Mag-log inPukul sembilan pagi, Nora sudah berdiri di lantai wilayah unit Liam berada.
Nora berdiri tegap, menipiskan bibirnya. Semalaman ia hampir tidak tidur. Dokumen proposal yang ia temukan kemarin masih terbayang jelas di kepalanya. Berkali-kali ia mencoba mencari alasan yang masuk akal untuk membela Liam, tetapi semakin ia mengingat semuanya, semakin sulit baginya untuk menyangkal kenyataan. Ia tidak datang untuk meminta penjelasan tentang hubungan mereka. Ia datang untuk menuntut jawaban atas sesuatu yang menjadi haknya. Setelah menarik napas panjang, Nora melangkah masuk. "Loh, Bu Nora? Ada yang bisa kami bantu?" sapa petugas seperti resepsionis di dekat lift. "Saya ingin bertemu dengan Tuan Liam." "Maaf, Bu, tapi Tuan Liam sedang ada agenda." "Kalau begitu, saya bisa menunggu." Nora memilih duduk di sofa ruang tunggu. Ia mengeluarkan ponsel, membuka ruang percakapan dengan Liam, lalu mengetik pesan. Pada akhirnya, nomor yang semula ia blokir itu terpaksa ia hubungi lagi.Aku sudah berada di dekat ruanganmu. Kita perlu bicara. Pesan terkirim. Satu menit berlalu. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada balasan. Nora mencoba menelepon. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum panggilan terputus dengan sendirinya. Ia mengembuskan napas kesal. "Lho, Ibu Nora?" Seorang perempuan berpenampilan rapi berdiri di hadapannya. Rambut hitamnya disanggul rendah, sementara blus putih dan rok hitam yang dikenakannya tampak begitu serasi. Nora mengenal wajah itu. Angel. Asisten pribadi Liam, sekaligus selingkuhan pria itu. "Ya?" "Maaf, saya baru mendapat informasi kalau Anda ingin bertemu Tuan Liam." "Bagus. Kalau begitu, tolong sampaikan bahwa saya menunggu." Angel tersenyum tipis. "Sebenarnya, Tuan Liam sedang sangat sibuk. Jadwal beliau hari ini cukup padat." Nora menatapnya lekat-lekat. "Angel, saya tidak datang untuk membicarakan hal pribadi. Ini menyangkut proyek perusahaan." Senyum Angel tidak berubah. "Oh, begitu. Kalau boleh tahu, proyek yang mana?" Nora terdiam sesaat. Ada sesuatu dalam nada bicara perempuan itu yang membuatnya merasa sedang dipancing. "Saya perlu bicara langsung dengan Liam." Nora tak lagi menyebut Liam dengan embel-embel Tuan. Sudah muak. "Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan tugas." Kalimat itu terdengar begitu sopan. Namun, entah mengapa, Nora merasa sedang diusir secara halus. Ia bangkit dari sofa. "Kalau begitu, saya akan menghubunginya sendiri." Angel kembali tersenyum, terlihat seperti mengejek. "Silahkan." Nora meninggalkan gedung dengan perasaan yang kesal yang mendalam. *** Hari berikutnya, Nora kembali mencoba menghubungi Liam. Entah ada apa dengan pria itu, semua saluran komunikasi bahkan seperti tidak berfungsi. Apa dia kabur? pikir Nora dalam hati. Panggilan pertamanya tidak dijawab. Pesan yang ia kirimkan juga hanya berakhir dengan dua tanda centang abu-abu. Ketika Nora mencoba datang sore harinya, Angel kembali menyambutnya. "Tuan Liam baru saja keluar,." ucapnya spontan seakan tahu tujuan Nora. Nora mengerutkan kening. "Keluar ke mana?" "Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi mengenai agenda pribadi beliau." Nora mengambil napas panjang seraya memejamkan mata sejenak. "Saya sudah datang tiga kali. Saya hanya ingin berbicara dengannya selama beberapa menit." Untuk pertama kalinya, senyum Angel tampak sedikit memudar. Namun, hanya sesaat sebelum kembali terpasang dengan sempurna. "Mungkin memang belum ada waktu yang tepat." ucapnya dengan bola mata yang memutar malas. Nora menatap perempuan itu tanpa berkedip. "Entah mengapa saya merasa bahwa kau sengaja berbuat seperti ini? Katakan yang sebenarnya, di mana Liam?!" Nada bicara Nora berubah menjadi lebih dalam. Setiap kata ia beri penekanan. Tak lupa, tatapannya menjadi lebih sinis pada Angel yang benar-benar mencurigakan. Angel akhirnya tertawa kecil. Dengusan samar juga terdengar darinya. "Anda tidak bisa terus seperti ini, loh..." Nora mengerutkan kening. "Memangnya kenapa? saya tidak merasa melakukan sesuatu yang salah." Angel terdiam sejenak. Kemudian, ia menurunkan suaranya. "Saya hanya menyarankan agar Anda menjaga harga diri." Nora membeku. "Apa maksudmu?!" Angel memasang ekspresi iba. "Saya tahu hubungan Anda dengan Pak Liam baru saja berakhir. Tapi, datang ke kantor berkali-kali seperti ini mungkin akan menimbulkan kesalahpahaman, loh." Nora menatapnya tak percaya. Namun, ia juga sadar, apa yang dikatakan rubah itu ada benarnya. Nora sudah tak tahan. Pada akhirnya ia memilih pergi sebelum ketenangannya benar-benar terenggut. Namun, saat berjalan melewati lobi, ia mendengar dua orang karyawan berbicara pelan di dekat pintu masuk. "Itu yang katanya mantan tunangan Pak Liam, ya?" "Iya. Katanya, dia masih terus mengejar-ngejar Tuan Liam." "Serius? Padahal sudah putus?" "Entahlah. Ada yang bilang dia sampai datang berkali-kali ke kantor dan memaksa bertemu." Langkah Nora mendadak terhenti. Ia menoleh. Kedua karyawan itu langsung terdiam ketika menyadari dirinya mendengar percakapan mereka. "Ada kesialan apa lagii ini, Tuhan... " gumamnya seraya memejamkan mata lelah. Ia lantas merogoh ponsel di sakunya, kembali menacari angka yang sudah lama tak ia hubungi, lebih tepatnya, ia hindari."Baiklah, jika itu maumu, aku terpaksa akan memancingmu keluar, menuntut jawaban." gumamnya.
"...halo?"
Nora kini sudah berdiri tepat di depan bangunan yang menjulang tinggi, perusahaan barunya. Lebih tepatnya, rival bisnis perusahaan lamanya.Ia menarik napas panjang sebelum memantapkan hati untuk melangkah masuk. Ada rasa gugup yang tidak bisa dipungkiri. Tempat baru, pekerjaan baru, dan tanggung jawab yang mungkin jauh lebih besar daripada sebelumnya. Tak hanya itu, Nora juga sedikit merasa was-was akan lingkungan baru yang akan ia pijaki, budayanya, dan....sifat orang-orangnya. Jangan salahkan Nora, pengalamannya di perusahaan sebelumnya tak dapat dipungkiri berhasil mengukir sedikit luka. Tapi, Nora berusha menepis rasa itu. Ia tak mau lemah. Ia harus tetap tegar dan kuat demi bertahan hidup.Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa sedang berjalan menuju sesuatu yang benar-benar dipilihnya sendiri. Dia merasa, keputusannya kali ini sanbat benar. Entahlah, ia memiliki feeling bahwa tempat barunya ini akan memberi banyak feedback positif untuknya.Setelah menye
Liam menatap layar laptopnya dengan rahang mengeras.Artikel pertama yang muncul sejak pagi sebenarnya tidak terlalu mengganggunya. Sebuah akun gosip mengunggah foto Nora di lobi kantornya dengan judul yang menyudutkan perempuan itu, seolah-olah Nora masih mengejarnya setelah hubungan mereka berakhir.Liam tahu foto itu diambil ketika Nora datang menemuinya.Dia juga tahu siapa yang kemungkinan besar bertanggung jawab.Angel, Asisten sekaligus wanita yang sudah dicap sebagai "selingkuhan" Liam oleh NoraWanita itu memang pernah mengatakan bahwa Nora datang ke kantor dan menolak pergi sebelum bertemu dengannya. Liam tidak tahu Angel sampai mengambil foto dan menyebarkannya. Namun, dia cukup mengenal perempuan itu untuk menduga bahwa tindakan tersebut bukan sesuatu yang mustahil dilakukan Angel.Liam mengembuskan napas, kemudian mengalihkan pandangan ke layar ponselnya.Tidak ada pesan dari Nora.Seharusnya dia tidak perlu memikirkannya. Hubungan mereka sudah berakhir. Nora pun sudah be
Pagi itu, Nora baru saja menyalakan komputer di mejanya ketika sebuah notifikasi muncul di layar ponsel. Sebuah artikel dari website internal perusahaan. Awalnya, Nora sama sekali tak memiliki niatan untuk membukanya. Namun, foto yang terpasang di bagian atas membuat jarinya berhenti bergerak. Itu foto dirinya di lobi unit kerja Liam. Diambil dari sudut yang cukup jauh, walaupun agak blur, wajahnya masih terlihat jelas. Ia mengenakan pakaian kerja yang sama seperti hari ketika ia datang untuk meminta penjelasan. Dalam foto itu, Nora tampak berdiri di dekat meja resepsionis, berbicara dengan seseorang yang sudah pasti adalah Angel. Judul artikelnya dicetak besar.MANTAN TUNANGAN EKSEKUTIF MUDA MASIH BERUSAHA MENGEJAR? BERKALI-KALI DATANG, TAK KUNJUNG DIGUBRIS. Nora mendecak kecil, "Tck, ada-ada saja," Ia lantas membukanya. Tidak ada nama yang dicantumkan secara langsung. Namun, foto dan detail yang ditulis sudah cukup untuk membuat orang-orang mengetahui siapa perempuan yang dima
“Nora, aku baru melihat pesanmu. Ponselku mati sejak kemarin." Pria itu berujar dengan napas yang masih tersenggal-senggal. Wajahnya menunjukkan ekspresi menyesal, yang bahkan di mata Nora masih terlihat tulus.“Tidak masalah. Sekarang kau sudah di sini.”Nora menoleh kepada Mama Liam. “Tante, boleh kami bicara berdua sebentar?”Mama Liam terlihat tidak terlalu senang, tetapi akhirnya mengangguk “Baiklah. Mama ada di ruang makan kalau kalian membutuhkan sesuatu.”Setelah wanita itu pergi, Nora menatap Liam. “Aku tidak akan lama.”Liam mengusap tengkuknya. “Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?”“Proposal tender yang kau menangkan.”Raut wajah Liam langsung berubah walau agak samar. Hanya sesaat, tetapi Nora melihatnya.“Proposal yang mana?” tanyanya dengan wajah bingung yang terlihat dibuat-buat.Nora terkekeh hambar. “Jangan berkilah seperti itu, Liam.”“Aku serius.”“Tidakkah kau merasa bahwa proposal yang kau usung itu memiliki gagasan dan analisis yang persis seperti proposal y
Hari Minggu yang harusnya menjadi satu-satunya waktu Nora untuk merilekskan diri terpaksa ia habiskan untuk berada di sini. Di depannya sudah menjulang hunian minimalis yang tampak mewah, dengan cat krem yang senada. Nora mengeratkan genggamannya pada tali tas di bahunya, ia menarik napas panjang seraya menghembuskannya perlahan. Benar, meskipun dirinya sudah bertunangan selama hampir tiga tahun lamanya, Nora masih belum merasa "diterima". Meskipun di depan Nora mereka memang menampilkan senyum ramah, tapi kalimat yang selalu tersampaikan oleh mereka selalu mengandung makna tersirat. Entahlah, bahkan Nora sendiri tak tahu bagaimana ia juga bisa kuat menghadapi itu semua selama ini. Ia bahkan pernah berpikiran untuk tutup mata dan tutup telinga apabila hubungan mereka tetap berlanjut hingga jenjang pernikahan."Non Nora?" tanya satpam kediaman Liam saat melihat Nora setelah sekian lama. "Tumben sekali, Non? mari, masuk."Nora hanya mengangguk kecil dengan senyum lebar. "Terima kasih, P
Pukul sembilan pagi, Nora sudah berdiri di lantai wilayah unit Liam berada. Nora berdiri tegap, menipiskan bibirnya. Semalaman ia hampir tidak tidur. Dokumen proposal yang ia temukan kemarin masih terbayang jelas di kepalanya. Berkali-kali ia mencoba mencari alasan yang masuk akal untuk membela Liam, tetapi semakin ia mengingat semuanya, semakin sulit baginya untuk menyangkal kenyataan. Ia tidak datang untuk meminta penjelasan tentang hubungan mereka. Ia datang untuk menuntut jawaban atas sesuatu yang menjadi haknya. Setelah menarik napas panjang, Nora melangkah masuk. "Loh, Bu Nora? Ada yang bisa kami bantu?" sapa petugas seperti resepsionis di dekat lift. "Saya ingin bertemu dengan Tuan Liam." "Maaf, Bu, tapi Tuan Liam sedang ada agenda." "Kalau begitu, saya bisa menunggu." Nora memilih duduk di sofa ruang tunggu. Ia mengeluarkan ponsel, membuka ruang percakapan dengan Liam, lalu mengetik pesan. Pada akhirnya, nomor yang semula ia blokir itu terpaksa ia hubungi lagi.Aku suda







