LOGINAyunda Praptita seorang ibu dan istri yang malang, di tengah kehancuran hati karena bayi laki-laki yang baru di lahirkannya secara prematur harus diambil kembali oleh sang pencipta di usia yang baru saja genap satu minggu, Ayu dituding sebagai istri yang tidak becus menjadi seorang ibu oleh suaminya Argo Wijayanto dan keluarganya. Ayu tidak memiliki keluarga, jadi ia terpaksa bertahan meskipun selalu di intimidasi oleh keluarga suaminya. Hasil hasutan keluarga, suaminya Argo justru menceraikannya tanpa Ayunda. Di tengah keterpurukan dan kebingungan yang luar biasa, ia di tawari oleh sorang kawan untuk menjadi ibu susu untuk bayi perempuan dari seorang konglomerat yang baru saja di tinggal mati istrinya, dan ternyata konglomerat itu adalah saudara sepupu dari mantan suaminya. Bagaimanakah kisah perjalanan hidup Ayunda? Ikuti kisahnya dalam Ibu Susu Cantik Untuk Milyader.
View More“Alhamdulillah ya Allah akhirnya bisa istirahat di rumah juga.” Ayunda meletakan bayi mungil berkulit merah di tempat tidurnya yang sudah di lapisi kain lembut khusus bayi.
“Aku berangkat kerja dulu ya Sayang, sudah agak telat ini soalnya, takut macet nuga di jalan,” ucap Argo sambil mengecup lembut kening Ayunda yang di susul dengan Aryan bayi mungil yang sedang terlelap tidur.
“Iya Mas, hati-hati ya di jalannya jangan ngebut-ngebut, nanti pulang malam juga hati-hati di jalannya, aku dan Aryan bayi kita selalu mendoakanmu Sayang,” kat Ayu.
“Hmm aku dan Aryan katanya, emang yang sayang sama Argo tu hanya kamu sama anak kamu doang! Ingat ya yang paling kuat doain Argo itu aku Ibunya! Paham kamu! Jadi jangan merasa sok penting di rumah ini!” ucap perempuan paruh baya yang dengan bebasnya masuk ke dalam kamar Ayu dan Argo.
Ayu menunduk, perasaan tidak enak langsung menyelimuti hatinya. Sejak awal menikah hingga usia pernikahan mereka sudah menginjak umur lima belas bulan, ibu mertuanya selalu merasa bahwa Argo masih miliknya sepenuhnya. Sehingga kehadiran Ayu hanya dianggap sebagai penganggu.
“Maa ... maaf Bu, iya aku yang salah, doa Ibulah yang yang membuat mas Argo hingga ke titik saat ini.” Ayunda menunduk, tangannya mencengkeram gamis brukat warna peach yang ia kenakan.
“Maaf mulu gak pernah sadar, pokoknya kamu jangan kepedean disini, kalau bukan karena ...,” ucap Dewi terhenti.
“Sudah mah sudah, jangan ada perdebatan, pokoknya bagi aku mamah dan Ayunda adalah orang terbaik dalam mengantarkan aku ke gerbang kesuksesan, dah ya ini sudah telat aku berangkat dulu, assalamualaikum.” Argo menyalami dan mengecup kening ibunya kemudian berlalu dengan cepat tanpa menghiraukan ekpresi dari kedua wanita yang spesial di hidupnya.
Setelah punggung Argo tidak tampak, Dewi semakin mendekati Ayu. Matanya menyala, kepalan tangan tampak sangat kokoh di samping badannya. Ditatapnya lekat-lekat wajah Ayu yang lugu itu.
“Dengar ya, hanya karena anakku mencintai kamu dan menerima takdirmu seutuhnya kamu jadi merasa istimewa disini! Kamu itu sangat tidak penting di rumah ini terutama bagi saya! Dan kamu juga harus paham, sampai kapan pun aku tidak pernah menyukai anakmu! Tidak penting dia keturunan anakku! Bagiku apapun yang berkaitan denganmu sangat tidak menarik bahkan aku ingin semuanya itu lenyap!” celoteh Dewi dengan sinis.
“Astagfirullah Mah, apa salah Ayu? Kenapa mamah tidak pernah bisa menerima Ayu sebagai memantu?” lirih Ayu sambil menghapus buliran air mata yang beberapa kali gagal ia bendung.
“Kamu nanya kenapa? Hahaha ... simple aja, karena kamu masuk ke kehidupanku! Argo bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari kamu, bibit bobotnya, bukan orang kayak —”
“Cukup Mah, iya aku tahu itu. Tolong aku gak mau mamah terus-terusan mengungkit masa laluku.” Ayu terisak dan matanya berkaca, tangannya memegang dada dan terus menerus melantunkan kalimat istigfar.
“Dasar cengeng!” cibir Dewi sambil berlalu pergi tanpa memperdulikan Ayu.
***
Hari begitu cerah, sinar matahari yang sangat hangat menyinari ke lantai teras rumah yang di tinggali keluarga kecil Ayunda berikut mertuanya. Waktu yang sangat baik untuk berjemur agar tubuh semakin sehat. Ayu sangat bersemangat untuk menjemur putra kecilnya untuk berburu sinar matahari.
“Anak mamah paling ganteng, anak mamah paling saleh, kita berjemur dulu biar badan dede sehat ya Nak.” Ayu menatap wajah putra kecilnya yang sedang menggeliat.
“Sayang kamu permata hati mamah, temani mamah terus ya, kamu adalah alasan kenapa mamah disini kuat menjalani hidup sayang,” timpal Ayu sambil mencium pipi chubi bayi laki-lakinya.
Setelah kurang lebih dua puluh menit Ayu menjemur bayinya. Ia beranjak ke teras dan mengelus-elus halus punggung putranya dengan penuh kasih sayang. Diciumnya aroma tubuh bayi yang khas menenangkan.
“Heh itu airnya sudah mendidih, cepetan di matiin, gas mahal tau kamu jangan buang-duit!” teriak Dewi dari dalam rumah.
“Iya ibu maaf, Ayu segera ke dapur,” jawab Ayu singkat, dan dengan hati-hati Ayu meletakan Aryan di kasur lantai kecil.” Ibu maaf tolong jaga Aryan, aku mau nyiapin air mandi untuknya dulu,” sambung Ayu sambil bergegas menuju dapur.
“Laaah anak siapa, enak banget main titip-titipin aja, kamu kira aku ini pembantu, dasar menantu tol*l,” ketus Dewi tanpa mempedulikan permintaan Ayu sedikit pun.
“Ooowak ... oooowaaaakkk ... oowaaakkk ...,” suara tangis Aryan pecah.
Rumah terletak sedikit ke arah hutan, hingga tidak memiliki tetangga yang dekat. Tangis Aryan cukup lama dan keras, namun tidak ada yang menghampiri untuk sekedar memastikan kondisi dan penyebab tangisnya pecah. Hingga Ayu kembali membawa ember mandi bayi dan satu panci air panas.
“Aaaaaaa ... Astagfirulllah ... ya Allah ... Mas Argo tolong!” teriak Ayu histeris.
Argo yang sedang tidur karena baru pulang sift malam langsung bangun dan bergegas mendekati Ayu, begitu pun Dewi, dengan santai menghampiri Ayu.
Betapa kagetnya Argo melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Lengan putra pertamanya berlumuran darah, daging di kaki kanannya menganga cukup besar.
“Astagfirullah, Aryan kenapa Ayu? Ya Allah ada apa ini!” Argo sangat panik melihat kondisi putranya.
“Engga tau mas, tadi ada anj*ng, anak kita di gigitnya mas ya Allah,” tangis Ayu sangat histeris.
“Dasar gobl*k kamu! Udah tahu disini banyak anj*ng liar kenapa bayi kamu taro diluar tanpa di awasi! Bener-bener gobl*ok kamu!” cecar Dewi.
“Aku gak tahu kalau sampai kayak gini Mah, tadikan aku minta tolong titip mamah, aku mau ambil air untuk mandi Aryan Mah,” lirih Ayu.
“Eeeehhhh kamu nyalahin saya? Heh gak usah kamu jadi orang yang tebar fitnah ya, kamu ibunya, kamu yang tanggung jawab sama bayi kamu! Lagian otaknya gak di pake sih, kenapa juga kamu mandiin anak diluar! Kayak gak ada kamar mandisaja di dalam! Argo mamah gak tau menau soal ini ya!”
“Mah, aku bukan gak mau mandiin Aryan di dalam, tapi di dalam kamar mandi penuh sama cucian pakaian Mah, engga ada tempat,” ucap Ayu membela diri.
“Cukup! Kalian malah ribut saling menyalahkan! Siapin baju kita bawa ke rumah sakit!” teriak Argo.
Ayu dan Dewi bergegas berkemas dan mereka langsung berangkat ke rumah sakit. Tim medis dengan sigap menangani Aryan Pratama yang menangis kesakitan. Beberapa menit di dalam ruang ICU membuat Ayu, Argo dan Dewi diliputi rasa cemas. Argo yang mondar mandir tidak tenang menunggu kabar baik perihal kondisi bayinya.
Dewi kemudian mendekati Argo dan membisikan sesuatu, sesekali ia melirik Ayu yang sedang duduk di sudut ruang tunggu. Ayu yang tidak mempedulikan apa yang di adukan ibu mertuanya terhadap suaminya, ia terus berdoa untuk keselamatan putranya. Hingga pintu ICU terbuka setelah satu jam berlalu.
“Selamat siang, orang tua dari bayi Aryan Pratama,” Dokter menoleh ke arah Argo dan juga Ayu.
“Iya dok,” jawab Argo dan Ayu serempak sambil mendekati dokter.
“Bagaimana kondisi putra saya dok?” tanya Ayu terbata.
“Putra kami, bukan putra saya, emang itu anak kamu doang,” ketus Dewi menyelang ucapan Ayu.
Dewi mendelik ke wajah Ayu dan Argo bergantian berharap ada perhatian, namun tidak ada yang mempedulikan ucapan Dewi. Ayu dan Argo fokus memperhatikan pesan yang akan di sampaikan dokter. Melihat tidak ada yang menanggapi ucapannya, Dewi berdecak kesal.
“Mohon maaf Bapak, Ibu, Bayi Bapak dan Ibu tidak bisa di selamatkan, karena virus rabies dari gigitan hewan buas sudah menjalar ke tubuhnya, kami mohon maaf sekali lagi, yang tabah ya Insya Allah bayi Aryan husnul khotimah.”
“Inalillahi wa inalillahi rajiun ya Rabb,” rintih Ayu.
Bak di sambar petir, Argo dan Ayu ambruk lunglai di lantai. Sedang Dewi merasa kikuk dan berpura-pura sedih di hadapan banyak orang. Rasa bahagia kini menguasai hati Dewi karena cucu yang tidak ia sukai lenyap dengan mudah.
****
Langit yang begitu cerah, mentari menyinari hari dengan penuh semangat hingga membuat keringat dengan bebas membasahi wajah dan badan manusia tanpa kecuali Ayunda. Tawaran yang Linda di sanggupi Ayu, hingga hari dimana awal mula sebuah kehidupan baru setelah perceraian di mulai. Rumah bak istana dengan penjagaan ketat dari beberapa personil satpam yang modar mandir di depan sekitar pagar beton yang menjulang.“Bismillah ya Allah, berkahi setiap langkah yang dengan ikhlas mengharap kasih sayang Mu.” Lirih Ayu dan melangkah ke mendekati pos satpam.“Cari siapa Dek?” tanya seorang pria dengan badan tegap dan proporsional di depan pos.“Assalamualaikum, permisi Pak saya mau bertemu dengan Pak Billy untuk melamar sebagai ibu susu sekaligus baby sitter bayinya.” Ayu tersenyum, gigi gingsul putihnya mengintip di balik bibir tipis berbalut lipstik pink.“Dapat info dari siapa Dek?” tanya satpam singkat“Dari seorang saudara Pak namanya Linda,” timpal Ayu.“Oh Neng Linda, istrinya Pramono ya?
