MasukDijatah NAFKAH RANJANG hanya tiga minggu sekali oleh suami. Aku mengira karena ia lelah di kantor, ternyata ia lelah melayani .... "Mas, " suaraku manja memeluk suami yang baru saja selesai mandi. Menciumi punggungnya yang dingin. "Sekar, aku capek!" Aku tertegun saat suamiku malah menghindar. "Kenapa, Bang? Ini udah lebih dari tiga minggu. Aku kangen kamu, Bang!" Aku kembali memeluk Bang Exel. "Besok saja atau lusa. Aku beneran lagi capek, mau tidur!"
Lihat lebih banyak"Sekar," suara merdu suamiku memanggil nama ini. Aku yang tengah menyisir rambut di depan cermin, langsung menoleh dengan senyuman. Gaun seksi berwarna merah glowing sengaja aku pakai malam ini. Ya, malam ini jadwalnya aku berc!nta dengan suamiku. Pasti kalian merasa aneh, kenapa untuk bercin ta saja harus dijadwalkan? Imunisasi kali! itu ledekan teman-temanku.
"Ada apa, Sayang?" tanyaku masih dengan senyum. Aku berjalan mendekatinya sambil menurunkan satu tali spagetti gaun tidurku untuk menggodanya. Lampu yang semula nyala, aku padamkan. Namun, Tiba-tiba lampu menyala lagi. Ternyata suamiku yang menyalakan. "Kenapa, Sayang? Apa kita mau main terang-terangan? Boleh banget. Aku habis luluran dan ratus di salon hari ini, jadi.... " "Abang mau bicara." "Abang udah bicara sejak tadi pulang, bicara maksud Abang yang gimana? Mau bicarakan gaya kita malam ini? He he he ....aku di atas juga boleh." Aku semakin mendekat, sehingga bisa menyentuh pelan miliknya. Suamiku tersentak pelan, lalu segera bergeser sambil berdeham. Firasat ku menjadi tidak enak, tapi aku berusaha menepisnya. Malam ini adalah jatahku berskipapau bersama Bang Exel setelah tiga Minggu lamanya menunggu. Entahlah, sudah lebih dari enam bulan ini aku dijatah tiga Minggu sekali saja skipapau-nya. Aku pun tidak masalah karena Bang Exel sangat sibuk mencari rejeki untuk keluarga. Malah bulan ini, sudah lewat dari tiga bulan. Lebih tepatnya tiga bulan lebih seminggu karena minggu lalu aku datang bulan, Bang Exel keluar kota, dan segala urusan kantor yang menyita waktunya. "Aku yang mulai pemanasan juga gak papa, Bang." Aku terkirim geli. Jujur sebenarnya ada rasa malu sebagai wanita, tapi demi jatah bercinta, apapun aku lakukan. Jelas, aku wanita normal loh! "Bukan itu." Ia tidak berani menatapku. "Lalu apa?" pelukanku diurai olehnya. "Jangan bilang Abang capek lagi? Kemarin saja sudah kelewat. Masa hari ini juga?" aku mulai tidak terima. Tangan Bang Exel menyentuh kedua lenganku. Menatapku dalam, tapi seperti tengah berpikir berat. "Ada apa, Bang? Apa ada masalah di kantor?" "Abang mau menikah lagi. Abang mau poligami. Bolehkan?" Duar! Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba saja aku merasakan gemuruh petir menyambar rumahku. Lebih tepatnya seharusnya menyambar Bang Exel. "Apa, Bang? Menikah lagi? Abang mau poligami? Abang kenapa?" Aku memeriksa keningnya. Merasakan ada panas atau tidak di keningnya. "Abang serius. Abang mau poligami. Namanya Roro." Ia menurunkan tanganku yang berada di keningnya. "Siapa, J4 nda tua?" tanyaku dengan suara bergetar. "Masih muda. Masih single." "Masih singel, kenapa nyari suami orang? Jelas perempuan gak baik itu? Kenal di mana kamu? di kajian? di rapat? atau di club?" "Sekar, dengar dulu!" "Umur?" cecarku terus tanpa berkedip sekali pun menatap tajam wajah Bang Exel yang seperti sedang tidak melakukan kesalahan apapun. "J4 nda muda?" tanyaku lagi. "Masih single. Umur 23. Belum pernah menikah dan mapan." "Ha ha ha ... nyari yang rapet ternyata. Ketemu di mana? Di jalan? kamu belum jawab aku!" teriakku tak terima. "Sekar, Abang akan menikah lagi. Jadi Abang mohon ijin." "Suami g4tal ternyata. Wanita muda itu pun g4.tal, kalian sama. Saya tidak ijinkan!" "Abang tetap akan menikahi Roro," katanya dengan begitu lugasnya. "Kalau begitu kita cerai saja. Saya gak mau hidup bersama lelaki yang tidak bisa menjaga diri di luaran sana demi keluarganya." Aku