登入Berpuluh-puluh pasang mata mengarah pada sosok Orion dan Harry yang barusan keluar dari pintu dungeon. Tatapan yang mengarah pada mereka berdua mencerminkan banyak emosi yang bercampur aduk. Sedih, marah, kecewa, serta penuh tidak terima menjadi satu. Deru tangis yang berasal dari warga sipil yang kehilangan anggota keluarganya dalam dungeon pun kembali pecah. Suaranya begitu berisik.
Kekacauan terjadi. Tidak sedikit dari mereka semakin ingin bergerak mendekat —memaksa barikade yang dibentuk oleh grup orang berpakaian hitam mundur dan memberikan jalan kepada mereka. Yang mereka lakukan tentu akan berhasil kalau bukan karena orang-orang berpakaian serba hitam yang menjaga portal dungeon sangat kuat dan memaksa mereka untuk diam di tempat. Orang-orang berpakaian hitam melindungi dua remaja laki-laki itu di belakang tubuh mereka.
“Katakan padaku… apakah kau melihat ayahku? Katakan padaku?!!!”
“Aku ingin kakakku kembali. Kumohon, Tuan muda, beritahu kami kebenarannya!”
Teriakan demi teriakan yang penuh akan tuntutan terus terdengar. Orion yang masih berdiri di belakang orang-orang berpakaian serba hitam tetap bergeming di tempat, dia melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya dengan tatapan mata dingin, bahkan emosi yang terpatri di wajah tampannya masih mengisyaratkan ketenangan yang ia miliki. Rasanya seperti dewa yang berada dalam puncak tinggi tengah mengawasi mortal di bawanya tanpa penuh perasaan.
“Orion, mereka adalah anggota keluarga dari tim ekspedisi yang menjelajahi dungeon,” gumam Harry. Suaranya terdengar begitu lemah, bahkan beberapa kali ia berjengit karena lukanya terbuka akibat pergerakan yang dilakukannya. “Mereka… terlihat marah.”
Berbeda dengan Orion yang masih tenang seperti pohon besar yang diam di tempat ketika diterpa oleh angin, Harry terlihat begitu gugup dengan wajah pucatnya.
“Wajar mereka marah, orang yang mereka tunggu tidak akan pernah kembali dari dungeon.” Orion mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu dia mengambil napas dalam-dalam seraya mengalihkan perhatiannya.
“Untuk selamanya mereka tidak akan pernah kembali,” imbuhnya lagi, dia memberikan penegasan terhadap perkataannya barusan.
Orion menggelengkan kepalanya, dia teringat pada tumpukan mayat yang ia lihat dalam dungeon ketika tiba di dunia ini. 75% kondisi dari mayat dalam dungeon sebelumnya tidak sempurna, mereka termutilasi. Dan kemungkinan besarnya, beberapa dari mereka telah berakhir dalam perut sekawanan manusia serigala yang menyerang mereka. Walaupun manusia serigala masih masuk dalam kategori kelas rendah dari keseluruhan monster yang pernah Orion lihat, hal ini tidak memungkiri kalau manusia serigala adalah monster yang ganas dan berbahaya. Mereka juga memangsa manusia.
“Yang membuatku penasaran, bagaimana mungkin warga sipil bisa mengerumuni lokasi di mana portal dungeon muncul? Bukankah itu sangat berbahaya.” Orion menghela napas kecil, matanya terpejam sesaat sebelum kembali terbuka —dia mengusir rasa lelah yang diakibatkan karena pertarungan kecil di dalam dungeon. Tubuh yang Orion gunakan sangat lelah, benar-benar berbeda dengan tubuhnya sendiri.
Sebelum Harry bisa memberikan jawaban, pria berjas hitam yang merupakan ketua dari penjaga portal yang menyambut mereka berdua, terlebih dahulu menjawab keraguan yang Orion lontarkan.
“Walaupun dungeon yang ada di Desa Elk dikategorikan sebagai dungeon kelas C, pihak NTH segera mengambil alih situasi dan memastikan tidak ada warga sipil yang mendekat kurang dari dua puluh meter dari portal dungeon.”
