LOGINTok.
Tok. "Masuk." Ceklek. Pintu ruangan Kenan terbuka dari luar, Darel, pria berusia tiga puluh tahun masuk ke dalam ruangan Kenan sambil membawa beberapa berkas. "Ini laporan perkembangan proyek vila yang anda ingikan tuan." ucap Darel. "Letakkan dimeja." Darel mengangguk kemudian meletakkan berkas itu ke atas meja. Tidak langsung pergi, Darel masih berdiri ditempatnya karena masih ada satu hal yabg ingin dia sampaikan pada Kenan. Melihat asistennya masih berdiri, Kenan sedikit mendongak. "Apa masih ada hal lain?" tanya Kenan. Darel mengangguk. "Duduk." ucap Kenan. Darel kemudian duduk dihadapan Kenan. Kenan melepaskan kacamata yang digunakannya kemudian menatap asistennya. "Ada apa?" "Tuan Ren meminta saya untuk memberitahu anda, bahwa selama beliau honeymoon anda diutus untuk membantu mengerjakan pekerjaannya." Kenan mengangguk, dia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Tidak heran lagi jika dia sering membantu pekerjaan Ren. Menurutnya, Ren adalah panutan yang sempurnya untuk dirinya hingha bisa mencapai posisi seperti sekarang ini. Sebagai pewaris perusahaan Louhan, Ren sering kali diajak oleh Raditya untuk ikut dalam perjalanan bisnis sekaligus mengajari Ren cara berbisnis yang benar. Tak ada rasa iri dalam hati Kenan, karena Raditya sudah membagi semuanya seadil-adilnya untuk mereka. Kenan justru merasa bangga karena dia dan juga Ren mampu membawa perusahaan Louhan lebih maju dari sebelumnya. "Kapan mereka akan berangkat?" "Mungkin sore nanti tuan." "Dan ada satu hal lagi, Vegas meminta laporan proyek kerja sama dengan perusahaan Mogani. Saya sudah memerika beberapa namun masih bayak yang harus diperbaiki." "Minta anak design untuk menyerahkan desain proyeknya. Tolong kirimkan juga anggaran serta perancangan pembagunan, nanti akan aku diskusikan dengan papa." "Baik tuan, saya akan segera mengirimnya lewat email." "Kalau begitu saya permisi." sambung Darel. Kenan mengangguk, dia kembali memasang kacamatanya lalu melanjutkan pekerjaannya. Papa dan Ren belum mulai bekerja setelah acara pernikahan kemarin, apa lagi ditambah sekarang Ren akan pergi honeymoon selama tiga hari, mau tak mau dia akan membantu papanya menghandel perusahaan. Kenan menghela nafas panjang, tubuhnya masih terasa lelah namun dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia kembali fokus pada laptop didepannya, jari-jarinya menari-nari diatas keyboard sambil sesekali membolak-balik berkas dihadapannya. Kenan Albert Louhan, pria tampan berusia dua puluh delapan tahun dengan tinggi seratus delapan puluh lima centimeter. Memiliki alis tebal rapi serta garis rahang yang tegas, ketika tersenyum pipi sebelah kanannya akan timbul lesung pipi. Meksi terlihat dingin diluar, namun kenan memiliki sifat yang humbel dan mudah bergaul. Kenan memiliki tiga sahabat yang sudah dekat sejak sekolah menengah atas dulu. Hingga saat masuk universitas pun mereka masih bersahabat hingga sekarang. Tak jarang mereka berempat menghabiskan waktu bersama meski disela kesibukan pekerjaan. Ting. Ponsel disebelah Kenan berdenting tanda pesan masuk, Kenan menatap ponselnya yang terdapat pesan masuk dari salah satu sahabatnya. Sean : jangan lupa nanti malam ulang tahun Adistie. Saking banyaknya pekerjaan, Kenan sampai lupa jika sekarang hari ulang tahun sahabatnya. "Baiknya aku kasih kado apa ya?" gumam Kenan. Nampak berpikir sejenak sampai akhirnya Kenan memiliki sebuah ide. "Apa aku tanya Flo saja? Dia pasti tahu selera wanita seperti apa." Kenan meutuskan untuk mengirim pesan pada kakak iparnya, selesai mengirim pesan dia kebali bekerja. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan Kenan terbuka tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kenan sudah menyiapakn segala macam umpatan pada orang yang dengan lancang asal masuk ke ruangannya. Namun umpatan itu tertelan begitu saja setelah tahu siapa yang datang mengunjunginya. "Apa saya menganggu anda tuan muda Louhan?" taya pria tampan sambil berjalan ke arah Kenan. Kenan menatap Roger dengan tatapan datarnya. "Amat sangat." jawab Kenan. Roger tertawa pelan kemudian duduk dikursi, dia menatap sahabatnya yang nampak sibuk dengan pekerjaannya. "Apa perusahaan lo nggak ada pekerjaan sama sekali?" tanya Kenan tanpa menoleh sedikitpun. "Gue sengaja mampir, habis pertemuan dengan klien tadi." jawab Roger. "Ada apa?" Roger menggeleng pelan. "Nanti malam lo datang kan ke acara ulang tahun Adistie?" "Tentu saja, tadi Sean juga sudah mengingatkan." Roger terdiam, membuat Kenan sedikit melirik ke arah sahabatnya. "Kenapa dengan wajah lo yang seperti itu?" Roger menghela nafas panjang, dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Gue masih nggak nyangka hubungan persahabatan kita sudah sampai dititik ini." "Jadi tujuan lo datang ke sini hanya untuk membahas persahabatan kita?" tanya Kenan tak habis pikir. "Gue suka sama Adistie." Ketikan jemari Kenan seketika berhenti saat mendengar ucapan sahabatnya. Sudut bibirnya terangkat hingga membentuk senyuman miring yang khas. Dia menegakan duduknya lalu menatap sahabatnya dengan tatapan intens. "Sudah gue duga." Roger mengerutkan keningnya. "Maskud lo?" Kenan melepaskan kacamatanya lalu meletakkannya diatas meja, dia melipat kedua tangannya ke depan dada. "Gue dan Sean sudah menduga dari lama kalau lo tertarik sama Adistie. Cuma, kita sengaja diam." "Huft, gue bingung harus gimana Ken." "Kalau lo memang suka, lo harus bilang. Kita nggak akan tahu akhirnya kalau kita tidak mau mencoba." "Tapi gue takut Ken, selama ini dia melihat gue sama seperti dia melihat kalian. Dimata Adistie, gue cuma sebatas sahabat seperti kalian." "Kita nggak tahu gimana perasaan Adistie sama lo Ger. Ditolak atau enggak itu urusan belakangan, yang terpenting lo jujur dulu sama perasaan lo." "Lo tenang aja, gue sama Sean pasti akan mendukung lo kok." Setelah mendengar nasihat Kenan, perasaan Roger terasa lebih ringan. Segala bebannya sedikit berkurang setelah dia berani jujur pada Kenan. "Thanks bro." Ting. Ponsel Kenan berdenting, dia mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang mengirimnya pesan. Senyum Kenan mengembang membuat Roger menatap heran sahabatnya. "Siapa Ken?" tanyanya penasaran. "Flo." jawab Kenan sepontan. Roger membelakan matanya. "Apa? Flo?" Kenan mengangguk lalu meletakan kembali ponselnya. "Jangan berpikiran macam-macam, gue hanya tanya kira-kira hadiah apa yang cocok untuk Adistie." "Gue kira lo mau nikung abang lo sendiri." "Siapa yang bisa menolak pesona Flo, tidak munafik, Flo memang sangat menarik." jawab Kenan. Roger mengangguk mengiyakan. "Iya, entah terbuat dari apa hatinya bisa selembut dan sebaik itu." Florensia dan Kenan dulu memang satu sekolah, Florensia masuk SMA saat Ren lulus. Florensia merupakan adik tingkat Kenan, tak heran jika mereka memang