berjalan mendekati lemari. Entah kekuatan dari mana aku bisa menurunkan koper besar yang ada di lemari. Semua baju aku turunkan dengan asal dan kumasukkan langsung ke dalam koper. Air mata ini deras mengalir, tetapi aku tidak mau mengemis atas permintaan suamiku. "Sekar. Abang ini mapan. Abang bingung mau dikemanain uwang Abang ini. Gak salah kalau Abang ambil tanggung jawab lain kan?" Bang Exel tengah menahan lenganku. "Awas, jangan sentuh aku!" Aku menepis kasar tangannya. Mengambil cardigan di lemari dengan asal, lalu memakainya. Tak lupa celana panjang tidur yang aku pakai dengan kasar. "Sekar, Abang harap kamu bisa.... " "Wooo... Kata siapa bisa? Kagak bisa!" "Apa salahnya berbag Abang sedekah ke... " "Oh, jadi karena kebanyakan uang jadinya g4tal. Berarti gak ada 0batnya kecuali menikahi pelak0 r. Kalian sama. Sudah, saya mau pergi aja. Hiduplah dengan suka cita sekarang, Bang, tapi janji Allah itu pasti. Bahwa seorang suami yang menyakiti hati istrinyanya, melukai cinta dan rumah tangganya, maka nikmat rejeki akan Allah stop. Dan disaat hari itu tiba, saya akan tepuk tangan. Kalau menikahi gadis mapan yang masih single, namanya bukan sedekah! Belajar lagi ilmu agama sana, bukan malah belajar ilmu gaib. Akhirnya kamu ketemu lampir dalam bentuk pelakor! Aku menarik koper penuh itu keluar dari kamar. Bang Exel tidak berniat menahanku, tetapi tidak apa, malah bagus. Untung Ibra sedang camping di sekolah, sehingga ia tidak perlu tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. "Pantas saja aku dijatah hanya tiga minggu sekali. Itu pun bisa lewat. Ternyata suamiku yang dermawan ini mau nambah istri. Atau mungkin kamu lelah karena melayani p3 lakor itu? Iya!" "S-sayang, bukan gitu! Aku... hanya.... " Aku mengangkat tangan untuk menghentikan suamiku bicara. Ia terus mengejarku keluar dari kamar. Aku keluar dari rumah dengan membawa koperku dan tas pakaian milik Ibra. Semua aku masukkan ke dalam mobil. Aneka panci bagus, microwave, tabung gas, piring keramik mahal, dan beberapa perabotan lainnya sudah aku masukkan ke dalam mobil Fortuner suamiku yang sudah atas namaku. "Sekar, apa yang kamu lakukan!" Pekiknya terkejut saat melihatku bersiap pergi dari rumah dengan mobilnya. Sekali lagi, MOBILNYA! "Saya akan urus surat cerai kita, Bang. Baik-baik sama pelakor ya. Lihat apa yang akan bisa aku lakukan pada pel4.kor itu! Ia akan menyesal telah berurusan denganku! Kalian berdua akan mendapat balasan dariku!" Bersambung Halo, support cerita baruku ya. Jangan lupa bintang lima dan komentarnya. Makasih.Dewasa"Jadi menurut Mama, apa Roro akan baik-baik saja?" tanya suamiku saat malam ini kami kembali tidur bersama, setelah malam kemarin, suamiku menemani putrinya yang patah hati. Mereka berdua tidur di depan televisi dengan sofa kasur."Iya, Pa. Masalah yang dialami Roro itu, hampir sama dengan masalah yang ia sebabkan pada Mama dan Exel. Bedanya, waktu pertama kali saya tahu, Exel dan Roro memang belum menikah. Untuk Roro masalahnya agak pelik, karena pelakor itu sudah dinikahi dan tengah hamil pula. Berarti Mas sudah tahu siapa yang bajingan di sini'kan?" suamiku mengangguk sambil menatap langit kamar. "Papa khawatir," kata suamiku lagi. Aku mendekatkan tubuh ini dengannya. Melingkarkan tangan untuk memeluk tubuhnya yang semakin hari, semakin lebar saja. "Roro harus menghadapi wanita itu. Bukan menghindar, apalagi melepas Exel. Orang seperti Exel memang tidak pantas untuk diperebutkan, tetapi dengan Roro tetap menjadi istri sah Exel, maka pelakor tidak akan bisa berkutik. Exel t
