Mag-log inAura yang kuat menyelimuti tubuh Orion. Dia menggunakan kekuatannya untuk memanggil benda yang bersemayam pada bulan merah di atas sana. Awalnya Orion tidak tahu kalau ada sesuatu yang ada di bulan merah ketika pertama kali melihatnya, dia hanya menganggapnya familier saja karena 40% kemiripannya dengan bulan merah di Paradis. Namun, setelah beberapa saat memperhatikannya, barulah Orion paham kalau yang ia rasakan sebelum ini tidak hanya kemiripannya saja, ada sesuatu yang Orion kenal memang bersemayam pada benda di atas langit malam tersebut.
Energi spiritual yang ada di sana ikut berputar, mematuhi perintah Orion. Bulan merah yang awalnya diam bergeming dan memancarkan sinar lembut kini berubah. Warna merah di permukaan bulan perlahan-lahan menjadi semakin pekat, warnanya menyelimuti seluruh permukaan bulan dan membuatnya menyerupai gumpalan darah. Tidak hanya bulan merah saja yang berubah, langit gelap di sekitarnya pun juga ikut terpengaruh.
Ketika bulan merah itu berpendar terang, Orion yang memusatkan kekuatannya pun tersenyum. Dia membuka telapak tangan kanan yang sejajar dengan dadanya. Detik berikutnya, sebuah cahaya dari bulan turun ke telapak tangan Orion dengan kecepatan cahaya. Dan setelah cahaya itu menghilang, Orion melihat sebuah kristal kecil berwarna merah darah dengan bentuk yang tidak beraturan berada di atas telapak tangannya. Kristal itu terlihat seperti pecahan dari sebuah kristal yang lebih besar ukurannya.
Kristal ini… Orion menggenggam kristal itu, dan ketika ia kembali membuka tangannya, kristal yang berada di sana pun kini menghilang. Orion memasukkan benda itu dalam ruang portabel.
“Bulan merah itu menghilang. Bagaimana ini bisa terjadi?!!” pekik Harry. Suaranya penuh akan keterkejutan.
Orion mengalihkan pandangannya. Ia melihat ke atas. Benar sekali yang Harry katakan, bulan merah yang awalnya bertengger di atas langit kini sudah menghilang, hanya hamparan langit gelap yang terlihat di atas mereka.
“Tunggu, apa kau barusan menghancurkan bulan merah itu?” Harry bertanya lagi, kini ia memberikan tatapan penuh takjub ke arah Orion. “Kalau benda itu bisa dihancurkan, bukankah itu artinya bulan merah yang kita lihat tadi merupakan kristal kunci yang membuat dungeon ini tetap eksis.”
Kristal kunci?
Dungeon?
Dua istilah yang Harry katakan membuat Orion terheran-heran. Dia masih belum memahaminya dengan baik karena tidak memiliki ingatan asli tubuh yang ia gunakan. Apakah dungeon yang dimaksud di sini adalah dungeon sama yang ia ketahui saat di Paradis?
Meskipun dirinya masih memiliki pertanyaan yang belum terjawab, di sisi lain Orion merasa lega. Harry yang sedari tadi fokus pada keanehan bulan merah di atas sana tidak melihat apa yang Orion lakukan barusan, Harry tidak tahu kalau Orion mengambil kristal merah dari tubuh bulan dan membuat benda di atas sana menghilang.
Lebih baik memang begitu, ungkap Orion dalam hati tidak lama kemudian. Dengan begini dia tidak perlu susah-susah untuk mencari alasan dan menjelaskan apa yang terjadi kepada Harry.
“Apakah kalau aku menghancurkan kristal kunci yang kau maksud tadi, dungeon ini akan ikut hancur?” tanya Orion setelah lama termangu.
“Seharusnya begitu. Aku hanya Hunter kelas C dan ini pertama kalinya aku masuk dalam dungeon setelah mendapatkan lisensi Hunter. Aku mendengar dari beberapa Hunter senior kalau setiap dungeon memiliki kristal kunci, apabila benda itu dihancurkan maka dungeonnya akan ikut menghilang,” ungkap Harry.
Kali ini Orion mendengar istilah baru lagi dari Harry. Hunter yang berarti pemburu, apakah ini merupakan sebuah pekerjaan khusus untuk mengatasi hal-hal berbau supernatural seperti ini? Dalam hati Orion bertanya-tanya mengenai logika yang ada.
