LOGINDi malam pernikahannya, Aryana ditinggal sendirian di kamar pengantin oleh Albert yang memilih tinggal bersama kekasihnya. Hati Aryana semakin hancur saat Albert memperkenalkan kekasihnya kepada Aryana seminggu setelah mereka menikah. Bahkan, Albert tidak malu menunjukkan kemesraannya di hadapan Aryana. Tanpa Aryana tahu, Albert telah melakukan banyak tipu muslihat kepada Aryana demi warisan Handaryana. Hati Aryana semakin hancur berkeping-keping saat Albert menceraikannya dan mengusirnya dengan anak mereka yang masih berusia dua bulan. Di saat putus asanya, Argandara membantu Aryana membalas dendam kepada Albert dan mengambil semua hak yang seharusnya menjadi milik Aryana dan putranya. Hingga akhirnya, sebuah rahasia kelam yang selama ini dipendam dalam-dalam oleh Alvonso Handaryana—kakek Albert—terkuak. Rahasia yang membuat Albert terguncang dan menyesal.
View MoreAryana mengikuti langkah Albert menuju kamar pengantin mereka yang ada di hotel tempat mereka mengadakan pernikahan. Aryana berjalan sedikit kesusahan karena gaunnya yang berat dan roknya yang besar. Sementara Albert terus berjalan tanpa sedikit pun memedulikan Aryana yang berjalan sambil menyingsing gaun pengantinnya.
“Akhirnya!” Albert merebahkan tubuh di tempat tidur yang penuh dengan kelopak bunga mawar yang dibentuk love dengan mata terpejam. Kedua tangannya direntangkan. Sementara kedua kakinya menjuntai di pinggir ranjang.
Aryana menghela napas lega setelah memasuki kamar. Dia menurunkan gaunnya dan berjalan dengan pelan ke meja rias. Aryana menatap Albert dari kaca meja rias, sorot matanya sayu. Dia ingin Albert membantunya melepaskan hiasan di kepalanya, tapi tampaknya pria itu kelelahan, karena itu Aryana melepasnya sendiri dengan perlahan satu per satu.
Dering ponsel Albert menggema di kamar hotel yang sepi. Albert bangkit dari baringnya dan meraih ponselnya di saku jas pengantin.
“Halo, Sayang,” sapa Albert setelah menggeser tanda panggilan masuk di layar ponselnya.
Gerakan Aryana yang melepas aksesoris di rambutnya seketika terhenti. Dia menatap Albert dari kaca meja rias. Ekspresi pria itu tampak bahagia. Senyum lebar menghiasi wajahnya.
‘Sayang? Siapa yang menelepon Mas Albert? Kenapa raut wajahnya begitu kelihatan bahagia?’ pikir Aryana, dadanya seketika sakit mendengar suaminya memanggil sayang dengan lawan bicaranya di telepon.
Akan tetapi, Aryana segera mengenyahkan pikiran buruknya. Dia menatap Albert yang kini sudah selesai menelepon. Pria itu berdiri sambil memasukkan ponsel ke saku jasnya.
“Mas, kamu mau ke mana?” tanya Aryana buru-buru saat Albert melangkah meninggalkan tempat tidur menuju pintu.
“Bukan urusanmu!” Albert berkata tanpa menghentikan langkah dan berbalik. Namun, saat berdiri di ambang pintu, Albert menghentikan langkah, masih tanpa menoleh, dia melanjutkan, “Jangan bilang hal ini pada kakekku. Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya.”
Setelah mengatakan itu, Albert meninggalkan kamar.
Aryana menatap pintu yang tertutup kembali dengan tatapan sayu. Dia tidak mengerti kenapa malam pernikahan yang menyenangkan untuk mereka harus berakhir seperti ini.
Aryana menghela napas berat. Dia kembali melanjutkan kegiatannya melepas semua hiasan rambut dan gaunnya. Lalu berganti dengan baju tidur yang sudah dibawakan oleh saudara-saudaranya.
Aryana menatap tempat tidur dengan tatapan nanar. Seharusnya malam ini mereka menikmati malam indah yang selalu dinanti oleh pasangan yang baru menikah, tapi Albert justru meninggalkannya seorang diri di malam pengantin. Entah ke mana perginya suaminya itu. Aryana hendak menelepon, tapi sadar ternyata Aryana tidak memiliki nomor ponsel Albert.
Aryana menghela napas pelan. “Kenapa aku bisa lupa meminta nomor Mas Albert? Bagaimana aku bisa menghubunginya untuk menanyakan di mana Mas Albert sekarang?”
Aryana menatap jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Albert masih belum kembali. Aryana yang merasa lapar karena belum makan malam, memutuskan untuk keluar kamar hotel. Dengan mengenakan jaket, dia mencari rumah makan yang buka 24 jam yang dekat dengan hotel.
“Aryana?” suara seorang pria terdengar ragu-ragu memanggil Aryana yang sedang menunggu pesanannya datang.
Aryana menoleh ke belakang, dia terkejut melihat Argandara berdiri di belakangnya.
“Arga!” seru Aryana pelan.
“Kupikir tadi aku salah melihat, tapi ternyata memang benar kamu. Kamu sedang apa di sini sendirian?” tanya Argandara yang masih berdiri, keningnya berkerut dalam saat tidak melihat sosok Albert bersama Aryana.
“Aku lupa belum makan malam, jadi aku ke sini untuk makan malam. Kamu sendiri? Mau makan malam juga?”
“Iya. Ngomong-ngomong, di mana Kak Albert?”
“Dia sudah tidur. Sepertinya dia sangat kelelahan. Makanya aku pergi cari makan sendiri.”
Aryana terpaksa berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Argandara. Selain takut dengan ancaman Albert, ini juga termasuk aib bagi Aryana. Dia tidak ingin orang-orang tahu kalau dia telah ditinggalkan suaminya di malam pernikahan mereka.
Argandara mengangguk kecil. “Ya sudah, kalau begitu selamat menikmati makan malamnya.”
Setelah mengatakan itu, Argandara berlalu, tapi Aryana segera membuka mulut menawarkan Argandara untuk makan bersamanya. Aryana pikir tidak masalah kalau dia makan bersama Argandara, lagi pula Argandara adalah adik angkat Albert. Jadi, Aryana yakin tidak akan ada rumor buruk tentang mereka.
Argandara tidak menolak ajakan Aryana. Lagi pula sekarang mereka adalah saudara.
Mereka makan malam yang sudah terlambat itu dengan bercengkerama ringan. Setelah makan, mereka langsung kembali ke kamar masing-masing.
Sepanjang malam Aryana menunggu Albert, tapi Albert tidak kunjung pulang. Entah jam berapa Aryana tertidur, saat dia membuka mata, waktu menunjukkan pukul lima pagi.
“Mas Albert masih belum pulang juga?” gumam Aryana saat mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, tapi tidak menemukan sosok Albert. Nada bicaranya pun terdengar lesu.
Karena tertidur di sofa sepanjang malam, seluruh tubuh Aryana pun pegal-pegal. Dia melakukan perenggangan sebentar sebelum pergi ke kamar mandi. Sebelum Aryana memasuki kamar mandi, pintu kamar terbuka. Sosok Albert masuk dengan langkah cepat.
“Mas, akhirnya kamu pulang juga,” ucap Aryana, nadanya terdengar senang karena Albert akhirnya pulang.
Albert menatap tajam Aryana, yang seketika membuat Aryana tertegun.
‘Kenapa Mas Albert terlihat marah?’ pikir Aryana tidak mengerti dengan reaksi Albert saat melihat dirinya.
“Kenapa kamu keluar kamar dan pergi bersama Arga? Apa kamu ingin membuat masalah dan mempermalukan aku karena aku meninggalkanmu? Iya?!” bentak Albert yang membuat Aryana terkejut.
Argandara mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Handaryana menuju Kala Rasa. Bayangan wajah pucat Aryana dan ucapan Alvonso terus terngiang di kepalanya. Beberapa kali Argandara menghela napas kasar untuk melonggarkan dadanya yang sesak.“Arga!” Nehan melambai kepada Argandara yang baru saja memasuki kafe.Argandara mengedarkan pandangan sebelum akhirnya dia menemukan sosok sang sahabat. Dengan langkah lebar Argandara menghampiri Nehan.“Sudah lama?” Argandara menarik dan menduduki kursi di hadapan Nehan.“Ya, lumayan. Lyla bilang katanya kamu baru berangkat ke kediaman Handaryana waktu aku datang.” Nehan mengernyit saat memperhatikan wajah Argandara. “Kenapa sama mukamu? Kok kusut begitu?”“Tidak ada apa-apa.”Nehan tentu saja tidak percaya. “Apa Pak Tua itu membuat masalah lagi padamu? Atau, Albert yang membuatmu seperti ini?”Argandara menggeleng pelan. “Kenapa kamu selalu berpikir buruk tentang mereka sih, Han?”“Ya jangan menyalahkan aku berpikiran bur
Aryana tersenyum kecil menatap pantulan wajahnya di kaca wastafel. Sembap di matanya sudah berkurang. Dan Aryana bisa menutupinya dengan riasan sedikt tebal agar tidak terlihat, seperti yang dia lakukan tadi siang.Aryana terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan mendapati sosok Albert di depan pintu. Tangan pria itu terangkat untuk mengetuk pintu.Albert menatap marah Aryana. “Apa yang kamu lakukan di kamar mandi sampai begitu lama, hah? Kamu tidak lihat sekarang sudah jam berapa?”“Maaf, Mas. Aku tadi mengompres mataku supaya tidak bengkak, makanya lama di kamar mandi.” Aryana menjawab pelan dengan kepala tertunduk.Albert berdecak keras. “Cepat ganti baju. Jangan sampai Kakek berpikir aku menyiksamu karena terlambat ke meja makan.”Setelah mengatakan itu, Albert menuju sofa dan melanjutkan panggilan videonya bersama Narana.Aryana menatap Albert. Cemburu dan sakit hati bercampur menjadi satu. Meskipun dia istri Albert, tapi nyatanya dia tidak bisa mendapatkan hati suaminya.Aryana
Argandara mengalihkan pandangannya kepada Albert yang berdiri di belakang Aryana hanya dengan mengenakan jubah mandi. Kedua tangannya terkepal erat. Kemarahan menguasai dirinya, tapi Argandara berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak lepas kendali.“Tidak. Tapi kenapa kakak harus menyakitinya?” Argandara berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar marah.“Bukan urusanmu! Dia istriku, jadi aku berhak melakukan apa saja padanya.” Albert mengalihkan tatapannya kepada Aryana, sorot matanya masih sama. “Untuk apa masih di sini? Pergi!”Aryana tidak membantah dan langsung pergi tanpa melihat Argandara. Karena hari semakin sore, Aryana pun memutuskan untuk mandi sambil mengompres matanya yang sembap.Argandara yang mendengar bentakan Albert kepada Aryana pun semakin geram dengan sikap sang kakak memperlakukan Aryana.Albert kembali menatap Argandara. “Untuk apa kamu ke kamarku? Mau merayu istriku, ya? Apa di kafe tadi kamu masih belum puas merayunya, sampai-sampai kamu ingin merayunya di
“Kamu tidak perlu berpura-pura di hadapanku lagi, Albert! Bagas sudah mengatakan semuanya padaku. Apa kamu pikir bisa membodohiku? Apa kamu pikir kata-kataku di meja makan tadi hanya bercanda?”Badan Albert menegang mendengar Bagas sudah memberi tahu Alvonso. Seketika pikirannya tertuju kepada Narana yang berada di apartemennya.‘Apa Bagas mengetahui keberadan Narana di apartemenku?’ pikir Albert panik dan gelisah. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Albert.“Kalau memang itu maumu, baik!” lanjut Alvonso. “Aku akan segera meminta Linggar mengurus semuanya.”Albert berlutut dan memeluk kedua kaki Alvonso. Dengan wajah dan suara yang memelas, Albert berkata, “Kakek, aku mohon. Tolong beri aku kesempatan lagi. Aku janji tidak akan menemui Narana lagi, Kek. Aku mohon, Kek.”Albert terus berusaha memohon agar Alvonso memberikannya kesempatan kedua.Di dalam kamar mandi, Aryana yang mendengar perdebatan Alvonso dan Albert pun bergegas mencuci muka dan keluar untuk melihat apa yang telah te












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.