Masuk
"Sekar," suara merdu suamiku memanggil nama ini. Aku yang tengah menyisir rambut di depan cermin, langsung menoleh dengan senyuman. Gaun seksi berwarna merah glowing sengaja aku pakai malam ini. Ya, malam ini jadwalnya aku berc!nta dengan suamiku. Pasti kalian merasa aneh, kenapa untuk bercin ta saja harus dijadwalkan? Imunisasi kali! itu ledekan teman-temanku.
"Ada apa, Sayang?" tanyaku masih dengan senyum. Aku berjalan mendekatinya sambil menurunkan satu tali spagetti gaun tidurku untuk menggodanya. Lampu yang semula nyala, aku padamkan. Namun, Tiba-tiba lampu menyala lagi. Ternyata suamiku yang menyalakan. "Kenapa, Sayang? Apa kita mau main terang-terangan? Boleh banget. Aku habis luluran dan ratus di salon hari ini, jadi.... " "Abang mau bicara." "Abang udah bicara sejak tadi pulang, bicara maksud Abang yang gimana? Mau bicarakan gaya kita malam ini? He he he ....aku di atas juga boleh." Aku semakin mendekat, sehingga bisa menyentuh pelan miliknya. Suamiku tersentak pelan, lalu segera bergeser sambil berdeham. Firasat ku menjadi tidak enak, tapi aku berusaha menepisnya. Malam ini adalah jatahku berskipapau bersama Bang Exel setelah tiga Minggu lamanya menunggu. Entahlah, sudah lebih dari enam bulan ini aku dijatah tiga Minggu sekali saja skipapau-nya. Aku pun tidak masalah karena Bang Exel sangat sibuk mencari rejeki untuk keluarga. Malah bulan ini, sudah lewat dari tiga bulan. Lebih tepatnya tiga bulan lebih seminggu karena minggu lalu aku datang bulan, Bang Exel keluar kota, dan segala urusan kantor yang menyita waktunya. "Aku yang mulai pemanasan juga gak papa, Bang." Aku terkirim geli. Jujur sebenarnya ada rasa malu sebagai wanita, tapi demi jatah bercinta, apapun aku lakukan. Jelas, aku wanita normal loh! "Bukan itu." Ia tidak berani menatapku. "Lalu apa?" pelukanku diurai olehnya. "Jangan bilang Abang capek lagi? Kemarin saja sudah kelewat. Masa hari ini juga?" aku mulai tidak terima. Tangan Bang Exel menyentuh kedua lenganku. Menatapku dalam, tapi seperti tengah berpikir berat. "Ada apa, Bang? Apa ada masalah di kantor?" "Abang mau menikah lagi. Abang mau poligami. Bolehkan?" Duar! Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba saja aku merasakan gemuruh petir menyambar rumahku. Lebih tepatnya seharusnya menyambar Bang Exel. "Apa, Bang? Menikah lagi? Abang mau poligami? Abang kenapa?" Aku memeriksa keningnya. Merasakan ada panas atau tidak di keningnya. "Abang serius. Abang mau poligami. Namanya Roro." Ia menurunkan tanganku yang berada di keningnya. "Siapa, J4 nda tua?" tanyaku dengan suara bergetar. "Masih muda. Masih single." "Masih singel, kenapa nyari suami orang? Jelas perempuan gak baik itu? Kenal di mana kamu? di kajian? di rapat? atau di club?" "Sekar, dengar dulu!" "Umur?" cecarku terus tanpa berkedip sekali pun menatap tajam wajah Bang Exel yang seperti sedang tidak melakukan kesalahan apapun. "J4 nda muda?" tanyaku lagi. "Masih single. Umur 23. Belum pernah menikah dan mapan." "Ha ha ha ... nyari yang rapet ternyata. Ketemu di mana? Di jalan? kamu belum jawab aku!" teriakku tak terima. "Sekar, Abang akan menikah lagi. Jadi Abang mohon ijin." "Suami g4tal ternyata. Wanita muda itu pun g4.tal, kalian sama. Saya tidak ijinkan!" "Abang tetap akan menikahi Roro," katanya dengan begitu lugasnya. "Kalau begitu kita cerai saja. Saya gak mau hidup bersama lelaki yang tidak bisa menjaga diri di luaran sana demi keluarganya." Aku berjalan mendekati lemari. Entah kekuatan dari mana aku bisa menurunkan koper besar yang ada di lemari. Semua baju aku turunkan dengan asal dan kumasukkan langsung ke dalam koper. Air mata ini deras mengalir, tetapi aku tidak mau mengemis atas permintaan suamiku. "Sekar. Abang ini mapan. Abang bingung mau dikemanain uwang Abang ini. Gak salah kalau Abang ambil tanggung jawab lain kan?" Bang Exel tengah menahan lenganku. "Awas, jangan sentuh aku!" Aku menepis kasar tangannya. Mengambil cardigan di lemari dengan asal, lalu memakainya. Tak lupa celana panjang tidur yang aku pakai dengan kasar. "Sekar, Abang harap kamu bisa.... " "Wooo... Kata siapa bisa? Kagak bisa!" "Apa salahnya berbag Abang sedekah ke... " "Oh, jadi karena kebanyakan uang jadinya g4tal. Berarti gak ada 0batnya kecuali menikahi pelak0 r. Kalian sama. Sudah, saya mau pergi aja. Hiduplah dengan suka cita sekarang, Bang, tapi janji Allah itu pasti. Bahwa seorang suami yang menyakiti hati istrinyanya, melukai cinta dan rumah tangganya, maka nikmat rejeki akan Allah stop. Dan disaat hari itu tiba, saya akan tepuk tangan. Kalau menikahi gadis mapan yang masih single, namanya bukan sedekah! Belajar lagi ilmu agama sana, bukan malah belajar ilmu gaib. Akhirnya kamu ketemu lampir dalam bentuk pelakor! Aku menarik koper penuh itu keluar dari kamar. Bang Exel tidak berniat menahanku, tetapi tidak apa, malah bagus. Untung Ibra sedang camping di sekolah, sehingga ia tidak perlu tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. "Pantas saja aku dijatah hanya tiga minggu sekali. Itu pun bisa lewat. Ternyata suamiku yang dermawan ini mau nambah istri. Atau mungkin kamu lelah karena melayani p3 lakor itu? Iya!" "S-sayang, bukan gitu! Aku... hanya.... " Aku mengangkat tangan untuk menghentikan suamiku bicara. Ia terus mengejarku keluar dari kamar. Aku keluar dari rumah dengan membawa koperku dan tas pakaian milik Ibra. Semua aku masukkan ke dalam mobil. Aneka panci bagus, microwave, tabung gas, piring keramik mahal, dan beberapa perabotan lainnya sudah aku masukkan ke dalam mobil Fortuner suamiku yang sudah atas namaku. "Sekar, apa yang kamu lakukan!" Pekiknya terkejut saat melihatku bersiap pergi dari rumah dengan mobilnya. Sekali lagi, MOBILNYA! "Saya akan urus surat cerai kita, Bang. Baik-baik sama pelakor ya. Lihat apa yang akan bisa aku lakukan pada pel4.kor itu! Ia akan menyesal telah berurusan denganku! Kalian berdua akan mendapat balasan dariku!" Bersambung Halo, support cerita baruku ya. Jangan lupa bintang lima dan komentarnya. Makasih.POV ExelSiang itu juga, aku ke kantor untuk memastikan kabar dari Bobi. Bukan hanya Bobi yang memberi kabar, asistenku juga memberitahu. Aku tidak mau percaya dan sangat mustahil ada namaku pada list karyawan. Sekelas manager pemasaran dengan kemampuan sangat bagus, tentu mustahil aku dipecat. "Siang, Pak Exel," sapa Rini; asistenku. Ia menyambutku karena aku mengatakan aku akan ke kantor. "Siang, kamu yakin gak salah lihat?" tanyaku."Sebelah sini, Pak. Ada di monitor banner besar dengan lift utama," katanya sambil menunjuk lift bagian kira. Bukan hanya aku, tetapi beberapa karyawan lainnya ikut memperhatikan layar tersebut. Nama yang muncul per sepuluh orang disertai divisinya. Namaku ada dan aku benar-benar tidak percaya. "Pak Samuel ada?" tanyaku pada Rini. Gadis itu menggelengkan kepala. "Semua direksi hari ini ada meeting di Bali tiga hari, Pak." "Kamu kena juga?""Tidak tahu, Pak, karena saya statusnya kontrak, jadi tinggal menunggu surat saja," jawab Rini yang sama bingu
"Exel bantu Mami. Mami gak mau di sini," rengek Bu Rosa pedih. Matanya sayu seperti orang yang tidak tidur semalaman. Memang benar Bu Rosa tidak bisa memejamkan mata sejak ia sampai di kantor polisi sampai dengan keesokan harinya. "Ada apa sebenarnya, Mi? Kenapa Mami bisa sampai ditangkap? Apa yang Mami lakukan?" cecar Exel yang tidak mengerti. "Mami gak tahu. Mami khilaf. Bantu Mami, Exel!" "Iya, saya mau bantu Mami, tapi gimana kalau saya gak tahu apa yang terjadi sama Mami. Apa Mami udah hubungi pengacara?" Bu Rosa menggelengkan kepala."Oke, Mami ceritakan pada saya apa yang terjadi, lalu saya akan carikan pengacara tepat untuk Mami. Saya juga akan ajukan juga penangguhan penahanan, gimana?" Rosa mengangguk pelan. Lalu mengalir cerita dari wanita itu, bahwa ia telah nekat melakukan hal yang sangat membahayakan dirinya dan juga mantan suaminya. Exel hanya bisa diam, terkejut dengan setiap kalimat yang meluncur dari bibir ibu mertua, tanpa berani berkomentar apapun. Ia tidak aka
"Bagaimana suami saya, Dok? A-apa sakit yang diderita suami saya?" tanya Sekar terbata, sembari menahan tangis. Dokter menghela napas,lalu menyodorkan kertas hasil pemeriksaan milik Probo untuk ia jelaskan pada istri pasiennya. "Dari hasil darah dan urin, ini ada infeksi ginjal dan kandungan obat tidur keras yang masuk ke tubuh Pak Probo selama beberapa Minggu ini memperparah kondisinya. Ditambah Pak Probo ada jantung." Sekar menelan ludahnya. "Menurut data pasien di rumah sakit ini, Pak Probo memang pasien kami dan rutin kontrol ginjal. Kondisinya belum parah, masih baru kena bahasa gampangnya. Stadium satu. Namun, ada zat yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya dan itu tentu memperparah kondisi beliau. Mengakibatkan jantung yang terus berdebar dan pasti berefek pada jantung, sehingga Pak Probo sesak napas.""A-apa yang bisa kita lakukan, Dok? Saya ingin suami saya dapat yang terbaik." Sekar menahan diri untuk tidak tersedu-sedan. Padahal ia ingin sekali berteriak sedih dan memeluk su
"Bodoh! Apa yang kamu lakukan? Keberadaan kita nanti diketahui oleh keluarganya.""Saya butuh HP-nya. Buat apa HP bagus malah seharga dua puluh juta ini dianggurin, mending saya pake!"Plak!"Sakit bego!" seorang pemuda menggosok kepalanya karena mendapatkan pukul."Cepat matikan!" Ponsel pintar berlogo apel digigit itu pun langsung dimatikan kembali. "Antar saya balik!" Pemuda itu pun mengangguk paham."Ponselnya boleh buat saya, Bu?" "Gak bisa!" Ponsel itu pun langsung diambil oleh Rosa. "Ini tuh bukti penting untuk saya. Udah, cepat bawa mobilnya balik ke hotel!" Pinta Rosa dengan wajah kesal. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel tempat ia menginap hampir satu bulan. Kenapa bisa? Tentu saja bisa dan mudah, karena hotel itu adalah hotel milik keluarganya. Ada kamar khusus yang disiapkan di sana bagi keluarga yang ingin menginap lama. Bahkan mendapatkan fasilitas full. Khusus untuk anak, menantu, dan cucu saja. "Bu, kita udah sampai!" Ucap pemuda itu membangunk
"M-mami, a-apa yang Mami lakukan di sini?" Exel mendelik terkejut saat melihat mertuanya duduk di kursi roda, ditemani salah satu staf hotel. Bu Rosa tertawa."Kamu bersama pelacur? Udah berapa lama? Maksudnya udah berapa wanita?" tanya balik Bu Rosa tanpa menjawab pertanyaan Exel. Hati wanita itu panas dan sangat terbakar amarah saat melihat menantunya digandeng wanita lain, padahal istrinya sedang berada di jeruji besi. Apalagi tanda merah jelas sekali terlihat saat wanita yang diam saja itu menyugar rambut panjangnya. Sepanas apa malam yang dilewati menantunya dengan pelacur? Apa lebih hebat pelacur dari pada putrinya? Bu Rosa bermonolog.Exel melepas kasar tangan Elora, tentu saja wanita malam itu mengerti maksud Exel dan segera berjalan cepat meninggalkan lelaki itu. "Mi, ini baru pertama kali. Maafkan saya karena sudah tiga bulan lebih saya gak dapat nafkah dari Roro, untuk itu saya sewa wanita itu. Saya pakai pengaman Mi, bukan juga sembarangan karena saya gak mau sakit." Jawa
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak." Bu Erin menatap begitu itu putrinya yang saat ini terbaring di rumah sakit. Ia mengusap kepala Sekar dengan pelan dan penuh rasa keibuan."Mau minum?" tanyanya pada sang Putri. Sekar menggelengkan kepala."Sekar di mana, Ma?" Bu Erin menghela napas. "Di rumah sakit. Ipar kamu memberitahu Mama kalau kamu pingsan di kantor dan ini rumah sakit yang di depan kantor." "Kata dokter Sekar kenapa, Ma? Surat dari Mas Probo ada di mana?" suara Sekar bergetar menahan tangis. Bu Erin menatap nanar putrinya dan ikut juga berkaca-kaca."Sekar, mulai sekarang kamu gak boleh stres. Kamu harus jaga kandungan kamu." Bu Erin kemudian tersenyum."Apa, Ma? Kandungan? S-sekar hamil?" pekik Sekar tidak percaya. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Sekar tertawa dalam tangisnya. Bahunya bergetar hebat menahan haru, hingga Bu Erin pun ikut sama-sama menangis. Wanita itu memeluk putrinya yang sangat kuat, tetapi juga masih sangat manja. Bu Erin membiarkan Sekar men







