LOGIN"Halo, assalamualaikum, Bu Guru, saya nanti yang akan menjemput Ibra ya, Bu. Ibra penutupan camping jam berapa, Bu? Info surat pemberitahuan kehapus, Bu. Maaf saya tanya Ibu lagi."
"Jam delapan pagi, Bun. Ini anak-anak sedang sarapan. Nanti saya sampaikan pada Ibra ya." "Baik Bu Nia, terima kasih. Maaf sudah merepotkan." Aku meletakkan kembali ponsel ke atas meja. Kupandangi sekeliling satu rumah kontrakan yang aku sewa lengkap dengan mini furniture. Artinya sebagian isi rumah sudah tersedia, kita tinggal pakai saja. Ranjang besar ukuran seratus delapan puluh di kamar utama dan ukuran sembilan puluh meter di kamar kedua. Kompor, lemari dapur, lemari pakaian sudah ada. Tinggal kubelikan TV dan kulkas saja. Kring! Kring! Aku memutar bola mata malas saat melihat kontak yang muncul di layar ponselku. Aku benar-benar lupa untuk memblokir saja kontak Bang Exel. "Halo, assalamualaikum." "Halo, Sekar, kamu ke manakan isi rekening Bank BeceA? Saldonya nol." "Saya ambil dong! Enak aja pelakor dapat isi rekening saya. Mending isi sempak kamu aja yang buat dia. Soal isi sempak, saya bisa cari yang lain. Bosan juga saya yang itu-itu aja bentukannya! Hari ini saya akan ajukan gugatan cerai. Kita berpisah karena aku gak mau dimadu. Jangankan sama perempuan muda, janda tua aja aku gak ikhlas!" "Sekar, kamu gak bisa gitu, itu kan rekening...." "Bodo amat! Selagi saya masih istri kamu di mata hukum dan negara. Uang suami adalah uang istri. Tidak akan mungkin istilahnya berganti menjadi uang suami uang pelakor! Kamu mulai dengan saya juga dari enol. Maka jika kamu mau nikah lagi, dimulai dari enol ya. Udah, jangan telepon saya lagi!" Segera kuputuskan sambungan itu secara sepihak. Entahlah, harusnya aku ini sedih, tetapi kenapa aku malah maunya marah, kesal, rasanya pengen teriak yang kenceng. Bang Exel menelepon kembali, sehingga akhirnya nomornya aku blokir. "Siapa tadi nama demit itu ya? Roro apa Pororo? Ah, kupanggil aja Pororo! Di mana harus aku cari informasi tentang cewek itu?" aku terus bergumam sambil terus menggeser layar sosial media suamiku. Pada gambar kaca pembesar, aku mengetik nama Roro, tetapi tidak ada. Adanya Rosa, Rosid, Romi, Rani, Rafi, Rajes, Romlih, Romlah. Kucoba pindah ke Instagr4m dan mengetik nama Roro. Ada muncul banyak nama Roro dan tentu saja aku mencari yang mutual friend dengan Bang Exel. Ada sebuah foto yang menarik hatiku hingga menjadi penasaran. Ratu Roro Handayani Kutelusuri status wanita yang PP akunnya bergambar hati yang patah. Kenapa aku penasaran dengan nama Ratu Roro itu, karena ada like suamiku di setiap statusnya sejak enam bulan lalu. Cantik euy Ke mana aja, Neng? Jangan terlalu capek, nanti sakit. Kapan kita ke mana? Buka WA DM aku buka, Neng Resepnya tetep cantik apa yaa? Fotonya selalu cantik, salam untuk keluarga Mamanya pasti cantik ini, soalnya anaknya cantik banget. Uek! Rasanya aku ingin muntah. Aku saja gak pernah dikirimin pesan jangan terlalu capek, cantik euy. Sepertinya yang gatal itu Bang Exel. Turut berduka cita untuk kepergian mama. Semoga Husnul khatimah. Mama masih muda, papa juga, semoga sabar menghadapi ujian ini. Nanti saya mampir ke apartemen ya. Tunggu, ibunya pelakor tengil itu sudah meninggal? Aku cek kembali