LOGINBallroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.
Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland. Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan. Wajah Alana terlihat jelas di layar besar itu. Rambutnya berantakan. Tubuhnya berpeluh memeluk Mas Arland tanpa sehelai benang pun. Sedangkan laki-laki yang hampir menjadi suamiku itu terlihat panik setengah mati. “MATIKAN VIDEO SIALAN ITU!” bentaknya lagi. Tangannya meraih vas bunga di meja akad lalu melemparkannya ke arah layar LED. BRAKKK! Suasana makin ricuh. Namun layar itu tetap menyala. Karena video tersebut dikendalikan langsung dari ruang operator. Aku tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, aku melihat Mas Arland kehilangan citra sempurnanya sebagai dokter idaman semua orang. “Ezlyra!” bentaknya sambil menoleh padaku penuh amarah. “Kamu sengaja mempermalukan aku?!” Aku berdiri perlahan dari kursi akad. Gaun putih panjangku menjuntai elegan di lantai. “Aku?” tanyaku tenang. “Bukannya kamu yang mempermalukan dirimu sendiri?” “Ini fitnah!” Aku terkekeh kecil. Fitnah katanya? Lucu sekali. “Kamu bilang ini fitnah? Terus laki-laki di video itu siapa? Hantu?” tanyaku tajam. Mas Arland bungkam. Wajahnya makin pucat saat para tamu mulai merekam kejadian itu menggunakan ponsel. Beberapa wartawan yang diundang keluarga besar pun terlihat mulai sibuk mengambil gambar. Aku bisa melihat jelas bagaimana kepanikan mulai menghancurkan wajah tampannya sedikit demi sedikit. “Lyra, tolong hentikan videonya. A—aku bisa jelasin semuanya,” katanya cepat sambil mendekat padaku. Nada suaranya berubah lembut. Manipulatif. Sama seperti biasanya. “Aku ... dijebak.” Aku menatapnya datar. Hebat sekali. Bahkan setelah ketahuan seperti ini, laki-laki itu masih sempat bermain peran sebagai korban. “Aku khilaf, Lyra.” Tangannya mencoba meraih tanganku. “Aku hanya mencintai kamu. Alana ... yang terus menggodaku.” PLAKKK! Telapak tanganku mendarat keras di pipi Mas Arland. Meninggalkan jejak kemerahan di kulitnya yang putih bersih. “Jangan sentuh aku dengan tangan yang kamu gunakan untuk menjamah perempuan lain!” Wajah lelaki berusia 33 tahun itu pun berubah gelap. Egonya mulai terluka di depan banyak orang. “Ezlyra, jangan bertindak berlebihan!” desisnya pelan penuh tekanan. Dadanya bahkan tampak naik turun. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik.” “Baik-baik?” Aku tertawa hambar. “Kamu tidur sama sepupuku sendiri, lalu sekarang minta bicara baik-baik?” Keributan semakin menjadi. Beberapa keluarga Mas Arland mulai maju mencoba menenangkan keadaan. Sedangkan Mami, terlihat gemetar di kursinya. Wajahnya pucat. Air matanya mulai jatuh satu per satu. Dadaku ikut nyeri melihatnya. Namun semuanya sudah terlambat. Karena hari ini semuanya memang harus hancur. "Video itu rekayasa. Ezlyra yang menjebak kita!" Tiba-tiba suara lantang Alana terdengar dari deretan kursi bridesmaid. Semua kepala langsung menoleh bersamaan padanya. Perempuan itu masih memakai dress bridesmaid warna dusty pink dengan wajah panik dan rambut sedikit berantakan. Beberapa tamu perempuan mulai menunjuk-nunjuk dirinya sambil berbisik jijik. “Murahan banget ....” “Kasihan Ezlyra.” “Kok mau-maunya jadi selingkuhan?” Alana menggeleng panik berkali-kali. "Enggak ... enggak! Aku dan Mas Arland dijebak." Tubuhnya tampak limbung. Dia menutup mulutnya sendiri sambil menangis histeris. Aku mengangkat satu alis. Masih sempatnya ia mencari kambing hitam. “Kamu sadar gak sih omonganmu?” tanyaku dingin. “Segabut apa aku sampai harus menjebak kalian, heh?" “Aku cinta sama Mas Arland!” jerit Alana mendadak. Ballroom pun langsung sunyi. Wajah Mas Arland membeku. Sedangkan aku hanya tersenyum tipis penuh kemenangan. Nah. Akhirnya keluar juga pengakuannya. “Aku lebih pantas buat Mas Arland dibanding kamu!” lanjut Alana sambil menangis kacau. “Dia gak pernah benar-benar cinta sama kamu. Dia