Harry yang berada di samping Orion juga memberikan anggukan kecil, membenarkan ucapan dari pria berpakaian hitam tersebut. “Sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat di Therondia kalau warga sipil dilarang mendekati portal dungeon. Kondisi portal dungeon sangat labil, kita tidak tahu apakah monster akan muncul dari dalam dungeon atau tidak.”
Orion mengerti setelah mendapatkan penjelasan singkat dari keduanya. Walaupun merasa penasaran dengan hal yang asing seperti portal dungeon dan lain sebagainya, warga sipil di tempat ini memiliki pengetahuan dasar untuk tidak datang mendekati portal dungeon. Kelihatannya orang yang tinggal dunia ini sudah beradaptasi dengan baik dengan fenomena aneh seperti kemunculan dungeon maupun monster yang berbahaya, mereka telah mengetahui apa yang harus dilakukan ketika melihat portal dungeon muncul di dekat mereka.
Dia teringat akan kata-kata si pria berpakaian hitam. NTH. Apakah itu singkatan dari organisasi yang menaungi orang-orang berpakaian serba hitam yang mirip agen rahasia?
Sebelum Orion sempat bertanya mengenai NTH di mulut pria berpakaian hitam, perhatiannya teralihkan karena suara keras yang terdengar tidak jauh dari sana.
“Minggir… minggir… tim medis mau lewat!!” Suara keras dari belakang kerumunan warga sipil terdengar.
Hampir semua orang yang ada di lokasi itu langsung menoleh ke arah sumber suara berada. Bersamaan dengan itu, suara sirine khas dari mobil ambulans terdengar mendekat, lalu kerumunan warga sipil yang ada di sana dipaksa untuk memberikan jalan kepada tim medis yang akhirnya tiba. Untuk berjaga-jaga agar warga sipil yang tengah berkerumun tidak mengambil kesempatan untuk datang mendekat, orang-orang berpakaian hitam semakin mengeratkan barikade pengaman di sisi kiri dan kanan jalan —di depan barisan warga sipil.
Sebuah mobil ambulans berhenti di depan kerumunan banyak orang. Ketika bagian belakang mobil ambulans terbuka, tiga orang tim medis keluar dari dalam dengan membawa tandu ambulans bersama mereka. Ketiganya berjalan mendekat ke arah Orion dan Harry.
“Tuan Welsh, tim medis sudah datang. Kau bisa pergi bersama mereka ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan pertama,” ujar pria berpakaian hitam.
Orion menyerahkan Harry kepada tim medis. Dia melihat bagaimana mereka membaringkan Harry di atas tandu ambulans lalu mendorongnya masuk ke dalam ambulans. Orion tidak bergerak untuk mengikuti mereka, dia masih diam di tempat dengan kedua mata yang mengamati mereka dari belakang. Tatapannya begitu tenang, tidak berombak maupun terpengaruh oleh apapun.
“Anak muda, sebaiknya kau ikut bersama tim medis. Bukankah kau juga terluka parah setelah keluar dari dungeon?” Si pria berpakaian hitam kembali mendekati Orion, dia memberikan saran padanya. “Kami akan mengunjungimu nanti untuk meminta keterangan mengenai apa saja yang terjadi di dalam dungeon yang muncul di Desa Elk.”
Mata Orion mengarah padanya. Dia tidak menolak saran yang sang pria berpakaian hitam berikan padanya.
Setelah menimbang-nimbang nilai positif dan negatif, kelihatannya lebih baik Orion mengikuti Harry untuk pergi ke rumah sakit. Dia melihat ke arah kerumunan warga yang ingin menerobos barikade dengan paksa di depan sana. Ekspresi mereka terlihat ingin mengoyak tubuh Orion, memaksanya untuk memberikan penjelasan —bahkan Orion bisa melihat kalau mereka bisa melakukan kekerasan apabila Orion tidak mengikuti kemauan mereka.
Seraya mengembuskan napas panjang, Orion pun memberikan anggukan setuju. Dengan perlindungan yang pria berpakaian hitam itu berikan, Orion pun dapat melewati kerumunan warga sipil dan naik ke mobil ambulans dengan aman. Di dalam mobil ambulans, Orion melihat semua tim medis di sana sibuk menangani Harry yang benar-benar membutuhkan pertolongan pertama.
Wajah Harry pucat pasi, bibirnya membiru, dan keningnya pun berkerut karena tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. Tidak sekalipun Harry membuka mata ketika tim medis menanganinya, bahkan Harry masih dalam posisi yang sama saat Orion duduk di samping tandu ambulans di mana Harry berada.
“Dia langsung tidak sadarkan diri begitu kami menaikkannya dalam ambulans. Sepertinya adrenalin yang membuatnya terjaga sudah menghilang, sehingga pasien ini langsung pingsan karena kondisinya yang tidak baik,” kata salah seorang tim medis. Dia memberitahu Orion karena menganggap pemuda itu adalah teman baik pasien.
Harry kehilangan banyak darah, jadi wajar kalau pemuda itu tidak sadarkan diri. Hanya adrenalin tinggi karena berada dalam situasi seperti di dungeon barusan membuat Harry memaksakan diri untuk tetap terjaga. Dan begitu dia keluar dari dungeon, tubuh Harry yang sudah lemah membuatnya tidak lagi bisa terjaga seperti semula.
“Apa kau terluka? Aku akan memeriksamu,” lanjut si anggota tim medis.
“Aku tidak terluka parah, hanya merasa lelah saja. Aku akan duduk di sini dan menunggu,” balas Orion. Dia menolak tawaran yang diberikan oleh tim medis untuk memeriksa kondisinya.
“Tapi bajumu bersimbah darah begitu, kau pasti terluka parah,” tunjuk tim medis lagi. Dia memberikan tatapan ragu kepada Orion.
Orion menggelengkan kepala, lalu dia tersenyum ke arah si tim medis yang masih terlihat kurang yakin terhadap dirinya.
“Ini semua bukan darahku. Aku tidak terluka sama sekali,” tandas Orion.
“Kau pasti Hunter yang kuat sampai tidak terluka ketika keluar dari dungeon,” celetuk anggota tim medis lainnya yang mendengar percakapan di antara mereka berdua.
“Aku bukan Hunter yang kuat. Aku tidak terluka karena sedari awal aku bersembunyi sehingga monster tidak menemukanku,” ungkap Orion seraya melambaikan tangan kanan untuk memberikan penegasan yang menolak ucapan si tim medis. Dia berbohong dengan wajah yang datar, sehingga orang-orang tidak tahu apakah yang dia katakan adalah sebuah kebenaran atau kebohongan.
Mendengar pengakuan itu, ekspresi para tim medis dalam mobil ambulans berubah. Mereka menghiraukan Orion dan kembali melakukan pekerjaan masing-masing untuk memeriksa Harry yang masih tidak sadarkan diri.
Orion menghiraukan tatapan penuh cemooh dan rasa bosan yang mereka miliki. Dia membuat nyaman dirinya di tempat dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuan. Kepalanya yang sedikit berat dimiringkan, Orion menyandarkan bahunya pada dinding besi mobil ambulans, tidak lama kemudian dia memejamkan kedua mata.
Tidak berselang lama setelah itu, sebuah ingatan dalam jumlah besar muncul dalam benak Orion. Ingatan itu diputar secara paksa dan tidak bisa dihentikan. Jumlahnya yang besar membuat kepala Orion berdenyut keras, lalu pandangannya menggelap dan membuatnya tidak sadarkan diri untuk sesaat kemudian.
