แชร์

5. Surprise!

ผู้เขียน: Sity Mariah
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-19 10:10:00

“Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang.

Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh.

Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan dadakan ini bukan sesuatu yang gila.

Padahal aku sendiri masih sulit percaya dengan semua yang sedang terjadi.

Namun satu hal yang pasti, aku tidak mungkin mundur sekarang.

Aku mengembuskan napas pelan.

Ravyan benar.

Aku harus fokus pada satu masalah terlebih dahulu.

Pertemuan malam itu akhirnya selesai.

Aku dan Ravyan keluar dari kafe hampir bersamaan sebelum berjalan menuju kendaraan masing-masing.

“Jangan tidur terlalu malam,” ucapnya tiba-tiba saat aku hendak membuka pintu mobil.

Aku menoleh singkat. “Kenapa?”

“Kamu kelihatan capek.”

Hanya kalimat sederhana. Namun entah kenapa, dadaku merasa hangat sesaat.

Belum sempat aku membalas, Ravyan sudah lebih dulu berjalan menuju motornya.

Aku cepat-cepat masuk ke dalam mobil sebelum laki-laki itu sadar kalau pipiku mulai memanas lagi.

Mesin mobil menyala.

Namun bukannya menuju rumah, aku justru membelokkan kendaraan ke arah gedung pernikahan yang sudah dibayar lunas untuk acara nanti.

Dua puluh menit dari kafe tadi, mobilku akhirnya berhenti tepat di depan gedung megah dengan lampu-lampu terang yang masih menyala.

Aku tidak langsung turun.

Mataku memandangi bangunan besar itu dari balik kaca mobil.

Lima hari lagi, tempat ini seharusnya menjadi awal hidup baru bersama Mas Arland.

Namun sekarang, semuanya berubah.

Tanganku perlahan meraih sesuatu dari dalam tas.

Sebuah flashdisk kecil berwarna hitam.

Sudut bibirku terangkat tipis.

“Kalau kalian mau bermain kotor ... aku bisa lebih kotor.”

Aku membuka pintu mobil lalu keluar perlahan.

Suara heels-ku menggema pelan di atas paving block yang bersih.

Malam terasa cukup dingin, tetapi anehnya kepalaku justru terasa sangat tenang sekarang.

Aku berjalan masuk ke dalam gedung.

Pintu utama masih terbuka karena beberapa staf dekorasi tampak sibuk melakukan persiapan awal.

Begitu masuk, langkahku melambat.

Ruangan ballroom itu terlihat sangat indah bahkan dalam kondisi setengah jadi.

Lampu kristal menggantung megah di langit-langit.

Rangka dekorasi bunga sudah mulai dipasang di pelaminan.

Dan tepat di tengah ruangan itu, aku membayangkan diriku berdiri mengenakan gaun pengantin.

“Selamat malam, Kak Ezlyra?”

Aku menoleh.

Seorang perempuan dengan blazer hitam dan clipboard di tangan berjalan cepat menghampiriku sambil tersenyum ramah.

Maya, kepala WO untuk acara pernikahanku.

“Kakak malam-malam datang sendirian?” tanyanya heran.

Aku membalas senyum tipis. “Aku cuma mau memastikan semuanya berjalan lancar.”

“Tenang aja, Kak.” Maya tersenyum antusias. “Persiapannya hampir seratus persen selesai. Tinggal final fitting dekor dan susunan acara.”

Aku mengangguk pelan sambil kembali melihat ballroom luas di hadapanku.

Tersisa empat hari lagi.

Semua orang akan datang ke tempat ini dengan melihat pernikahan Ezlyra dan Dokter Arland.

Padahal ...

aku sedang mempersiapkan kehancuran terbesar dalam hidup laki-laki itu.

“May,” panggilku pelan.

“Iya, Kak?”

Aku menatap lurus ke arah pelaminan yang masih kosong.

Kemudian meraih tangan Maya dan menyerahkan flashdisk itu. "Ini surprise dariku untuk calon suamiku nanti. Jangan bilang siapa-siapa, ya? Ini spesial dariku."

