Share

Dikejar Cinta Mantan Suami
Dikejar Cinta Mantan Suami
Author: Yetti S

1. Pertemuan

Aku sama sekali tak menyangka kalau liburanku kali ini, akan mempertemukan aku dengan seorang yang paling aku benci dan ingin aku hindari. Dia adalah mantan suamiku.

Aku melihat Mas Haikal tengah berada di lobi hotel yang sama tempat aku menginap, di Denpasar. Aku yang sedang menggendong anakku seketika menjadi panik. Tentu saja aku panik, karena aku takut dia akan melakukan apa saja, apabila tahu kalau Pasya adalah putranya. 

"Del, kamu gendong dulu deh si Pasya. Kamu lihat sendiri itu di lobi hotel ada Mas Haikal. Jadi untuk menghindari hal-hal yang nggak diinginkan, lebih baik kamu gendong dulu anakku. Nanti misalnya dia tanya tentang Pasya, kamu jawab saja kalau Pasya adalah anak kamu," kataku yang membuat Adelia-adik sepupuku, membelalakkan matanya.

"Wah, nggak bener ini. Mbak Amanda bisa menjatuhkan reputasi aku ini. Masak aku yang masih gadis disuruh mengaku sudah punya anak sih, ck." Adelia menggerutu panjang lebar meskipun dia akhirnya menerima Pasya dari tanganku, dan menggendongnya.

"Nggak apa-apa lah, Del. Mengakunya kan hanya sama Mas Haikal. Cuma sebentar saja kok. Setelah melewati dia atau setelah kita masuk ke dalam lift, Pasya akan aku gendong lagi. Soalnya kita nggak bisa menghindar lagi. Dia sudah melihat ke arah kita. Kalau kita pergi, dia akan curiga. Apalagi dia sudah lihat aku gendong Pasya tadi. Jadi akting dikit deh, ya," ucapku dengan nada memelas pada adik sepupuku itu.

Akhirnya Adel menganggukkan kepalanya dan tersenyum seraya berkata, "Iya, tenang saja. Aku jago akting kok. Semoga saja Pasya juga bisa diajak akting sama aku, Mbak."

"Insya Allah, bisa. Anakku biar masih sebelas bulan sudah bisa diajak akting lho," sahutku jumawa 

"Aamiin. Ayo, kita jalan ke lift! Pura-pura nggak lihat saja kita. Semoga Mas Haikal nggak sadar dan masih sibuk ngobrol sama temannya." Adelia lalu melangkah dengan percaya diri menuju ke arah lift, yang ada persis di samping posisi Mas Haikal berdiri saat ini. 

Aku berjalan beriringan dengan Adelia yang berjalan terlebih dulu. Aku berdoa dalam hati agar Pasya bisa diajak kerja sama, karena dari tadi dia selalu menatapku dan sepertinya ingin segera aku gendong kembali.

Jantungku semakin berdegup kencang ketika kami sesaat lagi akan tiba di dekat Mas Haikal. Benar saja dugaanku kalau Mas Haikal sudah memperhatikan kami dari tadi. Tepat ketika kami sudah melewati dirinya dan berdiri di depan lift, dia mendekatiku dan menyapa. 

"Halo, Manda. Apa kabar?"

Aku sontak menoleh padanya dan memaksa untuk tersenyum. Rupanya dia sudah selesai ngobrol dengan temannya

"Eh, kamu. Liburan ke sini juga rupanya," jawabku basa-basi.

"Liburan plus kerja, karena aku akan mendirikan cottage di sini," jawabnya dengan menampilkan senyuman manis.

Aku seketika memalingkan wajahku agar tak berlama-lama menatapnya. Bagaimanapun sekarang dia adalah suami orang. Mengingat itu membuat hatiku sakit. Luka yang sudah mulai mengering perlahan terasa nyeri kembali.

Tepat ketika pintu lift terbuka, Pasya menangis. Rupanya dia sudah tak sabar ingin aku gendong kembali. Aku refleks meraih tubuh anakku dari gendongan Adel, lalu aku dekap dia dengan erat dan mengusap punggungnya dengan perlahan. 

"Mbak Manda, ayo kita masuk lift sekarang!" ajak Adel seraya merangkul bahuku.

Aku mengangguk dan melangkah ke dalam lift. Namun, tanpa diduga kedua tangan Mas Haikal menahan pintu lift agar tetap terbuka. Dia menatap lekat wajah Pasya, yang kebetulan anakku kini sedang menatap Mas Haikal juga.

"Manda, siapa anak ini?" tanya Mas Haikal tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Pasya.

"Anakku, Mas!" sahut Adel mewakili aku menjawab pertanyaan mantan suamiku itu.