“Aku sama sekali tidak menyangka kalau kau seorang Hunter juga, Orion. Kau benar-benar membuatku terkejut,” imbuh Harry lagi. “Tidak hanya membunuh monster yang sukar dibunuh oleh Hunter kelas C sepertiku dan menyelamatkan kita berdua, kau juga berhasil menghancurkan kristal kunci yang menjadi pusat dungeon ini. Aku benar-benar kagum padamu.”
Orion tersenyum kecil, tidak memberikan jawaban yang pasti terhadap spekulasi yang Harry miliki. Apakah dirinya seorang Hunter? Walaupun Orion belum mendapatkan ingatan tentang pemilik asli tubuh yang digunakannya, Orion sangat yakin kalau si pemilik tubuh bukanlah seorang Hunter, bahkan menggunakan superpower saja juga mustahil untuk dilakukannya sebelum ini —karena si pemilik tubuh sebelumnya tidak memiliki superpower.
Bagaimana Orion tahu mengenai hal itu? Intuisinya mengatakan demikian, dan Orion selalu mempercayai intuisi yang dimilikinya.
Ketertarikan Orion terhadap dunia baru ini semakin bertambah.
Kedua mata emerald Orion berpendar penuh ketertarikan, dia pun lalu menundukkan kepala untuk menyembunyikan kilat aneh yang ia miliki di kedua matanya. Orion menulikan telinganya untuk sesaat dari mendengar ocehan penuh kekaguman yang Harry lontarkan tanpa henti, dia memilih untuk menggunakan persepsinya untuk merasakan keadaan di sekitar mereka berdua.
Tidak lama setelah itu, Orion menarik persepsinya kembali, lalu dirinya mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Harry.
“Apa kau ingat di mana pintu keluar tempat ini berada?” Orion yang ingat akan informasi dari Harry beberapa waktu lalu pun menanyakan hal ini.
“Eh?” Harry mengedipkan mata, dia terlihat tidak paham dengan pertananyaan yang tiba-tiba saja Orion lontarkan padanya.
Melihat tanda tanya yang terpasang di muka Harry, Orion ingin sekali memencet pangkal hidungnya. Pemuda itu menggelengkan kepala, senyuman kecil yang terpasang di bibirnya tidak meredup, Orion terlihat sabar dan tidak terburu-buru.
“Kau mengatakan kalau kristal kunci dihancurkan maka dungeon akan menghilang. Kalau begitu, bukankah seharusnya kita bergegas keluar dari tempat ini sekarang? Aku tidak tahu apakah kita berdua akan terperangkap selamanya kalau kita tidak keluar dari dungeon yang hancur.” Orion menjelaskan maksudnya dengan sabar kepada Harry.
Orion melihat wajah Harry yang masih memiliki ekspresi bodoh itu kini berubah, menjadi penuh kejut lalu berubah lagi menjadi pucat pasi. Pemuda itu mengganggukkan kepala dengan keras —yang entah kenapa mengingatkan Orion pada seekor ayam yang tengah mematukkan kepalanya. Orion menahan dirinya untuk tidak tersenyum, ia tidak ingin menyinggung perasaan Harry.
“Kau benar, Orion!!” seru Harry dengan panik. “Kita harus segera keluar dari sini atau kita berdua akan terperangkap. Beruntungnya aku masih ingat di mana pintu dungeon terbuka, kau tinggal mengikutiku saja untuk keluar dari tempat ini!!”
Sembari mengulum senyum, Orion memberikan anggukan singkat. Dia tidak menyanggah ucapan Harry yang mengajukan diri sebagai penunjuk jalan, karena Orion sendiri tidak tahu letak portal masuk dan keluar yang dimaksud. Namun, beberapa detik telah berlalu tetapi Harry masih tidak bergerak dari tempatnya.
“Kenapa tidak segera pergi?” tanya Orion, dia merasa penasaran.
Orion menunggu Harry dengan sabar, tidak sekali pun memburunya walaupun menurut Orion waktu yang mereka miliki tidaklah terlalu banyak. Kendatipun demikian, Orion memiliki tanda tanya mengapa Harry masih belum bergerak padahal sang pemuda barusan menawarkan diri untuk membimbingnya ke arah pintu keluar dungeon.
