LOGINPada malam pernikahannya, Aryana ditinggal sendirian di kamar pengantin oleh Albert yang memilih tinggal bersama kekasihnya. Hati Aryana semakin hancur saat Albert memperkenalkan kekasihnya kepada Aryana seminggu setelah mereka menikah. Bahkan, Albert tidak malu menunjukkan kemesraannya di hadapan Aryana. Tanpa Aryana tahu, Albert telah melakukan banyak tipu muslihat kepada Aryana demi warisan Handaryana. Hati Aryana semakin hancur berkeping-keping saat Albert menceraikannya dan mengusirnya dengan anak mereka yang masih berusia dua bulan. Di saat putus asanya, Argandara membantu Aryana membalas dendam kepada Albert dan mengambil semua hak yang seharusnya menjadi milik Aryana dan putranya. Hingga akhirnya, sebuah rahasia kelam yang selama ini dipendam dalam-dalam oleh Alvonso Handaryana yang merupakan kakek Albert pun terkuak. Rahasia yang membuat Albert terguncang dan menyesal.
View MorePintu terbuka dan menampilkan sosok Nehan. Pria itu menghampiri Argandara yang duduk di meja kerjanya, lalu mendudukkan diri di hadapan Argandara.“Hei, ada apa dengan wajahmu? Kenapa kusut begitu? Apa ada masalah?” tanya Nehan saat melihat wajah Argandara yang terlihat sayu dan tidak bersemangat.“Tidak. Aku hanya kurang tidur saja.”“Kenapa? Apa Pak Tua itu membuat masalah?”Argandara menggeleng pelan. “Tidak. Hanya saja malam tadi aku bermimpi buruk tentang Aryana.”“Aryana?” ulang Nehan dengan kening berkerut dalam.Argandara bergumam sebagai jawaban. Lalu dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Kepalanya mendongak menatap langit-langit ruangan.“Malam tadi aku bermimpi dia sakit dan sendirian di rumah. Dia menangis dalam tidurnya.” Malam tadi Argandara bermimpi buruk mengenai Aryana yang membuatnya terjaga dan tidak bisa tidur lagi hingga pagi. “Aku takut dia kenapa-kenapa, Han. Apalagi saat ini mereka sedang pergi liburan h
Dering ponsel Aryana berhenti, tapi tidak lama kemudian ponselnya kembali berdering.Dengan ragu-ragu, Aryana menerima panggilan dari sang kakek. “Halo, Kek?” sapa Aryana, suaranya serak.“Halo, Aryana. Kamu ke mana saja? Dari tadi kakek meneleponmu, tapi tidak diangkat-angkat. Apa kamu sibuk?” tanya Yudha, kakek Aryana, berturut-turut.“Maaf, Kek. Tadi aku sedang ke kamar mandi,” kata Aryana berbohong.“Aryana, apa kamu sakit?” tebak Yudha saat mendengar suara Aryana yang serak.“Tidak, Kek. Cuma sakit tenggorokan saja.”“Sudah minum obat?” Yudha kembali bertanya dengan cepat, nadanya terdengar khawatir.“Sudah, Kek. Kakek tidak perlu khawatir. Besok atau lusa juga pasti sembuh.”“Kamu harus jaga kesehatan, Nak.”“Iya, Kek. Ngomng-ngomong, ada apa kakek meneleponku?”“Ini, nenekmu mulai kemarin bingung dan memaksa kakek untuk meneleponmu. Katanya mulai kemarin perasaannya tidak enak. Dia takut kamu kenapa-kenapa.
Argandara menatap Reanna dan Dimas seraya setelah menerima panggilan dari Lyla. “Om, Tante, sepertinya aku harus pulang sekarang. Barusan Lyla meneleponku, katanya Kakek berada di kafe sejak dua jam lalu.”Nehan bedecak keras mendengarnya, yang langsung dipukul pelan oleh Reanna di paha.“Ya sudah, kamu pulang saja. Hati-hati di jalan ya, Sayang,” kata Reanna. “Jangan mengebut.”“Iya, Tante.”Argandara pun meninggalkan kediaman Adikardana menuju Kala Rasa.Argandara mendapati Alvonso duduk seorang diri di tempat tadi pagi pria itu duduk saat dirinya tiba di Kala Rasa.“Kakek.” Argandara menarik kursi di hadapan Alvonso.“Kamu datang.”Argandara mengangguk kecil. “Ya. Ada apa, Kek?”“Tidak ada apa-apa. Sebenarnya aku datang ingin makan malam bersamamu, tapi tadi karyawan kafemu mengatakan kamu tidak ada di sini. Kupikir kamu akan ke sini, jadi aku menunggumu.”“Kenapa kakek tidak meneleponku saja? Kalau saja Lyla t
Albert mendudukkan Aryana di bawah shower dan menyalakannya. Seketika air mengguyur tubuh Aryana.“Apa kamu tuli, hah?!” bentak Albert marah. “Bukankah sudah kukatakan untuk jangan pernah ikut campur urusan pribadiku?”“Tapi apa yang kamu lakukan itu sudah keterlaluan, Mas.” Aryana memberanikan diri melawan Albert. “Sebagai istrimu, kamu tidak pernah megizinkanku tidur bersamamua, tapi Narana yang bukan siapa-siapamu, malah kamu ajak tidur bersamamu di ranjang kita.”Albert menampar pipi Aryana keras. “Jaga ucapanmu. Dibandingkan Narana, justru kamulah yang bukan siapa-siapa untukku. Narana sudah ada dalam hidupku jauh sebelum kamu masuk dalam hidupku. Jadi, jangankan hanya tidur bersama, aku bahkan bisa bercinta dengannya kapan pun aku mau.”Mata Aryana melebar. Ingatan saat Narana menginap dan tidur di kamar Albert dengan pakaian mereka yang berantakan di lantai saat di apartemen kembali berputar.Albert mencengkeram erat pipi Aryana dengan satu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.