Semenjak di sentak Argo, Dewi sang ibu sering mengunci dirinya di dalam kamar dan mogok makan. Argo dan Ayunda sangat cemas, karena sudah dua hari Dewi enggan untuk keluar dari kamar. Tiba waktu dimana pagi itu Argo sangat khawatir dan mendobrak pintu kamar, betapa kagetnya Argo dan Ayu melihat Dewi sang ibu sedang terkulai lemas di atas lantai.“Ayu segera panggil kak Pertiwi dan suaminya kesini sekarang juga!” teriak Argo panik.“Baik Mas,” Ayu bergegas lari untuk menuruti perintah suaminya.Ketika Ayu memberi kabar bahwa sang mertua pingsan, kakak iparnya Pertiwi beserta suaminya panik dan segera merapat ke rumah Argo. Argo dan Ridwan suami kakaknya itu langsung mengangkat tubuh Dewi ke dalam mobil. Argo memacu kencang mobil sedannya menuju rumah sakit terdekat, yang di susul dengan mobil kakaknya Pertiwi, dan sesampainya di rumah sakit, Dewi langsung di tangani di IGD.Setelah pemeriksaan oleh dokter, Dewi masuk ruangan perawatan karena ia hanya dehidrasi biasa. Selang impusan ter
“Astagfirullah Ibu kenapa bicara seperti itu?” lirih Ayu.Argo menatap Dewi dan Ayu bergantian. Lelah tubuhnya yang seharian bekerja keras di paksa untuk menyaksikan drama yang cukup menguras kesabaran yang hanya tinggal seujung jari. Dua wanita yang seharusnya membuatnya tenang dan nyaman justru berseteru menguji kesabarannya.“Bu, bisa nggak sih jangan di buat pusing otak aku ini.” Ketus Argo sambil mengambil jas di atas sofa.“Loh bukannya kamu sudah lelah dengan dia? Apa kamu pikir seorang istri yang baik itu yang monoton seperti itu?” ucap Dewi santai.“Maksud Ibu?” langkah Argo terhenti dan menatap lekat ibunya.“Ibu tanya sama kamu, kebahagiaan apa yang sudah istrimu beri selama ini? karier kamu meningkat nggak? Kamu punya keturunan? Kami punya kedudukan ngga di masyarakat? Jangankan di masyarakat, di keluarga aja kamu udah nngak punya pamor! Istri kamu nggak jelas asal usulnya apa kamu pikir itu bukan aib hah? Ibu malu Argo!”“Bu, Ibu bicara apa bu, ya Allah,” lirih Ayu sambil
Sudah satu pekan kepergian Aryan berlalu, namun luka dan gundah yang di tinggalkan begitu sangat besar di hati Ayunda dan Argo. Argo yang sangat kecewa dan sedih karena kepergian putra pertamanya, memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Sedangkan Ayunda yang lebih rapuh dari Argo di paksa untuk kuat dan dilarang bersedih oleh keluarga, terutama ibu mertuanya.“Cepat lah kau bersihkan itu toiletnya!” pekik Dewi.“Iya Bu, ini segera aku kerjakan.” Ayu mengusap keringatnya dengan punggung tangannya, matanya berair dan bibirnya bergetar.“Jangan iya-iya nya aja! Kamu itu bisa engga sih kerja gesit gitu? Klamar klemer aja Kau tiap hari aku perhatiin! Orang tuh kalau numpang tahu diri, jangan malas-malasan!” bentak Dewi dengan mata membulat sempurna.“Iya maaf Bu, saya usahakan akan lebih gesit lagi,” jawab Ayu dengan pelan menahan tangis yang sudah hampir meledak.Prang ...“Apa itu? Woy lah pusing banget hari ini!” teriak Dewi sambil melangkah dengan gagah ke ruang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.