FAZER LOGINSambutan hangat yang diberikan keluarga Broto, membuat Yani terharu. IYani tidak pernah membayangkan jika keluarga Broto begitu membumi. Padahal mereka termasuk keluarga berada, jauh diatasnya. Namun, mereka tidak seperti kebanyakan. Bahkan, besan mereka tidak jauh berbeda. Yani berulang kali mengucap syukur. Ketakutan yang sempat menggelayutinya saat Dani mulai sering bertemu dengan Maya, hilang sudah. Makan malam itu berjalan lancar, penuh kehangatan. Satu yang disayangkan, Marlin tidak berada di tengah-tengah mereka, dan itu mendatangkan perasaan sedih dalam hati Yani. Ia berulang kali menggumamkan nama Marlin."Andai Bapak ada di sini. Akan terasa jauh lebih seru dan lengkap. Anak kita, pasti akan sangat bahagia." Satu bulir air mata menetes dari sudut luar netra Yani.Maya menggenggam erat tangan Yani. "Bapak melihat kita, Bu. Semoga bapak merestui ini semua."Mobil Dani meninggalkan kediaman Broto menuju tempat tinggal Yani. Acara makan malam berjalan sukses. Lamaran akan dila
"Maksudnya?" Yani menuntut Dani untuk memperjelas kalimatnya. Yani masih meragukan kemampuan telinganya menangkap maksud dibalik kalimat-kalimat yang ia dengar barusan. Jangan-jangan pria muda ini sedang menge-pranknya.Seperti sudah menduga sebelumnya, Dani kembali mengatakan hal yang intinya sama, bahwa ia ingin menikahi Maya, putri semata wayang Yani.Bingung dan ragu. Yani justru menatap kedua punggung tangannya lalu membolak-balik keduanya, seakan ingin menunjukkan jika perkara ini bukanlah perkara sepele, dan ia sedang berpikir keras tentang perkara ini. "Kami bukan dari keluarga kaya.""Tidak ada masalah. Keluarga saya pun tidak jauh berbeda.""Anak saya bukanlah seseorang yang sangat pintar.""Justru itu yang saya suka. Berarti saya bisa menjadi suami sekaligus guru untuknya."Maya semakin salah tingkah mendengar jawaban-jawaban Dani. Tekad Dani sepertinya sudah sangat bulat. Ia berhasil menjawab pertanyaan dan pernyataan Yani. "Dia belum lulus kuliah." "Maya bisa menerus
Maya menatap pria yang kini sedang menatap dalam ke arahnya. Pria itu menanti jawabannya. Keadaan toko saat itu sedang sepi. Pembeli terakhir baru saja pergi meninggalkan kasir, yang sudah dijaga oleh satu pegawai baru, yang direkrut Maya tiga hari yang lalu."Tidak lama. Paling lama satu jam." Dani berusaha meyakinkan Maya yang masih tampak ragu untuk menerima ajakannya."Mengapa tidak bicara di sini saja?"Dani menggeleng tidak setuju. "Tidak akan leluasa. Padahal apa yang akan saya sampaikan nanti sangat penting."Maya masih enggan untuk mengabulkan ajakan Dani. "Sebentar saja." Dani berusaha sekali lagi. " Harus meminta ijin ibu dulu? Oke. Mana ibu kamu?" Dani langsung saja berjalan menuju ruang produksi, mengacuhkan Maya yang berusaha mencegah langkahnya.Ia tidak punya banyak waktu. Hari ini ia harus menjelaskan sesuatu pada Maya dan Maya harus memberinya jawaban paling tidak besok.Yani yang sedang memberi instruksi kepada beberapa karyawan langsung menghentikan perkataannya k
Bantal yang berada di atas pangkuan Yani sukses jatuh bebas ke bawah. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya."Maaf, Bu. Bukannya apa-apa tapi saya rasa kok terlalu cepat jika kita sudah membahas soal ehm, rencana pernikahan. Hubungan mereka masih sebatas teman dan saya pikir terlalu terburu-buru jika kita sudah membahas hal yang lebih serius."Sari menangkap keberatan yang sangat jelas terlihat dari kalimat Yani. Mungkinkah dirinya sudah bertindak terlalu jauh? Tanpa berbicara dulu dengan Dani, ia langsung saja bertemu dengan Maya dan sang ibu."Hmmm. Mungkin Nak Maya bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan kalian berdua? Apakah kalian sudah membahas hal yang lebih jauh?" Hati Maya mencelos sesaat. Boro-boro membicarakan hal-hal yang menyerempet pernikahan, percakapan mereka berdua hanya percakapan ringan dan masih terkesan sangat kaku. Baik dirinya maupun Dani, seperti masih mencoba mengenal satu sama lain.Maya menggeleng. "Tidak, Bu. Kami hanya mengob
