LOGINNachdem meine Zwillingsschwester Harper gestorben war, hasste mich mein Alpha-Gefährte zehn lange Jahre. Ein ganzes Jahrzehnt lang war ich seine Luna, und ich versuchte auf jede erdenkliche Weise, gut zu ihm zu sein. Eines Tages sagte er zu mir: „Wenn du mich wirklich um jeden Preis zufriedenstellen willst, dann stirb doch einfach.“ Als also ein Lastwagen auf mich zuraste, rührte ich mich keinen Zentimeter. Ich hätte niemals erwartet, dass Noah mich im letzten Moment zur Seite stoßen würde, um mich zu retten. Er wurde dabei schwer verletzt. Kurz bevor er starb, sah er mich an und flüsterte: „Charlotte, wenn ich dir nie begegnet wäre, wäre alles besser gewesen.“ Zu Noahs Beerdigung kamen alle Ältesten und sämtliche Mitglieder des Rudels. „Ich hätte Noah Harper als seine Luna wählen lassen sollen. Ich bereue es, ihn damals gezwungen zu haben, dich zu nehmen. Du hast ihn getötet!“ Noahs Mutter war von Trauer überwältigt. Auch Noahs Vater sagte: „Weißt du eigentlich, dass Noah dir dreimal das Leben gerettet hat? Er war ein so gutherziger Alpha. Warum bist nicht du gestorben?“ Alle auf der Beerdigung starrten mich voller Vorwürfe an. Am Ende wurde ich von der Trauerfeier hinausgeworfen, verloren und völlig verzweifelt. Drei Jahre später kehrte ich mithilfe einer Hexe durch ihren Zauber in die Vergangenheit zurück. Dieses Mal hatte ich eine Entscheidung getroffen. Ganz gleich, was passiert: Ich würde niemals wieder Noahs Luna werden.
View More"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
Wir hatten uns jahrelang nicht gesehen, und doch wirkte er immer noch vertraut. Dann traf mich ein weiterer Gedanke.Ich war nach Hause zurückgekehrt, um diese Stelle an der Heilerakademie anzunehmen, weil man mir dort eine Professur angeboten hatte. Es war eine der renommiertesten Akademien für Heiler weltweit, und ich war ihre bislang jüngste Professorin.Für die meisten Heiler auf der Welt war das ein unerreichbarer Traum.Ich erinnerte mich an einen Videoanruf mit Lisa, bei dem ich einmal erwähnt hatte, dass ich mich im Ausland manchmal einsam fühlte. Noah hatte damals im Hintergrund in einer Ecke gearbeitet.Er musste im Stillen seine Fäden gezogen haben, um mir diese Stelle zu verschaffen.Ich fand Noah in meinem alten Schlafzimmer. Es war noch genauso eingerichtet wie an dem Tag, an dem ich es verlassen hatte.„Ich habe dieses Zimmer für dich behalten“, sagte er. „Du kannst jederzeit zurückkommen.“„Warst du es, der mir die Stelle an der Heilerakademie verschafft hat?“Noah läch
„Noah, lass mich das erklären.“„Nimm nie wieder Kontakt zu mir auf.“Harper hatte geglaubt, Noah kümmere sich nicht um Charlotte, doch sie hatte sich geirrt. Von diesem Tag an nahm Noah keinen einzigen ihrer Anrufe mehr entgegen.Als ich schließlich erwachte, hielt Noah meine Hand fest umklammert. Er war an meiner Seite eingeschlafen.Ich zog meine Hand sofort zurück.Noah wachte auf und sagte: „Lass uns dieses Mal die Gefährtenbindung richtig registrieren. Ich verspreche dir, du wirst meine einzige Luna sein.“„Es tut mir leid, Noah. Ich muss für meine Ausbildung ins Ausland. Ich kann hier keine Zeit mehr mit dir und Harper verlieren.“Noah flehte mich an zu bleiben, doch ich lehnte ab. Am Ende ging ich allein, ohne mich zu verabschieden.In den Jahren danach blieben Lisa und ich in Kontakt.Sie erzählte mir, dass Harper immer wieder vor ihrem Haus aufgetaucht sei, um Noah zu sehen, doch er habe jedes Mal abgelehnt. Bis zu jener Nacht, in der Harper in einem Nachthemd in Noahs Schlaf
Auf der letzten Seite hatte Charlotte nicht ihren eigenen Namen geschrieben. Stattdessen stand dort „Harper“.Das Dokument war ungültig.Noah konnte seine Hände nicht davon abhalten zu zittern.„Wie konnte das passieren?“, flüsterte er. „Charlotte ... hat sie mich etwa nicht geliebt?“Tränen liefen ihm über das Gesicht. Sie fielen auf das Papier und verwischten die Tinte.In diesem Moment hatte Noah das Gefühl, als wäre ein Teil seines Lebens verschwunden.Er warf das Dokument in den Mülleimer und ging anschließend in Charlottes Zimmer. Sie war noch immer bewusstlos.Noah kniete sich an ihr Bett und nahm ihre Hand.Während er ihr schlafendes Gesicht betrachtete, sagte er leise: „Es tut mir leid. Ich habe mich so lange von Harper täuschen lassen. Von Anfang an war es nur du, Charlotte. Bitte geh nicht.“Noah senkte den Kopf und kämpfte darum, seine Gefühle unter Kontrolle zu halten.„Wenn du aufwachst“, sagte er, „verspreche ich dir, dass du immer meine Luna sein wirst.“Als ich die Aug
„Sie tut nur so, als würde sie dich lieben. Hinter deinem Rücken nennt sie dich das kleine Marionettchen deiner Eltern. Sie will nur deine Luna werden, um an deiner Macht teilzuhaben und endlich das Dasein als Omega loszuwerden.“Damals hatte Noah Charlotte zutiefst gehasst. Doch jetzt ... erkannte er, wie sehr ihn diese Lügen dazu gebracht hatten, grausam zu ihr zu sein.Plötzlich überkam ihn eine erdrückende Schuld.Er kniete sich neben das Bett und strich Charlotte eine Haarsträhne aus dem Gesicht.Als Noah Charlottes Zimmer verließ, warteten Lisa und John bereits voller Sorge.„Wir haben gehört, dass Harper einen Autounfall hatte“, sagte John. „Was ist passiert?“„War dieser Unfall nicht eure Schuld?“Seine Eltern tauschten verwirrte Blicke und schüttelten den Kopf.„Wir haben wirklich keine Ahnung, wovon du sprichst.“Noah fühlte Zorn, aber zugleich Verwirrung.Wie konnten sie das abstreiten?„Harper hat gesagt, sie sei wegen euch beiden von einem Auto angefahren worden“, sagte er





