Share

2. Tragedi Taman Kota

Almara termenung. Hari ini bukan hari yang sibuk. Dia memiliki banyak waktu untuk melakukan hobinya seperti membaca novel misteri di perpustakaan kota, berkutat di dapur mencoba resep kue terbaru atau sekedar duduk di kamarnya yang lapang menonton drama korea secara maraton.

Biasanya siang hari seperti saat ini, dia pasti sedang sibuk - sibuknya menyunting video dari kliennya. Jika antriannya panjang, sampai malam tiba pun dia tetap berjibaku duduk di depan laptop miliknya, mengedit dengan penuh gairah setiap video dari kliennya.

Pekerjaannya sebagai penyunting video lepas lumayan menghasilkan juga. Walaupun jumlah klien setiap bulannya naik turun tapi dalam sebulan Almara belum pernah menghasilkan uang di bawah 6 juta.

Uang 6 juta mungkin jumlah yang sedikit baginya sekarang. Semenjak menikahi seorang pengusaha muda yang sukses, hidup Almara menjadi terjamin dan serba cukup. Namun pekerjaan ini sudah menjadi hobi yang tidak bisa dia tinggalkan.

Baru semalam Almara menyelesaikan tiga video sekaligus dan menyetorkannya ke klien. Sekarang tidak ada video lagi yang harus dia kerjakan, artinya ini akan jadi hari libur baginya sampai dia mendapat klien lagi.

Sebetulnya ada banyak daftar buku yang ingin Almara baca, juga daftar resep yang menunggu untuk dipraktikkan. Namun hari ini dia memilih untuk berjalan seorang diri menikmati suasana di taman kota. Setelah selesai mengunjungi Tante Weni bersama Mamanya, Almara menolak diantar pulang ke rumah. Hatinya galau, pikirannya kalut memikirkan pernikahan tanpa cintanya dengan Rangga.

Sudah lebih dari 40 menit Almara duduk di bangku taman, mengamati sekumpulan burung dara yang sibuk mematuk biji jagung yang dilemparkan oleh seorang kakek - kakek berpenampilan nyentrik. 

Sesekali Almara memejamkan matanya, berusaha keras membangunkan sesuatu dalam hatinya yang entah selama ini bersembunyi di mana, cinta. Ingatan kejadian pagi ini dia putar kembali dalam otaknya, ketika Rangga mengelus rambutnya dengan lembut tepat saat dia baru saja terbangun dari tidur malamnya yang nyenyak. 

Sosok lelaki yang penuh kelembutan itu, senyumnya sebetulnya manis, bisa dikatakan dia tampan, kata orang - orang dia berkharisma, pengusaha muda idaman banyak wanita. Almara beruntung menjadi istrinya, setidaknya itulah yang selalu almara dengar dari kawan dan keluarganya. Namun orang - orang itu tidak tahu, bahkan Rangga pun tidak tahu, bahwa sejak awal pernikahan hingga sekarang Almara tidak memiliki cinta untuk Rangga.

Diri yang penuh penyesalan, barangkali itulah yang tepat menggambarkan diri Almara sekarang. Seandainya dulu dia tidak terlalu lemah dan mau sedikit saja memperjuangkan cintanya dengan Ardan, mungkin Ardan lah yang saat ini menjadi suaminya. Suami yang dia cintai. Pun dia tak perlu melalui pernikahannya yang penuh kehampaan bagi hatinya. Almara sejatinya lelah, hampir satu tahun terus menerus berpura - pura mencintai Rangga. 

Namun sekarang sudah terlambat. Saat ini Almara benar - benar telah terjebak oleh sederet keputusan bodohnya di masa lalu. Ingin berpisah dari Rangga pun tak mungkin. Laki - laki itu terlalu baik. Almara tak sampai hati menyakitinya. 

Di sisi lain, Almara dibuat galau karena beberapa minggu ke belakang cinta masa lalunya tiba - tiba kembali dalam hidupnya, menawarkan masa depan yang Almara impikan selama ini.

Almara membuka ponselnya, membaca kembali pesan dari Ardan yang dia terima semalam.

[Kita masih bisa memperbaiki semuanya sekarang sebelum semakin terlambat Almara.

Kita bisa menceraikan pasangan kita masing - masing lalu membangun rumah tangga kita sendiri.] 

Almara menghela nafas. Membaca pesan dari Ardan membuat ingatannya kembali pada masa itu, 7 tahun lalu saat dia masih menjadi kekasih Ardan dan belum mengenal Rangga, suaminya sekarang. 

Saat itu Almara sedang berdiri di sebuah ballroom dari hotel termewah di Kota Surabaya. Gaunnya menjuntai indah sampai ke lutut. Sederhana, polos namun elegan. Itu adalah gaun satin berkelas buatan Sandy Anggoro, seorang desainer terkenal kala itu. Hadiah dari kekasihnya, Ardan, seorang anak bungsu dari konglomerat pemilik pabrik tas kulit ternama yang sekarang menjadi seorang artis papan atas. 