tanggalnya dan sudah empat bulan yang lalu. Aku juga melihat beberapa statusnya yang menandai seseorang yang ia panggil Papi. Papinya duda? Nah, aku jadi mendapatkan ide bagus. Aku kembali menggeser komentar suamiku dimakan wafatnya Ibu dari Pororo itu. Oh, Ibu tiri. Saya kira mama kamu yang meninggal. Berarti papa kamu poligami ya. Akur itu istri tua dan muda. Boleh saya coba nih he he he! "Dasar Exel sial!! Mata keranjang! "POV ExelSiang itu juga, aku ke kantor untuk memastikan kabar dari Bobi. Bukan hanya Bobi yang memberi kabar, asistenku juga memberitahu. Aku tidak mau percaya dan sangat mustahil ada namaku pada list karyawan. Sekelas manager pemasaran dengan kemampuan sangat bagus, tentu mustahil aku dipecat. "Siang, Pak Exel," sapa Rini; asistenku. Ia menyambutku karena aku mengatakan aku akan ke kantor. "Siang, kamu yakin gak salah lihat?" tanyaku."Sebelah sini, Pak. Ada di monitor banner besar dengan lift utama," katanya sambil menunjuk lift bagian kira. Bukan hanya aku, tetapi beberapa karyawan lainnya ikut memperhatikan layar tersebut. Nama yang muncul per sepuluh orang disertai divisinya. Namaku ada dan aku benar-benar tidak percaya. "Pak Samuel ada?" tanyaku pada Rini. Gadis itu menggelengkan kepala. "Semua direksi hari ini ada meeting di Bali tiga hari, Pak." "Kamu kena juga?""Tidak tahu, Pak, karena saya statusnya kontrak, jadi tinggal menunggu surat saja," jawab Rini yang sama bingu
"Exel bantu Mami. Mami gak mau di sini," rengek Bu Rosa pedih. Matanya sayu seperti orang yang tidak tidur semalaman. Memang benar Bu Rosa tidak bisa memejamkan mata sejak ia sampai di kantor polisi sampai dengan keesokan harinya. "Ada apa sebenarnya, Mi? Kenapa Mami bisa sampai ditangkap? Apa yang Mami lakukan?" cecar Exel yang tidak mengerti. "Mami gak tahu. Mami khilaf. Bantu Mami, Exel!" "Iya, saya mau bantu Mami, tapi gimana kalau saya gak tahu apa yang terjadi sama Mami. Apa Mami udah hubungi pengacara?" Bu Rosa menggelengkan kepala."Oke, Mami ceritakan pada saya apa yang terjadi, lalu saya akan carikan pengacara tepat untuk Mami. Saya juga akan ajukan juga penangguhan penahanan, gimana?" Rosa mengangguk pelan. Lalu mengalir cerita dari wanita itu, bahwa ia telah nekat melakukan hal yang sangat membahayakan dirinya dan juga mantan suaminya. Exel hanya bisa diam, terkejut dengan setiap kalimat yang meluncur dari bibir ibu mertua, tanpa berani berkomentar apapun. Ia tidak aka
"Bagaimana suami saya, Dok? A-apa sakit yang diderita suami saya?" tanya Sekar terbata, sembari menahan tangis. Dokter menghela napas,lalu menyodorkan kertas hasil pemeriksaan milik Probo untuk ia jelaskan pada istri pasiennya. "Dari hasil darah dan urin, ini ada infeksi ginjal dan kandungan obat tidur keras yang masuk ke tubuh Pak Probo selama beberapa Minggu ini memperparah kondisinya. Ditambah Pak Probo ada jantung." Sekar menelan ludahnya. "Menurut data pasien di rumah sakit ini, Pak Probo memang pasien kami dan rutin kontrol ginjal. Kondisinya belum parah, masih baru kena bahasa gampangnya. Stadium satu. Namun, ada zat yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya dan itu tentu memperparah kondisi beliau. Mengakibatkan jantung yang terus berdebar dan pasti berefek pada jantung, sehingga Pak Probo sesak napas.""A-apa yang bisa kita lakukan, Dok? Saya ingin suami saya dapat yang terbaik." Sekar menahan diri untuk tidak tersedu-sedan. Padahal ia ingin sekali berteriak sedih dan memeluk su
