LOGINTerjebak dalam pernikahan dengan pria kasar dan egois, Dina berusaha mempertahankan rumah tangga yang setiap hari hanya memberinya luka. Hingga suatu malam, Arka memperkenalkan sahabat lamanya, Davin—lelaki dari masa lalu yang dulu pernah mengisi hati Dina. Kini Davin hadir kembali, membawa kehangatan yang nyaris ia lupakan. Dina tahu, membiarkan hatinya kembali bergetar adalah sebuah kesalahan. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang membuatnya merasa dihargai, dimengerti, dan dicintai adalah sahabat suaminya sendiri?
View MoreBegitu suara pintu berderit pelan terdengar, Dina spontan bangkit. Langkah sepatu yang semakin mendekat membuatnya bergegas ke ruang tamu, menyambut Arka—suaminya— yang baru pulang.
“Mas baru pulang?” tanyanya pelan. “Ada pekerjaan tambahan di kantor, ya?” Arka tidak langsung menjawab. Ia menaruh tas kerja di sofa, melepas jasnya dengan gerakan malas. “Bisa tidak kamu jangan banyak tanya?” ucap Arka dingin, tanpa menoleh sedikit pun. “Aku bertanya karena khawatir, Mas. Biasanya kamu tidak pulang selarut ini.” Tak ada jawaban. Arka berjalan melewatinya, meninggalkan aroma parfum yang samar. Jas yang dijatuhkannya ke lantai Dina pungut perlahan, lalu ia lipat di lengannya. “Kamu pasti lapar,” tuturnya lembut, mencoba menawarkan kehangatan yang tak pernah disambut. “Makan dulu, ya, Mas. Aku siapkan untukmu.” “Aku tidak lapar.” Dina menatap punggung Arka yang menjauh menuju tangga. “Kalau begitu, mau aku siapkan air hangat?” “Tidak perlu.” “Mas, mungkin kalau makan sedikit—” “Dina!” seru Arka tiba-tiba, ia berbalik cepat menatap jengkel. “Aku capek! Bisa tidak berhenti bicara? Kamu itu cerewet sekali!” Dina terdiam, matanya menunduk. Nada suara Arka yang dingin seolah menegaskan kalau keberadaannya tak lebih dari gangguan kecil di penghujung hari. Sudah setahun seperti ini, tapi entah kenapa, masih ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap Arka bisa berubah seperti dulu. Setelah berhasil menenangkan diri, Dina melangkah ke lantai dua. Baru beberapa langkah dari pintu kamar, Arka muncul dengan wajah masam. “Dimana kemeja yang ku suruh setrika tadi pagi?” Dina terbelalak kecil, buru-buru menepuk keningnya. “Mas… aku lupa,” katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri. “Dari pagi aku langsung ke restoran. Baru sempat pulang sore tadi.” Ia menunduk sedikit, berusaha menenangkan diri sebelum melanjutkan, “Maagku sempat kambuh, jadi aku baru bisa bergerak setelah istirahat sebentar.” Ia berharap kejujuran kecil itu bisa sedikit meluluhkan Arka, atau sekadar membuatnya bertanya apakah dirinya baik-baik saja. Tapi yang datang bukan perhatian, melainkan dingin yang menampar tanpa suara. “Kamu itu banyak alasan! Hal sepele begini saja harus selalu aku ingatkan? Istri macam apa kamu ini?” “Maaf, Mas. Aku tidak sengaja—” “Selalu saja tidak sengaja!” potongnya tajam. “Setahun menikah, tapi kamu bahkan belum tahu bagaimana menjadi istri yang berguna!” Kata-kata itu menusuknya. Dina menunduk, matanya bergetar menahan perih. ‘Istri yang tidak berguna?’ Bibirnya bergetar. ‘Jadi, semua yang kulakukan selama ini tidak berarti? Menyiapkan makanan, melayaninya saat sakit, mencoba mengerti setiap kali ia marah tanpa alasan… semua itu tidak berarti?’ Dina berusaha menahan air mata yang nyaris jatuh, mengangkat wajahnya sedikit agar suaminya tak melihat getar di matanya. “Aku akan lebih perhatian lagi, Mas,” ucapnya pelan, menahan getir di tenggorokan. Kalimat itu terdengar seperti penyesalan, padahal yang ia rasakan hanyalah lelah karena terus meminta maaf atas sesuatu yang bukan sepenuhnya salah. Arka mendengus. “Sudahlah. Bicara denganmu hanya membuatku sakit kepala!” ujarnya lalu kembali masuk ke kamar. Dina tetap berdiri di sana, menatap nanar pintu kamar yang tertutup . Ada perih di dadanya karena lelah yang terus menumpuk. Ia sudah lama berhenti berharap diperlakukan dengan hormat. Kini, yang tersisa hanya rutinitas: bangun, melayani, diam, lalu tidur dengan hati yang semakin kosong. Sebelum menikah, Arka adalah pria lembut. Tutur katanya hangat, sikapnya penuh perhatian. Semua orang menganggap Dina beruntung dipinangnya. Tapi setelah cincin itu melingkar di jarinya, segalanya berubah. Kelembutan berganti dengan amarah yang mudah tersulut, ucapan manis berganti dengan kata-kata kasar, dan kehangatan berganti menjadi jarak yang dingin. Selain berharap untuk dicintai lagi, Dina bertahan demi restoran keluarga yang berdiri dari modal keluarga Arka. Perceraian bukan hanya memutus ikatan, tapi juga menghancurkan harapan orang tuanya. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka lagi. Arka keluar dengan pakaian kasual, aroma parfum segar menggantikan bau lelah dari kantor. Dina mengernyit. “Mas mau kemana?” Arka tak peduli, ia melangkah menuruni anak tangga tanpa menjawab pertanyaan Dina. Bahkan memandang pun serasa tak sudi. Dina meletakkan tas kerja dan jas Arka di atas meja kecil di samping pintu kamar, lalu menyusul ka bawah. “Mas, sudah beberapa malam ini kamu tidak tidur di rumah. Aku hanya ingin tahu kamu—” “Dina!” Ia berbalik, wajahnya menegang. “Berhenti ikut campur urusanku!” “Tapi, Mas—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Arka sudah melangkah keluar rumah. Dina terdiam di ambang pintu. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri meski sulit. Satu pertanyaan terlintas di benaknya, “Inikah rumah tangga yang ku pertahankan setahun ini?’ **[Mas, apa kamu sudah tidak peduli padaku lagi?]Natala membaca pesan singkat itu dari layar ponsel Davin. Ia melirik sekilas ke arah Davin yang masih tertidur pulas di ranjang king size. Pria itu sama sekali tidak terganggu saat Natala masuk ke kamar hotelnya. Itu semua berkat bantuan temannya, ia bisa mendapat kartu akses untuk masuk.Wanita itu mendekat ke ranjang, mengatur posisi, dan memotret dirinya sendiri dengan Davin yang menjadi latar belakang. Foto itu terlihat sempurna, seolah mereka baru bangun tidur bersama.Ia mengetik pesan balasan di ponsel Davin.[Tunanganku sedang tidur. Kamu sangat tidak sopan menghubungi tunangan orang lain pagi-pagi sekali.]Setelah terkirim, Natala segera meletakkan kembali ponsel Davin di atas meja, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, senyum kemenangan terukir di bibirnya.Sementara itu di kediaman Dina, wanita itu baru saja membaca pesan singkat dan melihat foto yang dikirim. Dunia Dina seakan berhenti. Ia tahu pasti itu ulah
Sudah berhari-hari Dina tidak mendengar kabar apa pun dari Davin. Bukan hanya kepergiannya yang mendadak ke Bali, tapi kabar tentang pencarian bukti yang seharusnya dilakukan orang suruhannya pun menguap tanpa jejak. Davin seolah diam tanpa peduli. Meskipun Dina sudah mengirim pesan berulang kali dan mencoba menghubunginya, Davin sama sekali tak merespon.Apakah ucapan Arka benar? Apakah Davin hanya mau bersenang-senang dengannya?Jika memang begitu, rasanya sungguh sangat menyesakkan. Ia tidak terima jika dirinya hanya menjadi permainan sesaat. Semua momen yang mereka bagi—dua kali berbagi kehangatan, ciuman, dan janji-janji manis yang mereka ukir—apakah itu semua hanya sandiwara belaka?"Mas Davin, kenapa tiba-tiba menjauh seperti ini?" bisik Dina pada dirinya sendiri.Dina mengusap wajahnya yang terasa tegang dan panas. Dadanya terasa sesak luar biasa, ditekan oleh rasa sakit karena diabaikan. Davin telah menghilang tanpa kabar, seolah ia memutus hubungan yang telah mereka bang
Tiga hari setelah insiden kebakaran tersebut, Ramdani dan Rina kembali menemui Arka. Mereka datang untuk meminta penjelasan terkait klaim asuransi restoran yang nasibnya masih menggantung.Ayah dan ibu Dina duduk di ruang tamu mewah itu, raut wajah mereka penuh harap dan kecemasan yang kentara. Sementara itu, Arka duduk berhadapan dengan mereka. Dengan ketenangan dan penguasaan informasi yang total, ia dengan mudah mengambil peran sebagai juru bicara tunggal."Asuransi menolak klaim penuh, Pa," ujar Arka, wajahnya tampak sedih dan penuh simpati di hadapan Ramdani dan Rina. "Katanya ada celah kecil di dokumen polis karena renovasi terakhir tidak dilaporkan dengan benar. Mereka hanya mau menanggung dua puluh persen. Sisanya, kita harus siapkan sendiri."Dina melihat betapa terpukul dan kecewanya Ayahnya saat itu, terlihat dari helaan napas berat yang keluar dari Ramdani."Tapi tenang, Pa. Aku sudah menyiapkan uang tunai untuk membantu semua biaya perbaikan," ujar Arka, suaranya terd
Dina kembali ke rumah, melewati hari dalam kegelisahan yang menyiksa. Ia masih berpegangan pada benang tipis harapan bahwa orang suruhan Davin akan menemukan bukti yang bisa membongkar kejahatan Arka. Bukti itu adalah satu-satunya harapan yang ia miliki untuk melawan. Ia terus menunggu, memeriksa ponselnya setiap beberapa menit, namun yang ia dapati hanyalah keheningan dari Davin. Dua hari tanpa kabar, tanpa kepastian, terasa seperti dua tahun.Pagi itu, saat sarapan yang kaku seperti biasanya, Arka datang dengan sebuah senyum yang terlalu lebar. Ia menyerahkan tablet di depan Dina, meluncurkannya di atas meja. Dina menatap layar itu, dan seluruh darahnya serasa ditarik ke bawah. Ia hanya bisa tercengang, lidahnya kelu.“Dia bahkan sudah meninggalkanmu terlebih dahulu,” ujar Arka, suaranya dipenuhi kepuasan yang brutal, menikmati setiap inci wajah pucat Dina.Di layar tablet itu, Dina bisa melihat sebuah artikel gosip besar. Foto Davin yang bersinar cerah, menggandeng Natania. Judu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore