MasukChapter 57 sudah update. Terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk mampir ke novel ini.
Bayangan besar membelakangi matahari—menutupinya dan menimbulkan ketegangan bagi sekelompok mahasiswa beserta dua instruktur mereka. Percikan air yang terbawa oleh tubuh monster jatuh pada perahu motor di depanya serta permukaan laut di sekitarnya—secara otomatis membuat Orion dan yang lainnya menjadi basah kuyup walaupun mereka terlindungi oleh perisai perak milik Orion.Besar seperti gunung dengan tubuh sepanjang lima puluh meter. Monster laut di hadapan Orion dan kelompoknya berbentuk ikan paus raksasa, warnanya hitam dengan beberapa aksen merah membara layaknya lava dari gunung berapi di sekitar kepalanya. Empat sirip raksasa bergerak di atas permukaan laut, lalu ekornya yang besar dihentak-hentakkan sehingga gelombang laut besar tercipta dan membuat perahu motor itu menjadi semakin tidak stabil.Saat monster berbentuk ikan paus raksasa membuka mulutnya, dua barisan gigi-gigi tajam berukuran besar menjadi pemandangan menyeramkan. Tidak lama kemudian, monster itu menyemburkan lava
“Huft… huft… huft… lakukan sesuatu, aku lelah sekali dan tidak bisa berenang lagi.” Suara keluhan dari Lara terdengar setelah keheningan di antara mereka melanda sejak lima menit lalu.Harry, Kapten Hills, dan Kapten Enzo tidak lekas memberikan komentar kepada Lara. Mereka bertiga terus berenang ke depan. Walaupun ketiganya tidak tahu di mana pulau terdekat berada maupun melihat adanya spot untuk pemberhentian sementara, mereka terus berenang. Mereka sedikit optimis kalau cepat atau lambat mereka akan menemukan pulau untuk berhenti.Berbeda dengan keempat orang yang tengah berenang. Orion berselancar menggunakan perisai peraknya di atas permukaan air laut, di sampingnya ada sosok Archie dan Noah yang masih tidak sadarkan diri. Keduanya berbaring terlentang di kedua sisi Orion.Sesungguhnya Orion tidak ingin membawa kedua orang itu bersama dengan dirinya, namun melihat keadaan yang lainnya ia tidak memiliki pilihan lain kecuali membawa kedua orang tidak sadarkan diri tersebut bersama de
Angin berderu keras, sapuan aroma asin menguar di udara, dan cahaya begitu terang pun menyapu sosoknya begitu dirinya berjalan melewati portal dungeon. Satu langkah, dua langkah, semuanya tampak tenang.Namun, begitu tiga langkah ia ambil, Orion merasakan pijakan di bawah kakinya menghilang. Gravitasi menerpanya, menariknya terjun bebas ke bawah. Cahaya yang tadinya begitu terang menghilang, Orion yang menemukan dirinya terjun dari ketinggian melihat ke atas di mana langit biru dengan hiasan awan putih menyapa penglihatannya.Orion terkesiap. Dia jatuh ke bawah dari ketinggian yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Ujung dari portal dungeon ada di atas langit, begitu melewatinya ia langsung jatuh terjun bebas tanpa perlawanan. Ia ingat dungeon yang mereka tuju ini adalah dungeon level rendah, bagaimana bisa sebelum melakukan sesuatu mereka langsung disuguhkan awalan yang menegangkan seperti ini?“AAAAAAHHHHHH!!!!”“AAAHHHH!!!”“AKU JATUH!!!”Beberapa teriakan keras teredam oleh ang
Sesuai namanya, Kastil Obsidian memiliki warna kelam dibalik kemegahan bangunannya. Meskipun tertata rapi dan tampak indah, atmosfer yang mengelilingi kastil besar ini terasa suram, bahkan orang yang memiliki kepribadian ceria pun akan terpengaruh begitu mereka menginjakkan kaki di area tersebut.Bangunan kuno dengan arsitektur khas pertengahan renaissance tersebut dibangun di atas lahan luas yang dikelilingi oleh hutan lebat. Pepohanan di sekeliling kastil menjulang tinggi dan tumbuh lebat, bahkan kalau bukan karena jalan raya yang melintasi pertengahan hutan dan melintasi area Kastil Obsidian, bangunan tersebut tidak akan dapat diakses oleh banyak orang.Energi negatif yang mengalir dan mengelilingi kastil memberikan sensasi dingin, begitu menusuk tulang sampai orang menjadi enggan untuk berkunjung. Tidak heran banyak orang menyampaikan teori kalau bangunan kastil ini merupakan bangunan berhantu.Sejak tiba di Bintang Biru, ini pertama kalinya bagi Orion merasakan energi negatif seba
Orion menghela napas panjang. Kedua matanya tertutup, earphone terpasang pada telinga, lalu ia duduk bersandar pada kursi mobil layaknya orang lemas dan tidak memiliki tenaga. Ia begitu rileks dan nyaman, tampak seperti orang malas yang tengah dalam perjalanan liburannya, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang akan masuk dungeon sebagai destinasi latihan militernya.Orion tahu ada banyak pasang mata mengarah padanya secara sembunyi-sembunyi, mengawasinya serta berusaha agar tidak ditemukan olehnya. Bahkan, instruktur yang bertugas sebagai pengawas pun juga terlihat takjub ketika mereka melihat semua ini.Berbagai macam emosi terpetak jelas pada beberapa orang yang duduk di sekitar Orion. Mereka takjub sekaligus iri melihat betapa santainya sosok Orion Black tersebut, bahkan Harry yang seharusnya memiliki level sama seperti Orion terlihat tidak sesantai Orion sekarang ini.Dia begitu percaya diri dengan kemampuannya sendiri, pikir banyak orang setelah mengawasi Orion. Mereka mena
Lima anak muda dengan usia sebaya berkumpul di sebuah tempat yang berlokasi di belakang gedung aula besar. Empat laki-laki dan seorang perempuan. Kelimanya saling berpandangan, mengamati satu sama lainnya sebelum mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah tiga orang pria berseragam militer yang berdiri di depan mereka.“Dari keseluruhan mahasiswa baru yang mengikuti latihan militer tahun ini, kalian berlima tercatat sebagai individual yang berhasil membangkitkan kekuatan supernatural, dan dua di antaranya juga terdaftar sebagai Hunter.” Kapten Hills yang berdiri paling depan mulai membuka suara, kedua matanya mengawasi kelima anak muda di hadapannya dengan seksama.“Orion Black, Hunter level A. Hadrian Welsh, Hunter level A,” imbuh sang kapten sembari melihat Orion dan Harry bergantian.Ketika namanya disebut, Orion tidak mengubah ekspresi wajahnya—ia masih tenang dan bergeming di tempat, bahkan ketika tiga pasang mata dari mahasiswa yang berdiri di dekatnya mengarah padanya. Kendatip