Semua orang yang ada di kamar Mita sontak menatap ke arah Dani yang tak kalah kaget dengan jawaban Brilian.Tatapan mereka menuntut penjelasan Dani sesegera mungkin."Kak???" Dinda mewakili semua orang di kamar itu. Dani gelagapan."Mungkin kita akan mendengar kabar baik hari ini?" Senyum Susan mengembang. Sari menatap lurus Dani. Putranya belum membicarakan apapun padanya. Tapi - Mengapa Bian bicara seperti itu? Dani hanya tersenyum. Dia tidak mengatakan apapun. Biar semua itu jadi urusan orang tuanya. Yang jelas, urusannya dengan Maya hanya akan menjadi rahasia antara dirinya dan Maya. Paling tidak, untuk saat ini."Doain, Tante. Siapa tahu ntar bertiga bisa lahiran bareng semua?" Dinda terkekeh geli. Ia mulai membayangkan kesibukan Sari dan Anggun. Pasti suasana saat itu akan sangat heboh." Ya, jangan barengan to.... Nanti mama bingung kalau ketiganya ngompol semua." Sari keberatan."Iya. Nanti mama harus ngurus cucu yang mana dulu kalau ketiganya nangis bareng?" Anggun ikut
Dani tersenyum hangat. "Besok saya ke sini lagi."Maya yang masih terkejut dengan kalimat ajakan Dani, tidak merespon. Ia terlanjur gugup hingga tidak mendengarkan kalimat Dani selanjutnya.Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Maya menerima tiga lembaran merah dari Dani. Sebuah tepukan kecil Brilian, sukses membuat Maya tersadar. Gadis itu langsung duduk jongkok di hadapan Brilian."Ada apa, Tampan?"Brilian tersenyum lebar mendengar pujian dari Maya. "Teyima kasih. Besok Bian jemput ya, Tante? Kita makan bayeng sama mama-papa, kakek-nenek, sama mama-papa Ija juga.""Oke " Maya tanpa pikir panjang menerima ajakan bocah laki-laki di depannya. Bagaimana nanti, urusan belakang. Yang penting ia menyenangkan hati pelanggan kecilnya dulu.Brilian mengangguk. Bocah itu lantas memutar tubuhnya ke rak belakang. "Bian boleh minta itu?" tunjuknya tanpa malu, seakan yakin jika Maya tidak akan menolak permintaannya."O-..." Maya hendak menjawab oke tapi langsung dipotong Dani."Buatkan nota baru!" Dani
"Kak!" panggil Dinda setengah berbisik, takut membangunkan Brilian yang masih tidur."Hmm?" Dani menjawab dengan malas, tidak rela jika tidur siangnya terganggu."Dipanggil papa.""Hah??" Dani sontak bangun dari tidurnya. Panggilan ini seperti jadi pertanda ada hal penting yang ingin dibicarakan Br
"Kamu?" Dinda tidak menyangka akan bertemu dengan sosok yang kini tersenyum ramah kepadanya."Selamat Siang."Dinda mengangguk. "Selamat Siang.""Silahkan diambil Kak coklat bubuknya. Biar saya ambil yang di belakangnya saja.""Oh, nggak apa-apa. Mbak-nya ambil dulu juga nggak apa-apa. Kan masih ba
Dinda menggandeng Brilian memasuki gedung tempat reuni SMA-nya diadakan. Arya masih mencari tempat untuk memarkir mobilnya. Sembari menunggu kedatangan Arya, Dinda merapikan rambut Brilian yang sedikit berantakan."Kita ada dimana sih, Ma? Bian belum penah ke sini, deh." Bocah laki-laki itu terus me
Dinda mencoba membuka kedua netranya. Hari masih begitu gelap, dan suasana masih begitu sunyi. Samar, terdengar rintik ujan mulai turun mengenai genteng, menyebarkan bau khas tanah. Tangan Arya masih memeluk erat tubuh Dinda, seakan enggan berada jauh dari wanita muda itu. Bukannya menyingkirkan t







