Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit

Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-06-12
โดย:  Vanilla Ice Creammอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
4 การให้คะแนน. 4 ความคิดเห็น
7บท
19views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

---- Tiara hanya ingin menari untuk sesuap nasi, tapi kecantikannya membuat Bonar si juragan sawit yang berkuasa terobsesi ingin memilikinya. ---- Saat ayah Tiara ditangkap polisi karena ulah mabuk dan judinya, Bonar pun memasang jerat. Dia akan membebaskan sang ayah, asalkan Tiara mau jadi istri keduanya. ---- Terjepit antara nyawa keluarga dan kehormatan, Tiara terpaksa masuk ke dalam sangkar emas sang Juragan. Di sana, dia bukan lagi menari untuk seni, tapi untuk melayani nafsu pria yang telah membeli hidupnya. ---- Novel ini mengandung adegan dewasa yang intens. Bacalah dengan bijak dan pastikan kamu merasa nyaman mengikuti setiap alur ceritanya. Semoga kisah ini bisa membawamu larut dalam emosi, ketegangan, dan dinamika para tokohnya.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

1. Denting Kelambu

Udara malam di pinggiran perkebunan sawit itu selalu terasa berat dan lembap, membawa aroma tanah basah dan bau menyengat buah sawit yang membusuk di pengepulan. Di dalam kamar kecil berdinding papan kayu, Tiara duduk di depan cermin rias yang kacanya sudah mulai buram di beberapa sudut.

Satu per satu, jemarinya yang lentik mengusapkan minyak zaitun ke lengan dan perutnya yang rata, memberikan efek kilau sehat di bawah temaram lampu bohlam 5 watt. Malam ini, dia tidak akan membawakan tari tradisional. Malam ini, ada pesanan khusus untuk tarian belly dance di perayaan kecil di balai warga.

Tiara meraih bra berbahan beledu merah marun yang dihiasi ribuan payet dan koin-koin kecil. Dengan cekatan, ia mengikat talinya kuat-kuat. Setiap gerakan tubuhnya memicu suara klinting-klinting halus dengan suara yang baginya adalah musik profesionalisme, namun bagi para pria di luar sana, itu adalah undangan.

Tiara memulas matanya dengan celak hitam yang tebal, menciptakan kesan misterius ala Timur Tengah yang kontras dengan garis wajah jawanya yang ayu. Ia melilitkan hip scarf sehelai selendang pinggul yang penuh dengan koin emas imitasi.

Ia berdiri, lalu melakukan satu getaran kecil di pinggulnya. Shimmy. Koin-koin itu beradu, menciptakan irama ritmik yang presisi. Di depan cermin, Tiara bukan lagi putri gadis biasa yang rumahnya nyaris roboh. Di sini, dia adalah seorang ratu.

"Ingat, Tiara. Hanya menari. Jangan lebih," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.

Prinsip itu adalah satu-satunya harga diri yang ia miliki. Ia tahu banyak penari lain yang dengan senang hati menerima "uang sawer" tambahan di balik semak-semak atau di dalam truk-truk pengangkut sawit. Tapi Tiara tidak. Baginya, setiap jengkal kulitnya yang terbuka di atas panggung adalah seni yang tidak boleh disentuh.

Suara pintu depan terbuka dengan kasar. Bunyi botol kaca yang beradu dan igauan tidak jelas dari ruang tamu menandakan ayahnya baru saja pulang dalam kondisi kacau. Lagi.

Tiara menghela napas panjang, menekan rasa sesak di dadanya. Ia segera mengenakan kebaya panjang untuk menutupi kostumnya yang minim sebelum keluar rumah. Ia harus segera berangkat sebelum ayahnya mulai meminta uang untuk berjudi.

Namun, saat ia melangkah keluar melewati pintu belakang, sepasang mata sudah mengawasinya dari kegelapan di bawah pohon beringin dekat persimpangan. Sadikin. Pria tangan kanan Bang Bonar itu berdiri bersandar pada motor besar dengan rokok yang menyala di sela jarinya.

"Cantik sekali malam ini, Tiara," suara Sadikin parau, matanya menyisir sosok Tiara dari kepala hingga kaki meskipun terbungkus kebaya. "Bang Bonar pasti senang melihat laporan saya."

Tiara tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan denting koin di balik kebayanya yang seolah-olah berteriak memberi tahu posisinya. Ia tidak tahu bahwa malam ini adalah awal dari jeratan yang sudah disiapkan sang Juragan Sawit untuk merenggut satu-satunya kemerdekaan yang ia punya.

Aula balai warga malam itu pengap. Bau asap rokok kretek murahan campur aduk dengan bau keringat orang-orang kampung yang berjejal di pinggir panggung beton setinggi lutut. Sebuah speaker aktif ukuran besar di pojok ruangan berdengung kencang, memutar musik ala timur tengah yang dipaksakan beritme padang pasir—palsu dan cempreng.

Tiara berdiri di balik tirai lusuh. Dia buang napas panjang, lalu menyentakkan kain kebaya yang tadi menutup kostumnya. Sekarang, dia cuma pakai bra beludru merah dan rok lilit yang pinggulnya penuh koin. Telanjang kaki. Kulitnya yang sudah dipoles minyak zaitun mengilap kena lampu sorot warna-warni yang berputar tak karuan

Musik intro menghentak. Tiara melangkah keluar.

Matanya tajam, lurus ke depan, nggak peduli sama siulan norak dan sorakan kasar para pria yang langsung riuh. Dia mulai bergerak.

Gerakannya bukan mendayu-dayu pelan. Dia menyentak. Pinggulnya bergetar kencang—shimmy—membuat ratusan koin di sabuknya beradu, suaranya gemerincing kasar, mengalahkan suara jangkrik di luar. Perutnya yang rata meliuk-liuk bak ular, otot-ototnya terlihat jelas bekerja keras menahan napas dan mengatur tempo.

Satu putaran cepat, roknya mengembang, memperlihatkan betisnya yang kencang. Dia berhenti mendadak, lalu memukul pinggulnya ke kanan, lalu ke kiri. Koin-koin itu berbunyi setiap kali dia ganti posisi.

Di barisan paling depan, para mandor sawit matanya melotot. Ada yang mulutnya menganga, lidahnya menjilat bibir yang pecah-pecah. Tangan mereka sudah siap dengan lembaran uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan yang lusuh, digulung-gulung, siap dilempar ke panggung.

Tiara terus menari. Keringat mulai bercucuran dari pelipis, turun ke leher, terus ke belahan dadanya, bikin payet-payet di bajunya makin berkilau basah. Dia tancap gas, gerakan dadanya menghentak mengikuti dentuman bass kencang dari speaker. Dia profesional. Dia tahu bagaimana cara bikin mata mereka nggak bisa lepas, tanpa dia harus mengiba.

Uang kertas mulai beterbangan jatuh ke panggung beton yang kotor. Tiara nggak peduli. Dia nggak akan membungkuk buat ambil uang itu. Itu tugas panitia nanti.

Tapi dari semua mata yang lapar itu, ada satu pasang mata di kegelapan pojok aula yang nggak berkedip. Bukan di barisan depan yang gaduh. Tapi di belakang, bersandar di tiang kayu. Sadikin.

Dia nggak ikut bersorak. Dia cuma diam, rokoknya tinggal puntung, menatap Tiara seolah dia sedang menakar berapa harga mainan baru buat tuannya.

Tarian berakhir dengan satu sentakan pinggul terakhir yang keras. Tiara diam mematung, napasnya memburu, dadanya kembang kempis. Aula hening sedetik sebelum meledak dengan tepuk tangan dan siulan panjang.

Tiara cuma kasih anggukan kepala dingin, lalu balik badan dan jalan cepat masuk ke balik tirai, mengabaikan teriakan "Lagi! Lagi!" dari kerumunan pria yang masih haus. Baginya, tugas malam ini selesai. Dia nggak tahu kalau tarian barusan cuma pembuka dari panggung sandiwara yang jauh lebih brutal yang sudah disiapkan Bonar buat dia.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ความคิดเห็น

Rain (angg_rainy)
Rain (angg_rainy)
Hngg kepanasan ni tiara aku dibuatnya, pasti baca truz
2026-06-12 14:34:21
0
0
Razi Maulidi
Razi Maulidi
ceritanya bagus kk .. terasa kek nyata gitu ya.. tetap semangat update thor ..
2026-06-12 12:58:36
0
0
Butterscotch Latte
Butterscotch Latte
bonar awas jangan mempermainkan gadis muda
2026-06-12 09:26:41
0
0
Paskatria
Paskatria
Dia bermigrasi di gn rupanya, selamat datang untuk pasangan agegape & agesocial.. can't wait for the next new chapters 🤏...
2026-06-12 09:21:22
0
0
7
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status