LOGIN---- Tiara Prastika hanya ingin menari untuk sesuap nasi, tapi kecantikannya membuat Bonar Dirgantara si juragan sawit yang berkuasa terobsesi ingin memilikinya. ---- Saat ayah Tiara ditangkap polisi karena ulah mabuk dan judinya, Bonar pun memasang jerat. Dia akan membebaskan sang ayah, asalkan Tiara mau jadi istri keduanya. ---- Terjepit antara nyawa keluarga dan kehormatan, Tiara terpaksa masuk ke dalam sangkar emas sang Juragan. Di sana, dia bukan lagi menari untuk seni, tapi untuk melayani nafsu pria yang telah membeli hidupnya. ---- Novel ini mengandung adegan dewasa yang intens. Bacalah dengan bijak dan pastikan kamu merasa nyaman mengikuti setiap alur ceritanya. Semoga kisah ini bisa membawamu larut dalam emosi, ketegangan, dan dinamika para tokohnya.
View MoreAlert!
Seluruh nama tokoh, alur cerita, serta latar tempat dalam kisah ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, maupun lokasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja. Cerita ini ditulis untuk tujuan hiburan dan imajinasi semata. Selamat membaca, dan semoga Anda menikmati setiap kisah yang tersaji di dalamnya. ---- Udara malam di pinggiran perkebunan sawit itu selalu terasa berat dan lembap, membawa aroma tanah basah dan bau menyengat buah sawit yang membusuk di pengepulan. Di dalam kamar kecil berdinding papan kayu, Tiara duduk di depan cermin rias yang kacanya sudah mulai buram di beberapa sudut. Satu per satu, jemarinya yang lentik mengusapkan minyak zaitun ke lengan dan perutnya yang rata, memberikan efek kilau sehat di bawah temaram lampu bohlam 5 watt. Malam ini, dia tidak akan membawakan tari tradisional. Malam ini, ada pesanan khusus untuk tarian belly dance di perayaan kecil di balai warga. Tiara meraih bra berbahan beledu merah marun yang dihiasi ribuan payet dan koin-koin kecil. Dengan cekatan, ia mengikat talinya kuat-kuat. Setiap gerakan tubuhnya memicu suara klinting-klinting halus dengan suara yang baginya adalah musik profesionalisme, namun bagi para pria di luar sana, itu adalah undangan. Tiara memulas matanya dengan celak hitam yang tebal, menciptakan kesan misterius ala Timur Tengah yang kontras dengan garis wajah jawanya yang ayu. Ia melilitkan hip scarf sehelai selendang pinggul yang penuh dengan koin emas imitasi. Ia berdiri, lalu melakukan satu getaran kecil di pinggulnya. Shimmy. Koin-koin itu beradu, menciptakan irama ritmik yang presisi. Di depan cermin, Tiara bukan lagi putri gadis biasa yang rumahnya nyaris roboh. Di sini, dia adalah seorang ratu. "Ingat, Tiara. Hanya menari. Jangan lebih," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. Prinsip itu adalah satu-satunya harga diri yang ia miliki. Ia tahu banyak penari lain yang dengan senang hati menerima "uang sawer" tambahan di balik semak-semak atau di dalam truk-truk pengangkut sawit. Tapi Tiara tidak. Baginya, setiap jengkal kulitnya yang terbuka di atas panggung adalah seni yang tidak boleh disentuh. Suara pintu depan terbuka dengan kasar. Bunyi botol kaca yang beradu dan igauan tidak jelas dari ruang tamu menandakan ayahnya baru saja pulang dalam kondisi kacau. Lagi. Tiara menghela napas panjang, menekan rasa sesak di dadanya. Ia segera mengenakan kebaya panjang untuk menutupi kostumnya yang minim sebelum keluar rumah. Ia harus segera berangkat sebelum ayahnya mulai meminta uang untuk berjudi. Namun, saat ia melangkah keluar melewati pintu belakang, sepasang mata sudah mengawasinya dari kegelapan di bawah pohon beringin dekat persimpangan. Sadikin. Pria tangan kanan Bang Bonar itu berdiri bersandar pada motor besar dengan rokok yang menyala di sela jarinya. "Cantik sekali malam ini, Tiara," suara Sadikin parau, matanya menyisir sosok Tiara dari kepala