Share

Foto Rahasia di Lemari

Author: Young Lady
last update Huling Na-update: 2025-10-08 20:17:08
Unit apartemen Tanisha sudah terbuka ketika keduanya datang. Padahal, tak ada yang mengetahui password apartemen tersebut selain Tanisha dan Langit. Asisten dan manajer Tanisha saja tidak mengetahui password apartemen tersebut. Tak mungkin juga pihak pemilik gedung yang tiba-tiba masuk tanpa izin.

“Kamu yakin orang tua kamu benar-benar nggak tau tentang apartemen ini?” tanya Langit sembari menatap awas sekitarnya.

“Harusnya begitu,” jawab Tanisha ragu.

Tanisha mengerti maksud ucapan Langit. Ada kemungkinan orang tuanya telah mengetahui tentang apartemen ini dan menerobos masuk. Walaupun Tanisha lebih suka dimarahi secara langsung daripada diperlakukan begini. Jika ini memang perbuatan orang tuanya.

Pintu apartemen Tanisha memang tidak terbuka lebar. Namun, pasangan suami-istri itu menyadari jika pintunya tidak benar-benar tertutup sebagaimana mestinya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Langit pun langsung menarik Tanisha menjauh dari sana.

Keduanya kembali
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Tanpa Ada Ruang Bicara

    Mobil Langit berhenti tepat di depan rumah persembunyian itu. Mesin masih menyala, lampu depan menyorot tembok tinggi yang tampak kusam, seolah rumah itu memang diciptakan untuk tidak menarik perhatian siapa pun. Tanisha membuka pintu lebih dulu, turun tanpa menoleh, tangannya refleks menopang perutnya yang semakin membesar.Udara sore terasa lebih berat dari biasanya.Di dalam mobil, Langit masih duduk diam beberapa detik. Rahangnya mengeras. Pembahasan tentang perceraian di perjalanan tadi jelas belum selesai—bahkan belum benar-benar dimulai, tapi sudah cukup untuk membuat dadanya penuh oleh emosi yang tidak tersalurkan.Tanisha sudah menutup pintu mobil ketika suara Langit terdengar, datar namun jelas tertahan.“Kamu selalu memilih waktu yang tepat buat ngomong soal itu.”Tanisha berhenti melangkah. Punggungnya masih menghadap Langit. Ia menghela napas pelan sebelum menoleh setengah badan.“Aku cuma realistis, Mas,” jawabnya.

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Dua Bulan yang Tersisa

    Tanisha berangkat pagi itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan gugup. Bukan juga takut. Lebih seperti ada beban yang terus bertambah, seiring usia kandungan yang makin besar dan rahasia yang kian menumpuk di dadanya.Tujuh bulan.Angka itu terasa berat ketika dokter menyebutkannya terakhir kali. Tujuh bulan berarti waktunya semakin dekat. Tujuh bulan berarti ruang untuk menghindar semakin sempit. Tujuh bulan berarti—apa pun yang sedang mengintainya, tak bisa lagi ditunda.Ia duduk di kursi belakang mobil, mengenakan kerudung sederhana dan masker, pandangannya tertuju pada jalanan yang mulai ramai. Sopir yang mengantar adalah orang lama, orang yang bisa dipercaya, dan itulah satu-satunya alasan Tanisha berani keluar hari ini.Ia tidak memberi tahu Langit.Pemeriksaan kandungan ini—ia ingin menjalaninya tanpa bayang-bayang siapa pun. Tanpa pengawalan. Tanpa tatapan orang-orang. Tanpa Langit Akasa Mahadewa yang ke mana pun pergi selalu membawa sorotan.Rumah sakit itu tidak besa

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Harga Untuk Diam

    Rumah itu kembali sunyi setelah Langit pergi. Tanisha berdiri beberapa detik di ambang pintu, memastikan langkah kaki pria itu benar-benar menjauh. Bunyi pintu depan yang tertutup pelan menjadi penanda—ia sendirian lagi. Hanya dirinya, napasnya sendiri, dan ruang sempit yang entah kenapa selalu terasa terlalu besar saat malam datang.Ia menutup pintu kamar perlahan, lalu bersandar di sana. Entah sejak kapan dadanya terasa berat setiap kali ia sendirian.Tanisha berjalan menuju ranjang, duduk di tepinya, lalu menunduk. Tangannya meraih tas kecil berwarna hitam yang tadi sempat ia sembunyikan tergesa-gesa. Tas serut itu terasa asing sekaligus terlalu akrab. Bahannya sudah agak kasar, sudut-sudutnya mulai mengelupas—jelas bukan barang baru.Ia menghela napas panjang sebelum membukanya lagi. Bau kertas, bau kain lama, bercampur dengan aroma samar sesuatu yang mengingatkannya pada malam itu. Malam yang selalu ia coba potong dari ingatannya, tapi tak p

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Ayah dari Anaknya

    Tanisha sedang membereskan lemari kecil di sudut kamar. Bukan kegiatan penting, sebenarnya. Hanya upaya mengalihkan pikiran dari suara oven yang berdengung pelan di dapur dan dari kepalanya sendiri yang tak pernah benar-benar sepi belakangan ini. Lemari itu berisi pakaian seadanya, beberapa buku lama, dan barang-barang yang ia bawa terburu-buru saat pertama kali pindah ke rumah persembunyian ini. Rumah yang tak pernah ia bayangkan akan ia tinggali sebagai Tanisha yang sekarang—bukan aktris, bukan istri pejabat, bukan siapa-siapa selain seorang perempuan yang sedang berusaha bertahan.Ia menarik satu tumpukan pakaian dari rak bawah. Dan sesuatu jatuh.Sebuah tas serut hitam, kecil, kusam, mendarat di lantai dengan bunyi tumpul.Tanisha mengernyit.Ia yakin tak pernah membeli tas seperti itu. Bahannya sederhana, bahkan terlihat murah. Bukan gaya dirinya. Tangannya terulur perlahan, lalu berhenti sejenak di udara—seolah instingnya mempering

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Saling Menyentuh

    Langit menyentuh Tanisha lagi malam itu—bukan dengan tergesa, bukan pula dengan tuntutan. Sentuhan itu datang seperti kebiasaan baru yang diam-diam terbentuk di antara mereka. Terjadi begitu saja, seolah tubuh mereka telah menemukan ritme yang sama tanpa perlu kesepakatan verbal. Tidak ada ranjang yang berderit keras, tidak ada pakaian yang terlepas seluruhnya. Hanya tangan yang saling mencari, bahu yang disandari, dan napas yang akhirnya menemukan jeda setelah hari-hari yang terlalu panjang.Tanisha duduk di tepi ranjang kecilnya, mengenakan kaus longgar dan celana rumah. Rambutnya dibiarkan tergerai seadanya, masih sedikit lembap karena baru saja mandi. Langit berdiri di belakangnya, jas kerjanya sudah ia lepaskan, kemeja digulung sampai siku. Ia belum sepenuhnya melepas penat—bahunya masih tegang, rahangnya masih mengeras oleh sisa hari yang melelahkan.Tanisha merasakan tangan Langit menyentuh pundaknya lebih dulu. Bukan memeluk. Bukan menarik. Hanya

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Jangan Salah Orang

    Langit duduk sendiri di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang sejak tadi tak benar-benar ia baca. Beberapa berkas terbuka bersamaan. Laporan singkat, catatan waktu, rekaman suara yang sudah disaring ulang. Semua tampak rapi, terstruktur—seperti biasa. Namun, kepalanya tidak sedang berada di sana.Pikirannya kembali ke satu detail kecil yang sejak kemarin tak mau lepas. Tato di pinggang Tanisha.Bukan karena bentuknya yang mencolok. Justru karena kesederhanaannya. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya tak berarti apa-apa—namun terasa begitu familiar. Langit menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit.“Bukan kamu,” gumamnya pelan. “Nggak mungkin.”Ia mengulang kalimat itu seperti mantra.Malam itu—malam sebelum pernikahan adiknya—semua terlalu kacau untuk bisa dikaitkan dengan Tanisha. Ia ingat betul kondisinya sendiri. Lelah, marah, terpojok oleh tekanan politik, dan terlalu lengah untuk menyadari bahwa ia sedang d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status