Wajah Harry terlihat menarik. Wajahnya memucat, tubuhnya —terutama area kedua kaki— pun bergetar beberapa kali. Peluh mulai membanjiri kening Harry. Orion yang melihatnya mau tidak mau mengernyitkan dahi karena curiga dengan keadaan yang pemuda itu miliki.
“Apa kau tidak bisa bergerak?” Orion kembali bertanya kepada Harry, ingin memastikan kalau kondisi pemuda itu baik-baik saja.
“Uggh… kakiku terasa sangat lemas, aku tidak bisa bergerak sekarang ini,” ungkap Harry pada akhirnya setelah didesak oleh Orion. Tubuh Harry terhuyung sesaat setelah mengatakan hal itu kepada Orion.
Sebelum Harry jatuh terjerembab, dengan sigap Orion menangkapnya dan menopang Harry menggunakan kedua tangannya. Orion mengalungkan satu lengan Harry pada kedua bahunya, membantunya berdiri dengan menopangkan tubuh pemuda itu pada dirinya.
Dia ingat sebelum menemukan Harry, pemuda itu sudah terlebih dahulu terluka parah dan berada di antara tumpukan mayat di sana. Bahkan kondisi Harry sekarang ini juga terlihat tidak baik, terutama dengan tubuh yang dipenuhi luka dan darah yang merembes di mana-mana.
“Kau kehilangan banyak darah, wajar kalau tubuhmu merasa lemah. Kita harus bergegas keluar dari tempat ini dan membawamu ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis,” kata Orion. “Aku akan membantumu, kau hanya perlu memberitahuku di mana letak pintu keluar dungeon berada.”
“Maaf merepotkanmu, Orion,” balas Harry.
Orion tidak membalasnya, ia hanya tersenyum kecil sebagai respon.
Dengan kedua tangan menopang tubuh Harry, Orion berjalan melewati area tumpukan mayat yang ada di sana. Kecepatannya tidak bisa dikatakan lambat meskipun dengan beban yang dibawanya, Orion masih terlihat santai ketika dia berjalan, bahkan tidak lama kemudian mereka pun mulai meninggalkan area altar yang terlihat horor di belakang sana. Orion membawa Harry masuk dalam hutan sesuai dengan petunjuk yang Harry berikan padanya. Beberapa pohon besar yang menjulang tinggi terlewati, dan dua menit kemudian Orion bersama Harry masuk dalam gua yang sedikit tersembunyi di tempat itu.
Karena dalam gua tidak ada penerangan, tempat itu begitu gelap di malam hari. Beruntungnya, Orion memiliki penglihatan tajam sehingga dia tidak memiliki kesulitan untuk berjalan dalam kegelapan. Dia dapat melihat dengan baik kondisi dalam gua meskipun tidak ada pencahayaan di sana. Perjalanan mereka menyusuri gua tidak berlangsung lama, di depan sana terlihat sebuah cahaya yang cukup terang dan membentuk sebuah portal yang kini hampir setengah tertutup.
“Cahaya di depan sana adalah pintu masuk dan keluar yang kumaksud. Kita harus bergegas ke sana sebelum cahayanya menghilang!!” tunjuk Harry.
Orion mengangguk dan berkata, “Aku mengerti.”
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi maupun melihat-lihat keadaan di terowongan gelap dalam gua, Orion pun bergegas menuju ke arah portal yang kini sudah setengah tertutup di depan sana. Ketika portal yang terbuka tinggal seperempatnya lagi, Orion bersama dengan Harry langsung menerobos masuk ke dalam. Mereka tidak ragu lagi melakukannya.
Cahaya dalam portal begitu menyilaukan. Dengan kedua mata yang kini dipejamkan, Orion terus berjalan ke depan sampai akhirnya dia tiba di sebuah tempat yang tidak lagi terpengaruh oleh cahaya yang menyilaukan tersebut. Mereka berdua muncul di sebuah tempat yang benar-benar berbeda dari terowongan dalam gua yang gelap sebelumnya. Portal yang sebelumnya terbuka sedikit di belakang sana langsung menghilang ketika mereka berdua keluar dari dalamnya.