Mata Mas Haikal menyipit seolah tak percaya dengan jawaban Adel.

"Memangnya kamu sudah nikah?" tanya Mas Haikal dengan tatapan menyelidik pada Adelia.

"Ya sudah dong. Buktinya itu aku sudah punya anak. Masak kalau belum menikah sudah punya anak sih. Aku ini perempuan baik-baik lho, Mas," sahut Adel yang membuatku tertawa dalam hati, karena aktingnya lumayan juga.

"Mas, tolong tangannya dilepas dari pintu lift itu. Supaya pintunya bisa tertutup dan liftnya bergerak naik. Kami ingin segera sampai di kamar, dan beristirahat," sahutku datar.

Mas Haikal tetap tak melepas kedua tangannya dari pintu lift. Dia terus menatap Pasya dan aku secara bergantian.

"Aku akan cari tahu tentang anak ini."

"Silakan!"

Aku menjawab dengan cukup tenang walaupun dalam hati sudah ketar-ketir. Hingga setelah puas memandangi Pasya, Mas Haikal melepaskan kedua tangannya dari pintu lift. Dalam hitungan detik, pintu lift tertutup dan segera naik ke lantai tempat kamar kami berada.

***

"Mbak, bagaimana kalau Mas Haikal beneran cari tahu tentang Pasya? Terus kalau dia marah karena selama ini nggak diberitahu tentang keberadaan Pasya, bagaimana?" tanya Adel ketika kabin lift sudah bergerak naik. 

Aku pandangi wajahnya yang tampak cemas. Aku mengulum senyum karena ekspresi wajah adik sepupuku itu, sangat berbeda dengan yang tadi dia perlihatkan saat di depan Mas Haikal. Tadi Adel sangat percaya diri ketika mengatakan kalau Pasya adalah anaknya. Tapi, kini dia takut kalau Mas Haikal tahu identitas Pasya.

"Biar saja dia cari tahu. Memangnya aku akan diam saja kalau dia berusaha untuk merebut Pasya dariku."

Tepat ketika bibirku terkatup, pintu lift terbuka. Aku serta Adel segera keluar dari kabin lift dan melangkah menuju ke kamar kami.

"Ma…Ma…Ma."

Pasya menjulurkan lidahnya ke arah dadaku, memberi kode kalau dia sedang ingin menyusu.

"Pintar banget sih anak Mama ini. Sudah sampai kamar baru minta ASI," ucapku dengan senyuman ketika tatapanku dan tatapan anakku bertemu.

Aku tanpa menunggu lama langsung duduk di sofa, dan melepas tiga kancing teratas blus katun yang aku kenakan. Aku lalu mulai menyusui anakku. Sementara aku melihat Adel sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan mata.

"Mbak, andaikan Mas Haikal masih cinta dan mengajak rujuk, apa Mbak Manda mau?" tanya Adel yang sontak membuat aku terkesiap.

"Kenapa kamu punya pikiran kayak gitu? Nggak mungkin lah dia mau rujuk sama aku. Dia kan sudah punya istri dan anak, Del. Apa kamu lupa kalau aku diceraikan olehnya karena aku dikira mandul?"

"Apa Mbak lupa kalau yang menggugat cerai itu adalah Mbak Manda, bukan Mas Haikal?" ucap Adel balas bertanya padaku.

Aku mengalihkan tatapanku ke arah Adel yang sedang berbaring di kasur.

"Aku menggugat cerai karena aku tak sudi dimadu. Apalagi Mas Haikal sudah berkhianat sebelum minta ijin untuk menikah lagi. Pelakor itu sudah hamil enam minggu! Jadi buat apa aku mempertahankan rumah tangga yang sudah bobrok karena pengkhianatan," sahutku agak ketus yang membuat Adel menoleh ke arahku.

"Tapi, aku lihat sorot mata Mas Haikal masih penuh cinta saat menatap kamu tadi, Mbak," ucap Adel yang membuat aku tersenyum kecut.

Aku baru saja akan menanggapi ucapan adik sepupuku itu, tapi aku urungkan karena bunyi ketukan di pintu yang menginterupsi pembicaraan kami.

Adel segera bangkit dari kasur dan melangkah ke pintu, lalu membukanya.

"Mas Haikal!"

"Amanda mana, Del?"

Aku yang mendengar suara Mas Haikal langsung panik. Aku ingin menyudahi memberi ASI pada Pasya. Tapi, anakku ini masih lahap menyusu. Hingga akhirnya aku pasrah ketika Mas Haikal menerobos masuk ke dalam kamar, dan melihat aku sedang menyusui Pasya.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Maslinda Mamat
bagus cerita nya .
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status