Tangan Almara menggenggam sebuah gelas kaca ramping berisi minuman bersoda. Jantungnya berdebar, tangannya mengeluarkan keringat dingin, alunan musik klasik yang dimainkan secara langsung oleh orkestra di ballroom itupun tak sanggup menghilangkan rasa kawatir yang memenuhi dadanya.

Bagaimana tidak, saat itu adalah acara ulang tahun Ardan. Kekasihnya itu sebetulnya telah dijodohkan dengan seorang puteri konglomerat. Pada puncak pesta hari itu, orang tua Ardan berencana mengumumkan pertunangan anaknya dengan sang putri konglomerat. Namun Ardan tidak menginginkan Sang Putri, karena hatinya telah tertambat pada sosok Almara. Gadis biasa yang bahkan untuk kuliah pun harus mengandalkan beasiswa dari pemerintah.

Malam itu dia dan Ardan merencanakan sebuah ‘pemberontakan’. Ardan bermaksud memperkenalkan Almara sebagai kekasih yang dia cintai di depan orang tuanya beserta seluruh tamu undangan dan wartawan.

Tindakan tersebut bukannya tanpa resiko. Orang tua calon tunangan Ardan bisa sangat merasa dipermalukan sehingga pasti akan merusak hubungan kedua keluarga. Orang tua Ardan pun mungkin tidak akan merestua hubungan mereka karena perbedaan status sosial yang terlampau jauh. 

Almara pun bisa saja menjadi korban bullying para penggemar Ardan ataupun teman kuliahnya. Belum lagi kalau orang tua Ardan nekad menggunakan segala cara untuk memisahkan mereka seperti misalnya saja menyakiti keluarga Almara. Bukankah memang seperti itu kisah cinta si kaya dan si miskin di film dan novel yang dia baca ? 

Dada Almara semakin bergejolak memikirkan segala kemungkinan itu, dirinya benar - benar tidak siap. Dia hanya ingin menjalani kehidupan normal yang biasa, yang baik - baik saja, tanpa banyak drama di dalamnya.

"Sayang, habis ini acaranya mulai, yuk ikut aku ke depan!" ucap Ardan sambil menggandeng tangan Almara.

Tak disangka oleh Ardan, almara justru menghentakan tanggannya hingga terlepas dari genggamannya. Ardan yang kaget otomatis menoleh ke arah Almara hendak meminta konfirmasi atas perlakuan tersebut. 

"Kita putus aja Ar. Kita akhiri hubungan kita sekarang juga."

Almara tahu Ardan akan menolak, karenanya, tanpa menunggu respon apapun dari Ardan, Almara langsung berlari meninggalkan Ardan. Almara berlari sekencang yang dia bisa sekalipun sepatu hak tinggi yang dia kenakan sedikit menyulitkannya. Tanpa menoleh ke belakang, Almara meninggalkan ballroom mewah itu.

Dddrrrttt.... Dddrrrrttt....

Getaran ponsel menyadarkan Almara dari lamunannya. Membawanya kembali ke masa kini, di sebuah bangku taman di hadapan sekelompok burung dara yang asik mematuk jagung.

Almara memeriksa ponselnya dan ternyata Rangga yang mengirim pesan.

[Sayang, kamu di mana?  Mau pulang jam brp?]

Ah benar, dia harus pulang sekarang. Kembali ke kehidupannya sekarang. Kepada suaminya. 

[Ini aku otw pulang Sayang. 30 menit lagi aku sampai rumah.]

Setelah membalas pesan dari rangga, Almara bangkit dari bangku dan pergi meninggalkan taman. Dia memesan taksi online dan berjalan menuju pintu masuk taman, tempat titik penjemputan taksi onlinenya.

Almara berjalan perlahan karena toh lokasi taksi onlinenya masih agak jauh. Dia masih memikirkan langkah apa yang akan dia pilih selanjutnya. Apakah menerima Rangga sebagai jodohnya dan memutus semua pintu komunikasi dengan Ardan ? Ataukah mengambil langkah ekstrim yaitu bercerai dengan Rangga dan menjalani mimpinya sebagai istri Ardan ?

Di tengah pikirannya yang kalut menyusun berbagai skenario, tiba - tiba dia merasa sensasi hangat di perutnya. Sensasi hangat yang menyesakkan dan semakin lama menjadi semakin nyeri, sakit yang tidak tertahankan. Seorang pria yang tak dia kenal menikamnya dengan sebuah pisau, lalu dengan cepat melarikan diri. 

Almara tak bisa berkata - kata, seketika otot kakinya menjadi lemah, memaksanya untuk berlutut. Air mata keluar dari sudut matanya tanpa bisa dia kontrol. Almara merasakan kemampuan panca inderanya sedang melemah. Suara hiruk pikuk mobil di jalan raya dan teriak histeris orang - orang disekitarnya terdengar semakin samar, semakin lama suara - suara tersebut mengecil dan mengecil. Pandangannya menjadi kabur, kemudian hanya kesunyian dan kegelapan saja yang bisa dia rasakan. Almara jatuh pingsan, tersungkur di jalan taman. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status