登入Rasa hangat bibirnya membuatku mematung beberapa detik.Bukan karena terkejut.Melainkan karena satu bulan penuh kerinduan seolah tumpah dalam satu kecupan singkat itu.Saat Ravyan perlahan menjauh, dahiku masih menempel pada dahinya. Napas kami sama-sama belum benar-benar teratur.Tatapannya begitu dekat.Sedekat itu hingga aku bisa melihat senyum tipis yang bersembunyi di sudut bibirnya."Siapa yang tadi bilang gak lagi mancing?" bisiknya pelan.Panas langsung menjalar ke pipiku.Aku berusaha mengalihkan pandangan. "Kan ... cuma cium dikit.""Cuma dikit?""Iya.""Cuma buat kamu."Aku mendengkus pelan. "Pak Mayor cerewet."Ravyan terkekeh. Jemarinya naik menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang telinga."Satu bulan gak ketemu, terus baru ketemu langsung godain saya."Aku menahan tawa. "Halah, padahal dalam hatinya seneng aku cium.""
Aku spontan memukul lengannya, lalu kembali memperhatikan bagaimana syahdunya suasana di dalam resto saat ini.Pelayan kemudian mulai menyajikan makanan satu per satu.Aroma makanan hangat memenuhi udara.Namun yang paling menggangguku justru bagaimana Ravyan terus memandangiku."Hampir satu bulan gak ketemu, kamu makin cantik."Aku mencebik. Namun jantungku berdetak lebih cepat.Aku menunduk. Pura-pura fokus pada makanan. Padahal sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan senyum."Satu bulan itu lama sekali, My Butterfly." Suara Ravyan terdengar lebih pelan.Aku mengangkat kepala. Tatapan kami bertemu.Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memikirkan perasaanku sendiri.Sampai lupa kalau lelaki di hadapanku juga menjalani hal yang sama.Tidur sendirian.Merindukanku.Menghitung hari."Kamu tahu, Pak Mayor?""Hmm?""Aku hampir nangis tiap mala
82."Mi, kami pamit. Terimakasih sudah jagain Lyra."Tidak sampai satu jam kedatangannya di rumah Mami, aku dan Ravyan sepakat untuk segera pulang. Tapi sebenarnya bukan sepakat, melainkan aku yang sangat antusias untuk segera pulang dari rumah Mami dan kembali ke rumah kami."Yakin mau langsung mau pulang? Padahal kamu baru banget sampai, Nak Ravyan. Istirahat dulu lah, makan dulu. Kamu pasti capek.""Istirahat di rumah aja, Mi. Sekalian mandi," jawabku yang tak menjauh dari sisinya sejak ia datang. Bahkan tak segan bergelayut manja di lengannya."Iya, Mi. Sekalian melepas kangen juga," timpal Ravyan hingga Mami tampak mengulum senyumnya.Aku mencubit pelan perut Ravyan, meski tidak benar-benar mencubitnya karena perutnya yang keras dan nyaris tanpa lemak itu."Ya sudah, hati-hati kalau begitu. Kapan-kapan ke sini lagi," pinta Mami.Aku dan Ravyan lantas bergantian mencium tangan Mami, lalu masuk ke dalam mobilku di mana
Hari-hari berikutnya berjalan jauh lebih baik dari yang kubayangkan.Ternyata keputusan untuk tinggal sementara di rumah Mami adalah keputusan yang tepat.Setidaknya aku tidak harus pulang ke rumah yang sunyi setiap hari.Tidak harus membuka pintu dan disambut keheningan yang menyakitkan.Tidak harus makan malam sendirian sambil menatap kursi kosong di depanku.Di rumah Mami selalu ada suara.Selalu ada aktivitas.Selalu ada seseorang yang bisa diajak bicara.Meski terkadang seseorang itu justru membuatku ingin pindah rumah lagi.Seperti Kak Elina, misalnya.Hari-hari terus berganti.Pekerjaan mulai kembali normal.Fokusku perlahan pulih.Proyek yang sempat hampir lepas berhasil diselamatkan.Bahkan Aina sudah mulai berhenti menggodaku setiap lima menit sekali. Meski tetap saja setiap kali ponselku berbunyi, perempuan itu akan langsung menyeringai dan kepo.
Video call itu sempat terhenti, karena aku harus mandi dan makan malam. Tapi akhirnya kembali berlanjut, bahkan hingga cukup lama. Meski kami tidak membicarakan hal penting. Hanya hal-hal sederhana dan receh sampai akhirnya aku mulai menguap berkali-kali.Aku membawa ponsel menuju kamar.Mengganti posisi menjadi rebahan di atas kasur.Biasanya di jam seperti ini aku akan merapat ke dada Ravyan.Mencuri kehangatan tubuhnya. Atau diam-diam mengganggu tidurnya. Namun malam ini hanya ada wajahnya di dalam layar ponsel."Pak Mayor.""Iya?""Aku tidur dulu."Ravyan tersenyum. "Selamat tidur, My Butterfly.""Selamat tidur.""Saya sayang kamu."Dadaku menghangat mendengarnya. "Aku juga sayang kamu."Beberapa detik kami hanya saling menatap. Tidak ada yang ingin mengakhiri panggilan lebih dulu. Namun akhirnya Ravyan mengangkat satu tangan."Pejamkan mata."Aku menuru
Aku duduk di sofa ruang televisi. Melepas flatshoes yang basah. Memijat pelipis lalu leher yang terasa pegal."Hari ini benar-benar buruk," ucapku dengan perasaan berat menekan dada.Kepalaku sedikit berdenyut memikirkan semua yang terjadi hari ini.Tidak ada suamiku. Rapat di kantor tidak berjalan dengan baik. Dan terakhir malah bertemu mantan tunangan brengsek yang sekarang menjadi sopir taksi online.Rasanya hidup seperti sedang mengajak bercanda.Drrrtttt Drrrtttt Drrrtttt.Ponsel di dalam tasku berdering disertai vibrasinya.Nama Ravyan tertera di layar. Aku pun langsung menerimanya."Sudah pulang?" tanya Ravyan di seberang sana."Udah. Baru aja sampai.""Gimana mobil kamu?""Masuk bengkel. Mesinnya bermasalah. Tapi aku gak begitu ngerti apa kata mekaniknya tadi.""Pulang pergi kerja kamu gimana?""Ya ... aku pesan ojek atau taksi online.""Coba kamu pak
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir
Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa
“Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da