Maya menerimanya tanpa raut curiga. "Siap, Kak."

"Pastikan benda ini hanya kamu yang pegang dan putar videonya sebelum akad dimulai. Nanti aku beri aba-aba. Paham?"

Ibu jari Maya teracung. "Beres, Kak."

Aku tersenyum simetris. Menatap Maya dengan rasa puas.

Setelah memastikan flashdisk itu berpindah ke tangan dan Maya mengerti instruksi dengan baik. Aku pun melenggang keluar dari gedung lalu pulang ke rumah untuk benar-benar menunggu hari itu tiba.

*********

Hari demi hari berlalu dengan sangat cepat. Hari pernikahan yang tinggal di depan mata, kini sudah memasuki hari H.

Rangkaian demi rangkaian acara sebelum acara inti, dilakukan dengan runtut di rumah besar keluargaku.

Kak Elina yang turut mengetahui rahasia ini, tampak benar-benar menutup mulutnya. Ia bersikap seolah tidak tahu apa-apa dan semuanya normal-normal saja.

Hari pernikahan itu akan berlangsung hari ini.

Tubuhku sudah dibalut dengan gaun pengantin putih gading nan indan. Riasan wajahku paripurna. Wangi bunga melati basah bahkan tercium bak parfum mahal yang langka ditemukan.

Di sampingku, Mas Arland tak kalah gagahnya dengan beskap putih senada dengan gaunku.

Hari ini menjadi hari pertemuan pertama kami sejak aku pulang malam itu dan memilih menghindar bertemu dengannya.

Kami sudah duduk di kursi akad. Di depan kami, mas kawin serta mahar pernikahan tersusun rapi dalam kotak mika transparan tersimpan di atas meja. Bahkan penghulu yang berhadapan dengan kami, terlihat sudah siap untuk memulai acara ini.

"Ananda Arland Maheswara, sudah siap?" tanya penghulu itu.

"Siap, Pak." Mas Arland menjawab tanpa keraguan sedikitpun.

Lantas, seorang wali hakim mengulurkan tangan yang langsung dijabat oleh Mas Arland.

"Sebentar," ucapku menginterupsi.

Semua mata di meja ini langsung menyorot padaku. Terutama Mas Arland yang terlihat heran sekaligus tidak sabar.

"Ada yang perlu saya beritahukan," ucapku kemudian.

Jabatan tangan Mas Arland dengan sang wali hakim pun terlepas.

"Ada apa?" bisik Mas Arland.

Kepalaku tegak menatap lurus ke depan. "Aku gak bisa meneruskan pernikahan ini dengan kamu."

Suasana mendadak diam, tapi detik berikutnya justru menjadi riuh dan ramai.

"Lyra, apa maksud kamu?" Mami mencolek lenganku cukup kasar. "Jangan ngawur!"

Aku lantas menjentikkan jari hingga berbunyi. Tidak sampai hitungan menit, layar besar di belakang pelaminan yang semula memunculkan foto-foto prewedding kami mulai berubah.

Foto-foto prewedding perlahan menghilang dari layar.

Berganti menjadi layar hitam, lalu ...

sebuah video mulai diputar.

Suara desahan perempuan langsung memenuhi ballroom megah itu.

Mataku menangkap wajah Mas Arland yang seketika pias.

Sedangkan aku justru duduk sangat tenang.

Desahan dan erangan manja mereka berdua menggema di tiap sudut ruangan yang mulai gempar.

Semua mata tertuju pada layar besar dengan mata membulat tidak percaya.

“Ya Tuhan ....”

“Itu Dokter Arland?”

“Astaga!”

Mami langsung menutup mulut dengan tangan gemetar.

Sedangkan Kak Elina memejamkan mata pelan seperti sudah menyiapkan diri menghadapi ledakan ini sejak awal.

Video terus berjalan tanpa ampun.

Wajah Mas Arland dan Alana terlihat jelas tengah bergumul panas. Bahkan suara mereka terdengar sangat jelas melalui speaker ballroom.

“Aku lebih cinta sama kamu dibanding Ezlyra.”

Dadaku tetap nyeri mendengarnya meski aku sudah tahu semuanya.

Namun kali ini aku tidak menangis.

Aku ingin laki-laki itu merasakan bagaimana rasanya dipermalukan di depan semua orang.

“MATIKAN!” bentak Mas Arland tiba-tiba sambil berdiri kasar dari kursinya. Wajahnya merah padam dengan rahang mengeras.

Namun terlambat.

Semua orang sudah melihatnya.

Semua orang sudah tahu sosok dokter itu sebenarnya tak lebih dari seorang bajingan.

.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Sweety
makan itu Armand
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Memburuk

    Aku masih di tempatku. Menatap Lyra yang akhirnya tenang meski di bawah pengaruh obat. Menit demi menit berlalu dan aku masih hanya bisa menatapnya. Tanpa mampu menyentuhnya sedikit saja. Padahal aku amat sangat merindukannya. Tujuh hari jauh darinya, rinduku sesak memenuhi dada. Dan kenyataannya, rindu ini tidak dapat berlabuh seperti yang kubayangkan."Sayang ...." Aku mencoba memanggilnya. Masih berharap Lyra akan bersuara. Namun harapanku lagi-lagi harus pupus, karena Lyra hanya mengedipkan mata dan bulir bening kembali jatuh dari sudut matanya.Aku menghela napas lalu mengusap wajah kasar.Aku tidak boleh memaksanya atau Lyra akan mengamuk.Aku pun harus menahan diri dan berhenti bertanya, meski ribuan pertanyaan yang memenuhi kepalaku tak satupun mendapatkan jawaban.Lewat tengah malam, perlahan-lahan Lyra pun memejamkan kedua matanya. Deru napasnya tampak makin tenang. Lyra tertidur di bawah pengaruh obat. Dan kuharap efeknya akan lama. Karena aku sendiri tidak sanggup kalau ha

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Trauma Berat

    Aku pun gamang.Tapi tidak ada jalan lain. Lyra harus diperiksa dan aku harus tahu apa yang terjadi dengannya. Aku harus tahu kondisinya.Akhirnya aku setuju.Dokter menyiapkan suntikan berisi obat. Kemudian memintaku memegangi kedua kaki dan satu tangan Lyra.Tentu saja Lyra berontak dan berteriak. Tenaganya pun besar sehingga aku harus mengerahkan tenagaku juga untuk menahannya.Lyra terus berteriak. Kaki serta tangannya terus meronta. Sampai dokter berhasil menyuntik lengannya. Karena dosisnya rendah, Lyra masih terus berteriak dan histeris. Dia mengamuk di atas tempat tidur. Melempar apa yang ada di dekatnya hingga kasur itu berantakan.Lima belas menit berselang, tubuh Lyra perlahan melemah. Dia berbaring tanpa teriakan dan gerakan lagi. Tatapan matanya kembali kosong dan saat itu, dokter pun melakukan pemeriksaan dengan telaten.Dokter melepas stetoskop di daun telinganya lalu menghela napas."Mayor, istri

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Obat Penenang

    Hatiku berdebar hebat sekaligus nyeri. Ribuan ton batu seolah ditimpakan tanpa ampun. "Bau ini ...." Aku bergumam. Tanganku meremas selimut tersebut hingga urat-urat tampak menonjol. Sebagai lelaki, aku sangat hafal bau khas yang tertinggal di atas selimutnya. Itu ... bau sperma dari seorang lelaki. Aku lalu menatap Lyra yang terbaring lemah dan masih terpejam. "Apa yang sudah terjadi?" tanyaku dengan gemeletuk gigi yang terdengar. Setelah mencium aroma sperma yang tertinggal, pikiranku kacau. Hatiku marah. Darahku tersirap naik sampai ubun-ubun. Aku tidak bisa berpikir positif. "Siapa yang berani Lyra bawa ke kamar ini?" gumamku dengan rasa sakit yang makin mengoyak hati. Tapi satu sisi hatiku pun bertanya, kalau memang Lyra mengkhianatiku, kenapa kondisinya justru seperti ini? "Enggak mungkin...?" Air mataku tumpah ruah. Ah, terlalu

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Jejak Lembab

    Aku berjalan lunglai menuju kamar mandi. Mendorong daun pintu yang tidak tertutup sepenuhnya. Begitu masuk, aku langsung mendengar suara gemericik air.Dan Lyra ada di sana.Di bawah kran shower yang mengalir deras.Lyra menangis.Pelan, lalu histeris.Tangannya tak diam saja. Setelah meremas rambut, kemudian ia memukul-mukul pahanya lalu mencakarnya juga."Lyra ...." Suaraku lirih memanggilnya. Namun ia seperti tidak mendengarku.Ia terus saja menangis.Tergugu sambil memeluk lututnya. Berselang detik, ia kemudian berteriak. Dan hal itu terus berulang.Aku ingin mendekat, tapi tadi saja Lyra tak bisa didekati.Akhirnya aku keluar dari kamar mandi. Kemudian menghubungi Mami meski jam di layar ponsel menunjukkan sudah setengah sebelas malam.Panggilan terhubung cukup lama sampai Mami menerimanya."Halo ...?" Suara Mami terdengar parau di ujung telpon."Mi, maaf saya me

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   POV RAVYAN

    POV RAVYAN ~Langit malam begitu pekat saat aku turun dari mobil dinas lalu berdiri di depan pagar rumah.Arloji di pergelangan tanganku menunjukkan sudah pukul sepuluh malam. Aku terlambat satu jam karena jalanan yang macet.Kuhembus napas lega karena akhirnya bisa kembali pulang setelah menyelesaikan tugas dan berjauhan satu Minggu lamanya dengan istriku.Tanpa sadar aku tersenyum melihat gerbang pagar yang tertutup rapat. Lampu teras serta halaman yang menyala hangat.Kugeret koper dan kemudian masuk.Halaman rumah tampak sedikit berantakan dari biasanya. Kemungkinan karena Lyra menginap di rumah Mami sehingga tidak mengurusnya, tapi itu bukan masalah. Besok pagi halaman ini masih bisa dibersihkan.Hatiku makin lega saat akhirnya menginjak teras rumah.Aku tidak segera masuk, melainkan menatap pintu rumah dengan penuh harap.Entah kenapa, setelah satu Minggu berjauhan dan kini akan ber

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Lelaki Bajingan

    Saat sedang asyik bercermin degan memandangi penampilanku sendiri, lampu kamar utama ini tiba-tiba saja mati. Hingga ruangan menjadi gelap gulita membuatku susah melihat.Tanganku meraba-raba hingga berhasil menemukan ponsel dan menyalakan senternya.Aku menatap keadaan ruangan yang gelap lalu mengarahkan ponsel pada pintu dan keluar."Ya ampun ... jangan-jangan tokennya habis karena aku tinggal menginap," gumamku sendirian saat mengetahui seluruh ruangan dalam rumah ini dalam keadaan gelap.Sebelum meninggalkan rumah dan menginap di rumah Mami, aku benar-benar tidak mengecek token listrik hingga inilah akibatnya.Aku pun keluar dari kamar berbekal cahaya senter dari ponsel.Kemudian mulai mengisi daya token melalui aplikasi dari ponsel. Setelah nomor yang diperlukan muncul, aku pun bergegas keluar.Teras serta halaman pun gelap. Tapi rumah di depan menyala cukup terang.Aku menggeser kursi rotan di teras lalu m

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Tidak Puas Sepenuhnya

    "Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Keputusan Telak

    Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Setimpal

    Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   4. Pantang Melanggar Janji

    Pagi hari sekali, aku keluar dari dari gedung rumah sakit dan segera masuk ke dalam mobil. Mayor Ravyan diperbolehkan pulang dua jam lagi, sedangkan Kak Elina sudah pulang lebih dulu. Sebelum matahari terbit, ponselku tidak berhenti berbunyi dan memunculkan nama Mas Arland di layarnya. Namun, tida

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status