Roro menekan kontak suaminya berkali-kali, tetapi tidak juga diangkat. Panas di hatinya sudah tidak tertahankan lagi. Air mata sudah tidak bisa keluar karena menahan emosi. Tamu yang tidak diundang itu tengah asik bermain ponsel di teras dengan gaya sok anggunnya. Sial, kamu ke mana sih, Mas? Batin Roro kesal. Suara mobil tiba-tiba memasuki garasi rumahnya. Roro hapal suara deru mobil itu, sehingga ia langsung berlari untuk protes pada Exel."Elora, k-kenapa kamu ada di sini?" tanya Exel bingung. Elora bangun dari duduknya, lalu mencium pipi Exel dengan begitu manja. Pemandangan yang membuat hati Roro semakin terbakar api cemburu. "Kalian tidak tahu diri!"Plak! Plak!Dua tamparan melayang di pipi Exel. "Mbak, apa yang Mbak lakukan? Kasihan suami kita ini jadi terluka," sela Elora mencoba melerai. "Dasar kamu juga betina jalang! Berani sekali kamu malah datang ke sini, sialan!" Roro menarik rambut Elora yang tergerai. Perkelahian pun tidak terlelakkan. Roro bergulad dengan Elora
"Boleh'kan, Roro berkunjung ke sini?" tanya suamiku. Tentu saja aku mengangguk. "Ayo, saya temani ke depan!" Ajakku. Mas Probo turun dari ranjang dengan tubuh yang masih sedikit hangat. Wajahnya tadi sempat terkejut. Mungkin ia mengira aku akan mengusir Roro. Tentu saja aku tidak sekejam itu. Apa yang aku inginkan sudah tercapai dan aku tidak ingin memperpanjang permusuhan ini, tetapi juga tidak bisa benar-benar bersikap baik. Tetap saja luka masa lalu itu ada.Aku menggandeng lengannya keluar dari kamar. Menuntunnya untuk berjalan ke ruang tamu. "Papi," panggil Roro yang berjalan cepat menghampiri papinya. "Apa kabar kamu, Roro? Kapan bebas?" tanya suamiku. "Saya buatkan teh dulu, Mas," kataku tanpa mau melihat ke arah Roro. Sampai di dapur, bibik sudah membuatkan tiga cangkir teh. Hanya dua yang aku pindahkan ke atas nampan, ditemani sepiring brownis keju. "Itu gak papa kamu tinggal," kata mamaku bertanya. "Gak papa. Mereka ayah dan anak. Keduanya butuh waktu untuk bicara tanp
POV Sekar."Papa bilang apa?" tanyaku pada Ibra saat kami sedang berhenti di lampu merah."Mau ajak makan dan beli buku," jawab Ibra dengan mata memandang lalu lalang kendaraan lewat dari sisi kiri. "Terus kenapa gak mau?" tanya suamiku. "Ibra kangen Ayah Probo. Jadi mau main di rumah aja. Udah bisa bantuin Ibra main lego kan, Yah?" tanyanya ceria. Selain diriku, ada Ibra yang sangat menanti ayah sambungnya pulang. "Pasti papa Ibra sedih karena Ibra gak mau diajak beli buku. Ayah aja sedih kalau dicuekin Ibra." Putraku menunduk. "Ibra mau, Yah, cuma gak sekarang. Sekarang Ayah baru pulang dari rumah sakit, masa Ibra malah enak-enakan makan es krim." Suamiku tersenyum, melihat sosok Ibra dari spion."Kita makan es krim aja gimana?" tanya Ibra. "Ayah capek, mau langsung pulang aja ya," jawabku. Aku tidak mau Mas Probo kembali jatuh sakit karena mengikuti maunya Ibra."Sayang, saya gak sejompo itu," balas suamiku dengan tawa lebarnya. Aku pun ikut tertawa. "Bukan soal jompo atau ti
"Mas, saya angkat telepon dulu ya. Ini tangannya lepas dulu," bisik Sekar pada suami yang masih mendekap tubuhnya. Mereka baru saja mengarungi samudra satu kali, dengan Probo sebagai nahkodanya. "Gak mau!" Jawab pria itu tanpa mau membuka mata. "Mas, itu mungkin ada yang penting, makanya telepon
POV Roro"Sayang, HP kamu bunyi terus dari tadi. Coba angkat dulu!" Ujar Mas Exel dengan suara seraknya. Sinar langit yang sudah berwarna, masuk lewat celah jendela. Aku masih sangat mengantuk, tetapi ponselku sejak tadi berdering. Bukan lagi sejak pagi, sejak malam sudah terus berdering.Lelah di
"Kamu jangan cerita apapun pada mami soal asuransi ini, Mas. Biarkan mami sehat dulu saja," kataku berpesan pada Mas Exel. "Iya, Mas berangkat ya. Ini sudah telat." Aku akhirnya mengangguk pasrah. Biasanya juga aku mengurus mami sendiri saat papi sibuk bekerja. Jadi untuk kali ini pun aku tidak m
"Atas dasar apa Bapak berdua ingin saya ke kantor polisi? Saya gak mau!" Tolak Roro tegas. Namun, yang ia tolak bukanlah orang sembarangan, melainkan sepupu dari Sekar yang mungkin wanita itu tidak mengenalinya saat acara pernikahan tadi. Exel pun tidak mengenali saudara mantan istrinya itu karena






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan