เข้าสู่ระบบ---- Tiara hanya ingin menari untuk sesuap nasi, tapi kecantikannya membuat Bonar si juragan sawit yang berkuasa terobsesi ingin memilikinya. ---- Saat ayah Tiara ditangkap polisi karena ulah mabuk dan judinya, Bonar pun memasang jerat. Dia akan membebaskan sang ayah, asalkan Tiara mau jadi istri keduanya. ---- Terjepit antara nyawa keluarga dan kehormatan, Tiara terpaksa masuk ke dalam sangkar emas sang Juragan. Di sana, dia bukan lagi menari untuk seni, tapi untuk melayani nafsu pria yang telah membeli hidupnya. ---- Novel ini mengandung adegan dewasa yang intens. Bacalah dengan bijak dan pastikan kamu merasa nyaman mengikuti setiap alur ceritanya. Semoga kisah ini bisa membawamu larut dalam emosi, ketegangan, dan dinamika para tokohnya.
ดูเพิ่มเติม"Panggil aku seperti Sari memanggilku," perintahku rendah saat dia sudah berdiri tepat di tepi ranjang. Tiara mendongak, matanya yang besar tampak bingung dan gentar. "Ma-maksud Juragan?" Aku melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung kakiku menyentuh jemari kakinya yang mungil. Aku membungkuk, menumpukan tanganku di atas tempat tidur, mengurung tubuhnya di antara lenganku. "Sari memanggilku 'Abang'. Aku ingin kau melakukan hal yang sama. Mulai malam ini, panggil aku Abang Bonar." "Tapi... itu terdengar tidak pantas, Juragan," bisiknya dengan suara tercekat. Aku tersenyum tipis, "Pantas atau tidak, akulah yang menentukan di rumah ini. Sekarang, panggil namaku." Tiara menelan ludah, bibirnya yang ranum bergetar hebat saat mencoba mengeluarkan suara. "A-Abang... Abang Bonar." Suara itu terdengar seperti musik yang jauh lebih indah daripada gemerincing koin di perutnya tadi. Ada nada kepasrahan yang manis di sana. Aku mengulurkan tangan, menyisir rambutnya yang masih basah
Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi kemewahan yang tampak asing baginya. Jemarinya yang gemetar mulai meraih pengait kostum di balik punggungnya. Suara gemerincing koin imitasi itu kini terdengar putus-putus, mengikuti irama napasnya yang tidak teratur."Jangan menutup mata, Tiara. Tatap aku," perintahku saat melihat gadis muda itu menangis.Aku menikmati setiap detik penderitaannya. Cairan amber di gelasku memberikan kehangatan yang kontras dengan tatapan dinginku. Ketika helai demi helai kain itu luruh ke lantai, aku tidak terburu-buru. Aku bukan pria yang hanya lapar akan kepuasan fisik; aku menikmati proses penaklukan ini. Aku ingin dia sadar sepenuhnya bahwa mulai detik ini, tak ada satu inci
Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku mencengkeram lembut pinggangnya, menariknya sedikit lebih dekat hingga ia bisa merasakan detak jantungku. "Di sini, kau hanya perlu melayaniku. Kau akan memakai sutra, bukan kain murahan. Sekarang, tunjukkan tarian yang membuatku harus membayar mahal untukmu."Tiara menghirup nafasnya dalam-dalam, hal yang dia pikirkan saat terjepit seperti ini selalu saja Rully. Meski bapaknya sendiri tak pernah perduli padanya. Menjadi simpanan juragan Bonar, tentu Tiara tak ingin rugi dan harus memanfaatkan dengan baik pria itu."Tunggu, Juragan. Saya minta satu hal lagi."Aku menaikkan sebelah alis, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Katakan. Tapi ingat, jangan menguji kesabaranku dengan permintaan y
Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main kasar, lebih baik aku menghindar.Mungkin orang akan menyebut perlakuanku ini silent treatment, tapi bagiku, ini cara terbaik menjaga sisa kewarasan kami berdua.Aku masuk ke bathup membenamkan tubuh tinggi atletisku ke dalam air yang sejuk. Kulit kecoklatanku tampak mengilat di bawah lampu ruang rias yang mewah. Sambil memejamkan mata, aku menunggu kedatangan Tiara. Jujur saja, aku belum pernah berinteraksi langsung dengannya. Tiap kali aku menginginkan seorang wanita, Sadikin-lah yang maju menyampaikan pesan dan membereskan segalanya.Beberapa kali aku melihat gadis itu menari. Gerakannya erotis namun elegan. Tubuhnya ramping, dengan lekukan pinggang kecil yang men
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น