cukup dekat, apa lagi sekarang Florensia menjadi kakak iparnya. "Gue juga pernah dengar kalau sahabat kak Ren pernah suka Flo tapi ditolak." "Ya, itu sudah lama sebelum Flo dekat dengan kak Ren." ucap Kenan dengan tatapan lurus. ● Di kamar Florensia, saat ini dia tengah bersiap sebelum pergi ke Bandara. Dia tengah duduk didepan meja rias bersama Karina yang tengah merapikan rambutnya. "Bagaimana pekerjaan kantor?" "Semua sudah saya selesaikan beberapa Nona, sisanya tuan Anton yang membantu menyelesaikan." "Maaf ya, aku jadi menambah pekerjaan kamu." ucap Florensia tak enak. "Tidak masalah nona, sudah menjadi tugas saya untuk membantu anda." "Oh iya nona, tadi ada pesan masuk dari tuan Kenan." "Kenan? Ada apa?" "Saya tidak membukanya nona." "Tolong ambilkan ponselku." Karina mengangguk, dia meletakkan catokan rambut yang sejak tadi dipegangnya lalu mengambilkan ponsel milik Florensia. Karina kembali lalu memberikan ponsel itu pada pemiliknya. "Ini nona. Florensia menerima ponsel itu kemudian menyalakannya. Dan benar saja, ada pesan masuk dari adik iparnya. "Hadiah untuk wanita?" gumam Florensia yang masih bisa didengar oleh Karina. "Rin, kira-kira hadiah apa yang cocok untuk hadiah ulang tahun?" Karina nampak berfikir sambil merapikan rambut panjang Florensia. "Mungkin sesuatu yang unik atau berkesan seperti guci atau hiasan dinding." jawab Karina. "Emm...bagaimanan kalau lampu tidur?" "Boleh juga nona, meski sederhana namun justru akan selalu digunakan." Flororensia tersenyum sambil mengangguk, dia segera membalas pesan dari Kenan tadi. "Sudah selesai nona." ucap Karina. "Terima kasih." Karina mengangguk, semenjak dia menjadi asisten Florensia dia selalu kagum dengan sifat yang dimiliki Florensia. Meski terlahir dengan sendok emas dimulutnya, Florenisa bukan tipe wanita angkuh dan hobi menghambur-hamburkan uang. Yang membuat Karina kagum lagi adalah cara bicara Flo yang lembut dan selalu menggunakan kata tolong dan maaf. Karina sudah menganggap Flo seperti adiknya sendiri, kadang Flo sering bersikap manja jika hanya ada mereka berdua saja. Flo juga tidak pernah memperlakukan pekerja di mansion Brawijaya dengan semena-mena. Ceklek. Pintu kamar Flo terbuka, Ren masuk ke dalam sambil memasukkan keuda tangannya ke saku celana. Melihat Reb datang, Karina segera menepi. "Sudah selesai?" Ren berdiri dibelakang tubuh Flo sambil memegang kedua bahu Flo. Dia menundukkan tubuhnya dan mensejajarkan kepalanya dengan kepala Flo. "Cantik sekali." puji Ren sambil menatap pantulan wajah istrinya di cermin. Florensia tersenyum manis. "Terima kasih suami." Cup. Ren mencium pipi Flo didepan Karina. Merasa sungkan, Karina keluar dari kamar dan tak ingin menganggu pasangan pengantin baru itu. "Eh." Karina terkejut saat dia keluar justru hampir bertabrakan dengan Venus yang ingin masuk ke dalam. "Kamu tidak apa-apa?" Karina mengangguk. "Saya baik-baik saja." "Tuan Ren di dalam?" "Iya, beliau sedang bersama nona Flo." "Kita berangkat jam berapa?" tanya Flo. "Sekitar satu jam lagi." Flo mengangguk. "Awas dulu, aku mau cek barang kita takut ada yang tertinggal." Florensia berdiri dari duduknya, namun saat hendak melangkah pinggangnya ditahan oleh Ren. "Tunggu sebentar sayang." Ren sengaja meletakkan kepalanya ke ceruk leher istrinya yang sangat wangi. "Ren geli." seru Flo. Dengan sengaja Ren justru mengusap hidungnya ke leher Florensia membuat Florenisa berteriak kegelian sambil tertawa. "Ren, udah aku nggak tahan." "Habis kamu wangi banget, kan aku jadi nggak bisa jauh-jauh dari kamu." Flo masih tertawa sambil berusaha menjauhkan kepala sang suami dari lehernya. "Ah, kok digigit sih. Ren awas, jangan digigit." Tanpa keduanya sadari, sejak Karina keluar dan terkejut melihat kehadiran Vegas tadi, Karina lupa tak menutup rapat pibtu kamar Florensia. Hingga dia dan Vegas yang berdiri didepan pintu merasa canggung karena mendengar seluruh pekikan dan tawa Florensia yang entah sedang diapakan oleh Ren. Vegas menoleh ke sembarang arah sambil mengusap tengkuknya, kata-kata Florensia tadi terdengar ambigu ditelinganya. "Ehem, sebaiknya aku menunggu di bawah saja." ucap Karina sambil berdehem pelan. Vegas mengangguk, setelah Karina pergi dia pun bernafas lega. Dia merutuki pintu yang tak tertutup rapat itu. Dengan sekali tarik dia berhasil menutup pintu kamar Ren kemudian pergi. "Tuan dan nyonya muda sangat tidak tahu waktu dan situasi." gumam Vegas. Kedua orang yang tengah bercanda didalam kamar seketika terkejut saat mendengar pintu yang tertutup cukup keras. Florensia menatap kesal pada Ren. "Pasti mereka mendengar ucapanku tadi." Ren hanya tertawa melihat wajah kesal istrinya. "Mereka akan merasakan seperti ini juga jika sudah menikah sayang." Pukul setengah lima sore, mobil yang dikendarai Darel berhenti di depan mansion Louhan. Pengawal segera membukakan pintu belakang dan tak lama keluar Kenan yang baru pulang dari kantor. Bertepatan dengan itu, Ren dan Flo juga keluar dari mansion lengkap dengan kedua orang tua Ren dan asisten keduanya. "Kebetulan Kenan sudah pulang." ucap Sofia. "Kalian mau berangkat?" tanya Kenan. Ren mengangguk. "Iya, aku pergi dulu. Tolong jaga mama dan papa." Kenan mengangguk. "Hati-hati kak." "Kenan kami berangkat dulu." ucap Flo lembut. Tatapan Kenan beralih ke kakak iparnya. "Hati-hati, dna terima kasih untuk sarannya." Florensia mengangguk sambil tersenyum. "Sama-sama." Ren menatap istri dan adiknya bergantian. "Saran apa sayang?" "Oh itu, Kenan ingin memberi kado untuk seseorang dan meminta saran kado apa yang sekiranya bagus." "Tuan, sudah waktunya." ucap Venus. Ren dan Florensia kembali berpamitan pada orang tuanya, setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil bersama kedua asisten mereka. Kenana menatap mobil kakanya yang perlahan pergi meninggalkan mansion. "Ayo masuk." Ajak Sofia. Kenan mengangguk lalu masuk ke dalam rumah.Ting.Pintu lift terbuka, Florensia keluar dari lift kemudian berjalan menuju dapur. Disana dia melihat beberapa asisten rumah tangga tengah sibuk mempersiapkan bahan makanan untuk mereka masak untuk menu makan malam nanti."Selamat sore nyontya Flo." sapa para asisten rumah tangga bergantian."Sore bik, ada yang bisa Flo bantu?"Asisten rumah tangga saling tatap saat nyonya muda mereka menanyakan pekerjaan yang bisa nyonya mereka bantu, mereka hanya diam dan saling menatap.Florensia yang tak emndapatkan jawaban apapun mengerutkan keningnya, dia berniat membantu karena memang tak memiliki pekerjaan."Maaf nyonya, lebih baik anda menungggu di luar saja.""Loh, memangnya kenapa bik?" tanya Florensia bingug."Biarkan kami saja yang memasak ini nyonya, nanti tangan anda kotor."Florensia tertawa kecil menengar jawaban asiaten ruma tangganya. "Tidak papa bik, saya di rumah mama juga sering membantu mama memasak."
Florensia terdiam sambil menatap ke luar jendela mobil, saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang dari kafe setelah bertemu dengan sahabatnya. Sejak pembicaraannya dengan Noela tadi, dia jadi lebih banyak diam bahkan sampai membuat Karina bingung.Sesekali Karina melihat kebelakang melewati kaca spion, dia memperhatikan Florensia yang semakin murung dan banyak diam. Dia menghela nafas pelan, dia sama sekali tidak tahu pembicaraan bos dan sahabatny tadi karena dia sengaja memberi ruang agar tidak terlalu tahu masalah yang dibahas oelh Florensia.Karina sedikit khawatir melihat Florensia, dia takut masalah yang dihadapinya cukup berat."Nona, anda melamun?"Florensia menoleh ke depan saat Karina menegurnya. "Tidak, aku hanya sedikit banyak pikiran saja.""Anda bisa bercerita dengan saya nona, jangan terlalu dipendam sendiri.""Nanti aku ceritakan."Karina mengangguk, dia paham mungkin saat ini Florensia belum siap untuk mencerit
Megan dan Ren berjalan bersama meninggalkan rumah sakir menuju mobil mereka, keduanya tampak terlihat mengobrol ringan sambil sesekali tersenyum bersama. Dibelakang mereka, asisten mereka hanya terdiam sambil sesekali memperhatikan interaksi bos mereka, terutama Vegas. Vegas melirik Tania yang biasa saja melihat kedekatan Ren dan Megan seolah sama sekali tidakmerasa was-was. Berbeda dengan dirinya yang sedikit cemas karena takut ada yang melihat mereka dan melaporkannya pada nyonya muda Louhan alias Florensia."Ehem."Tania menoleh ke arah Vegas yang berdehem pelan. "Ada apa?"Vegas menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, tenggorokanku sedikit sakit saja."Sampai di tempat parkir, Megan menghentikan langkahnya didekat mobilnya yang kebetulan bersebelahan dengan mobil Ren."Kamu masih ingat makam Maki kan?"Ren mengangguk. "Masih.""Kalau begitu alku duluan ya, kita bertemu disana nanti.""Iya."Megan lekas masuk kedalam mobil bersama dengan Tania kemudian pergi ke lebih dulu meninggalk
"Terima kasih kak.""Sama-sama nona."Florensia keluar dari salon kemudian menghampiri asistennya yang sudah menunggunya di lobi sambil meminum kopi. Melihat Florensia sudah datang buru-buru Karina bangkit dari duduknya."Bagaimana nona? Sudah lebih baik?"Floensia mengangguk mengiyakan, tubuhnya sudah lebih ringan dari sebelumnya, dia merasa lebih fresh dan kembali besemangat lagi."Ayo kita ke kafe, Noela dan Angel sudah menunggu." ajak Florenisa.Karina mengangguk. "Mari nona."Florensia berjalan lebih dulu, dia sudah tidak sabar bertemu dengan para sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. Mereka berdua lekas masuk ke dalam mobil kemudian menuju lokasi tempat biasa Florensia dan dua sahabatnya nongkrong.Namun yang membuat Florenisa penasaran adalah topik pembahasan mereka yang akan Noela sampaikan nanti. Enath apa yang diketahui oleh sahabatnya tentang Ren hingga Noela mengajaknya bertemu untuk membahas Ren.Florens
Drrtt..Drrtt..Ponsel milik Ren kembali bergetar, dia mengambil ponselnya kemudian melihat nama Megan yang tertera pada layar ponselnya. Tanpa menangkatnya, Ren langsung pergi begitu saja.Ceklek.Dua bodyguard sedikit menyingkir dari depan pintu saat pintunya terbuka."Ren, aku tidak boleh masuk." adu Megan.Kedua bodyguard itu menundukkan kepala mereka takut."Maafkan kami tuan." ucap mereka kompak."Masuk." ucap Ren datar.Megan segera masuk ke dalam sambil mengukuti Ren dari belakang, mereka berdiri tak jauh dari ranjang pasien. Megan mendekati ranjang pasien itu kemudian menatap priayang sedang terbaring lemah."Bagaimana keadaan bapak....""Desta, nama saya Desta." lirih pria bernama Desta.Megan mengangguk. "Bagaimana keadaan bapak? Saya minta maaf atas tindakan saya kemarin, tadi saya sudha diberi tahu Ren tentang semuanya.""Tidakpapa nona, semua ini juga salah saya.""Tidak, ba
"Ada apa Vegas?" tanya Ren saat keduanya sudah berada didalam ruang kerja Ren."Saya baru saja mendapat kabar jika pria yang saat ini dimarkas jatuh sakit tuan." jawab Vegas.Ren memberlakan matanya terkejut. "Apa, sakit? Bagaimana bisa?""Menurut laporan, pria itu sama sekali tidak makan dan minum selama disana tuan. Dan saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit terdekat."Ren menghembuskan nafasnya kasar, dia masih kesal lantaran salah mendapat target dan sekarang pria itu malah sakit. Ren masih pusing dengan masalah ini karena sampai saat ini masih belum juga menemukan titik terang terkait pelaku utama kecelakaan Maki. Ren menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil meraup wajahnya kasar."Bagaimana ini?""Anda tidak perlu khawatir tuan, sebelum pria itu pingsan dia sempat memberikan keterangan terkait kepemilikan mobilnya."Mendengar ucapan Vegas barusan membuat Ren menegakkan duduknya, dia menatap asistennya dengan tatapan tak percaya







