LOGIN“Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang.
Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan dadakan ini bukan sesuatu yang gila. Padahal aku sendiri masih sulit percaya dengan semua yang sedang terjadi. Namun satu hal yang pasti, aku tidak mungkin mundur sekarang. Aku mengembuskan napas pelan. Ravyan benar. Aku harus fokus pada satu masalah terlebih dahulu. Pertemuan malam itu akhirnya selesai. Aku dan Ravyan keluar dari kafe hampir bersamaan sebelum berjalan menuju kendaraan masing-masing. “Jangan tidur terlalu malam,” ucapnya tiba-tiba saat aku hendak membuka pintu mobil. Aku menoleh singkat. “Kenapa?” “Kamu kelihatan capek.” Hanya kalimat sederhana. Namun entah kenapa, dadaku merasa hangat sesaat. Belum sempat aku membalas, Ravyan sudah lebih dulu berjalan menuju motornya. Aku cepat-cepat masuk ke dalam mobil sebelum laki-laki itu sadar kalau pipiku mulai memanas lagi. Mesin mobil menyala. Namun bukannya menuju rumah, aku justru membelokkan kendaraan ke arah gedung pernikahan yang sudah dibayar lunas untuk acara nanti. Dua puluh menit dari kafe tadi, mobilku akhirnya berhenti tepat di depan gedung megah dengan lampu-lampu terang yang masih menyala. Aku tidak langsung turun. Mataku memandangi bangunan besar itu dari balik kaca mobil. Lima hari lagi, tempat ini seharusnya menjadi awal hidup baru bersama Mas Arland. Namun sekarang, semuanya berubah. Tanganku perlahan meraih sesuatu dari dalam tas. Sebuah flashdisk kecil berwarna hitam. Sudut bibirku terangkat tipis. “Kalau kalian mau bermain kotor ... aku bisa lebih kotor.” Aku membuka pintu mobil lalu keluar perlahan. Suara heels-ku menggema pelan di atas paving block yang bersih. Malam terasa cukup dingin, tetapi anehnya kepalaku justru terasa sangat tenang sekarang. Aku berjalan masuk ke dalam gedung. Pintu utama masih terbuka karena beberapa staf dekorasi tampak sibuk melakukan persiapan awal. Begitu masuk, langkahku melambat. Ruangan ballroom itu terlihat sangat indah bahkan dalam kondisi setengah jadi. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit. Rangka dekorasi bunga sudah mulai dipasang di pelaminan. Dan tepat di tengah ruangan itu, aku membayangkan diriku berdiri mengenakan gaun pengantin. “Selamat malam, Kak Ezlyra?” Aku menoleh. Seorang perempuan dengan blazer hitam dan clipboard di tangan berjalan cepat menghampiriku sambil tersenyum ramah. Maya, kepala WO untuk acara pernikahanku. “Kakak malam-malam datang sendirian?” tanyanya heran. Aku membalas senyum tipis. “Aku cuma mau memastikan semuanya berjalan lancar.” “Tenang aja, Kak.” Maya tersenyum antusias. “Persiapannya hampir seratus persen selesai. Tinggal final fitting dekor dan susunan acara.” Aku mengangguk pelan sambil kembali melihat ballroom luas di hadapanku. Tersisa empat hari lagi. Semua orang akan datang ke tempat ini dengan melihat pernikahan Ezlyra dan Dokter Arland. Padahal ... aku sedang mempersiapkan kehancuran terbesar dalam hidup laki-laki itu. “May,” panggilku pelan. “Iya, Kak?” Aku menatap lurus ke arah pelaminan yang masih kosong. Kemudian meraih tangan Maya dan menyerahkan flashdisk itu. "Ini surprise dariku untuk calon suamiku nanti. Jangan bilang siapa-siapa, ya? Ini spesial dariku." Maya menerimanya tanpa raut curiga. "Siap, Kak." "Pastikan benda ini hanya kamu yang pegang dan putar videonya sebelum akad dimulai. Nanti aku beri aba-aba. Paham?" Ibu jari Maya teracung. "Beres, Kak." Aku tersenyum simetris. Menatap Maya dengan rasa puas. Setelah memastikan flashdisk itu berpindah ke tangan dan Maya mengerti instruksi dengan baik. Aku pun melenggang keluar dari gedung lalu pulang ke rumah untuk benar-benar menunggu hari itu tiba. ********* Hari demi hari berlalu dengan sangat cepat. Hari pernikahan yang tinggal di depan mata, kini sudah memasuki hari H. Rangkaian demi rangkaian acara sebelum acara inti, dilakukan dengan runtut di rumah besar keluargaku. Kak Elina yang turut mengetahui rahasia ini, tampak benar-benar menutup mulutnya. Ia bersikap seolah tidak tahu apa-apa dan semuanya normal-normal saja. Hari pernikahan itu akan berlangsung hari ini. Tubuhku sudah dibalut dengan gaun pengantin putih gading nan indan. Riasan wajahku paripurna. Wangi bunga melati basah bahkan tercium bak parfum mahal yang langka ditemukan. Di sampingku, Mas Arland tak kalah gagahnya dengan beskap putih senada dengan gaunku. Hari ini menjadi hari pertemuan pertama kami sejak aku pulang malam itu dan memilih menghindar bertemu dengannya. Kami sudah duduk di kursi akad. Di depan kami, mas kawin serta mahar pernikahan tersusun rapi dalam kotak mika transparan tersimpan di atas meja. Bahkan penghulu yang berhadapan dengan kami, terlihat sudah siap untuk memulai acara ini. "Ananda Arland Maheswara, sudah siap?" tanya penghulu itu. "Siap, Pak." Mas Arland menjawab tanpa keraguan sedikitpun. Lantas, seorang wali hakim mengulurkan tangan yang langsung dijabat oleh Mas Arland. "Sebentar," ucapku menginterupsi. Semua mata di meja ini langsung menyorot padaku. Terutama Mas Arland yang terlihat heran sekaligus tidak sabar. "Ada yang perlu saya beritahukan," ucapku kemudian. Jabatan tangan Mas Arland dengan sang wali hakim pun terlepas. "Ada apa?" bisik Mas Arland. Kepalaku tegak menatap lurus ke depan. "Aku gak bisa meneruskan pernikahan ini dengan kamu." Suasana mendadak diam, tapi detik berikutnya justru menjadi riuh dan ramai. "Lyra, apa maksud kamu?" Mami mencolek lenganku cukup kasar. "Jangan ngawur!" Aku lantas menjentikkan jari hingga berbunyi. Tidak sampai hitungan menit, layar besar di belakang pelaminan yang semula memunculkan foto-foto prewedding kami mulai berubah. Foto-foto prewedding perlahan menghilang dari layar. Berganti menjadi layar hitam, lalu ... sebuah video mulai diputar. Suara desahan perempuan langsung memenuhi ballroom megah itu. Mataku menangkap wajah Mas Arland yang seketika pias. Sedangkan aku justru duduk sangat tenang. Desahan dan erangan manja mereka berdua menggema di tiap sudut ruangan yang mulai gempar. Semua mata tertuju pada layar besar dengan mata membulat tidak percaya. “Ya Tuhan ....” “Itu Dokter Arland?” “Astaga!” Mami langsung menutup mulut dengan tangan gemetar. Sedangkan Kak Elina memejamkan mata pelan seperti sudah menyiapkan diri menghadapi ledakan ini sejak awal. Video terus berjalan tanpa ampun. Wajah Mas Arland dan Alana terlihat jelas tengah bergumul panas. Bahkan suara mereka terdengar sangat jelas melalui speaker ballroom. “Aku lebih cinta sama kamu dibanding Ezlyra.” Dadaku tetap nyeri mendengarnya meski aku sudah tahu semuanya. Namun kali ini aku tidak menangis. Aku ingin laki-laki itu merasakan bagaimana rasanya dipermalukan di depan semua orang. “MATIKAN!” bentak Mas Arland tiba-tiba sambil berdiri kasar dari kursinya. Wajahnya merah padam dengan rahang mengeras. Namun terlambat. Semua orang sudah melihatnya. Semua orang sudah tahu sosok dokter itu sebenarnya tak lebih dari seorang bajingan. .