LOGIN“Kembalikan, itu bukan apa-apa!” Aku berusaha merebut kertas yang ada di tangan Alya.Alya menjauh, dia turun dari mejaku. Dia berjalan sambil membawa kertas itu.“Kalau bukan apa-apa, kenapa kamu sampai takut segitunya?”Alya menatap serius ke arah kertas itu. Bahkan dia beberapa kali menepis tanganku, saat kucoba merebut kertas itu dari tangannya.“Malik, ja-jadi ….”Aku menghela napas kasar, Alya sudah terlanjur membaca isi kertas yang berupa surat kesepakatan kontrakku bersama Arin.“Kalian nikah kontrak?” tanya Alya. Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.Terbongkarlah sudah, Alya telah mengetahui statusku bersama Arin.“Jelaskan padaku, kenapa kalian melakukan hal ini? Jelas ini melanggar, Malik!” ucap Alya. Dia menuntut penjelasan dariku.Aku terdiam menunduk, aku duduk sambil merenung. Alya mendekat, dia mengangkat daguku, terpaksa aku harus beradu mata, walaupun rasanya tidak nyaman dalam keadaan situasi seperti ini.“Jawab, Malik. Kenapa kalian melakukan ini? Pa
(POV Malik)Hari-hari telah berlalu, bahkan minggu pun telah berganti bulan. Sejak saat kepergian Arin, belum pernah aku berhenti mencari keberadaannya. Bahkan semua anak buahku kukerahkan. Tidak hanya itu, aku pun menambah anggota anak buah, berharap dan berharap bisa lebih membantu menemukan Arin.“Bagaimana? Apakah sudah ada perkembangan?”“Maaf, Pak Malik. Kami sudah berusaha, tapi sampai saat ini kami masih belum bisa menemukannya,” ucap salah satu anak buahku.Aku mengangkat sebelah tanganku ke udara. Mengisyaratkan supaya mereka keluar dari ruanganku.Entah harus berusaha seperti apa lagi. Perginya Arin seperti ditelan bumi. Tidak ada jejak, tidak ada tanda-tanda keberadaannya di mana.“Maaf, Bang Malik. Aku belum bisa menemukan mbak Arin. Temanku juga belum ada yang berhasil. Abangku susah sekali dihubungi, dia terlalu sibuk bekerja. Tapi aku sudah mengirimkan fotonya,” ucap Delon di dalam sebuah pesan masuk.Aku menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi. Kuputar-putar kursi y
(POV Raka)“Mau untung malah buntung, sial sekali aku malam ini, yang seharusnya menang banyak tapi malah mendapat ancaman besar.”Sepanjang jalan terus menerus aku merutuki nasibku yang selalu tidak mujur. Baru saja aku akan mendapatkan uang banyak. Namun, sialnya aku harus gagal.Lelaki itu, aku masih ingat lelaki yang sok-sokan menjadi pahlawan kesiangan itu. Dia adalah suami barunya Arin. Kesal sekali, kini aku tidak mendapatkan uang sepeser pun karena ulahnya.Dipecat dari pekerjaan, rumah disita, tabungan raib, dan Gita pergi. Lengkap sudah penderitaanku. Sempurna sekali nasib burukku. Entah dosa apa yang aku lakukan selama ini.Aku pikir Gita tidak akan seberani itu pergi dariku. Pasalnya Gita tidak memiliki tempat tujuan selain rumahku. Namun, sayangnya dia pergi, bersama hilangnya harta benda yang aku miliki.Awalnya aku mengira Gitalah yang mengambil semua yang aku miliki. Aku marah, aku sempat kecewa padanya. Namun, aku salah besar. Seorang juragan datang ke rumahku, mengus
“Bang Malik!”Aku terperanjat, melihat seseorang yang nyaris aku tabrak ini. Aku membantunya bangkit lalu membawanya ke pinggir jalan.“Sorry-sorry … apa ada yang luka?” tanyaku.“Tidak, Bang. Aku yang harusnya minta maaf. Soalnya aku yang salah, nyebrang sembarangan!” jawabnya.Aku meneliti keadaannya dari atas hingga ke bawah. Memang tidak ada yang luka. Syukurlah … aku pikir aku akan mendapatkan masalah baru malam ini.“Kamu … Delon, kan?” tanyaku memastikan.“Iya betul, aku Delon, Bang, adiknya teman Bang Malik. Sudah lama kita nggak ketemu, Abang nggak pernah lagi main ke rumah. Bagaimana kabarmu, Bang?” jawabnya.Ternyata benar, dia adalah Delon, adik sahabatku waktu kuliah dulu.“Kabarku baik, aku sibuk kerja, maaf. Kenapa malam-malam begini kamu lari-larian di jalan? Walaupun sepi tapi ini sangat bahaya. Ngomong-ngomong, sama siapa kamu di sini? Apa sama abangmu?” tanyaku. Aku menoleh ke sana kemari.“Aku sendiri, Bang. Aku habis nganter pacarku pulang habis nonton. Tapi tiba-
“Sudah kubilang jangan bahas itu lagi!” sentakku.Tanpa sadar aku telah membentak Alya. Seketika Alya terdiam membeku, dia tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya. Aku cukup merasa tidak enak padanya.“Sorry-sorry, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya lelah, tolong jangan bahas Arin dulu untuk sekarang ini,” ucapku.Alya menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum tipis menanggapi ucapanku.“It’s ok! Aku juga minta maaf,” sahut Alya lirih.Tidak seperti biasanya, jika ada Alya hatiku selalu bahagia. Selalu ada saja cerita seru yang mengalir yang kami ceritakan. Tidak pernah ada kekosongan saat kami bersama. Namun, berbeda dengan hari ini. Aku terlalu banyak diam. Bahkan bergerak pun rasanya aku tidak bersemangat.“Em … pesananku sudah sampai. Aku ke depan dulu sebentar, ya!” Alya menepuk kecil bahuku, setelah ia mendapat sebuah pesan masuk ke nomornya.“Ya!”Alya berlalu ke depan, sementara aku kembali mencoba menghubungi nomor Arin. Namun, tetap saja tidak bisa. Aku menghem
“Mau ke mana, Bi?” tanyaku, saat kulihat bi Saroh menenteng sebuah tas berukuran cukup besar.Kami saling berpapasan saat aku menginjakkan kaki di lantai bawah.“Maaf, Mas Malik. Saya sudah lancang ngomong blak-blakan kepada Mas. Jadi … lebih baik saya angkat kaki dari rumah ini. Sekali lagi saya minta maaf,” jawab bi Saroh.Aku berdiri menghadangnya, berkacak pinggang menatapnya tajam.“Taruh lagi tasnya, saya tidak memecat bi Saroh,” ucapku.“Tapi–”“Saya bilang taruh ya taruh! Saya tidak bisa masak, saya tidak mau mencari ART baru, dan saya ingin bi Saroh tetap bekerja di sini. Saya tidak ada waktu untuk berdebat dengan Bibi, saya harus segera mencari Arin,” tukasku, membuat bi Saroh membeliak.“Jadi … Mas Malik mau mencari mbak Arin?” tanyanya.“Ya, saya akan mencarinya. Bi Saroh tidak perlu pergi dari sini. Saya masih membutuhkan Bibi di sini. Kalau begitu saya pergi dulu!” jawabku.Aku melanjutkan langkahku, kunaiki mobilku seorang diri, tanpa mengajak sopir.“Arin, di mana kamu







