Home / Romansa / Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya / Bab 17. Perjalanan bisnis

Share

Bab 17. Perjalanan bisnis

Author: Ralonya
last update Last Updated: 2025-10-28 22:05:56

[Aku sudah bilang padanya kalau aku cuma mampir sebentar, ngobrol sebentar sama kamu, lalu pulang.]

“Iya, Mas. Maaf sudah merepotkan. Harusnya waktu kamu datang, aku langsung kasih tau Mas Arka. Apa dia marah padamu?”

[Tidak, sih. Cuma bilang, kalau ada keperluan sebaiknya langsung temui dia saja.]

“Begitu, ya.”

[Dia tidak memarahimu, kan?]

“Tidak, Mas,” jawab Dina pelan, jemarinya sibuk memainkan ujung bajunya. Ia tampak ragu mengatakan yang sebenarnya.

[Syukurlah. Aku tahu sifat cemburunya agak berlebihan.]

Dina tersenyum getir. “Tidak apa-apa, Mas. Aku anggap itu hal yang wajar untuk seorang suami.”

[Hm, begitu, ya? Baiklah.]

Panggilan berakhir dengan suara tawa kecil di ujung sambungan. Dina menatap layar ponselnya beberapa saat, ia menarik napas panjang. Entah kenapa, nada suara Davin selalu mampu menenangkan pikirannya.

Malam pun tiba, Dina duduk di depan meja rias membelakangi Arka yang tengah bersandar di ranjang sambil memeriksa beberapa berkas di tabletnya. Jemarinya sibuk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 79. Membeli dengan harga mahal

    Hingga akhirnya, ikon kecil itu berubah menjadi biru. Jantungnya mencelos saat melihat tulisan ‘sedang mengetik...’ di baris atas layar.​Dina mendekap ponselnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin, membuat permukaan layar terasa licin dan sulit digenggam. Debaran di dadanya kian liar, terasa seperti dentuman godam yang menghantam rusuknya tanpa ampun.​Sepercik harapan menyeruak, menyakitkan sekaligus melegakan di saat yang bersamaan. Ia ingin menangis, ingin berteriak memanggil nama pria itu, namun suaranya hanya tertahan menjadi isakan kecil yang ia redam dengan gigitan pada bibir bawahnya. Setiap detik yang berlalu terasa mencekik, sampai akhirnya sebuah getaran halus di tangannya menandakan pesan balasan dari Davin.​[Dina, tetap tenang dan jangan lakukan hal gegabah. Aku sudah di Italia dan segera menjemputmu. Bertahanlah sebentar lagi.]Air mata Dina luruh seketika, jatuh membasahi layar ponsel yang masih menyala. Davin sud

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 78. Syarat tambahan

    Meja panjang itu sudah tersedia hidangan mewah yang menggugah selera. Namun, bagi Dina, aroma makanan dan rempah-remah mahal dihadapannya tercium seperti bau bangkai. Dina menatap piringnya, kilau saus kental dan potongan daging di sana tampak menjijikan. Ia mencengkeram garpunya hingga buku jarinya memutih. Ada gumpalan pahit yang menyangkut di pangkal kerongkongannya membuatnya sulit menelan apa pun.​Moretti duduk tepat di sampingnya. Pria itu menyesap anggur merahnya perlahan, tapi matanya terus memandang wajah pucat Dina.​"Istrimu jauh lebih cantik saat dilihat dari dekat seperti ini, Arka," gumam Moretti. Ia meletakkan gelasnya, lalu tanpa ragu menjangkau tangan Dina yang berada di atas meja.​Dina tersentak, mencoba menarik tangannya, namun jemari Moretti yang kasar dan berkerut mencengkeram jemarinya dengan kuat. Kulit pria itu terasa panas dan lembap, membuatnya ingin muntah.​"Jangan takut," bisik Moretti dengan senyum miring. Ia mengusap punggung tangan Dina menggunakan i

