MasukKamera itu tepat menghadap ke arah kamar mandi. Dia segera memperbesar tampilan kamera pengawas tersebut. Saat itu, Ryan masuk ke kamar mandi. Mungkin karena terburu-buru, dia tidak menutup pintu.Posisi kamera tersebut kebetulan bisa melihat kondisi di dalam kamar mandi.Ketika Zio dan Marvin masih merasa lega, Ryan malah langsung menggendong Cathy masuk ke area pancuran, lalu menutup pintu kamar mandi. Area pancuran dikelilingi kaca buram. Meskipun ruangnya tidak terlalu besar, tetap cukup untuk beraksi."Anak ini benar-benar mainnya aneh-aneh," kata Marvin. "Jangan-jangan dia mau main jurus hujan bunga.""Apa itu hujan bunga?" tanya Zio."Itu lho, buka pancuran, lalu beraksi di bawah air," jawab Marvin."Bajingan!" Begitu mendengar ucapannya, Zio langsung berkeringat deras. Dia buru-buru menelepon temannya sambil berteriak, "Buka kunci, masuk! Hentikan bajingan itu!"Sejak awal, Zio sudah menyerahkan kunci pintu kepada dua temannya.Rencananya, kedua teman itu akan masuk ke dalam. S
Tentu saja, Cathy tidak benar-benar telanjang bulat. Lagi pula, saat ini ada kamera yang merekam.Hanya saja demi terlihat seksi, tubuh bagian atasnya hanya tersisa selembar kain putih selebar telapak tangan. Cathy bukan tipe wanita dengan lekuk tubuh yang terlalu mencolok, tetapi kulitnya sangat putih dan halus."Aduh, memalukan sekali!" Cathy berseru panik, lalu buru-buru menarik pakaiannya. Namun, kakinya tersangkut dengan kaki Ryan sehingga membuat dia kembali terhuyung. Kancing di salah satu sisi celananya pun ikut terlepas.Kaki putihnya yang panjang dan ramping langsung terekspos. Di pergelangan kakinya, terlihat tato bunga mawar merah menyala. Celananya terbuka hingga ke atas, bahkan pakaian dalam merahnya pun terlihat.Seorang gadis cantik berkulit putih, mempertontonkan keindahan tubuhnya tepat di hadapan Ryan. Jika dia secara terang-terangan berusaha menyenangkan Ryan, hasilnya pasti tidak akan bagus. Namun dengan cara yang seolah tanpa sengaja ini, justru akan terasa lebih
"Tentu saja nggak keberatan. Aku justru suka makan hidangan rumahan, makanan di luar kurang bersih," kata Ryan sambil tersenyum."Itu bagus sekali!" ujar Cathy. "Kalau Pak Ryan suka, nanti sering-sering saja datang ke sini. Aku sediakan gratis!""Kalau begitu aku nggak akan membuatmu bangkrut?" canda Ryan."Aku rela, hehe!" Cathy terus-menerus menyuapi Ryan. "Pak Ryan, coba yang ini, lalu yang ini juga!""Ayo, sup ini juga enak. Aku suapi ya!"Meski Ryan menolak, dia tetap tidak mampu menahan antusiasme lawan bicaranya dan akhirnya menerima semua suapan itu. Keduanya tampak sangat akrab, obrolan pun mengalir begitu alami.Saat itu, di dalam sebuah mobil yang terparkir di bawah.Tirai jendela tertutup, dan di dalamnya menyala cahaya lampu yang redup. Marvin memegang cangkir teh, menikmati tayangan di layar komputer. Di layar itu terlihat Ryan dan Cathy."Kamera-kamera ini semuanya kamera tersembunyi dari berbagai sudut. Dijamin siaran langsung penuh untuk Pak Marvin," kata Zio sambil te
"Kalau ada sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan, pasti ada kejanggalan!" kata Lucya. "Aku harus meluangkan waktu untuk menyelidikinya.""Bu Lucya, sebaiknya Ibu jangan selidiki dulu. Saat ini divisi penjualan masih butuh Bu Lucya untuk memegang kendali penuh. Tunggu pekerjaan di periode ini benar-benar tertata, baru Bu Lucya turun tangan," ujar Ryan.Dia khawatir jika Lucya mulai menyelidiki sekarang, itu justru akan mengusik lawan. Kalau Zio sampai bersembunyi, urusannya akan jadi lebih sulit.Menghadapi orang seperti itu, semua harus dilakukan saat dia sama sekali tidak menyadarinya, lalu langsung ditangkap."Ah, sekarang semua fokusmu ada di divisi teknis. Urusan divisi penjualan memang harus aku tangani sepenuhnya," kata Lucya dengan nada agak pasrah.Dulu sebelum dia punya wakil direktur, semuanya dia tangani sendiri dan tetap bisa bertahan. Sekarang setelah ada Ryan yang membantunya, dia malah jadi sedikit manja. Lalu, dia menghela napas dan berkata, "Manusia itu ... lahir dala
Tiga hari kemudian, pada suatu sore, Cathy mengirimkan sebuah pesan kepada Zio.[ Waktunya sudah tepat. Malam ini aku ajak Ryan makan malam. Dia setuju! ]Kalimat singkat itu langsung membuat Zio sangat bersemangat. Akhirnya, dia bisa melancarkan jurus pamungkas.Tanpa menunda, dia segera menelepon Marvin. "Pak Marvin, malam ini ada waktu?""Urusan Ryan sudah beres?" Marvin memang terus menunggu kabar dari Zio."Ya!" jawab Zio. "Malam ini aku ingin mengajak Pak Marvin melihat pertunjukan bagus.""Oke!"....Di sisi lain, di tempat tinggal Ryan, dia sudah menyiapkan makanan tepat ketika Lucya pulang kerja dan tiba di rumah."Ini dia, ikan asam manis favoritmu!" Ryan tersenyum sambil meletakkan hidangan di atas meja makan.Lucya melepas mantel, duduk di sofa, tetapi wajahnya terlihat agak murung. "Ryan, kemari sebentar. Aku mau bicara denganmu.""Hah?" Ryan berjalan mendekat dengan agak bingung. "Bicara apa?""Apa kamu tahu, sekarang di kantor sedang ramai dibicarakan kalau akhir-akhir i
Begitu mendengar bahwa dirinya harus berkorban, Cathy langsung naik pitam. Namun, demi menyelesaikan tugas yang diberikan Ryan kepadanya, dia menekan amarahnya dan bertanya, "Berkorban gimana?""Menjual sedikit daya tarikmu," kata Zio.Api amarah Cathy langsung membara. 'Zio, Zio, apa kamu masih laki-laki? Sampai tega menyuruh pacarmu menjual diri!'Saat itu juga, dia ingin mencaci maki Zio habis-habisan. Namun detik berikutnya, Zio kembali berkata, "Kamu harus merayu Ryan!""Hah?" Kata-kata makian yang sudah sampai di ujung bibir Cathy langsung tertelan kembali. Suasana hatinya berubah 180 derajat, bahkan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Kamu menyuruhku merayu Pak Ryan?""Ya. Kalau nggak begitu, bisa gimana lagi?" balas Zio.Cathy memaksa menekan senyuman yang hampir terbentuk, lalu berkata dengan wajah serius, "Pak Ryan kelihatannya orang yang sangat berintegritas. Tugas ini cukup berat. Tapi ... aku bisa mencobanya."Namun, Zio mengira Cathy agak keberatan. Dia pu