"Bodoh! Apa yang kamu lakukan? Keberadaan kita nanti diketahui oleh keluarganya.""Saya butuh HP-nya. Buat apa HP bagus malah seharga dua puluh juta ini dianggurin, mending saya pake!"Plak!"Sakit bego!" seorang pemuda menggosok kepalanya karena mendapatkan pukul."Cepat matikan!" Ponsel pintar berlogo apel digigit itu pun langsung dimatikan kembali. "Antar saya balik!" Pemuda itu pun mengangguk paham."Ponselnya boleh buat saya, Bu?" "Gak bisa!" Ponsel itu pun langsung diambil oleh Rosa. "Ini tuh bukti penting untuk saya. Udah, cepat bawa mobilnya balik ke hotel!" Pinta Rosa dengan wajah kesal. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel tempat ia menginap hampir satu bulan. Kenapa bisa? Tentu saja bisa dan mudah, karena hotel itu adalah hotel milik keluarganya. Ada kamar khusus yang disiapkan di sana bagi keluarga yang ingin menginap lama. Bahkan mendapatkan fasilitas full. Khusus untuk anak, menantu, dan cucu saja. "Bu, kita udah sampai!" Ucap pemuda itu membangunk
"M-mami, a-apa yang Mami lakukan di sini?" Exel mendelik terkejut saat melihat mertuanya duduk di kursi roda, ditemani salah satu staf hotel. Bu Rosa tertawa."Kamu bersama pelacur? Udah berapa lama? Maksudnya udah berapa wanita?" tanya balik Bu Rosa tanpa menjawab pertanyaan Exel. Hati wanita itu panas dan sangat terbakar amarah saat melihat menantunya digandeng wanita lain, padahal istrinya sedang berada di jeruji besi. Apalagi tanda merah jelas sekali terlihat saat wanita yang diam saja itu menyugar rambut panjangnya. Sepanas apa malam yang dilewati menantunya dengan pelacur? Apa lebih hebat pelacur dari pada putrinya? Bu Rosa bermonolog.Exel melepas kasar tangan Elora, tentu saja wanita malam itu mengerti maksud Exel dan segera berjalan cepat meninggalkan lelaki itu. "Mi, ini baru pertama kali. Maafkan saya karena sudah tiga bulan lebih saya gak dapat nafkah dari Roro, untuk itu saya sewa wanita itu. Saya pakai pengaman Mi, bukan juga sembarangan karena saya gak mau sakit." Jawa
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak." Bu Erin menatap begitu itu putrinya yang saat ini terbaring di rumah sakit. Ia mengusap kepala Sekar dengan pelan dan penuh rasa keibuan."Mau minum?" tanyanya pada sang Putri. Sekar menggelengkan kepala."Sekar di mana, Ma?" Bu Erin menghela napas. "Di rumah sakit. Ipar kamu memberitahu Mama kalau kamu pingsan di kantor dan ini rumah sakit yang di depan kantor." "Kata dokter Sekar kenapa, Ma? Surat dari Mas Probo ada di mana?" suara Sekar bergetar menahan tangis. Bu Erin menatap nanar putrinya dan ikut juga berkaca-kaca."Sekar, mulai sekarang kamu gak boleh stres. Kamu harus jaga kandungan kamu." Bu Erin kemudian tersenyum."Apa, Ma? Kandungan? S-sekar hamil?" pekik Sekar tidak percaya. "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Sekar tertawa dalam tangisnya. Bahunya bergetar hebat menahan haru, hingga Bu Erin pun ikut sama-sama menangis. Wanita itu memeluk putrinya yang sangat kuat, tetapi juga masih sangat manja. Bu Erin membiarkan Sekar men