“Dua orang berhasil keluar dari dungeon!!!”
“Cepat panggil tim medis kemari, mereka berdua terluka parah!!”
“Oh dear Lord, apa yang terjadi di dalam sana? Cepat, bawa tim medis kemari untuk menolong dua anak-anak yang malang ini?!!”
Hiruk-pikuk suara dari banyak orang terdengar. Di sebuah gubuk tua yang ada di pinggiran desa kini ada banyak orang yang berkumpul di sana. Warga sipil yang penuh akan rasa penasaran dan juga kekhawatiran ketika melihat Orion keluar dari portal ingin datang mendekat, akan tetapi sekelompok orang yang mengenakan jas hitam dan berpakaian rapi membuat penghalang dengan tubuh mereka —mencegah warga lainnya mengerumuni dalam jarak dekat.
Orion membuka kedua matanya yang sedari tadi tertutup, namun cahaya yang terang dari sinar matahari di atas sana langsung membuatnya kembali memejamkan mata. Setelah Orion mengerjapkan mata beberapa kali dan memastikan matanya sudah terbiasa, barulah dia membuka kedua matanya. Orion menemukan mereka berdua dikepung oleh sekelompok orang berpakaian hitam yang membentuk barisan barikade, lalu di sana juga ada sekelompok warga yang tengah menonton mereka.
Tempat itu bukanlah hutan belantara maupun altar berdarah yang Orion kenali sebelumnya. Tempat di mana Orion berada seperti di sebuah desa. Meskipun jarak gubuk tua tempatnya berada sekarang cukup jauh dengan perumahan warga terdekat, Orion masih bisa melihat beberapa bangunan khas pedesaan yang kecil dan tertata rapi.
Orion mengalihkan perhatiannya kepada sekelompok warga yang ada di sana. Mereka terlihat seperti warga desa sekitar, bahkan beberapa di antara mereka masih membawa alat pertanian seperti cangkul dan sabit, kelihatannya mereka langsung datang dari ladang masing-masing. Orion melihat ekspresi yang terpasang di wajah warga begitu beragam —penasaran, penuh harap, sedih, dan lain sebagainya.
“Permisi.” Orion membuka mulutnya, memanggil seorang pria berpakaian jas hitam lengkap yang mirip seperti seorang agen rahasia. “Apa kau bisa memanggil ambulans untuk datang ke sini? Temanku terluka parah dan membutuhkan bantuan medis segera.”
Pria paruh baya yang berpakaian rapi itu tidak memberikan tanggapan seperti menganggukkan kepala maupun mengubah ekspresinya. Orion tidak dapat mendeteksi apa yang tengah pria itu pikirkan, kacamata hitam yang dikenalan oleh sang pria menutupi semuanya.
“Aku sudah memanggil tim medis untuk datang ke tempat ini, mereka sudah berada di pintu masuk desa dan sebentar lagi akan sampai,” ucap sang pria paruh baya. Dia menoleh ke arah Harry yang terluka parah dan tengah ditopang oleh Orion, lalu perhatiannya kembali terfokus pada Orion.
“Apa kalian berdua merupakan satu-satunya yang selamat dari tim ekspedisi yang mengeksplorasi dungeon kelas E ini?”
Pertanyaan yang diucapkan oleh sang pria tidak mirip dengan sebuah pertanyaan, namun lebih mirip seperti fakta setelah melihat hanya Orion dan Harry saja yang keluar dari dalam dungeon.
“Tidak mungkin hanya kalian berdua saja ‘kan? Bagaimana dengan anakku yang ikut dengan tim ekspedisi???” Seorang wanita tua terdengar begitu histeris ketika melontarkan pertanyaan kepada mereka.
“Kakakku ikut dalam tim ekspedisi. Di mana dia sekarang??”
“Tidak… tidak… Ayah…!!!”
Tangisan dari beberapa warga pecah. Atmosfer yang ada di tempat itu menjadi lebih berat. Kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan melebur menjadi satu. Kelihatannya warga yang berkumpul di sana adalah keluarga dari orang-orang yang terbunuh di dungeon. Mereka berkumpul di sana karena ingin menunggu anggota keluarga mereka yang masuk dalam dungeon keluar. Namun, bukannya tawa gembira yang menyambut, tragedi menyedihkan lah yang menyapa mereka semua.
