LOGIN“Enak rumputnya, Mas?” Demi menghibur diri, aku memasak satu mangkok rumput untuk suami dan maduku tanpa mereka sadari. Salah sendiri, sudah pelit suamiku bermain api dengan temanku hingga berujung dinikahkan paksa oleh warga. Tidak kusangka, berawal dari menolong seorang teman, kini aku harus merelakan berbagi suami dengan temanku sendiri. Temanku yang berusaha merebut semua milikku, suami dan semua benda yang susah payah aku kumpulkan bersama suamiku. Ironisnya, suamiku lebih membela temanku yang manipulatif. Aku dibuang begitu saja tanpa sepeser pun aku mendapatkan hakku selama bertahun-tahun menikah. Namun, tak kusangka, setelah lepas dari suami pelitku, aku mendapatkan semua yang belum pernah aku miliki. Materi, cinta, dan juga kebahagiaan dari lelaki lain.
View More“A-apa? Saya dipecat?”Bahkan aku tidak tahu apa salahku hingga berujung dipecat seperti ini. Yang kutahu, aku sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup.“Ya, Andrio tidak membutuhkan kamu. Jadi … sekarang adalah hari terakhir kamu bekerja di sini!” jawab Liska.Aku menoleh ke arah Andrio. Dia pun sama menatapku. Anak itu tampak sedih, segera dia naik dari kolam.“Mama nggak akan ke mana-mana!” teriak Andrio, dia merentangkan kedua tangannya di hadapan Liska, seolah sedang melindungiku.“Apa? Mama?” tanya Liska.“Iya, dia Mamaku. Kenapa?”Kulihat Andrio begitu membelaku, sampai-sampai dia berani melawan Liska. Padahal Liska adalah calon ibunya.Dari kejauhan, pak Rivan datang menghampiri kami.Andrio mendekat, dia meraih tangan ayahnya.“Papa, jangan pecat Mama! Aku mau Mama di sini, aku sayang Mama!”Pak Rivan terlihat bingung, sama halnya dengan Liska barusan.“Andrio, maksud kamu Mama siapa?” tanya pak Rivan.Andrio menoleh ke arahku, lalu menunjukku.“Itu Mamaku! Jangan pecat M
Aku membeliak, cepat-cepat aku bangkit lalu beringsut menjauhi pak Rivan.Tidak kusangka, ternyata otak pak Rivan tidak beres. Dia seorang penjahat wanita.“Kenapa, Arin? Bukankah kamu menginginkannya?” tanya pak Rivan.Aku menggelengkan kepala, aku merasa mual melihat tingkahnya. Namun, bukannya menjauh, pak Rivan malah semakin mendekat.“Jangan! Jangan dekati aku, aku mohon!” Aku mengatupkan kedua tanganku di depan dada.Seringai senyuman itu begitu sangat mengerikan. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika aku akan memasuki rumah seorang penjahat seperti ini. Kini harga diriku berada di ambang. Aku harus tetap mempertahankannya. Aku memang bukan gadis lagi. Namun, aku tidak mungkin melakukan hal itu dengan lelaki yang notabene-nya bukan suamiku.“Jangan teriak, kamu harusnya bersyukur. Andrio ternyata mengerti keinginan papanya. Nikmati saja!” bisik pak Rivan.Napasku memburu, mataku membulat sempurna. Ingin sekali aku menampar mulutnya yang lancang.“Tolong! Jangan sentuh aku!
“Andrio!” gumamku. Aku menduga ini adalah perbuatan anak itu. Aku berjalan cepat mendekati pintu. Kuputar handle pintu tersebut. Namun, sulit sekali untuk dibuka. Benar saja, pintu ini dikunci dari luar. “Pak pintunya dikunci!” seruku. Pak Rivan pun mendekati pintu ini. Hal yang sama ia lakukan sepertiku. Namun, hal serupa pun terjadi, pintu ini sulit untuk dibuka. “Pasti ini ulah Andrio lagi!” ucap pak Rivan. Dia menduga hal yang sama denganku. “Andrio! Papa tahu ini ulahmu, kan? Please, Nak! Hentikan sifat jahilmu. Jangan membuat Papa marah lagi!” cetus pak Rivan sambil menggedor pintu. Tidak ada sahutan sama sekali dari luar. Yang ada hanyalah hening semata. Bahkan penghuni lain pun tidak ada yang mendengar. Pak Rivan terus menggedor pintu ini. Berharap seseorang membukakan pintu ini. Namun, tidak ada hasil sama sekali. Kami benar-benar terkurung berdua. “Pak Rivan, sepertinya ini memang ulah Andrio. Saya tidak pernah memanggil Bapak. Saya diminta Andrio menunggu di
“Siapa, kamu? Main nyelonong masuk saja!” tegur wanita yang aku duga dia adalah Liska yang dimaksud oleh mbak Sugih tadi.“Maaf, saya lancang!” ucapku mengaku salah.Aku merasa gugup, bisa-bisanya aku melihat mereka bermesraan. Bahkan dengan pintu yang tidak dikunci. Bagaimana kalau seandainya Andrio melihat mereka seperti itu? Parah!Aku pikir pak Rivan sudah berangkat bekerja. Lantas siapa yang tadi keluar dengan mobil bagus kalau bukan pak Rivan?“Ehem … dia baby sitter Andrio yang baru!” seru pak Rivan.Aku membalikkan badan menghadap ke arah mereka berdua. Kini posisi mereka sedikit berjauhan.Aku harus siap, aku harus kuat mental. Aku harus siap jika pak Rivan akan marah padaku. Kesalahanku bukan hanya satu. Namun, dua. Selain datang kesiangan, aku juga ceroboh main masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu. Gawat!“Biasakan kalau masuk ke ruangan orang, ketuk pintu dulu! Kenapa kamu baru datang? Bukankah semalam saya sudah memberitahumu, untuk datang lebih pagi?” tanya pak Riva












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.