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 77. Mr. Moretti

    “Ini yang aku maksud dengan patuh di ranjang," bisik Arka. Nada suaranya datar, namun membuat bulu kuduk Dina meremang.​Dina mencoba memepetkan tubuhnya ke pintu mobil yang terkunci. Ia menatap Arka dengan pupil mata yang melebar, menangkap seringai ganjil yang membiaskan kegilaan pria itu.​"Kamu gila, Mas," desis Dina, suaranya parau karena ketakutan yang mencekik.​Jemari Dina bergerak liar di samping tubuhnya, mencoba meraih tuas pintu secara membabi buta. Namun, suara klik tajam dari panel kendali di tangan Arka langsung mematikan harapannya. Arka bahkan tidak menoleh, ia hanya menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat angkuh.​"Simpan tenagamu untuk melayani rekan bisnisku nanti," ujar Arka dingin sambil merapikan jam tangan mewahnya. "Jangan permalukan aku dengan wajah lelahmu itu.”Mobil itu mendecit pelan saat berhenti tepat di depan sebuah pintu ganda raksasa yang diterangi lampu temaram. Belum sempat Dina mencerna keadaan, pintu mobil disambar dari luar. Seorang pria me

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 76. Dijual

    Pesawat itu baru saja mendarat di sebuah negara di Eropa Selatan. Udara dingin yang menusuk menyambut Dina begitu ia melangkah turun. Di depan mereka, sebuah mobil mewah hitam sudah menunggu dengan dua pria bersetelan hitam yang menjaga pintu.“Mas, kita ada dimana?” tanya Dina, suaranya tertelan oleh deru angin yang menusuk. Ia melirik sekitar dengan was-was. Begitu kakinya memijak aspal, uap putih keluar dari bibirnya yang membiru. Ia merapatkan mantel. “Siapa yang mau kita temui, Mas?" tanyanya lagi. Ia melirik Arka yang nampak tak acuh. Mendadak kerongkongannya sesak oleh firasat buruk yang mulai terasa nyata.Arka tidak menjawab sampai mereka masuk ke dalam mobil. Ia justru menuangkan wiski ke dalam gelas kristal yang tersedia di bar kecil di dalam kendaraan itu. Setelah menyesapnya perlahan, ia menoleh ke arah Dina dengan senyum yang membuat bulu kuduk Dina meremang.“Kakek memberiku jabatan Direktur itu lewat kamu, Dina.” Arka memulai, suaranya tenang namun tajam. "Dia tidak m

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 75. Gerbang neraka

    “Kita mau ke mana, Mas?”​Pertanyaan itu menguap begitu saja di dalam kabin mobil. Dina meremas tali tasnya, sesekali melirik koper yang dijejalkan Arka ke bagasi subuh tadi tanpa penjelasan. Lewat jendela, ia menatap deretan lampu jalan yang mulai kalah oleh cahaya fajar, berusaha mencari petunjuk dari rute yang mereka ambil.​Dina menelan ludah, lalu memberanikan diri menoleh ke samping. "Mas, kita mau ke mana?" tanyanya lagi.​Arka tidak langsung menyahut. Jemarinya menari gesit di atas layar tablet, berpindah dari satu grafik saham ke dokumen lainnya. Setelah beberapa detik, ia menaikkan alis tanpa mengalihkan pandangan.“Bisa diam tidak?” Arka menyentak layar tabletnya hingga menimbulkan suara benturan kecil dengan kuku jarinya. Ia menoleh, menatap Dina dengan sorot mata yang sarat akan gangguan. “Berhenti bertanya dan ikuti saja!”​Dina langsung terbungkam. Ia memalingkan wajah, kembali menatap aspal jalanan sambil menggigit bibir dalam. Di sampingnya, Arka kembali fokus pada ta

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 74. Tanpa sisa

    ​Dina mengangguk, kali ini tanpa ada keraguan yang tersisa. Ia memercayai Davin sepenuhnya. Meski ia tahu telah melukai perasaan pria itu, Davin tetap datang dan memberinya harapan di saat ia merasa paling hancur.“Maaf aku sempat ragu dan malah menyakitimu,” bisik Dina lirih.Davin meraih jemari Dina dan menggenggamnya sebentar untuk memberikan kekuatan. Ia menatap Dina dengan tatapan yang dalam, seolah ingin menghapus semua beban di pundak wanita itu.​“Lupakan itu, Dina. Kita tidak punya waktu untuk menyesali masa lalu,” balas Davin. “Sekarang yang terpenting adalah mengeluarkanmu dari situasi ini. Aku tidak pernah benar-benar marah padamu, aku hanya kecewa karena kamu tidak mau jujur padaku.”​Dina merasakan hangat dari genggaman tangan Davin menjalar ke hatinya, perlahan menggantikan rasa dingin yang ditinggalkan oleh Arka.​“Sekarang, kembalilah ke dalam sebelum Arka curiga,” lanjut Davin sambil perlahan melepaskan tangan Dina. “Ingat, jangan tunjukkan apa pun di wajahmu. Tetapl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status