hingga kaki meskipun terbungkus kebaya. "Bang Bonar pasti senang melihat laporan saya." Tiara tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan denting koin di balik kebayanya yang seolah-olah berteriak memberi tahu posisinya. Ia tidak tahu bahwa malam ini adalah awal dari jeratan yang sudah disiapkan sang Juragan Sawit untuk merenggut satu-satunya kemerdekaan yang ia punya. Aula balai warga malam itu pengap. Bau asap rokok kretek murahan campur aduk dengan bau keringat orang-orang kampung yang berjejal di pinggir panggung beton setinggi lutut. Sebuah speaker aktif ukuran besar di pojok ruangan berdengung kencang, memutar musik ala timur tengah yang dipaksakan beritme padang pasir—palsu dan cempreng. Tiara berdiri di balik tirai lusuh. Dia buang napas panjang, lalu menyentakkan kain kebaya yang tadi menutup kostumnya. Sekarang, dia cuma pakai bra beludru merah dan rok lilit yang pinggulnya penuh koin. Telanjang kaki. Kulitnya yang sudah dipoles minyak zaitun mengilap kena lampu sorot warna-warni yang berputar tak karuan Musik intro menghentak. Tiara melangkah keluar. Matanya tajam, lurus ke depan, nggak peduli sama siulan norak dan sorakan kasar para pria yang langsung riuh. Dia mulai bergerak. Gerakannya bukan mendayu-dayu pelan. Dia menyentak. Pinggulnya bergetar kencang—shimmy—membuat ratusan koin di sabuknya beradu, suaranya gemerincing kasar, mengalahkan suara jangkrik di luar. Perutnya yang rata meliuk-liuk bak ular, otot-ototnya terlihat jelas bekerja keras menahan napas dan mengatur tempo. Satu putaran cepat, roknya mengembang, memperlihatkan betisnya yang kencang. Dia berhenti mendadak, lalu memukul pinggulnya ke kanan, lalu ke kiri. Koin-koin itu berbunyi setiap kali dia ganti posisi. Di barisan paling depan, para mandor sawit matanya melotot. Ada yang mulutnya menganga, lidahnya menjilat bibir yang pecah-pecah. Tangan mereka sudah siap dengan lembaran uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan yang lusuh, digulung-gulung, siap dilempar ke panggung. Tiara terus menari. Keringat mulai bercucuran dari pelipis, turun ke leher, terus ke belahan dadanya, bikin payet-payet di bajunya makin berkilau basah. Dia tancap gas, gerakan dadanya menghentak mengikuti dentuman bass kencang dari speaker. Dia profesional. Dia tahu bagaimana cara bikin mata mereka nggak bisa lepas, tanpa dia harus mengiba. Uang kertas mulai beterbangan jatuh ke panggung beton yang kotor. Tiara nggak peduli. Dia nggak akan membungkuk buat ambil uang itu. Itu tugas panitia nanti. Tapi dari semua mata yang lapar itu, ada satu pasang mata di kegelapan pojok aula yang nggak berkedip. Bukan di barisan depan yang gaduh. Tapi di belakang, bersandar di tiang kayu. Sadikin. Dia nggak ikut bersorak. Dia cuma diam, rokoknya tinggal puntung, menatap Tiara seolah dia sedang menakar berapa harga mainan baru buat tuannya. Tarian berakhir dengan satu sentakan pinggul terakhir yang keras. Tiara diam mematung, napasnya memburu, dadanya kembang kempis. Aula hening sedetik sebelum meledak dengan tepuk tangan dan siulan panjang. Tiara cuma kasih anggukan kepala dingin, lalu balik badan dan jalan cepat masuk ke balik tirai, mengabaikan teriakan "Lagi! Lagi!" dari kerumunan pria yang masih haus. Baginya, tugas malam ini selesai. Dia nggak tahu kalau tarian barusan cuma pembuka dari panggung sandiwara yang jauh lebih brutal yang sudah disiapkan Bonar buat dia.Sebuah pesan masuk ke ponsel Tiara dari Bonar, "Bawa baju dan perlengkapanmu untuk dua hari, kita akan menginap di kota. Lalu kunci kamar kita."Tiara terkejut, jantungnya berdebar kencang. Ia segera membalas singkat, "Baik, Bang. Segera bersiap," lalu bergegas mengemas pakaiannya ke tas.Tiara turun membawa tas travel berukuran sedang, memancing tatapan penuh selidik dari Sabryna dan Sari."Mau ke mana kamu? Bawa tas segala," tegur Sari ketus."Diajak Abang, Teh. Katanya ada urusan di Universitas Wijaya," jawab Tiara santun."Ayo, Sayang, cepat," panggilku terang-terangan di depan mereka, sembari melempar tatapan tidak bersahabat."Permisi, Teh," pamit Tiara ragu.Aku langsung merangkulkan tangan ke pinggang Tiara di hadapan mereka berdua."Tegakkan punggungmu, Tiara," bisikku tegas."Eh, iya, Bang."Aku segera melajukan mobil menuju lokasi bisnis kos-kosan yang akan menjadi aset berharga untu
"Tuh, lihat sendiri, kan? Istri kedua sok keras banget gaya jalannya. Jelas-jelas Tanteku yang lebih diprioritaskan Om Bonar, meskipun perempuan udik itu sudah menjerat Omku pakai badannya yang murahan," cibir Sabryna ketus, matanya masih menatap tajam ke arah punggung Tiara yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.Santi yang berdiri di sebelahnya pura-pura mengembuskan napas panjang, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat demi menyenangkan hati gadis di sampingnya itu."Namanya juga daun muda, Non Bryna, pasti pinternya cuma cari perhatian lewat jalur itu," sahut Santi dengan nada miring, memprovokasi agar aktingnya sebagai musuh Tiara terlihat makin meyakinkan. "Tapi Non Bryna tenang saja, secantik-cantiknya madu baru, kalau Nyonya Sari sudah dropped begini, Pak Bonar pasti tidak akan bisa ke mana-mana. Ikatan batin istri pertama yang sudah menemani dari nol itu tidak akan mudah digantikan oleh cap jempol di atas meja kerja."Sabryna mendeng
Tepat di saat ketegangan di antara kami berdua mencapai puncaknya di atas meja kerja, suara ketukan pintu yang bertubi-tubi dan tergesa-gesa mendadak memecah kesunyian malam.Tok! Tok! Tok!"Om! Om Bonar! Buka pintunya, Om!" teriak Sabryna dari balik pintu dengan nada suara yang panik dan histeris.Gerakanku seketika terhenti. Napas Tiara yang memburu kini tertahan, matanya yang sayu langsung melebar terkejut. Aku mengumpat tertahan dalam hati, merasakan gairahku yang sedang memuncak mendadak disiram air es."Om! Tolong, Om! Tante Sari kambuh lagi! Tante sesak napas parah sampai muntah darah!" teriak Sabryna lagi, suaranya terdengar gemetar dan hampir menangis di balik daun pintu yang terkunci rapat.Mendengar kata 'muntah darah', kepalaku langsung terasa pening. Dengan wajah yang berada tepat di depan wajahnya, aku menatap Tiara yang masih berada di bawah kungkunganku dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. Di sisi lain, Tiara
Di atas sofa ruang kerja, Tiara kini berada dalam dekapan hangatku. Tanganku melingkar posesif di pinggulnya, memberikan sentuhan intim yang mendamba di atas kain sifon merahnya."Belum juga selesai pertunjukannya, Bang. Penarinya malah main diculik saja," ucap Tiara pura-pura merengut. Kedua tangannya bertumpu pasrah di dadaku, sementara ia masih mengenakan kostum belly dance yang seksi.Aku terkekeh, mengeratkan pelukan. "Sudah dari dulu sebenarnya Abang ingin menerkammu saat kamu menari di depan pria-pria hidung belang di kelab itu.""Dari dulu memang banyak yang mau berbuat lebih denganku, Bang. Tapi aku tidak mau," jawab Tiara jujur, jemarinya mulai bergerak sensual menelusuri dadaku."Kenapa tidak mau?" tanyaku, menatap lurus ke dalam manik matanya."Ya karena aku tidak menjual diriku, Bang. Aku di sana murni bekerja. Bahkan impianku itu menabung supaya bisa kuliah, tapi tidak pernah bisa. Bapak selalu cari gara-gara. Uangku ha
Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di
Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku
Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main ka
Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore