LOGIN“Enak rumputnya, Mas?” Demi menghibur diri, aku memasak satu mangkok rumput untuk suami dan maduku tanpa mereka sadari. Salah sendiri, sudah pelit suamiku bermain api dengan temanku hingga berujung dinikahkan paksa oleh warga. Tidak kusangka, berawal dari menolong seorang teman, kini aku harus merelakan berbagi suami dengan temanku sendiri. Temanku yang berusaha merebut semua milikku, suami dan semua benda yang susah payah aku kumpulkan bersama suamiku. Ironisnya, suamiku lebih membela temanku yang manipulatif. Aku dibuang begitu saja tanpa sepeser pun aku mendapatkan hakku selama bertahun-tahun menikah. Namun, tak kusangka, setelah lepas dari suami pelitku, aku mendapatkan semua yang belum pernah aku miliki. Materi, cinta, dan juga kebahagiaan dari lelaki lain.
View More“Bagus gelangnya, apakah aku boleh memakainya?”
“Jangan! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu memakai perhiasan ini. Bisa saja hilang dijambret orang. Aku tidak mau hasil kerja kerasku ini sia-sia.” Satu kotak berisi beberapa perhiasan tampak berkilau di dalamnya. Aku Arindi, menatap benda tersebut begitu takjub. Ingin sekali aku memakai salah satu dari perhiasan tersebut. Namun, aku hanya bisa berangan-angan tanpa bisa terwujud. “Kamu jangan salah paham dulu. Maksud aku, semua perhiasan ini cukup disimpan saja sebagai tabungan kita biar lebih aman. Aku tidak ingin hasil kerja kerasku hilang begitu saja. Aku ingin masa tua kita ada bekal, tidak perlu lagi capek-capek kerja sama orang. Cukup menikmati hidup saja dengan buka usaha mandiri!” Aku hanya bisa tersenyum getir, saat suamiku, mas Raka, melarangku untuk memakai perhiasan tersebut. “Ya sudah, tidak apa-apa, Mas. Aku paham maksud kamu baik. Aku mau masak, tapi bahan makanan sudah habis. Aku minta uang belanja,” ucapku, menengadahkan tangan ke arahnya. Mas Raka mengeluarkan uang sebanyak sepuluh ribu lalu memberikannya padaku. Aku yang biasa disapa Arin, menerima uang tersebut. Sambil berjalan, aku menatap uang itu dengan kebingungan yang setiap hari aku alami. “Uang segini aku harus beli apa? Sedangkan mas Raka nggak suka kalau teman nasinya hanya satu jenis,” gumamku. Aku terus berjalan hingga aku telah tiba di tempat penjual sayuran. “Hanya itu, Rin? Saya perhatikan, tiap hari kamu belanja hanya sepuluh ribu saja. Apa kamu lagi mengikuti trend tikotok?” tanya salah satu tetanggaku, yang kebetulan sedang membeli sayuran. “Ehem … suami saya sedang menunggu di rumah. Saya permisi!” pamitku, aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu dengan tatapan heran para tetangga ke arahku. Aku menghela napas panjang. Sepertinya mereka menganggapku sedang mengikuti tren sepuluh ribu di tangan istri yang tepat. Tidak, mereka belum tahu saja, keadaan yang memaksa diriku untuk hidup irit seperti ini. Sesampainya di rumah, aku segera mengolah sayuran itu. Namun, saat aku menghidupkan kompor, beberapa kali apinya tidak kunjung menyala. “Gasnya habis,” gumamku. Aku bergegas menghampiri mas Raka yang berada di dalam kamar, tiduran sambil memainkan ponsel. “Gas habis, aku minta uang untuk beli gas,” pintaku. Mas Raka menoleh ke arahku. “Perkara gas saja kamu sampai menggangguku? Kamu punya otak, kamu bisa berpikir bagaimana cara mengatasinya,” celetuk mas Raka. Ucapan mas Raka cukup tidak mengenakan di hati. Dalam situasi seperti ini, aku dipaksa untuk berpikir bagaimana mengatasi masalah yang aku hadapi. Aku tidak memiliki uang, semua tabungan, mas Raka yang menyimpan. “Baiklah!” Aku pun kembali ke dapur, aku tahu maksud mas Raka baik, ingin masa tua kami bahagia. Namun, jika ditanya apakah nafkah sepuluh ribu untuk satu hari cukup? Jawabannya tentu saja tidak. Di era modern ini, apa pun serba mahal. Aku menatap tabung gas cukup lama. Mencari jalan keluar supaya aku tetap bisa menyajikan makanan. Aku mendekati pintu belakang, mengedarkan pandangan menyisir lokasi belakang rumah. Lokasi rumah yang kami tempati banyak ditumbuhi pepohonan di sekitarnya. Aku menyunggingkan senyuman kecil, saat sebuah ide terlintas di dalam kepalaku. “Kenapa aku baru kepikiran?” Aku menjentikkan kedua jariku. Aku mengambil beberapa batu yang tergeletak di belakang rumah. Lantas menyusunnya hingga terbentuklah sebuah tungku darurat walaupun bentuknya sedikit aneh. Namun, tidak apa-apa, sebagai wanita aku harus serba bisa. Setelah tungku itu jadi, aku memungut patahan dahan dan ranting kayu. Aku mulai memasak dengan bahan bakar seadanya. “Masakannya sudah matang, Mas. Mari makan!” seruku, membangunkan mas Raka yang masih berkutat dengan ponselnya. “Ya!” sahut mas Raka, ia keluar dari dalam kamar, lantas pergi menuju ruang makan. “Mas, apa nggak sebaiknya aku saja yang menyimpan tabungan kita? Em … maksud aku … aku juga bisa kok kamu percaya,” ujarku. Aku mulai menyantap masakanku, duduk bersebelahan dengan mas Raka. Tak kusangka, mas Raka tiba-tiba menghentikan makannya. Ia menoleh ke arahku, tatapannya sungguh membuatku merasa tidak nyaman. “Maaf, aku percaya kok sama kamu. Tapi lebih aman jika aku yang menyimpannya.” Aku menghela napas panjang, aku pikir mas Raka akan marah padaku. Namun, ternyata tidak. Nada bicaranya lembut, sungguh menenangkan hati walaupun aku merasa keiritan di dalam rumah tangga kami membuatku cukup menguras pikiran. “Iya, Mas. Aku paham, tidak apa-apa, kamu saja yang menyimpannya,” sahutku. Siang ini aku tengah sibuk menjahit baju robekku dengan tangan di teras rumah. Lumayan, walaupun robek, masih bisa dijahit dan bisa dipakai. Kalaupun ingin membeli yang baru, aku harus menunggu lebaran tiba, itu pun jika mas Raka mendapatkan THR dari tempat kerjanya. Sementara mas Raka, ia menghabiskan waktu libur kerjanya hanya di rumah. “Aw!” pekikku. Untuk yang kedua kalinya tanganku tertusuk jarum. Namun, aku terus melanjutkan aktivitas menjahitku, karena besok aku harus pergi ke kondangan pernikahan temanku. “Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, membuka kacamata yang sedari tadi bertengger di hidung. Seorang wanita berdiri di hadapanku. Membawa tas jinjing, dan beberapa kali ia mengusap kedua matanya. “Gita!” Aku menyimpan bajuku di atas meja. Berdiri lalu menghampiri wanita yang ternyata adalah temanku. Menjatuhkan tasnya, Gita berhambur memelukku. Menangis sesenggukan di dalam pelukanku. “Kenapa? Ada masalah?” tanyaku. “Aku diusir dari rumah, ibu tiriku menguasai rumahku, dan ayahku hanya diam saja.” Gita menumpahkan tangisannya. Aku berusaha menenangkan. Kami mengurai pelukan, wajah Gita basah dan kemerahan. Kulihat dia sangat terluka atas perlakuan keluarganya. Aku bisa memahami kesakitan yang Gita rasakan. “Kamu yang sabar, Git. Sebaiknya kita masuk ke dalam, kamu terlihat sangat lelah,” ajakku. Aku meraih tas Gita yang tergeletak di teras, membawanya masuk sambil menuntun wanita itu. “Kamu duduk dulu, aku ambil minum dulu di dapur!” ujarku, Gita menurut, ia duduk di ruang tamu. “Ada tamu? Siapa?” Mas Raka baru saja keluar dari kamar mandi, kami berpapasan saat aku pergi ke dapur. “Gita, temanku. Dia diusir dari rumah, aku mau buatkan minum untuknya,” jawabku. “Oh!” Mas Raka berlalu dari hadapanku. Aku segera membuatkan minum. “Diminum dulu. Jangan terlalu banyak pikiran.” Aku menaruh segelas teh di atas meja. “Terima kasih, Rin. Aku minta solusi, aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus tidur di kolong jembatan, di jalanan? Aku tidak punya uang untuk mengontrak rumah,” ucap Gita. “Aku tidak tahu, Git. Nanti aku minta pendapat suamiku. Sekarang kamu istirahat saja dulu di sini,” jawabku. “Kamu tunggu sebentar, aku mau ambil bajuku dulu di teras,” lanjutku. “Em … Rin. Boleh aku numpang ke kamar mandi?” tanya Gita, yang kubalas dengan anggukan. Aku mengambil baju yang telah selesai kujahit. Aku kembali ke dalam, kudengar suara ponsel mas Raka berdering di dalam kamar. Namun, aku tidak menemukan suamiku di dalam sana. “Dari bos,” gumamku. Aku mencari mas Raka sambil membawa ponselnya. Langkah kakiku terhenti saat kulihat mas Raka berdiri di depan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.“Mama!” panggil Andrio, dia berlari dan memelukku erat.Aku mengusap punggungnya, anak itu sudah terlihat lebih sehat dibanding kemarin.“Oh hai … jadi ini pacar barumu, Mas?” sapa seorang wanita muda, cantik, dan berpenampilan modis.Wanita itu berdiri mendekatiku. Sementara aku diam tidak mengerti. Lantas menoleh ke belakang, dan … aku tidak menemukan siapa pun selain diriku. Namun, tidak mungkin yang dimaksud wanita itu adalah aku. Sangat mustahil.“Ya, dia Arin. Cantik, bukan?” sahut pak Rivan.Aku membeliak, situasi ini semakin membuatku seakan mengambang. Berusaha mengerti. Namun, aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa pak Rivan menganggapku adalah pacar barunya? Bahkan pak Rivan pun tidak pernah menyatakan cinta padaku. Namun, kini dia membawaku ke keluarganya, dengan status seorang pacar?“Hai, Mbak Arin! Aku Sheila. Mbak Arin cantik, ya! Pantas Andrio selalu muji-muji Mbak kalau setiap kali menelponku!” seru wanita yang bernama Sheila itu.Aku mengangguk, tersenyum kecil. Nam
Aku membeku, mencerna baik-baik kalimat terakhir yang terlontar dari mulut pak Rivan barusan.“Apa maksudnya?” Pertanyaan itu berputar dalam otak.Kulihat mobil pak Rivan telah menghilang dari pandangan. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam.“Baru pulang, Rin?” tanya Gita.Gita baru saja terbangun, karena mendengar suara pintu kamar dibuka.“Iya, aku pulang telat malam ini,” jawabku.Kutaruh paper bag ini di atas nakas. Menggantungkan tas kecil pada paku. Gita bangkit, memandangi paper bag.“Apa itu?” tanyanya.“Hanya baju, pemberian majikanku!” jawabku.Aku mengganti pakaianku dengan pakaian santai, bersiap untuk tidur. Sementara Gita meraih paper bag itu, membuka isinya.“Wih … bagus banget, Rin. Kok bisa majikan kamu membelikan gaun sebagus ini?” tanya Gita.Aku menghembuskan napas kasar. Lantas membaringkan diri di atas kasur tanpa ranjang ini.“Entahlah, yang jelas besok jam sepuluh aku harus memakainya. Majikanku mau jemput aku ke sini, dan … katanya adiknya mau datang sama o
“Siapa, kamu? Lepas!” teriakku.Aku memberontak berusaha melepaskan diri. Namun, tenagaku kalah kuat, aku terlalu lelah untuk melawan.“Tolong! Tolong!” teriakku. Berharap ada orang lain melewati jalan ini, dan menolongku.“Hei! Ada apa? Kenapa teriak-teriak?”Aku terdiam, seketika aku tersadar ternyata tidak ada yang menyeretku masuk ke dalam mobil.Kedua bahuku berguncang, seseorang tengah berusaha menyadarkanku.“Pak Rivan!” gumamku. Seperti orang bodoh, aku melongo dengan tatapan kosong.“Kamu kenapa? Melamun?” tanyanya.Aku menyibak rambutku ke belakang. Ternyata aku memang melamun, sehingga kejadian yang baru saja yang aku alami, terasa sangat nyata. Bisa-bisanya aku berhalusinasi seperti ini. Kacau!“Iya, sepertinya saya melamun,” jawabku.“Ini malam, gelap, usahakan kamu fokus. Sekarang masuk mobil saya!” titah pak Rivan.Aku mengernyitkan dahiku, bingung mau apa sebenarnya pak Rivan menyuruhku menaiki mobilnya. Padahal jam kerjaku telah selesai.“Kenapa diam? Cepat masuk!” ti
“Ya! Aku menyukainya! Puas, kamu?!” sentak pak Rivan.Aku membeliak, tidak kusangka jawaban pak Rivan sangat menohok. Namun, aku tidak mampu berkata apa pun, hanya bisa menggeleng kecil sebagai bantahan.“Ka-kamu bercanda, kan?” tanya Liska. Bicaranya pun berubah gugup.“Tidak, aku memang menyukainya. Memang itu, kan, jawaban yang ingin kamu dengar? Aku sudah menjawabnya, sekarang kamu puas?” jawab pak Rivan.Liska mengerjapkan mata dengan hati yang terluka. Cairan kesedihan itu tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa bisa dia tahan.“Kenapa kamu tega?” tanya Liska. Suaranya nyaris tidak terdengar.“Tega? Kamu bilang aku tega?” Pak Rivan memalingkan wajah beberapa detik. Sebuah senyuman ia ukir. Bukan manis. Namun, miring.“Dengar! Kamu yang mendesakku untuk menjawabnya. Dan … itu jawabannya, aku memang menyukai Arin. Aku harap kamu puas, karena memang itu jawaban yang kamu tunggu, bukan?”Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Mereka yang memiliki hubungan, kenapa aku yang mesti dilibat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.