LOGIN---- Tiara Prastika hanya ingin menari untuk sesuap nasi, tapi kecantikannya membuat Bonar Dirgantara si juragan sawit yang berkuasa terobsesi ingin memilikinya. ---- Saat ayah Tiara ditangkap polisi karena ulah mabuk dan judinya, Bonar pun memasang jerat. Dia akan membebaskan sang ayah, asalkan Tiara mau jadi istri keduanya. ---- Terjepit antara nyawa keluarga dan kehormatan, Tiara terpaksa masuk ke dalam sangkar emas sang Juragan. Di sana, dia bukan lagi menari untuk seni, tapi untuk melayani nafsu pria yang telah membeli hidupnya. ---- Novel ini mengandung adegan dewasa yang intens. Bacalah dengan bijak dan pastikan kamu merasa nyaman mengikuti setiap alur ceritanya. Semoga kisah ini bisa membawamu larut dalam emosi, ketegangan, dan dinamika para tokohnya.
View More"Terima kasih, Leo. Belum ada lagi, kok, mungkin nanti," jawab Tiara, sedikit canggung karena jarak mereka yang sempat terlalu dekat.Sambil melangkah menyusuri lorong rak, Tiara mencoba mengalihkan suasana. "Leo, dulu waktu Teh Sari masih sehat, apa kamu sering mengantarnya bepergian?""Tidak pernah, Tante," sahut Leo seraya menyelaraskan langkah di sampingnya. "Waktu Tante Sari masih sehat, aku masih kuliah di luar kota. Lagipula setahuku, Tante Sari itu jago menyetir mobil sendiri. Cuma ya... karena sekarang sakit, jadi tidak bisa ke mana-mana lagi.""Oh, begitu... Mandiri sekali, ya," gumam Tiara pelan.Ia mengelus perutnya yang masih ratas. Terpikir di benaknya, andai saja ia sedang tidak hamil, mungkin ia sudah meminta izin pada Bonar untuk belajar menyetir mobil juga. Namun untuk sekarang, keinginan itu terpaksa ia simpan rapat-rapat dalam daftar rencananya nanti."Kenapa, Tante?" tanya Leo memperhatikan perubahan raut wajah T
"Senang berbisnis denganmu, Bonar," ucap Erwin seraya menjabat tangan Bonar dengan gerakan mantap. "Dan... Bu Tiara, semoga rumah kos yang saya jual bisa menjadi ladang rezeki baru untuk Anda.""Terima kasih, Win. Istriku pasti akan merawat rumah kos itu dengan baik," aku membalas dengan mantap, menyunggingkan senyum lega."Terima kasih banyak, Pak Erwin," sahut Tiara sembari menyambut jabat tangan Erwin dengan senyum tulus. Ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan dari matanya.Erwin mengangguk ramah lalu merapikan tas kerjanya. "Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Semua berkas legalitasnya sudah beres dan resmi berpindah tangan ke Bu Tiara."Begitu Erwin melangkah keluar dari ruangan, Tiara mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Ia memelukku hangat."Abang, terima kasih banyak untuk aset ini. Aku janji akan mengelolanya dengan baik," bisiknya tulus dengan nada penuh rasa syukur."Sama-sama, Sayang. A
Dengan teliti dan hati-hati, aku mengelap seluruh bagian dalam flat shoes Tiara hingga benar-benar bersih dari sisa bulu halus yang menempel."Dasar tidak hati-hati yang menaruh sepatu di sini," gerutuku pelan, membayangkan betapa kasihan istriku jika tadi sempat menginjaknya. "Untung saja tadi tersenggol. Kalau tidak, bisa panik satu rumah gara-gara kakinya bentol-bentol."Setelah memastikan sepatu Tiara benar-benar bersih dan aman, aku menaruhnya kembali di tempat yang lebih tinggi dan aman, lalu memakai sepatuku sendiri dengan perasaan lega.****Siang harinya, sebelum makan siang, Tiara menemui Bonar ke kantornya. Dengan OOTD kasual namun elegan, ia berjalan anggun menuju ruangan Bonar."Eh, Bu Tiara. Sekarang sering ya ke kantor Bapak? Perkenalkan, saya Lydia, Manajer Keuangan Dirga Group." Perempuan berusia sekitar empat puluhan namun masih tampak awet muda dan cantik itu mencoba berakrab ria.Tiara tersenyum ramah dan menjabat
Pagi harinya, ketika aku dan Tiara hendak makan pagi, Sabryna sudah duduk lebih dulu di hadapan kami."Bang, Teh Sari kok belum keluar kamar ya?" tanya Tiara padaku.Aku menarik kursi untuk Tiara, memastikannya duduk dengan nyaman sebelum aku menyusul duduk di sampingnya. Pandanganku sempat sekilas menatap Sabryna yang bergeming, lalu kembali terfokus pada Tiara."Biarkan saja, Sayang," jawabku tenang seraya mengambilkan piring untuknya. "Dia butuh waktu sendiri. Kamu tidak usah memikirkannya, fokus saja pada sarapan dan kesehatanmu."Bi Asih datang membawa bolu jadul yang baru saja dipotongnya. "Pagi, Pak, Ibu. Ini bolu jadul pesanan Bu Tiara kemarin sore. Silakan dicoba, semoga berkenan.""Terima kasih, Bi. Nanti saya makan," balas Tiara.Aku tersenyum tipis lalu melirik bolu yang masih mengepulkan aroma harum butter. Dengan lembut, aku mengusap jemari Tiara di atas meja."Ooh, ternyata bumil lagi mengidam bolu jadul?" goda
Aku kembali ke kursi kebesaranku, menyandarkan punggung dengan santai sambil menyesap wiski. Bunyi denting es batu dalam gelas kristal menjadi satu-satunya musik di ruangan ini. Mataku tak lepas darinya, menatap intens setiap jengkal kulitnya yang kini memerah karena malu.Tiara berdiri mematung di
Tanganku terangkat, jemariku yang kasar mengusap pelan pundaknya yang terbuka, turun perlahan mengikuti garis tulang selangkangnya. "Bayangkan, Tiara... malam ini saja kau menolak, besok bapakmu mungkin sudah membusuk di sel kabupaten, dan kau akan berakhir di ranjang pengap para aki-aki itu."Aku
Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main ka
Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore