LOGINSeminggu kemudian, ruko itu benar-benar berubah.Dindingnya dicat ulang dengan warna krem lembut. Kaca depan diberi tulisan sederhana:LYRA SPACE CONSULTATIONDi lantai bawah terdapat meja kerja utama, dua kursi untuk klien, sofa kecil, rak berisi katalog material, serta papan besar yang penuh dengan potongan warna dan contoh desain.Sementara lantai dua kujadikan ruang kerja sekaligus tempat menyimpan dokumen dan berbagai perlengkapan desain.Tidak mewah.Namun cukup nyaman.Dan yang paling penting, tempat itu terasa seperti milikku.Hari pertama, aku memberanikan diri memasang iklan melalui media sosial.Aku bahkan menghabiskan hampir satu jam hanya untuk memilih kalimat promosi.Ravyan yang sedang duduk di sofa akhirnya ikut berkomentar."Kalau mau cepat dapat klien, tulis saja.""Apa?""Jasa konsultasi desain. Harga murah. Gratis kopi dari suami pemilik."
Keesokan pagi, Ravyan langsung membuktikan ucapannya. Ia membawaku pergi untuk membeli laptop baru. Meski laptop lamaku masih bagus dan awet, tapi memang sudah terlalu banyak file yang pasti akan bercampur jika dipakai untuk jasa konsultasi nantinya. Sehingga Ravyan yang dengan kesadaran penuh mengajakku untuk membeli laptop baru.Tidak hanya laptop, Ravyan juga memintaku membeli keperluan lagi yang dibutuhkan nantinya. Jujur saja aku belum bisa meraba apa-apa saja yang perlu dibeli. Jasa konsultasi itu masih sebatas rencana dalam otakku, tidak pernah terbayangkan akan terealisasi secepat ini."Ini terlalu cepat, Pak Mayor!" Aku protes setelah kembali ke dalam mobil.Satu unit laptop keluaran terbaru dengan spek paling tinggi sudah deal dibeli dan berada di pangkuan Ravyan sekarang. Mesin mobil sudah dinyalakan, bahkan sudah mulai bergerak meninggalkan parkiran basement gedung pusat penjualan elektronik."Saya justru gak mau kamu merasa
"Mulai kebayang 'kan?" Suara Ravyan terdengar dari belakang.Aku segera menggeleng. "Belum.""Bohong. Saya bisa lihat senyum kamu." Ia mencolek ujung hidungku membuatku mendengkus.Pengelola ruko kemudian menjelaskan harga sewa untuk satu tahun, termasuk beberapa ketentuan mengenai renovasi dan fasilitas yang diperbolehkan.Aku seketika terdiam dan tercengang.Jumlahnya tidak sedikit.Keraguan dan ketakutan langsung menyergapku lagi. Pekerjaan ini bahkan belum terbentuk, tapi Ravyan sudah harus menggelontorkan dana puluhan juta untuk memfasilitasi."Pak Mayor!" Aku menarik lengan Ravyan begitu pengelola itu memberi kami waktu untuk berdiskusi. "Kita gak perlu yang seperti ini."Ravyan menoleh. "Kenapa?""Karena mahal.""Masih masuk akal.""Buat kamu mungkin masuk akal. Tapi buat aku, ini investasi besar sementara jasanya bahkan belum punya satu klien pun."Ravyan tidak langsun
Hari pertama memulai kembali lembaran hidup di rumah yang sama dan masih dengan orang yang sama. Bahkan dengan perasaan yang juga tetap sama.Udara pagi di halaman belakang terasa sangat asri. Aku dan Ravyan memutuskan menikmati teh hangat di sana. Menempati gazebo ditemani kicauan burung yang sesekali terbang melewati langit di atas kami."Kamu gak kerja hari ini?" tanyaku pada Ravyan di hadapan.Ia tengah bersandar pada tiang gazebo sambil membaca buku di tangannya.Helaan napas berat pun terdengar. "Saya mengajukan cuti. Lusa baru masuk lagi."Aku pun hanya mengangguk mendengar jawabannya.Tak berapa lama, Ravyan tampak menutup halaman buku yang sedang ia baca. Lalu membiarkan buku itu di atas pangkuannya.Tiba-tiba, ia meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kamu sendiri gimana?"Keningku sempat mengernyit. "Gimana ... apanya?"Ravyan mengembus napas pelan. "Gimana rencana kamu ke depan setelah resign
Selesai sarapan, kami pun segera menuju parkiran hotel. Mobilku masih terparkir di tempat yang sama. Tidak bergeser satu inchi pun, karena aku memang tak menggunakannya selama menginap di hotel. Kendaraan roda empat itu pun terlihat sedikit berdebu."Kamu ke sini naik apa?" tanyaku pada Ravyan yang sudah sibuk memasukkan koper-koper milikku ke dalam bagasi."Motor saya di parkiran khusus motor," jawabnya tanpa menghentikan aktivitas. Hingga pintu bagasi mobil akhirnya ia tutup."Terus sekarang kita pulang masing-masing?" tanyaku kembali.Ravyan menggeleng cepat. "No! Mana mungkin saya membiarkan kamu nyetir sendirian.""Jadi?""Saya yang bawa mobil. Motor saya biar nanti diambil anak buah."Aku mengangguk patah-patah."Kamu tunggu di sini. Saya titip kunci ke resepsionis sebentar."Lelaki itu bergegas pergi dan aku langsung masuk ke mobil. Mengisi kursi di sebelah kemudi.Aku mengangguk patah-p
Kami sudah duduk di meja cafetaria hotel. Sarapan telah dihidangkan. Pelayan baru saja meletakkan dua piring sarapan di hadapan kami ketika ponsel Ravyan yang berada di atas meja bergetar.Aku dan Ravyan sama-sama menoleh.Nama Mami terpampang jelas di layar.Aku langsung menghela napas. "Apa kubilang. Mami pasti nelpon lagi.Ravyan mengangkat kedua alis. "Kali ini gak bisa dihindari."Aku menatapnya lalu mengangguk pelan. "Coba aja abaikan."Ravyan mendecak seraya menggeleng. "Definisi menggali lubang kubur sendiri."Ponsel itu masih terus bergetar. Akhirnya aku yang mengambil dan menerima panggilan videonya.Layar langsung berubah menjadi wajah Mami yang tampak cemas."Lyra!"Aku tersenyum kaku. "Iya, Mi.""Ini beneran kamu?""Iya, Mi. Ini Lyra. Anak Mami."Mami mengembuskan napas lega. "Ya Allah, Nak. Mami sampai gak bisa tidur beberapa malam. Kamu pergi tanpa kaba
Aku langsung berjalan menuju ruangan tempat Alana dirawat.Semakin dekat dengan ruangannya, langkahku justru semakin berat.Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman yang menggelayuti dada sejak tadi.Mungkin karena video semalam. Mungkin juga karena aku takut melihat send
Perjalanan yang awalnya kupikir hanya sebentar ternyata memakan waktu hampir tiga jam.Kami sempat berhenti dua kali.Sekali untuk mengisi bensin. Dan sekali lagi membeli minuman dingin di minimarket pinggir jalan.Namun sebagian besar waktu dihabiskan di atas motor.Melewati hamparan sawah.Perbuk
"Kalian sudah tahu akan tinggal di mana setelah menikah?" tanya Mami. Pembicaraan di meja makan ini rupanya terus berlanjut."Kebetulan saya sudah ada rumah, Mi. Tidak terlalu besar seperti rumah ini. Tapi, cukup untuk kami berdua memulai hidup baru," jawab Ravyan dengan cepat.
Aku refleks berhenti.Jantungku yang masih tak karuan, kini makin berulah.Pelan aku menoleh.Ravyan berdiri sangat dekat di belakangku sekarang. Jemarinya masih menggenggam pergelangan tanganku hangat.“Kenapa buru-buru kabur?” tanyanya santai.“Aku g







