Beranda / Rumah Tangga / Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya / Jangan Beri Kesempatan Pelakor

Share

Jangan Beri Kesempatan Pelakor

Penulis: Young Lady
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-04 22:11:18

Senja mungkin mengetahui kabar kecelakaan Langit dan Tanisha dari pemberitaan yang beredar. Namun, di depan ruangan ini ada beberapa ajudan Langit. Sepertinya mereka pun mengenal siapa Senja hingga mempersilakan wanita itu masuk dengan mudah.

Banyak yang datang kemari untuk menjenguk Langit dan Tanisha. Namun, tak semuanya diperbolehkan masuk. Beberapa dari penjenguk hanya diperbolehkan menitipkan pesan. Barang bawaan mereka pun diperiksa terlebih dahulu. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah mobil Tanisha disabotase dan mereka diikuti penguntit, pengawasan menjadi lebih ketat. Para orang tua memang agak heboh dalam masalah ini. Apalagi sang tersangka masih belum ditemukan. CCTV jalanan juga tidak membantu karena mobil yang dipakai penguntit adalah mobil curian.

“Maaf, saya nggak ketuk pintu dulu,” ringis Senja yang tampak tak enak hati melihat posisi Tanisha dan Langit.

Tanisha spontan hendak turun dari bangsal Langit. Walaupun kenyataannya ia tak melakukan hal buruk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Tanpa Ada Ruang Bicara

    Mobil Langit berhenti tepat di depan rumah persembunyian itu. Mesin masih menyala, lampu depan menyorot tembok tinggi yang tampak kusam, seolah rumah itu memang diciptakan untuk tidak menarik perhatian siapa pun. Tanisha membuka pintu lebih dulu, turun tanpa menoleh, tangannya refleks menopang perutnya yang semakin membesar.Udara sore terasa lebih berat dari biasanya.Di dalam mobil, Langit masih duduk diam beberapa detik. Rahangnya mengeras. Pembahasan tentang perceraian di perjalanan tadi jelas belum selesai—bahkan belum benar-benar dimulai, tapi sudah cukup untuk membuat dadanya penuh oleh emosi yang tidak tersalurkan.Tanisha sudah menutup pintu mobil ketika suara Langit terdengar, datar namun jelas tertahan.“Kamu selalu memilih waktu yang tepat buat ngomong soal itu.”Tanisha berhenti melangkah. Punggungnya masih menghadap Langit. Ia menghela napas pelan sebelum menoleh setengah badan.“Aku cuma realistis, Mas,” jawabnya.

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Dua Bulan yang Tersisa

    Tanisha berangkat pagi itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan gugup. Bukan juga takut. Lebih seperti ada beban yang terus bertambah, seiring usia kandungan yang makin besar dan rahasia yang kian menumpuk di dadanya.Tujuh bulan.Angka itu terasa berat ketika dokter menyebutkannya terakhir kali. Tujuh bulan berarti waktunya semakin dekat. Tujuh bulan berarti ruang untuk menghindar semakin sempit. Tujuh bulan berarti—apa pun yang sedang mengintainya, tak bisa lagi ditunda.Ia duduk di kursi belakang mobil, mengenakan kerudung sederhana dan masker, pandangannya tertuju pada jalanan yang mulai ramai. Sopir yang mengantar adalah orang lama, orang yang bisa dipercaya, dan itulah satu-satunya alasan Tanisha berani keluar hari ini.Ia tidak memberi tahu Langit.Pemeriksaan kandungan ini—ia ingin menjalaninya tanpa bayang-bayang siapa pun. Tanpa pengawalan. Tanpa tatapan orang-orang. Tanpa Langit Akasa Mahadewa yang ke mana pun pergi selalu membawa sorotan.Rumah sakit itu tidak besa

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Harga Untuk Diam

    Rumah itu kembali sunyi setelah Langit pergi. Tanisha berdiri beberapa detik di ambang pintu, memastikan langkah kaki pria itu benar-benar menjauh. Bunyi pintu depan yang tertutup pelan menjadi penanda—ia sendirian lagi. Hanya dirinya, napasnya sendiri, dan ruang sempit yang entah kenapa selalu terasa terlalu besar saat malam datang.Ia menutup pintu kamar perlahan, lalu bersandar di sana. Entah sejak kapan dadanya terasa berat setiap kali ia sendirian.Tanisha berjalan menuju ranjang, duduk di tepinya, lalu menunduk. Tangannya meraih tas kecil berwarna hitam yang tadi sempat ia sembunyikan tergesa-gesa. Tas serut itu terasa asing sekaligus terlalu akrab. Bahannya sudah agak kasar, sudut-sudutnya mulai mengelupas—jelas bukan barang baru.Ia menghela napas panjang sebelum membukanya lagi. Bau kertas, bau kain lama, bercampur dengan aroma samar sesuatu yang mengingatkannya pada malam itu. Malam yang selalu ia coba potong dari ingatannya, tapi tak p

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Ayah dari Anaknya

    Tanisha sedang membereskan lemari kecil di sudut kamar. Bukan kegiatan penting, sebenarnya. Hanya upaya mengalihkan pikiran dari suara oven yang berdengung pelan di dapur dan dari kepalanya sendiri yang tak pernah benar-benar sepi belakangan ini. Lemari itu berisi pakaian seadanya, beberapa buku lama, dan barang-barang yang ia bawa terburu-buru saat pertama kali pindah ke rumah persembunyian ini. Rumah yang tak pernah ia bayangkan akan ia tinggali sebagai Tanisha yang sekarang—bukan aktris, bukan istri pejabat, bukan siapa-siapa selain seorang perempuan yang sedang berusaha bertahan.Ia menarik satu tumpukan pakaian dari rak bawah. Dan sesuatu jatuh.Sebuah tas serut hitam, kecil, kusam, mendarat di lantai dengan bunyi tumpul.Tanisha mengernyit.Ia yakin tak pernah membeli tas seperti itu. Bahannya sederhana, bahkan terlihat murah. Bukan gaya dirinya. Tangannya terulur perlahan, lalu berhenti sejenak di udara—seolah instingnya mempering

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Saling Menyentuh

    Langit menyentuh Tanisha lagi malam itu—bukan dengan tergesa, bukan pula dengan tuntutan. Sentuhan itu datang seperti kebiasaan baru yang diam-diam terbentuk di antara mereka. Terjadi begitu saja, seolah tubuh mereka telah menemukan ritme yang sama tanpa perlu kesepakatan verbal. Tidak ada ranjang yang berderit keras, tidak ada pakaian yang terlepas seluruhnya. Hanya tangan yang saling mencari, bahu yang disandari, dan napas yang akhirnya menemukan jeda setelah hari-hari yang terlalu panjang.Tanisha duduk di tepi ranjang kecilnya, mengenakan kaus longgar dan celana rumah. Rambutnya dibiarkan tergerai seadanya, masih sedikit lembap karena baru saja mandi. Langit berdiri di belakangnya, jas kerjanya sudah ia lepaskan, kemeja digulung sampai siku. Ia belum sepenuhnya melepas penat—bahunya masih tegang, rahangnya masih mengeras oleh sisa hari yang melelahkan.Tanisha merasakan tangan Langit menyentuh pundaknya lebih dulu. Bukan memeluk. Bukan menarik. Hanya

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Jangan Salah Orang

    Langit duduk sendiri di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang sejak tadi tak benar-benar ia baca. Beberapa berkas terbuka bersamaan. Laporan singkat, catatan waktu, rekaman suara yang sudah disaring ulang. Semua tampak rapi, terstruktur—seperti biasa. Namun, kepalanya tidak sedang berada di sana.Pikirannya kembali ke satu detail kecil yang sejak kemarin tak mau lepas. Tato di pinggang Tanisha.Bukan karena bentuknya yang mencolok. Justru karena kesederhanaannya. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya tak berarti apa-apa—namun terasa begitu familiar. Langit menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit.“Bukan kamu,” gumamnya pelan. “Nggak mungkin.”Ia mengulang kalimat itu seperti mantra.Malam itu—malam sebelum pernikahan adiknya—semua terlalu kacau untuk bisa dikaitkan dengan Tanisha. Ia ingat betul kondisinya sendiri. Lelah, marah, terpojok oleh tekanan politik, dan terlalu lengah untuk menyadari bahwa ia sedang d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status