FAZER LOGINKekecewaaan Dinda karena tak kunjung lulus dari sidang skripsi, membuatnya bersumpah akan menerima pinangan pria yang mengajaknya menikah dalam waktu dekat. Tanpa diduga, petir menggelegar seakan mengamini sumpah Dinda. Akankah Dinda dapat melewati sidang skripsi untuk yang ketiga kali dengan hasil yang memuaskan? Atau perjuangannya berakhir di meja KUA? Simak perjalanan skripsi dan cinta Dinda berikut ini.
Ver mais"Oh. Itu Bian, Nek. Bian dulu yang punya adek. Om Dani sama Tante Mita menyusul nanti." Celoteh Bian membuat jantung Sari nyaris lepas dari tempatnya."Apa kamu bilang? Bian mau punya adek? Beneran?" Sari yang semula menatap Bian langsung mengalihkan tatapannya ke arah Dinda yang baru saja menambah isi mangkoknya dengan bubur sumsum. Ia tidak mau percaya begitu saja. Dinda terkekeh demi melihat ekspresi Sari. Ingin rasanya ia meneruskan drama ini tapi hati kecilnya melarang. "Menurut mama gimana?" Pertanyaan Dinda justru menambah rasa penasaran Sari semakin menjadi."Lah malah tanya mama? Mana mama tahu." Sari jadi uring-uringan sendiri. Ia tidak tahu akan bagaimana dirinya jika kabar itu benar adanya.Dinda diam sejenak. Ia menarik napas, mengatur perasaannya sendiri. Ia sendiri masih terkejut dengan kabar ini, bagaimana lagi dengan yang lain?"Kalau memang rezeki, enam bulan sepuluh hari, Bian akan resmi menjadi kakak." Dinda mengangsurkan foto hasil usg kepada Sari.Sari tidak s
Dinda menepuk punggung Mita. Ia menenangkan sahabatnya itu. Mita memang sangat sensitif setiap kali hamil. Ia mudah sekal menangis oleh hal-hal sepele. Apalagi menyangkut berita gembira seperti sekarang ini."Padahal kita nggak janjian'kan buatnya, Din?" ucap Mita disela isak harunya. Ia tidak dapat melukiskan perasaannya. Kehamilannya yang kembali berbarengan Dinda tidak pernah terlintas dalam benaknya.Dinda langsung saja tergelak. "Lu bikin gua sakit perut, tau nggak sih, Mit?" "Nah, gua'kan nanya beneran, Din. Mana kita tahu kalau kita bakalan bareng b-... "Dinda langsung menutup mulut Mita. "Ssst! Sudah-sudah-sudah. Jangan lagi lu terusin. Bahaya!"Mita langsung mengangguk-anggukkan kepala, memberi kode agar Dinda segera menyingkirkan tangannya dari mulutnya. Ia langsung menarik napas sebanyak yang ia bisa, lalu menghembuskannya."Semua ini berkat doa mama-mama semua, Mit. Ya tentu saja ada campur tangan Tuhan juga di dalamnya. Sekarang tugas kita merawat dan menjaga kehamilan
Mobil Dani meluncur cepat menuju dokter langganan Dinda dan Mita. Setelah melewati berbagai pemeriksaan, Dani mendapat selembar surat keterangan dan foto. Keningnya berkerut. Memandang foto hasil usg di tangannya dengan tatapan tidak percaya. Dokter harus mengulang tiga kali untuk membuat Dani benar-benar percaya dengan foto dan surat keterangan yang diberikan padanya."Ini serius, Dok? Dokter nggak sedang nge-prank saya'kan?" "Serius, Pak Dani. Delapan bulan lagi, anda akan menjadi seorang ayah."Perlu beberapa menit untuk ia benar-benar memahami jika semua itu adalah benar adanya. Gemuruh di dadanya membuat Dani merasakan sensasi deg-degan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia akan menjadi seorang ayah. Ketika sudah berada di luar ruangan, Dani langsung memeluk Sari yang ikut mengantar Maya ke klinik. Ia mengangsurkan lembaran foto kepada Sari. Wanita itu tertegun sejenak lalu berteriak kesenangan. Ia langsung mengirim pesan pada Dinda."Mama mau punya cucu lagi!" tulisn
Tepat pukul sebelas pagi keesokan harinya, suara lantang Dani menggema di kediaman Yani yang sudah dihias demikian rupa. Harumnya bunga melati dan sedap malam mendominasi. Aneka bunga segar menghiasi mulai jalan masuk hingga ruang tamu yang digunakan sebagai tempat akad nikah. "Saya terima nikah dan kawinnya Maya Safitri binti Marlin Sanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.""Sah?" tanya penghulu kepada para saksi."Sah." "Alhamdulillah." Ucapan syukur mengiringi doa yang dipanjatkan penghulu untuk kedua mempelai. Tak lupa juga wejangan pernikahan yang biasa diberikan untuk pengantin baru.Bulir air mata yang tadi menggenang di sudut mata Yani, akhirnya meluncur tanpa kendali. Bahunya terguncang hingga harus ditenangkan Dinda dan Mita. Yani mengangguk, membalas tangan Mita yang menggenggam erat kedua tangannya."Terima kasih. Semoga Maya bisa menjadi istri yang baik dan patuh pada suaminya.""Aamiin. Sekarang, Ibu harus maju ke depan. Itu, di sana. Mama sudah menunggu untuk
"Kalau ini gimana?" Fahri menyerahkan sebuah amplop putih seukuran foto 4R. Amplop itu tidak dilem, hingga siapa saja bisa membuka dan membaca isi kertas di dalamnya. Mita sontak mematung. Kedua netra berkedip berulang kali. Ia terus saja menatap amplop putih itu baru kemudian menatap Fahri."Did I
Indra menghentikan mobilnya sesaat ketika seorang wanita cantik keluar dari mobil sedan berwarna putih. Mobil itu yang baru saja berhenti di pelataran parkir depan kampus ekonomi. Ia tertegun sejenak. Ada rasa deg-deg-an yang perlahan merambat dalam hatinya. Hatinya mulai berdesir. Raut wajah wanit
"Bayinya sehat. Semoga bayinya sehat dan kuat ya, Bu Dinda." Ucapan yang samar terdengar, mengejutkan Mita. "Hah?! Itu Dinda yang dimaksud istri Pak Arya, bukan? Dinda sudah lahiran? Beneran udah lahiran?" Kedua netra Mita membola sempurna. Rasa bahagia tiba-tiba datang menyelimuti dirinya. Namun,
"Ada yang bisa menjelaskan kepada saya?" Arya menatap tajam Hasan. Hasan menghela napas. Apa yang ia takutkan kemarin, benar-benar terjadi. "Saya tidak bisa menjelaskan apa pun, Pak Arya. Sumber yang tepat ada di hadapan Pak Arya, dan beliau-lah yang lebih pantas untuk menjelaskan yang terjadi pagi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais