LOGINRumah itu kembali sunyi setelah Langit pergi. Tanisha berdiri beberapa detik di ambang pintu, memastikan langkah kaki pria itu benar-benar menjauh. Bunyi pintu depan yang tertutup pelan menjadi penanda—ia sendirian lagi. Hanya dirinya, napasnya sendiri, dan ruang sempit yang entah kenapa selalu terasa terlalu besar saat malam datang.Ia menutup pintu kamar perlahan, lalu bersandar di sana. Entah sejak kapan dadanya terasa berat setiap kali ia sendirian.Tanisha berjalan menuju ranjang, duduk di tepinya, lalu menunduk. Tangannya meraih tas kecil berwarna hitam yang tadi sempat ia sembunyikan tergesa-gesa. Tas serut itu terasa asing sekaligus terlalu akrab. Bahannya sudah agak kasar, sudut-sudutnya mulai mengelupas—jelas bukan barang baru.Ia menghela napas panjang sebelum membukanya lagi. Bau kertas, bau kain lama, bercampur dengan aroma samar sesuatu yang mengingatkannya pada malam itu. Malam yang selalu ia coba potong dari ingatannya, tapi tak p
Tanisha sedang membereskan lemari kecil di sudut kamar. Bukan kegiatan penting, sebenarnya. Hanya upaya mengalihkan pikiran dari suara oven yang berdengung pelan di dapur dan dari kepalanya sendiri yang tak pernah benar-benar sepi belakangan ini. Lemari itu berisi pakaian seadanya, beberapa buku lama, dan barang-barang yang ia bawa terburu-buru saat pertama kali pindah ke rumah persembunyian ini. Rumah yang tak pernah ia bayangkan akan ia tinggali sebagai Tanisha yang sekarang—bukan aktris, bukan istri pejabat, bukan siapa-siapa selain seorang perempuan yang sedang berusaha bertahan.Ia menarik satu tumpukan pakaian dari rak bawah. Dan sesuatu jatuh.Sebuah tas serut hitam, kecil, kusam, mendarat di lantai dengan bunyi tumpul.Tanisha mengernyit.Ia yakin tak pernah membeli tas seperti itu. Bahannya sederhana, bahkan terlihat murah. Bukan gaya dirinya. Tangannya terulur perlahan, lalu berhenti sejenak di udara—seolah instingnya mempering
Langit menyentuh Tanisha lagi malam itu—bukan dengan tergesa, bukan pula dengan tuntutan. Sentuhan itu datang seperti kebiasaan baru yang diam-diam terbentuk di antara mereka. Terjadi begitu saja, seolah tubuh mereka telah menemukan ritme yang sama tanpa perlu kesepakatan verbal. Tidak ada ranjang yang berderit keras, tidak ada pakaian yang terlepas seluruhnya. Hanya tangan yang saling mencari, bahu yang disandari, dan napas yang akhirnya menemukan jeda setelah hari-hari yang terlalu panjang.Tanisha duduk di tepi ranjang kecilnya, mengenakan kaus longgar dan celana rumah. Rambutnya dibiarkan tergerai seadanya, masih sedikit lembap karena baru saja mandi. Langit berdiri di belakangnya, jas kerjanya sudah ia lepaskan, kemeja digulung sampai siku. Ia belum sepenuhnya melepas penat—bahunya masih tegang, rahangnya masih mengeras oleh sisa hari yang melelahkan.Tanisha merasakan tangan Langit menyentuh pundaknya lebih dulu. Bukan memeluk. Bukan menarik. Hanya
Langit duduk sendiri di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang sejak tadi tak benar-benar ia baca. Beberapa berkas terbuka bersamaan. Laporan singkat, catatan waktu, rekaman suara yang sudah disaring ulang. Semua tampak rapi, terstruktur—seperti biasa. Namun, kepalanya tidak sedang berada di sana.Pikirannya kembali ke satu detail kecil yang sejak kemarin tak mau lepas. Tato di pinggang Tanisha.Bukan karena bentuknya yang mencolok. Justru karena kesederhanaannya. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya tak berarti apa-apa—namun terasa begitu familiar. Langit menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit.“Bukan kamu,” gumamnya pelan. “Nggak mungkin.”Ia mengulang kalimat itu seperti mantra.Malam itu—malam sebelum pernikahan adiknya—semua terlalu kacau untuk bisa dikaitkan dengan Tanisha. Ia ingat betul kondisinya sendiri. Lelah, marah, terpojok oleh tekanan politik, dan terlalu lengah untuk menyadari bahwa ia sedang d
Sentuhan itu datang perlahan, nyaris seperti embun yang jatuh tanpa suara.Tanisha berada di tempat yang asing sekaligus terasa begitu akrab. Dindingnya tidak ia kenali, aroma udara tidak sama dengan rumah persembunyiannya, bukan pula apartemen lamanya, dan jelas bukan rumah Langit. Namun ada sesuatu di sana—sebuah getar di dada, rasa hangat yang menjalari kulit—yang membuatnya yakin ia pernah berada di tempat itu sebelumnya, entah kapan.Tangannya terasa berat, seolah terikat oleh perasaan yang tak bernama. Lalu seseorang menyentuhnya.Bukan sentuhan kasar, bukan juga terburu-buru. Hanya jari-jari yang menelusuri batas keberadaannya dengan penuh kesabaran, seperti ingin memastikan ia nyata. Nafas itu—hangat, teratur—jatuh di dekat telinganya, membuat bulu kuduk Tanisha meremang.“Tanisha.” Namanya diucapkan dengan suara yang ia kenal. Terlalu kenal.“Mas…” Tanisha ingin membuka mata, ingin memastikan, tapi kelopak matanya seolah direkatkan oleh mimpi. Sentuhan itu terasa begitu nyat
Langit duduk sendirian di ruang kerjanya, jendela besar di belakang meja dibiarkan terbuka setengah. Cahaya matahari masuk malas, menyentuh sudut ruangan tanpa pernah benar-benar menghangatkannya. Di meja kerjanya, berkas-berkas tersusun rapi—laporan partai, agenda rapat, catatan investigasi internal. Semuanya terlihat normal. Terlalu normal untuk pikiran yang sejak subuh tak berhenti bergerak.Langit tak bisa tidur. Bukan karena tubuhnya tak lelah, tapi karena pikirannya menolak berhenti di satu titik. Tato itu.Bentuknya sederhana. Kecil. Tidak mencolok. Tapi justru karena itulah ia terasa begitu familiar. Bukan karena Langit sering melihatnya—justru karena ia pernah melihatnya sekali, dalam keadaan yang tak seharusnya ia ingat dengan jelas.Malam itu.Malam yang selama ini ia kubur sebagai kesalahan. Sebagai jebakan. Sebagai noda yang tak perlu diurai ulang.Langit menekan jari telunjuknya ke pelipis, memejamkan mata sejenak.