Orion yang menjadi pusat perhatian karena menjadi salah satu dari dua orang yang bisa keluar dengan selamat dari dungeon hanya melihat semua itu dengan sepasang mata yang tenang.
Dua aura yang berbeda berhantaman dengan satu sama lain. Keduanya kuat, sama-sama mengintimidasi, dan terasa seperti dua pukulan tsunami yang beradu. Meskipun aliran kekuatan dalam dua aura itu tampak sama, namun mereka sangat berbeda—di mana yang satunya terasa sangat liar seperti gempuran badai raksasa, sementara yang lainnya terasa tenang seperti raksasa penguasa lubang hitam dalam sebuah galaksi. Pasif, namun memancarkan bahaya yang begitu besar.Tabrakan kekuatan Adalbert dan Orion membuat beberapa cangkir dan teko porselain di atas meja pecah, begitu pula dengan kaca yang terpasang pada jendela bergaya perancis di ruangan itu. Tabrakan dua aura besar dari Hunter kelas tinggi tersebut membuat ruangan yang awalnya tertata rapi menjadi porak-poranda, seolah-olah barusan ada badai besar yang melanda tempat itu.Namun, gempuraan kekuatan yang mereka berikan tidak bertahan lama. Orion menarik auranya, begitu pula dengan Adalbert.Hening menyapa. Keduanya tidak membuka mulut untuk seme
“Black, apa kau bisa memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi di dalam dungeon?” Seorang tentara yang memiliki pangkat kapten maju ke depan dan bertanya, kemudian matanya menyapu pada Kapten Hills dan lima orang lainnya yang masih tidak sadarkan diri di sekitar Orion. “Lalu, bagaimana bisa hanya kau sendiri yang tersadar sementara yang lainnya pingsan?”Banyak pasang mata mengarah pada sosok tinggi yang berdiri di antara mereka yang masih pingsan di sana. Dia, Orion Black, bertemu mata dengan sang kapten yang melontarkan pertanyaan padanya. Sepasang mata hijau emerald miliknya jernih, ekspresi wajahnya kalem, dan postur tubuhnya pun tampak rileks seolah-olah bukan dirinyalah yang menjadi fokus utama—selidik—dari para penjaga di sana.Orion mengedipkan matanya untuk sesaat sebelum pemuda itu mengendikkan kedua bahunya, tampak sedikit acuh tak acuh di balik kekaleman yang ia perlihatkan.“Aku akan menjawab semua pertanyaan yang kalian miliki mengenai dungeon yang barusan kami mas
Orion berdiam di tempat. Kedua matanya mengawasi kristal merah yang melayang di hadapannya, namun tatapan matanya tersebut tampak mengambang seperti orang yang tengah berpikir keras. Sebuah kenyataan muncul dalam benaknya, dungeon di Bintang Biru adalah bagian dari Paradis, lalu kristal kunci yang menjadi penyegel dungeon tidak lain dan tidak bukan merupakan pecahan dari batu permintaan.Sosoknya yang tidak bergerak dalam beberapa detik pada akhirnya keluar dari zonanya. Otot-ototnya melemas sebelum disusul dengan helaan napas panjang yang keluar dari mulutnya. Orion mengacak rambut hitamnya. Kedua bahunya melorot sedikit.“….”Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Orion mengulurkan tangan ke depan dan berniat untuk mengambil kristal kunci—yang mana akan ia simpan setelahnya dalam ruang penyimpanan. Namun, pergerakannya tersebut terhenti. Kedua mata emeraldnya melirik ke kiri dan ke kanan, ke penjuru arah, menyapu area di sana. Ekspresi di wajah tampan Orion berubah menjadi dingin,
Petir terus menyambar di atas langit. Suara gemuruh dari kejauhan tidak pernah absen untuk menampakkan kehadirannya, disusul kemudian gempa bumi berskala kecil juga muncul beberapa kali sejak gunung satu-satunya di pulau itu mengalami erupsi kecil.Enam dari tujuh orang pengunjung pulau merasa gugup dan takut pada saat yang sama. Meskipun mereka telah menemukan sebuah gua yang letaknya cukup jauh dari pusat letusan dan memilih untuk bermalam di sana, getaran kecil akibat efek erupsi gunung di kejauhan sana masih terasa kuat dan hal ini membuat mereka gugup. Mereka takut kalau gua tempat mereka berlindung akan hancur akibat gempa bumi yang menggoncang area itu.Hari sudah larut malam, namun mereka memutuskan untuk tetap terjaga karena kewaspadaan yang mereka miliki. Meskipun demikian, beberapa dari mereka mulai tumbang satu per satu akibat rasa kantuk yang menyerang. Di samping api unggun yang menyala dalam gua, terlihat Lara, Noah, Archie, dan Orion tidak bisa terjaga lagi. Keempat an
