun—sebuah waltz lembut—dan mereka mulai bergerak, pelan, seirama. Tidak ada langkah yang rumit. Hanya putaran sederhana, ayunan kecil, dan jarak yang semakin menyempit di antara
Aula rumah Mananta telah sepenuhnya berubah menjadi tempat sakral ketika Regan melangkah ke altar. Langkahnya mantap, meski di balik wajah tenangnya, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Setiap pasang mata tertuju padanya. Para tamu undangan dari berbagai kalangan, rekan bisnis keluarga Mananta, wartawan, dan kerabat yang datang dengan busana terbaik mereka.Di barisan depan, Tuan Jusuf duduk tegak dengan ekspresi tenang namun penuh wibawa. Di sampingnya, Maria Oliver duduk anggun mengenakan gaun sederhana namun berkelas. Tatapan Tuan Jusuf lurus ke depan, mengikuti setiap gerak cucu pertamanya dengan sorot mata yang memancarkan perasaan lega. Pendeta berdiri di balik mimbar kecil berhias bunga putih, Alkitab terbuka di tangannya. Musik lembut dari piano mulai mengalun, mengisi aula dengan nada yang menenangkan.Pintu besar di ujung aula terbuka perlahan. Kini semua mata tertuju ke arahnya. Clara muncul dalam balutan gaun putih yang jatuh anggun mengikuti setiap langk
Clara tidak langsung menjawab. Ia tetap diam di dalam pelukan Regan, wajahnya tersembunyi di dada pria itu. Napasnya hangat, teratur, seolah ia sedang menata ulang pikirannya sendiri. Detik-detik berlalu tanpa suara, hanya ada degup jantung Regan yang terasa jelas di telinga Clara.“Aku takut,” akhirnya Clara berbicara. Suaranya teredam, hampir tenggelam di antara kain kemeja Regan. “Bukan padamu… tapi pada semua yang pernah kamu lalui. Aku takut suatu hari masa lalu itu akan menyeretmu kembali. Dan aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk melihatmu terluka lagi.”Regan menutup matanya. Kata-kata itu tidak menyakitinya, justru sebaliknya. Ia bersyukur Clara jujur.“Aku mengerti,” jawabnya pelan. “Ketakutanmu masuk akal. Bahkan aku sendiri kadang masih takut pada diriku yang dulu.”Ia mengendurkan pelukannya sedikit, cukup untuk bisa menatap wajah Clara. Jemarinya terangkat, menyibakkan rambut Clara dari pipinya dengan gerakan hati-hati.“Tapi dengarkan aku, Bee. Aku tidak akan kemba






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore