ANMELDENSelama tiga tahun bertunangan, aku selalu menjadi pilihan kedua. Baginya, pekerjaan lebih penting. Rekan kerjanya lebih diprioritaskan. Hingga.. di hari ayahku meninggal, aku akhirnya tersadar. Aku tidak sedang kehilangan calon suami, melainkan… Seseorang yang tak pernah benar-benar memilihku, dari awal. Saat hatiku mulai mengeras, pria lain datang. Dia…musuh mantan tunanganku. Sungguh, pria itu aneh. Ia selalu mencari cara untuk mendekat. Aku tak tahu pasti tujuannya apa. Aku hanya berharap, takdir tak akan mempermainkanku lagi dengan jenis cerita yang sama.
Mehr anzeigenLorong itu begitu terang dengan kesunyian yang menyesakkan. Tak ada kalimat yang mampu mendeskripsikan betapa bencinya Nora di sana. Bau antiseptik selalu menguar, membuatnnya tak nyaman. Malam ini, aroma menyengat itu bahkan terasa lebih menusuk daripada biasanya.
Nora duduk di kursi besi yang begitu dingin, tepat di sebelah ruangan yang bertuliskan ICU dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Dirinya tak sendirian. Ada beberapa orang yang memiliki nasib sepertinya, menunggu di atas besi dingin itu seraya terus melantunkan do’a dalam diam. Meskipun ada sekitar lima hingga enam orang di sana, nyatanya, hal itu tak mampu menghilangkan keheningan yang menyelimuti lorong itu. Suasana di sana membuatnya gusar. Seolah-olah setiap tarikan napas megingatkannya bahwa hidup ayahnya sedang bergelut dengan waktu di dalam sana. Dipandangnya ruang bertuliskan ICU itu. Belum ada dokter yang keluar. Anehnnya, Nora tak berharap ada. Apa kalian tahu mengapa? Setiap tarikan pintu itu akan membuatmu tahu rasanya bermain-main dengan maut. Gesekan dan decitan yang keras kala pintu itu terbuka akan membuatmu terlonjak. Bukan hanya karena respon alamiah tubuh akibat terkejut. Tetapi juga karena was-was dengan nama keluarga yang terlontar dari mereka. Panggilan keluarga itu hanya memiliki dua arti di sana. Pasien menunjukkan respon pemulihan yang baik, atau sebaliknya. Kabar itu, entah akan membuatmu sujud syukur karena anugerah dan berkah dari Tuhan. Atau…melemahkan saraf-sarafmu karena kehilangan. Nora menarik napas panjang. Ponselnya kembali menyala. Secercah harapan tiba-tiba menyeruak hatinya membuat Nora buru-buru mengangkat layar. Bukan telepon. Ternyata…hanya notifikasi pemberitahuan tagihan listrik yang akan jatuh tempo. Nora bergulat dengan kesibukan yang membuatnya sampai melupakan beberapa kewajiban. Sudut bibirnya bergetar pelan. Ia membuka daftar panggilan. Dilihatnya nama yang sama memenuhhi layar. Lima panggilan tak dijawab, dan tiga pesan yang sama sekali belum terbaca. “Ayah masuk ICU.”“Kalau sempat, tolong datang.”“Di sini, aku benar-benar butuh kamu.” Nora menarik napas panjang. Pada akhirnya, wanita itu menekan tombol panggil dengan ragu. Nada sambung langsung menyambut indra pendengarannya. Sekali. Dua kali. Tiga kali Empat kali. Baru di kali kelima, panggiran itu terangkat. “Liam…”“Nora, aku lagi meeting.” Suara pria itu terdengar buru-buru. Nora juga dapat mendengar samar riuh percakapan orang-orang yang berada di belakang layar. “Ayah masuk ICU, belum ada kabar lagi dari dokter.”“Aku tahu. Tadi sempat baca chat yang kau kirim.” “Liam… aku takut. Aku –“ Helaan napas terdengar dari seberang. Liam sepertinya ingin mengucapkan sesuatu, namun terhenti untuk sesaat. Nora saat ini tak lagi mendengar riuh percakapan samar di awal tadi. Panggilan itu, mendadak hening. “Liam?” panggil Nora untuk memastikan keberadaan Liam di seberang. Dengan nada yang tampak buru-buru, pria itu menjawab Nora. “Nora, meeting-nya mau dimulai. Aku tutup dulu, ya?” Nora menggigit bibir bawahnya. Ia tahu dirinya tidak boleh egois. Liam sedang sibuk saat ini dan tak bisa diganggu. Tap sampai kapan? Ini juga bukan yang pertama kalinya. Bahkan, selama satu tahun ini, pria itu tak pernah mengunjungi ayahnya. Pria itu sama sekali tak menyempatkan waktu untuk datang ke rumahnya. Meskipun status pertunangan mereka masih ada, rasanya hambar. Seperti tak memiliki makna. “Aku nggak minta waktu lama. Datanglah sebentar saja. Jenguk Ayah…” ucap Nora lembut. “Aku usahain.” jawab Liam singkat yang langsung memutus panggilan secara sepihak.Nora memandang ponselnya yang kini mulai redup, menamilkan layar hitam dan pantulan wajahnya yang terliha lesu. Matanya terpejam lelah. Entah sudah keberapa tunangannya itu seperti ini. Meeting. Selama beberapa tahun terkahir, hidup Liam selalu saja berputar pada kata itu. Dulu, setiap kali Nora mengeluh, pria itu selalu memeluknya seraya berkata, “Sabar, ya, sayang. Aku lagi kerja keras buat masa depan kita.” Panggilan sayang yang melantun lembut itu…hanya terlontar dari tunangannya saat membujuk Nora.
Nora kembali menatap ke dinding polos yang ada di depannya. Entah sejak kapan percakapan mereka menjadi sesingkat ini. Tak ada lagi kalimat manis. Tak ada lagi pertanyaan khawatir. Tak ada lagi kata-kata penenang. Yang tersisa hanyalah janji-janji yang terbalut kata ‘nanti’.JEGREGG Pintu keramat itu pada akhirnya terbuka. Pikiran Nora mengenai Liam langsung terputus. Netranya menatap ke arah pria berjas putih yang perlahan muncul dari pintu. Jantungnya berdegup kencang, takut akan kalimat yang meluncur dari sana. Bibirnya kini mulai bergerak-gerak samar, merapalkan doa supaya apa yang ia takutkan tidak terjadi. “Keluarga Hayes,” Nama itu, pada akhirnya terucap.Saat itu juga, jantung Nora berhenti seperkian detik. Apakah ini akhirnya? batinnya lirih.
Sudah tiga hari Nora mengambil jatah cutinya. Kematian ayahnya bukan hanya dijadikan sebagai alasan utama, ia juga butuh menata hati dan pikirannya, melepas semua beban pikiran yang ada. Istilahnya, Nora merenung, menata diri untuk memilah - pilih kepribadian yang nantinya ia tampilkan.Hari ini adalah hari pertamanya memijakkan kaki di gedung tinggi itu, setelah tiga hari menghilang. Nora menampilkan wajah datarnya, angin kantor langsung membuat rambutnya berkibas. "Pagi, Bu."Begitulah kira-kira sapaan yang diterima Nora sepanjang perjalanan menuju unit kerjanya. Dirinya cukup terkenal. Banyak karyawan yang segan, mengingat posisi yang ia dapat saat ini bermula dari nol, melewati proses panjang yang ide-idenya diakui, bahkan memenangkan banyak tender besar, menyokong laba perusahaan.Namun, suasana ramah tamah itu tiba - tiba saja berubah kala Nora sudah menginjakkan kaki di lantai kerjanya. Bisik-bisik samar nampak terdengar di telinga Nora. Lirikan sinis pun tak ketinggalan mengir
Langit siang itu berwarna kelabu. Tampaknya, alam juga ikut merasakan kesedihan itu. Gumpalan awan seakan-akan membendung rintikan hujan, belum membiarkannya jatuh, sengaja menahannya agar suasana syahdu itu bertahan lama.Udara masih dingin ketika satu per satu pelayat mulai hadir di rerumputan yang luas itu.Tak ada lagi tawa kecil Ayah karena humor recehnya. Tak akan ada lagi aroma kopi yang biasanya memenuhi ruang keluarga.Tak akan ada lagi panggilan yang melantun lembut dari bibir ayahnya.Nora menatap tanah yang masih kosong di depannya, mengamati rumah yang akan disinggahi ayahnya itu. Matanya sembab. Bukan karena ia menangis, tapi karena air matanya sudah banyak terkuras semalaman.Di sebelahnya, Nathan berjongkok seraya memeluk Nora. Anak itu, terus berdiam diri. Terlampau tenang untuk anak yang sedang kehilangan, tapi Nora tahu adiknya itu juga terluka. Hanya saja cara mengekspresikan kesedihan mereka berbeda. Nathan…lebih memilih untuk menangis dalam diam. Tak bersuara. T
“N-No-nora?!” Liam menegang, tubuhnya duduk lebih tegap bagai terkena mantra, matanya melebar, menatap tak percaya pada Nora yang tiba-tiba muncul di sampingnya.Alis Nora terangkat sebelah saat melihat respon Liam yang tidak biasa. Bibirnya tersungging senyuman tipis, sangat tipis, akan lebih cocok jika dibilang senyum smirk.Jujur saja, Nora tak pernah membayangkan dirinya akan memiliki sikap tegas dan blak-blakan seperti saat ini. Nora yang dulu pasti lebih memilih untuk diam dan pergi. Diam dan lupakan. Namun, kali ini berbeda. Nora sudah tak tahan. Hati dan pikirannya terlanjur panas.“Loh, kenapa diam, Liam?” Nora melontarkan pertanyaan retoris. “Bukannya tadi kamu bilang andai perempuan ini adalah tunanganmu dibanding aku?” Sengaja Nora menyebut Angel dengan kata “perempuan ini”. Namanya tak pantas untuk terlontar dari bibir Nora.“Begini saja…” Nora menegakkan duduknya dan mengangkat telapak tangan sebelah kirinya yang berhiaskan cincin di jari manis. “…kukembalikan ini padamu
Di sinilah Nora berada. Di dalam mobil berwarna kuning bertuliskan ‘Taxi’ yang membelah jalanan kota. Jenazah ayahnya ada di dalam ambulans yang sedang melaju di depan, ditemani oleh Adik sang Ayah, Paman Rey sebagai pemandu jalan. Nora memandag jalanan kota di balik jendela mobil dengan tatapan kosong. Ia masih merasa kematian ayahnya terlalu mendadak. Hati kecilnya tak rela, namun apa boleh buat? Ia hanyalah manusia biasa, tak memiliki kekuatan untuk mengubah takdir jikapun ia sangat ingin.Perempuan seperempat abad itu mengambil napas panjang. Hari-harinya belakangan ini penuh dengan beban yang memberatkan pundak. Nora ingin rehat sejenak. Untung saja ada Paman Rey yang berinisiatif mengatur segala keperluan pemakaman. Satu-satunya keluarga yang siap membantunya di saat keluarga lain entah pergi ke mana.Matanya kian memberat, respon alami tubuh karena aktivitas yang telah menguras tenaga dan batinnya. Namun, sebelum matanya benar-benar terpejam, netranya menatap siluet pria yang i


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.