cuma cinta sama aku.” “Memang seharusnya aku yang menjadi istri Mas Arland. Aku yang mengerti dia. Aku yang selalu ada untuk dia!" teriak Alana lagi. Entah apa motifnya. Padahal, aku juga tidak ingin mempertahankan sang dokter itu lagi. Aku mengangguk pelan. “Makasih udah jujur di depan semua orang. Kamu mau dia? Kamu mau jadi istrinya 'kan? Silakan ambil!" Aku mendorong punggung Mas Arland ke arah Alana. "Aku berikan sama kamu, Lana. Kamu bisa pungut dia. Lebih bagus kalian menikah daripada berzina seperti dalam video itu. Aku gak butuh laki-laki brengsek kayak dia!" Bisik-bisik tamu makin menggila. Beberapa bahkan terang-terangan merekam dirinya. Tubuh Alana mulai gemetar hebat. Wajahnya makin pucat lalu detik berikutnya .... Bruk! Perempuan itu malah jatuh pingsan. Jeritan langsung pecah di mana-mana. Sedangkan di tengah kekacauan hari pernikahanku sendiri, aku tetap berdiri sambil menatap kehancuran mereka satu per satu. Kepalaku tetap tegak, tanpa air mata yang menetes. Walau sejujurnya, hatiku sakit luar biasa. Tapi semua ini setimpal untuk mereka. .Langit mulai berubah keabu-abuan ketika mobil akhirnya memasuki halaman rumah kedua orang tuaku.Rumah besar yang biasanya terasa hangat itu masih tampak sunyi.Beberapa lampu teras masih menyala.Aku turun perlahan dari mobil.Langkahku terasa berat. Bahkan lebih berat daripada saat meninggalkan pemakaman beberapa puluh menit yang lalu.Ajudanku hanya mengangguk hormat sebelum kembali ke mobil.Aku berjalan menuju pintu utama.Belum sempat mengetuk, pintu itu sudah terbuka.Seorang asisten rumah tangga tampak terkejut melihatku."Mas Ravyan?""Selamat pagi, Mas."Aku hanya mengangguk pelan. "Ibu ... di mana?""Beliau baru selesai salat Subuh, Mas."Aku langsung melangkah masuk.Suara langkah kakiku bergema di ruang keluarga yang masih lengang.Hingga dari arah ruang salat, kulihat sosok Ibu berjalan keluar sambil masih mengenakan mukena berwarna put
Lututku mulai kebas dan punggung terasa pegal. Karena entah sudah berapa lama kau berjongkok di sini. Di samping makam kecil yang tidak tampak seperti makam umumnya. Hanya gundukan kecil yang sekelilingnya dilingkari batu koral putih.Namun, sesak di dada ini tidak kunjung berkurang. Bahkan air mata rasanya sudah habis karena menangis. Akan tetapi setiap bayangan tentang Lyra muncul serta wajahnya yang pucat dan tangisnya yang terus meminta maaf. Hatiku kembali tergores.Belum lagi satu pertanyaan yang sejak tadi terus menghantuiku.Kenapa Lyra tidak percaya padaku?Andai aku diberi saja kesempatan untuk tahu, mungkin perasaanku tidak akan sehancur ini.Aku mengembuskan napas panjang."Jaga Ibu ya ...," bisikku lirih pada gundukan tanah kecil itu."Kalau memang kamu bisa mendengar Ayah, tolong jangan benci Ibumu.""Dia juga kehilangan kamu."Aku mengusap tanah itu untuk terakhir kalinya. Sebelum akhirny
Rumah sakit sudah jauh di belakang.Malam semakin larut ketika mobil yang kutumpangi melaju membelah jalan pulang menuju Bandung.Kabut tipis mulai turun.Lampu-lampu kendaraan berpendar memanjang di kaca depan.Di kursi belakang, aku duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya bulir bening yang terus jatuh dari pelupuk mataku. Di mana sesekali berubah jadi isakan kecil.Di pangkuanku, kotak kecil berwarna putih terbungkus rapi dengan kain bersih itu tersimpan.Kotak tersebut terasa begitu ringan.Terlalu ringan. Namun beban berat di dadaku terasa makin kuat setiap kali pandanganku jatuh ke arahnya.Tidak ada yang berbicara.Bahkan ajudanku yang biasanya banyak bertanya, memilih membiarkan keheningan menemani perjalanan kami.Sesekali aku mengusap tutup kotak itu perlahan.Jari-jariku gemetar.Di dalam sana bukan bayi yang telah berbentuk sempurna. Atau jasad bayi yang utuh.Dokter sudah menjelaskan semuanya.Usia kehamilan Lyra baru sekitar delapan minggu.Yang ada hanyalah jarin
Pintu ruang rawat kembali kututup perlahan.Aku tidak sanggup berlama-lama berada di dalam.Setiap kali melihat Lyra menangis, hatiku ikut hancur.Namun setiap kali mengingat bagaimana ia menyembunyikan kehamilan itu dariku, rasa kecewa kembali memenuhi dada.Aku menyandarkan punggung sejenak pada dinding lorong rumah sakit.Mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat. Belum sempat pikiranku tenang, suara langkah kaki terdengar mendekat."Komandan."Aku mendongak.Ajudanku berdiri dengan map berwarna cokelat di tangannya.Wajahnya tampak serba salah, seolah tidak tega menyampaikan sesuatu."Ada perkembangan dari pihak rumah sakit?" tanyaku lirih.Ajudanku mengangguk pelan. "Baru saja saya berbicara lagi dengan dokter obgyn dan bagian administrasi.""Bagaimana?""Mereka sudah menyelesaikan seluruh prosedur medis."Aku mengangguk pelan."Untuk jaringan hasil kuretase..." Ia berhenti sesaat. "Rumah sakit kembali menanyakan keputusan keluarga."Dadaku kembali terasa sesak.Aku sem
Keheningan kembali memenuhi ruangan.Tidak ada lagi yang sanggup kami ucapkan selama beberapa menit.Hanya suara isakan Lyra yang sesekali terdengar.Aku menatap perempuan itu hingga dadaku terasa sesak.Aku ingin memarahinya.Ingin bertanya kenapa ia bisa setega itu menyembunyikan kehamilan anak kami.Namun setiap kali melihat wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang begitu lemah, amarah itu bercampur dengan rasa sakit yang jauh lebih besar.Lyra mengangkat wajahnya perlahan. "Pak Mayor ....""Aku tahu. Aku pantas kamu marahi. Aku tahu kamu kecewa padaku.""Tapi percayalah, aku gak pernah sedikit pun berniat menghilangkan anak kita."Suaranya bergetar dan tangisnya pecah lagi."Aku juga sayang sama dia.""Aku nungguin dia.""Aku cuma ... terlalu yakin kalau aku masih sanggup mengerjakan semuanya."Aku mengatupkan rahang. "Kamu terlalu yakin. Tapi kamu juga sama sekali gak kasih kesempatan buat saya."Lyra kembali menangis. "Aku takut, proyek itu tinggal sedikit lagi. Dan saat tahap awal
Langkah kakiku terasa gontai menyusuri lorong rumah sakit yang lengang.Hingga langkahku berhenti di depan pintu ruang rawat. Aku menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan segenap kekuatan sebelum akhirnya mendorong gagang pintu.Langkahku terasa lebih berat dibanding beberapa jam yang lalu.Lampu kamar rawat diredupkan.Hanya suara monitor dan tetesan infus yang memecah keheningan.Lyra masih berbaring di atas ranjang.Namun kali ini, matanya sudah terbuka.Tatapannya kosong.Matanya bengkak.Jelas sekali ia sudah menangis.Begitu melihatku berdiri di ambang pintu, bibirnya bergetar pelan."Pak Mayor ...." Suaranya serak. Nyaris hanya berupa bisikan. Namun aku masih bisa mendengarnya.Aku tidak langsung menjawab.Hanya berdiri memandangnya.Perempuan yang paling kucintai.Perempuan yang selama ini kujaga sepenuh hati.Entah kenapa ternyata me
Aku langsung berjalan menuju ruangan tempat Alana dirawat.Semakin dekat dengan ruangannya, langkahku justru semakin berat.Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman yang menggelayuti dada sejak tadi.Mungkin karena video semalam. Mungkin juga karena aku takut melihat send
Perjalanan yang awalnya kupikir hanya sebentar ternyata memakan waktu hampir tiga jam.Kami sempat berhenti dua kali.Sekali untuk mengisi bensin. Dan sekali lagi membeli minuman dingin di minimarket pinggir jalan.Namun sebagian besar waktu dihabiskan di atas motor.Melewati hamparan sawah.Perbuk
"Kalian sudah tahu akan tinggal di mana setelah menikah?" tanya Mami. Pembicaraan di meja makan ini rupanya terus berlanjut."Kebetulan saya sudah ada rumah, Mi. Tidak terlalu besar seperti rumah ini. Tapi, cukup untuk kami berdua memulai hidup baru," jawab Ravyan dengan cepat.
Aku refleks berhenti.Jantungku yang masih tak karuan, kini makin berulah.Pelan aku menoleh.Ravyan berdiri sangat dekat di belakangku sekarang. Jemarinya masih menggenggam pergelangan tanganku hangat.“Kenapa buru-buru kabur?” tanyanya santai.“Aku g