Semburat jingga di langit menyebar ke penjuru arah, membaur dan menggantikan birunya langit seiring dengan matahari yang kini telah bergeser kedudukannya ke ufuk barat. Lukisan alam tersebut tampak begitu jelas, indah, dan memukau. Semua orang tampak menikmatinya, terutama setelah pertarungan yang menegangkan dengan salah satu monster penguasa lautan yang terkenal sangat ganas dan mematikan. Mereka memiliki emosi seperti orang yang baru saja kabur dari maut.Angin laut berhembus semilir, menyapu wajah dan rambut semua orang. Hembusan lembut membawa aroma asin dari air laut itu meniup kepenatan yang diakibatkan oleh ketegangan beruntun yang mereka alami hari ini. Karena kelegaan sementara itu, beberapa orang seperti Archie, Lara, dan Noah pun langsung jatuh terduduk di lantai perahu, bahkan ketiganya kelihatan sekali ingin tiduran untuk melupakan perasaan horor barusan.“Aku bisa melihat sebuah pulau di kejauhan!” seru Kapten Hills.Suara menggelegar milik sang kapten membuat ketiga an
Langit yang awalnya berwarna jingga kini berubah warna, menjadi mendung gelap dengan petir muncul beberapa kali. Angin laut berembus kencang, kemudian ombak laut bergejolak jauh lebih kuat ketimbang sebelumnya—membuat perahu yang ditumpangi oleh kelompok Orion terombang-ambing di tengah lautan meskipun Kapten Enzo telah berusaha untuk mengendalikan perahu tersebut.Badai telah datang. Dan dari penampakannya, badai tersebut begitu besar.Pilar-pilar raksasa yang merupakan tentakel Kraken menyembul dan bersembunyi di laut sebelum muncul lagi, lalu kepala besar Kraken yang berukuran kolosal tersebut terus bergerak dengan sepasang mata melotot ke arah Orion yang kini melayang di hadapannya. Kraken, si monster penguasa lautan murka karena satu tentakel raksasanya terpotong menjadi beberapa potongan kecil.Namun, yang membuat Kraken semakin murka adalah orang yang memotong bagian tubuhnya. Orion Black, pemuda berambut hitam dengan sepasang mata emerald tajam dengan pedang kelas mitos di tan
Orion tahu orang ini. Atau lebih tepatnya dia tahu nama Hunter Leo.Di dunia di mana Hunter adalah profesi penting dan mendominasi, menjadi Hunter kelas A pastinya menjadi banyak incaran dari guild-guild terkenal baik itu di dalam maupun luar negeri. Leo sang penyihir bukanlah sebuah pengecualian,
Kilat kembali muncul, lebih dari dua kali dalam hitungan kurang dari lima menit. Ruangan yang awalnya gelap karena terabaikan selama bertahun-tahun dan minimnya penerangan pun menjadi terang beberapa kali —berkedap-kedip akibat cahaya kilat yang menyambar. Siluet Orion yang berdiri di depan tiga dur
[Saldo Anda berjumlah $200 di rekening. Terima kasih sudah menggunakan layanan Bank kami.]Pesan singkat yang diterima oleh Orion membuatnya ingin mengelus dada. Dia kembali menghitung jumlah nol yang tertera dalam rekeningnya, dan sebanyak apapun ia melakukannya, nominal yang ada di rekeningnya tid
PRANG…Bola kristal yang dipegang oleh Orion pecah. Kejadian itu begitu tiba-tiba, bahkan Orion sendiri tidak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi, padahal ia hanya menyalurkan sedikit dari energi spiritualnya ke bola kristal untuk mengetes superpower yang dimilikinya. Namun, siapa yang men