Orion Black membuka kedua matanya. Pemandangan eternit langit-langit kamarnya tampak kabur sebelum perlahan-lahan menjadi lebih jelas di matanya. Orion menopang tubuhnya, dia bangkit dari tempat tidur dan duduk sembari menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur.Selimut tebal yang membungkus tubuhnya ketika tidur kini merosot ke bawah, berkumpul di atas pangkuannya.Matanya terlihat kosong, tidak ada emosi terpancar di sana—dua manik matanya yang biasanya begitu cemerlang kini tampak gelap, terutama dengan semburat bayangan yang menutupi sebagian wajah Orion. Dia berbahaya.“Kini aku ingat mengapa batu permintaan dan kristal kunci dungeon memiliki kekuatan yang sama persis,” gumam Orion lirih, dia kembali mengingat mimpi—atau lebih tepatnya kenangan yang terpendam—yang ia lihat semalam saat tidur.Sebenarnya Orion tahu kristal kunci dungeon merupakan bagian dari batu permintaan, namun setelah ia melihat mimpi (ingatan) semalam ia seratus persen yakin kalau keduanya adalah benda
Petir dan kilat beradu tanpa jeda, cahaya terang serta suara gemelegar menghantam tempat itu tanpa ampun—seolah-olah di sana adalah tempat yang dipergunakan untuk menghukum para pendosa berat. Ketika melihat ke atas, terlihat awan tebal yang tercecar menggantung pada langit merah dan tampak menakutkan. Warna merah langit di atas sana tidak normal karena warnanya semerah darah.Pemandangan itu mirip seperti pemandangan yang tercetak langsung dari film horor, mampu menimbulkan rasa paranoid serta ketakutan pada siapa pun yang melihatnya, namun ketika mereka melihat ke arah aliran sungai magma yang meletup-letup di bawah sana serta banyaknya mayat monster dengan berbagai ukuran digerus habis oleh magma tersebut, pemandangan horor berubah menjadi pemandangan dari akhir dunia.Di tengah-tengah sungai magma yang mengalir dan meletup-letupkan gas beracun, sebuah pulau kecil yang terbentuk dari kumpulan batu pualam kuat terdapat sebuah singgasana batu putih. Singgasana kosong itu membelakangi
Tiga jam berlalu setelah Orion datang dan bertemu langsung dengan Adalbert dalam ruangan di kastil Obsidian. Tiga jam lamanya pula Orion harus berurusan dengan pertanyaan dari Adalbert, baik itu berhubungan dengan apa yang terjadi dalam dungeon maupun tidak, bahkan sang letnan bisa-bisanya menanyakan silsilah keluarga Orion—yang tentu saja tidak Orion jawab. Tidak hanya karena Orion tidak menginginkannya, namun ia sendiri tidak terlalu paham silsilah keluarga Black yang sebenarnya.Seandainya hanya pertanyaan saja yang Adalbert berikan kepada Orion, pemuda itu tidak akan mempermasalahkannya. Namun, lebih dari sekedar pertanyaan dalam bentuk interogasi yang diberikan, sang letnan tidak segan untuk mengeluarkan aura kekuatannya guna memberikan tekanan pada Orion saat dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Beruntungnya Orion bukanlah tipe orang mudah terintimidasi. Aura kekuatan yang dimiliki Adalbert memang mengintimidasi, namun semua itu tidak berguna untuk Orion.Apakah aura ke
Dua aura yang berbeda berhantaman dengan satu sama lain. Keduanya kuat, sama-sama mengintimidasi, dan terasa seperti dua pukulan tsunami yang beradu. Meskipun aliran kekuatan dalam dua aura itu tampak sama, namun mereka sangat berbeda—di mana yang satunya terasa sangat liar seperti gempuran badai raksasa, sementara yang lainnya terasa tenang seperti raksasa penguasa lubang hitam dalam sebuah galaksi. Pasif, namun memancarkan bahaya yang begitu besar.Tabrakan kekuatan Adalbert dan Orion membuat beberapa cangkir dan teko porselain di atas meja pecah, begitu pula dengan kaca yang terpasang pada jendela bergaya perancis di ruangan itu. Tabrakan dua aura besar dari Hunter kelas tinggi tersebut membuat ruangan yang awalnya tertata rapi menjadi porak-poranda, seolah-olah barusan ada badai besar yang melanda tempat itu.Namun, gempuraan kekuatan yang mereka berikan tidak bertahan lama. Orion menarik auranya, begitu pula dengan Adalbert.Hening menyapa. Keduanya tidak membuka mulut untuk seme
“Black, apa kau bisa memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi di dalam dungeon?” Seorang tentara yang memiliki pangkat kapten maju ke depan dan bertanya, kemudian matanya menyapu pada Kapten Hills dan lima orang lainnya yang masih tidak sadarkan diri di sekitar Orion. “Lalu, bagaimana bisa hanya kau sendiri yang tersadar sementara yang lainnya pingsan?”Banyak pasang mata mengarah pada sosok tinggi yang berdiri di antara mereka yang masih pingsan di sana. Dia, Orion Black, bertemu mata dengan sang kapten yang melontarkan pertanyaan padanya. Sepasang mata hijau emerald miliknya jernih, ekspresi wajahnya kalem, dan postur tubuhnya pun tampak rileks seolah-olah bukan dirinyalah yang menjadi fokus utama—selidik—dari para penjaga di sana.Orion mengedipkan matanya untuk sesaat sebelum pemuda itu mengendikkan kedua bahunya, tampak sedikit acuh tak acuh di balik kekaleman yang ia perlihatkan.“Aku akan menjawab semua pertanyaan yang kalian miliki mengenai dungeon yang barusan kami mas
Orion berdiam di tempat. Kedua matanya mengawasi kristal merah yang melayang di hadapannya, namun tatapan matanya tersebut tampak mengambang seperti orang yang tengah berpikir keras. Sebuah kenyataan muncul dalam benaknya, dungeon di Bintang Biru adalah bagian dari Paradis, lalu kristal kunci yang menjadi penyegel dungeon tidak lain dan tidak bukan merupakan pecahan dari batu permintaan.Sosoknya yang tidak bergerak dalam beberapa detik pada akhirnya keluar dari zonanya. Otot-ototnya melemas sebelum disusul dengan helaan napas panjang yang keluar dari mulutnya. Orion mengacak rambut hitamnya. Kedua bahunya melorot sedikit.“….”Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Orion mengulurkan tangan ke depan dan berniat untuk mengambil kristal kunci—yang mana akan ia simpan setelahnya dalam ruang penyimpanan. Namun, pergerakannya tersebut terhenti. Kedua mata emeraldnya melirik ke kiri dan ke kanan, ke penjuru arah, menyapu area di sana. Ekspresi di wajah tampan Orion berubah menjadi dingin,
Setelah pertanyaan itu dilontarkan oleh James, Orion yang menjadi pusat perhatian dari kedua Hunter tidak menunjukkan ekspresi apapun selain ketenangan yang sedari tadi terpasang di wajah tampannya. Bahkan, rasa gugup tidak ditemukan di sana, seolah-olah orang yang mendapat interogasi dari James bu
Orion membuka kedua matanya. Langit-langit warna putih di atas sana adalah hal pertama yang Orion lihat ketika ia bangun. Aroma disinfektan yang menyengat menguar di udara —aromanya yang begitu ia kenal menusuk hidung dan membuat Orion mengernyitkan keningnya untuk sesaat. Dia benci aroma disinfekt
Aura yang kuat menyelimuti tubuh Orion. Dia menggunakan kekuatannya untuk memanggil benda yang bersemayam pada bulan merah di atas sana. Awalnya Orion tidak tahu kalau ada sesuatu yang ada di bulan merah ketika pertama kali melihatnya, dia hanya menganggapnya familier saja karena 40% kemiripannya d
Orion tidak pernah meragukan kualitas barang yang dijual pada sistem mall. Semua barang yang ada di sana memiliki kualitas bagus dan sangat efektif untuk digunakan, seperti ramuan penyembuh yang Orion beli barusan.Setelah dia meminum dua botol ramuan penyembuh, tubuhnya yang terluka parah kini sud







