Share

Bab 90

Penulis: Felix Harrington
"Tapi, urusan nyawa itu bukan perkara kecil!" kata Davin. "Soal detail dan harga, kita harus ketemuan langsung."

"Oke! Malam ini ada waktu? Kita makan bersama saja!" ujar Eric.

"Nggak bisa, malam ini aku ada urusan!" jawab Davin. Dia masih harus pergi bersenang-senang di rumah Saskia malam ini.

"Lalu kapan kamu ada waktu?"

"Aku bakal kabari duluan, tunggu saja teleponku!" kata Davin.

Eric menutup telepon, lalu menelepon selingkuhannya, "Halo, Jenny, siapkan uang, aku butuh segera ... semakin ban
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 613

    Ryan membantu Vania berdiri, lalu menghela napas. "Di usia seperti dia sekarang, memang sedang masa pemberontakan.""Ryan, kamu nggak tahu. Dulu mereka pernah bentrok dengan Geng Hantu Api. Chaziel terkena beberapa sabetan, bahkan harus menjalani operasi darurat lebih dari sepuluh jam di rumah sakit," kata Vania."Seganas itu?" tanya Ryan. "Kalau begitu, cepat lapor polisi!""Kalau lagi berkelahi, mereka seperti orang yang nggak takut mati dan jumlahnya banyak. Polisi belum tentu bisa menghentikan. Mereka bertarung sampai habis-habisan. Kalau menang masuk penjara, kalau kalah masuk rumah sakit atau langsung mati. Anak itu kalau sudah emosi, nggak mau dengar apa-apa lagi! Harus gimana ini?"Semakin bicara, Vania semakin panik. Dia yang biasanya anggun dan tenang, kini benar-benar merasa cemas. Ryan mengerutkan kening, kilatan dingin melintas di matanya."Kalau anak nggak patuh, memang harus dididik sedikit." Dia pun bertanya, "Kak Vania, kamu tahu di mana Aula Biliar Statue itu?""Tahu,

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 612

    Vania sangat membutuhkan sedikit kehangatan dan penghiburan.Malam itu, Vania tidur dengan sangat nyenyak. Seolah kembali ke masa gadisnya, dia kembali dipenuhi berbagai harapan indah terhadap kehidupan. Sementara itu, Ryan benar-benar tersiksa. Dia menahan diri sampai tengah malam, lalu entah kapan akhirnya tertidur.Keesokan paginya, Ryan terbangun oleh suara pertengkaran."Minggir, jangan halangi aku!" Terdengar suara Chaziel."Chaziel, dengarkan penjelasan Ibu!" Vania mencoba menjelaskan."Minggir!" Chaziel mendorong Vania, lalu menendang pintu kamar hingga terbuka. Ryan mengusap matanya yang masih mengantuk dan duduk."Sial? Kalian ... tidur bareng semalam?"Chaziel berdiri di depan pintu dengan tongkat bisbol di tangan, wajahnya penuh keterkejutan.Vania buru-buru menjelaskan, "Chaziel, Ibu nggak membiarkan kamu masuk tadi karena takut kamu salah paham. Kami nggak melakukan apa-apa semalam, nggak seperti yang kamu pikirkan. Kamu percaya Ibu, ya?""Sudah tidur di satu ranjang, kam

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 611

    "Benar, suaramu saat bernyanyi sangat indah. Ada kepolosan seorang gadis kecil, juga ada pesona dan kepahitan wanita dewasa. Semua itu bercampur jadi satu, warna suaramu yang unik benar-benar memikat!" Ryan menghela napas kagum.Ryan tidak bermaksud untuk sengaja memujinya. Dia hanya mengatakan isi hatinya."Terima kasih atas pengakuanmu!"Wanita akan berdandan untuk orang yang menyenangkannya. Pujian Ryan membuat hati Vania sangat bahagia dan kepercayaan dirinya pun bertambah beberapa tingkat."Kak Vania, tadi kamu mau bilang apa sama aku?" tanya Ryan."Aku ingin bertanya, selama bertahun-tahun ini, apa saja yang sudah kamu alami? Kenapa orang-orang itu begitu menghormatimu? Bahkan ada yang sedikit takut padamu?" tanya Vania.Ryan tersenyum. "Sejujurnya, aku juga nggak tahu kenapa. Mungkin karena aku wakil presdir EPS Group."Vania berkata, "Di usia semuda ini kamu sudah jadi wakil presdir, masa depanmu pasti cemerlang!""Bukannya tetap cuma sapi perah kelas atas?" Ryan menggoda."Hah

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 610

    "Kak Vania, udara dingin, pakai selimutnya ya!" Ryan bergeser sedikit ke sisi lain tempat tidur, hampir sampai ke tepi ranjang.Tenggorokan Vania bergerak pelan, detak jantungnya sedikit lebih cepat. Saat ada pria yang bukan keluarga berbaring di tempat tidurnya, bahkan berbagi satu selimut dengannya, dia seharusnya merasa risih.Namun entah kenapa, justru ada sedikit rasa menanti di dalam hatinya. Dia sendiri tidak tahu apa yang dia nantikan."Oke." Vania mengangkat sudut selimut dan menyelimutinya.Selimut itu sudah menyimpan kehangatan tubuh Ryan. Dia merasakan aliran hangat menyelimuti perutnya, lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. Sangat hangat.Sebagai wanita lajang, selama bertahun-tahun dia selalu menghangatkan tempat tidurnya sendiri. Setiap kali masuk ke selimut, rasanya selalu dingin.Kehangatan malam ini membuat seluruh tubuhnya terasa nyaman. Di dalam hatinya pun muncul sedikit kerinduan untuk dicintai.Vania sedikit menggeser tubuhnya, mendekat lebih dalam ke selimut. Rasa

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 609

    "Oke!" Vania juga meneguk sedikit air, lalu menarik kursi dan duduk."Ryan, sudah terlalu malam. Di sini susah cari taksi. Malam ini jangan pulang dulu," kata Vania. "Nanti kamar Chaziel aku rapikan, kamu bisa tidur di sana."Sudah lewat pukul 1 dini hari. Ryan juga merasa lelah dan tidak ingin repot pulang, jadi dia mengangguk.Vania bangkit dan pergi ke kamar Chaziel untuk membersihkannya. Namun, dia baru sadar bahwa dirinya meremehkan tingkat berantakannya kamar itu.Di atas ranjang dan selimut ada banyak noda, entah cat atau apa. Terlihat sangat kotor dan berantakan.Biasanya Chaziel tidak mengizinkannya masuk ke kamar, jadi dia tidak tahu kondisinya seperti ini.Ryan ikut mendekat dan mengernyit. "Ini parah sekali.""Sudahlah, malam ini kamu tidur di kamarku saja. Aku yang tidur di kamar dia," kata Vania."Jangan begitu dong," kata Ryan. "Aku bisa tidur seadanya saja di sini.""Jangan!" tolak Vania. "Hari ini aku sudah merasa nggak enak sekali. Turuti saja aku. Cepat tidur di kama

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 608

    "Ah! Kalau begitu, aku bereskan sofa saja!"Vania tersadar dan merasa sangat canggung, lalu buru-buru merespons, "Oh!"Ryan melepaskan tangannya, menggaruk belakang kepala, lalu lanjut memungut botol-botol bir. Keduanya bekerja sama. Setelah lebih dari satu jam, akhirnya rumah itu kembali bersih."Ryan, bajumu kotor karena aku. Kasih ke aku saja, sekalian aku cuci," kata Vania.Sebelumnya kemeja Ryan terkena lipstiknya dan sekarang karena membantu membereskan rumah, juga terkena noda lain. Dia merasa tidak enak hati."Nggak perlu, Bu Vania ... eh, Kak Vania," kata Ryan. "Aku pulang saja dan cuci pakai mesin.""Noda lipstik nggak bisa hilang dengan mesin cuci, harus dicuci tangan," jelas Vania sambil membantu membuka kancing kemejanya. "Biar aku saja yang mencucinya!"Melihat Vania begitu bersemangat, Ryan sulit menolak. "Baiklah, biar aku lepas sendiri."Ryan melepas kemejanya. Di dalam, dia mengenakan kaus dalam putih tanpa lengan. Dada bidang dan lengannya yang kekar terlihat jelas.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status