-Malam mulai turun ketika suara mesin kendaraan terdengar dari halaman rumah.Aku yang sejak tadi duduk di ruang keluarga langsung menoleh.Pintu depan terbuka beberapa detik kemudian, memperlihatkan Ravyan yang baru pulang. Seragamnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya terlihat cukup lelah."Baru pulang?" tanyaku sambil bangkit.Ravyan mengangguk. "Kamu belum tidur?""Belum. Aku nunggu, Pak Mayor."Senyum kecil langsung muncul di wajahnya. Ia meletakkan tas kerja di sofa, kemudian menghampiriku."Kenapa ditungguin?""Pengen makan malam bareng."Ravyan melirik ke arah meja makan. Beberapa hidangan sudah tersusun rapi di sana.Ia mengangkat alis. "Kamu masak?"Aku menggeleng cepat. "Aku pesan."Ravyan tertawa kecil. "Saya sudah menduga.""Kenapa?""Karena kalau kamu masak, biasanya dapurnya lebih berantakan daripada makanannya."Aku langsung memukul lengannya pelan. "Enak aja."Ia terkekeh sambil merangkul bahuku. "Ya sudah. Ayo kita makan."Kami kemudian duduk berhadapan di
- "Di—jual?" tanyaku dengan suara pelan. Udara terasa memenuhi kerongkongan hingga rasanya sulit berkata. Alana terlihat mengangguk santai. Sementara aku justru dilanda rasa tak percaya. "Tapi, Lana ... aku juga gak berbohong soal Mas Arland yang datang ke studio desain untuk jadi klien, lalu konsultasi tentang bangunan rumah. Bahkan sekarang, desain itu baru saja selesai aku buat," jelasku. "Aku percaya mba berkata yang sebenarnya. Tapi aku juga gak bohong tentang hubunganku dan Mas Arland yang sudah selesai. Juga tentang tanah itu yang sudah terjual gak lama setelah kami menikah. Makanya sejak menikah sampai akhirnya dia pergi, kami menumpang di rumah Mama. Setelah lisensi kedokterannya dicabut, dia pernah coba jadi sopir online. Tapi dia selalu mengeluh kalau penghasilannya gak tentu dan gak seberapa. Dia juga pernah coba usaha lain, tapi dia selalu menginginkan hasil yang cepat dan besar. Dia juga selalu membanding-bandingkan dengan penghasilannya saat masih menjadi dokter umu
—Hari demi hari berlalu.Klien pun makin banyak berdatangan. Mulai yang sekedar konsultasi ringan seperti desain untuk satu ruang kamar, atau ingin renovasi kamar mandi, hingga klien yang ingin benar-benar memulai dari awal membangun rumah.Hari itu, setelah hampir dua minggu mengerjakan proyek rumah Mas Arland, akhirnya seluruh rancangan berhasil kuselesaikan.Denah sudah final.Konsep eksterior dan interior sudah disusun.Mood board material juga sudah selesai, lengkap dengan beberapa alternatif agar Mas Arland bisa menyesuaikannya dengan anggaran pembangunan.Aku bahkan sudah membuat visual tiga dimensi untuk beberapa ruangan utama.Aku menatap layar laptop dengan perasaan lega."Finally."Aku menyandarkan punggung ke kursi.Proyek pertamaku yang cukup besar akhirnya selesai.Meskipun klien pertamaku adalah seseorang dari masa lalu, aku tidak bisa menyangkal bahwa proyek ini memberiku banyak pengalaman baru.Bukan hanya tentang desain.Tapi juga tentang bagaimana bersikap profesio
—Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaannya yang kurasa melenceng. Aku menatapnya heran, menunggu mungkin detik berikutnya ia akan meralat pertanyaannya itu. Namun, ia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya menatapku makin lekat.Aku pun memalingkan wajah dan kembali melihat pada layar laptop. "Sorry, tapi pertanyaan kamu gak ada hubungannya dengan urusan kita sekarang.""Tentu saja ada," jawabnya cepat.Aku menggeleng tegas. "Kamu tidak berhak bertanya di luar konteks.""Kamu gak bisa menjawab? Kamu gak bahagia?"Aku mengembus napas berat. "Bukan aku gak bisa jawab. Tapi aku gak mau menjawab. Kalau kamu masih mau gunakan jasaku, tolong jangan bertanya hal yang gak perlu. Tapi kalau kamu masih ingin terus bertanya hal yang gak seharusnya, kamu bisa cari jasa konsultan lain." Akhirnya aku memberinya keputusan tegas.Lelaki itu tampak menyilangkan kedua tangan di depan tubuhnya lalu tersenyum datar. "Masih sama."
—Saat arloji di pergelangan tangan menunjukkan pukul delapan pagi, aku bersama Ravyan akhirnya berangkat sama-sama meninggalkan rumah. Ravyan mengantarku lebih dulu menuju ruko, setelah itu barulah ia pergi menuju markas dengan motor gedenya.Di dalam mini studio, aku tidak langsung duduk di kursi dan membuka laptop. Beberapa sudut dan jendela tampak berdebu, sehingga aku membersihkannya lebih dulu.Setelah selesai, aku bergegas menuju pantry kecil untuk membuat secangkir cappuccino instan. Kemudian membawanya menuju meja kerja. Barulah aku membuka laptop dan memeriksa pekerjaan untuk hari ini. Dan ternyata, cukup banyak yang harus aku kerjakan. Terutama desain untuk rumah Mas Arland.Aku menarik napas dalam-dalam. Menarik laptop lebih dekat lalu mulai bekerja. Aku membuka folder proyek Mas Arland yang tersimpan di laptop.Ada beberapa catatan dari pertemuan kemarin, lengkap dengan kebutuhan yang ia jelaskan mengenai rumah yang akan diba
-Kedua kakiku terus berontak. Namun Ravyan tak goyah. Ia tetap melangkah meninggalkan ruang makan. Tangan kokohnya begitu kuat menggendong tubuhku hingga aku benar-benar kesulitan untuk memaksa turun.Sampai akhirnya ia menurunkan tubuhku, sedikit menghempasnya di atas sofa ruang televisi. Namun, bukan sekedar diturunkan, ia langsung mengurung tubuhku dengan cepat. Tangannya meraih remote di meja lalu menyalakan layar televisi begitu saja."Pak Mayor! Ini konyol." Suaraku naik beberapa oktaf. Apalagi tanganku benar-benar dibuat terkunci.Lelaki itu malah tersenyum. Jari telunjuknya bergerak turun menyentuh pipiku dan membelainya lembut. Namun, aku masih merasa sedikit kesal."Pak—""Sekali lagi kamu protes, saya cium tanpa ampun!" Ia memotong dengan cepat.Bibirku sontak cemberut, namun senyum lelaki itu malah makin merekah saja."Hmm, asal kamu tahu, kamu manyun begini bikin gairah saya naik 99x lipat, Sayang.
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir
Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa
Pagi hari sekali, aku keluar dari dari gedung rumah sakit dan segera masuk ke dalam mobil. Mayor Ravyan diperbolehkan pulang dua jam lagi, sedangkan Kak Elina sudah pulang lebih dulu. Sebelum matahari terbit, ponselku tidak berhenti berbunyi dan memunculkan nama Mas Arland di layarnya. Namun, tida
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl







